Membela Shahabat Nabi Dari Celaan Syiah Rafidhah (Bag. 1)



Agama Islam yang haq ini memerintahkan kita, kaum muslimin (tulen) untuk senantiasa mencintai orang-orang terdahulu yang beriman, memintakan ampunan bagi mereka, dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman;


وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (i.e sesudah Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.” (QS. al-Hasyr: 10)


Adalah para shahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, umat terbaik yang pernah ada dalam sejarah agama ini yang terdepan lagi terdahulu dalam keimanan, ketakwaan dan kebaikan. Oleh karenanya, al-Imam asy-Syaukani –raheemahullaahu- (w. 1250 H) berkata tatkala menjelaskan ayat ini;


“Barang siapa yang tidak memohonkan ampun kepada Allah untuk para shahabat secara keseluruhan, serta tidak memohonkan ridha Allah untuk mereka, berarti ia telah menyalahi perintah Allah dalam ayat ini. Jika seseorang mendapati suatu kebencian dalam hatinya terhadap sahabat, berarti ia telah tertimpa godaan syaithan dan telah dikuasai kemaksiatan yang besar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ia telah melakukan permusuhan kepada wali-wali Allah, generasi terbaik umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallama. Dan telah terbuka baginya pintu kehinaan yang akan mengantarkannya masuk ke dalam neraka Jahanam, jika ia tidak segera memperbaiki dirinya dengan berlindung dan meminta pertolongan kepada Allah, supaya Allah mencabut kedengkian yang mewarnai hatinya kepada generasi terbaik dan paling utama itu. Jika kemudian, kedengkian yang ada dalam hatinya itu meluap hingga melahirkan cacian pada mulut terhadap salah seorang di antara mereka, berarti ia telah takluk pada kendali syaithan dan telah terjerumus ke dalam kemurkaan Allah. Penyakit akut ini hanya menimpa orang-orang yang termakan oleh ajaran Râfidhah (Syi’ah) atau terperangkap menjadi kawan bagi musuh-musuh shahabat. Dia dipermainkan dan ditipu oleh syaithan dengan kedustaan-kedustaan, cerita-cerita bohong, serta kisah-kisah khurafat (tentang Shahabat). Syaithan telah memalingkan mereka dari Kitab Allah, kitab yang tidak bisa disentuh oleh kebatilan, baik dari arah depan maupun dari arah belakang.” (Tafsir Fathu al-Qadîr, 5/202)


Berkata al-‘Allamah Abdurrahman as-Sa’dy -raheemahullaahu- (w. 1376 H) ketika menjelaskan ayat diatas;

فهذان  الصنفان، الفاضلان الزكيان هم الصحابة الكرام والأئمة الأعلام، الذين حازوا من السوابق والفضائل والمناقب ما سبقوا به من بعدهم، وأدركوا به من قبلهم، فصاروا أعيان المؤمنين، وسادات المسلمين، وقادات المتقين وحسب من بعدهم من الفضل أن يسير خلفهم، ويأتم بهداهم، ولهذا ذكر الله من اللاحقين، من هو مؤتم بهم وسائر خلفهم فقال: وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ   أي: من بعد المهاجرين  والأنصار   يَقُولُونَ   على وجه النصح لأنفسهم ولسائر المؤمنين: رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وهذا دعاء شامل لجميع المؤمنين، السابقين من الصحابة، ومن قبلهم ومن بعدهم

“Kedua golongan mulia dan suci di atas (i.e Muhajirin wal Anshar) adalah para shahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Mereka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terdepan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah diperoleh oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan berjalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Oleh karena itulah Allah Ta’ala menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka,” Yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, “mereka berdoa,” memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan kaum Muslimin, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.” Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan shahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesudah mereka.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 7, juz. 28)


Ucapan para Imam ahlus sunnah wal Jama’ah diatas senada dengan nasihat dari salah seorang shahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud -radhiyallaahu ‘anhu-, beliau berkata, “Barang siapa di antara kamu ingin mengambil keteladanan, maka hendaklah ia mengambil keteladanan dari para shahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, sebab mereka adalah orang-orang yang hatinya baik, ilmunya mendalam, sedikit takalluf (memaksakan diri melebihi batas kemampuannya), memiliki petunjuk yang lurus, baik keadaannya. Mereka adalah suatu kaum yang Allah Ta’ala pilih untuk dijadikan sebagai sahabat Nabi-Nya. Maka dari itu, ketahuilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka, sebab mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” (Atsar dikeluarkan oleh al-Imam Ibnu Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi, 1810)


Namun anehnya, masih saja ada satu kelompok yang mengaku-ngaku sebagai bagian dari kaum muslimin namun begitu dengki terhadap mereka, membenci mereka, mengolok-olok mereka, mencaci maki mereka, bahkan mengkafirkan mereka. Siapakah kelompok yang dimaksud itu?. Siapa lagi kalau bukan Syiah Rafidhah (sebagaimana yang disebutkan oleh al-Imam asy-Syaukani –raheemahullaahu- dalam tafsirnya di atas, red) yang hari ini menjelma dalam sekte; Syiah Imamiah Itsna Asyariyah, yang merupakan madzhab resmi negara ex. Majusi Iran yang ajarannya mulai menyebar ke seluruh pelosok Indonesia itu. Perhatikan ucapan ahli hadits besar mereka, al-Kulaini. Ia membawakan riwayat dari Ja’far ash-Shadiq ‘alaihis salam (secara dusta);


“Manusia (para sahabat) telah murtad setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallama kecuali tiga orang.” Aku berkata, “Siapa saja tiga orang tersebut?”, Disebutkan, “al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.” (Furu’ Al Kaafi, al-Kulaini, hal. 115)


Sungguh kotor dan keji lisan-lisan mereka (i.e Syiah Rafidhah)!. Orang-orang shalih yang telah Allah Ta’ala pilih sebagai sahabat terbaik bagi Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, yang Allah Ta’ala puji dalam Kitab-Nya, mereka cela dan kafirkan sedemikian rupa. Padahal Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama pernah bersabda;


لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka dia tidak akan dapat menandingi sedekah satu mud mereka, bahkan tidak (pula) setengahnya.” (HR. al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540)


Sedekah emas sebesar gunung Uhud saja tidak mampu menandingi setengah mudnya (sedekah) para shahabat (1 mud itu setara dengan 0.75 Kg, red), apalagi keimanannya, ketakwaannya, jihadnya, hijrahnya, ibadahnya, dan amalan shalih lainnya. Ga pernah ada ceritanya tuh orang Syiah Rafidhah memiliki emas sebesar gunung Uhud atau menginfakkan seluruh hartanya yang sepadan dengan gunung Uhud di jalan kebaikan. Kalau pun ada dan mereka infakkan seluruhnya, tetap saja tidak akan pernah bisa mendandingi (secuil) keutamaan para shahabat radhiyallaahu ‘anhum ajma’in yang mereka caci, fasikkan dan kafirkan itu!. Atas kezindiqannya itulah, para imam ahlus sunnah wal jama’ah mengeluarkan mereka dari Islam (kecuali Syi’ah Zaidiyah yang hanya mengutamakan shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu di atas Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar Ibnul Khaththab dan Utsman bin ‘Affan radhiyallaahu ‘anhum namun tidak mengkafirkan mereka atau para shahabat lainnya, red) dan menganggap mereka bukan bagian dari Islam yang suci.


al-Imam Malik bin Anas –raheemahullaahu- (w. 179 H) mengatakan;

روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سمعت أبا عبد الله يقول قال مالك : الذى يشتم اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم ليس لهم اسم او قال نصيب فى الاسلام

Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al-Marwazi, katanya : “Saya mendengar Abu Abdillah berkata, bahwa Imam Malik berkata: ‘Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam’.” (as-Sunnah, 2/557)


Begitu pula al-Imam Ahmad bin Hambal –raheemahullaahu- (w. 241 H) sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Khalal;

أخبرنا عبد الله بن احمد بن حمبل قال : سألت أبى عن رجل شتم رجلا من اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم فقال : ما أراه على الاسلام

“Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita pada kami, katanya : “Saya bertanya kepada ayahku perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama. Maka beliau menjawab : “Saya berpendapat ia bukan orang Islam.” (as-Sunnah, 2/558)




0 Respones to "Membela Shahabat Nabi Dari Celaan Syiah Rafidhah (Bag. 1)"

Posting Komentar

 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula