Tabiat Buruk Manusia



Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah ia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya ia akan berkata, ‘Telah hilang bencana-bencana itu dariku.’ Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 9-11)

Berkata al-‘Allamah asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala merahmatinya- tatkala menafsirkan ayat ini, “Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang tabiat manusia bahwa dia itu bodoh dan dzalim, bahwa jika Allah Subhaanahu wa Ta’ala memberikan rahmat (nikmat) kepadanya seperti rezeki, kesehatan, anak keturunan dan lain-lain, kemudian Dia mengambil (rahmat/nikmat itu) darinya, maka dia menyerah dan tunduk kepada keputusasaan, tidak berharap pahala Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan tidak terlintas di benaknya bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan mengembalikannya atau (menggantinya dengan) yang sepertinya atau yang lebih baik darinya, dan jika Allah Subhaanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat (nikmat) setelah kesulitan yang menimpanya maka dia berbahagia, menyombongkan diri dan menyangka bahwa harta yang banyak itu akan langgeng seraya berkata, ‘Telah hilang bencana-bencana itu dariku’. Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga.’ Maksudnya, dia berbahagia dengan apa yang diberikan kepadanya yang sesuai dengan keinginan dirinya, bangga dengan nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala kepada hamba-hambaNya. Hal itu membuatnya lupa diri, sombong (‘ujub), angkuh, takabur di hadapan manusia, menghina dan merendahkan mereka. Adakah cacat yang lebih berat dari ini?.”

Beliau –raheemahullaahu Ta’ala- melanjutkan, “Ini adalah tabiat manusia itu sendiri, kecuali orang yang diberikan taufik oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan dikeluarkan dari perilaku buruk ini kepada perilaku baik, mereka itu adalah orang-orang yang sabar pada saat sulit, mereka tidak berputus asa karenanya, pada saat senang, mereka tidak sombong dan mengerjakan amal shalih yang wajib dan yang dianjurkan, ‘mereka itu memperoleh ampunan’ atas dosa-dosa mereka yang dengannya segala perkara yang dikhawatirkan lenyap dari mereka, ‘dan pahala yang besar’, maksudnya beruntung dengan meraih surga kekekalan yang berisi apa (saja) yang diinginkan oleh jiwa dan dinikmati oleh mata.” [Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalaam al-Mannaan vol. 3, juz. 12]

Ternyata seperti itulah tabiat manusia pada umumnya, ketika mereka mendapatkan ujian dan musibah dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, mereka berputus asa dari rahmatNya, tidak bersabar dan berharap pahalaNya yang besar, dan ketika mereka mendapatkan limpahan nikmat dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, mereka lupa diri lagi bangga, sombong, angkuh dan takabur di hadapan manusia yang lain, dan tidak bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala atasnya. Nikmat dunia kerap kali menutup mata dan hati sebagian besar manusia, mereka berlomba-lomba mengejarnya dan rela meninggalkan bekal sesungguhnya (yang bisa dibawanya kelak ke akhirat, red), yakni amal shalih. Padahal Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Barangsiapa yang mengendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Kembali asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala merahmatinya- berkata di dalam kitab tafsirnya yang bermanfaat, “Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang mengendaki kehidupan dunia dan perhiasannya’, maksudnya segala keinginannya terbatas hanya pada kehidupan dunia berupa wanita, anak-anak, emas dan perak yang melimpah, kuda pilihan (kendaraan, red), ternak dan tanah pertanian (business, red), maka sungguh ia telah memfokuskan keinginannya, usahanya dan pekerjaannya pada hal-hal ini, dan tidak terbetik dalam keinginannya untuk alam akhirat sedikitpun, orang ini tidak lain melainkan orang kafir, karena jika ia adalah orang yang beriman, niscaya imannya menghalanginya untuk memberikan seluruh keinginannya kepada alam dunia, bahkan imannya itu sendiri dan amal perbuatan yang dilakukannya (itu) adalah salah satu tanda kalau dia itu menginginkan alam akhirat, akan tetapi orang yang sengsara ini (atau) yang sepertinya hanya diciptakan untuk dunia saja, ‘niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna’, maksudnya, Kami memberi mereka sesuatu yang telah dibagikan kepada mereka di Ummul Kitab berupa balasan dunianya, ‘dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan’, tidak sedikitpun dari sesuatu yang ditakdirkan untuknya akan dikurangi, akan tetapi ini adalah puncak nikmat mereka. ‘Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka’, mereka kekal didalamnya selama-lamanya (‘abada), azabNya tidak terputus, mereka tidak mendapatkan balasan yang mulia. ‘Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan didalamnya’, yakni di dunia, maksudnya batal dan lenyap rencana mereka untuk membuat makar bagi kebenaran dan bagi pengikutnya, begitu pula amal kebaikan yang tidak berdasar dan tidak terpenuhi syaratnya, yaitu iman.” [Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalaam al-Mannaan vol. 3, juz. 12]

Wallaahu Ta’ala a’lamu...

Dicopas oleh seorang faqir ba’da Subuh, @Lengkong Kecil, Paledang

[Baca Selengkapnya...]


Surat Al-Imam An-Nawawi Kepada Sulthan



Beliau adalah seorang imam yang hafidz, tiada bandingannya, sang panutan, Syaikhul Islam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Husain bin Hizam bin Muhammad bin Jum’ah al-Hizami al-Haurani asy-Syafi’i –rahimahullaahu- (w. 676 H) (atau yang masyhur dengan sebutan al-Imam An-Nawawi –rahimahullaahu-, red), begitu kalimat yang tertera pada muqadimah pentahqiq kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Ibn al-Hajjaj.

Berkata al-Imam al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi al-Fariqi –rahimahullahu-, atau yang masyhur dengan nama al-Imam adz-Dzahabi (w. 748 H) mengenai beliau, “Dengan kesungguhannya dalam memerangi hawa nafsunya, kewara’an, selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, selalu berusaha menyucikan hati dari kekotoran maka ia menjadi seorang yang hafal hadits (hafidz), menguasai ilmunya, hafal para perawinya, ‘illat-illatnya, hadits-hadits shahih dan cacatnya dan sebagai tempat untuk meminta pendapat.” [al-Manhaj as-Sawi, hal. 51]

Berikut adalah salah satu nasihat beliau dan para ulama di zamannya yang di tujukan kepada Sulthan (Raja/ Presiden, red) melalui surat.

Ibnu Aththar (beliau adalah al-Hafidz Ala’uddin Ali bin Ibrahim bin Dawud bin Sulaiman Abu al-Hasan bin al-Aththar asy-Syafi’i –rahimahullaahu-, murid dari al-Imam An-Nawawi –rahimahullaahu-, red) bercerita, “Suatu ketika beliau menulis nasihat yang ditujukan kepada Raja Zhahir, berisi tentang keadilan dalam memimpin rakyat dan menghilangkan pungutan bea-cukai (pajak), dan beberapa orang ikut andil dalam tulisan tersebut kemudian mencatatnya dalam kertas dan disampaikan kepada sang pemimpin, yakni Badaruddin Bilbak al-Khazindar, dengan melewati tulisan para ulama untuk disampaikan kepada penguasa. Isi nasihat tersebut adalah sebagai berikut;

Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang, dari Abdullah Yahya An-Nawawi, semoga keselamatan, kasih sayang dan berkah Allah Subhaanahu wa Ta’ala atas tuan yang berbaik hati, sang penguasa Raja Badaruddin, mudah-mudahan Allah Yang Mulia selalu mengaruniakan kebaikan kepada anda[1], memimpin dengan cara yang baik, mendengar siapa saja yang mengutarakan keinginan-keinginannya. Dan semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala memberikan keberkahan atas anda dalam segala kondisi, amiin.

Para ulama yang mulia memberitahukan, bahwa penduduk Syam pada tahun ini sedang ditimpa kesengsaraan hidup dan kondisi yang mengenaskan karena sedkitnya hujan, harga-harga yang melambung tinggi, berkurangnya hasil bumi dan perkebunan, matinya hewan-hewan ternak dan lain sebagainya. Kalian mengetahui bahwa kasih sayang kepada pemimpin dan rakyat adalah keniscayaan, nasihat untuk kemashlahatannya dan kemashlahatan mereka, karena agama adalah nasihat. Para pelayan syariat telah menulis, mengemukakan nasihat untuk penguasa; karena kecintaan kepadanya, suatu tulisan yang akan mengingatkan dia agar memperhatikan keadaan rakyatnya dan berlaku lembut kepada mereka. Tidak ada suatu kepentingan tertentu, tapi sebuah nasihat yang murni, rasa sayang, dan pengabdian untuk orang-orang yang berakal. Sehingga tanggung jawab Amir –semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala menguatkan anda- untuk menyampaikan tulisan ini kepada raja atau penguasa. Mudah-mudahan Allah Subhaanahu wa Ta’ala selalu memberikan kebaikan kepadanya, dan menyampaikan keluhan ini kepada penguasa agar bersikap lembut kepada rakyat sebagai investasi dia di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala kelak.

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara (dia) dan hari itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksaan)-Nya.” (QS. Ali Imran: 30)

Surat ini ditulis oleh para ulama sebagai amanah dan nasihat kepada Raja, semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala menguatkan pertolongan kepadanya dan kaum muslimin seluruhnya di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, kewajiban bagi kalian para pemimpin untuk menyampaikannya kepada raja, semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala menguatkan pertolongan kepadanya, sedangkan kalian memiliki tanggung jawab terhadap amanah ini, tidak ada udzur bagi kalian untuk memperlambat penyampaian, tidak ada hujjah pula untuk melalaikannya, kelak di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.

“(Yaitu) pada hari (ketiika) harta dan anak-anak tidak berguna.” (QS. Asy-Syu’ara: 88), dan

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya. Dan dari ibu dan bapaknya. Dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukannya.” (QS. Abasa: 24-27)

Alhamdulillah, kalian adalah orang-orang yang menyukai kebajikan, memiliki semangat tinggi untuk mewujudkan kebaikan, dan bersegera menunaikannya. Sedangkan amanah ini termasuk di antara kebajikan yang paling penting, ia adalah sebaik-baiknya keta’atan, dan kalian memiliki keahlian untuk itu, Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah menitahkannya pada kalian, ini merupakan karunia dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, sementara kami merasa khawatir akan bertambah buruknya keadaan apabila kasih sayang tidak segera didapatkan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman;

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf: 201)[2]

Dan firman-Nya;

“...Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 215)

Para penulis surat ini sedang menantikan buah tulisannya, apabila kalian telah menunaikannya, maka pahalanya ada di sisi Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)

Wassalamu’alaykum warahmatullaahi wa barakaatuh

== Selesai kutipan ==

Dicopy-paste dari Muqadimah Pentahqiq, Al-Mihaj Syarah Shahih Muslim Ibn Al-Hajjaj vol.1 karya al-Imam an-Nawaawi –rahimahullaahu-

­­­­­­­­­______________________

[1]. Inilah adab ulama salaf dalam menasihati para pemimpin sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama dan para shahabatnya, bersikap lemah lembut tanpa caci maki, tertutup dan selalu mendoakan kebaikan bagi para pemimpinnya meskipun berbuat salah.

[2]. Berkata asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala merahmatinya- dalam menafsirkan ayat ini, “Karena hamba pasti lalai dan syaithan berhasil menipunya karena ia terus bersiap siaga menantikan kelengahan dan kelalaiannya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyebutkan tanda-tanda orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang menyimpang. Adapun orang yang bertakwa, jika ia merasakan dosa dan gangguan dari syaithan, lalu dia melakukan dosa dengan melakukan yang haram atau meninggalkan yang wajib, maka dia segera sadar dari mana syaithan datang dan dari pintu mana syaithan masuk kepadanya, dia menyadari apa yang diwajibkan Allah Subhaanahu wa Ta’ala atasnya dan apa yang menjadi tuntutan iman, maka ia memohon ampun kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, dia menambal apa yang terlewatkan dengan taubatan nashuha dan (mengerjakan) kebaikan yang banyak, maka dia berhasil mengusir syaithannya dengan hina dina dan memporak-porandakan apa yang syaithan dapatkan darinya.” [Taisir al-Karim ar-Rahman fii Tafsir Kalaam al-Manaan vol. 3, juz. 9]

[Baca Selengkapnya...]


Combine() Function di MapInfo Professional



Beberapa pekan yang lalu saya pernah mengulas sebuah topic sederhana mengenai konversi satuan koordinat (dari Degrees Minutes Seconds [DMS] ke Decimal Degrees [DD]). Sekedar flashback, waktu itu data koordinat (Longitude dan Latitude) hasil survey outlet tidak bisa termapping secara sempurna di MapInfo sehingga proses finalisasi data survey menjadi terhambat. Di satu sisi kami tidak mengharapkan masalah tersebut muncul (karena deadline dari Management waktu itu sudah mendekati akhir), namun di sisi lain, tidak ada “alternatif” yang lebih baik (bagi kami) kecuali harus menghadapi masalah tersebut (sebagai resiko dari sebuah kerja sama) hingga menemukan solusinya. Kata orang bijak, “Hindarilah masalah semampumu, namun jika masalah itu tetap mendekat, janganlah engkau jauhi. Masalah yang hadir itu tidak untuk ditolak namun (justru) untuk dipecahkan, karena bisajadi segudang pelajaran/hikmah itu melekat di balik masalah tersebut sampai akhirnya bisa engkau petik manfaatnya di kemudian hari.”

Nah kemarin ada permintaan baru lagi dari Area supaya Reg. Jabar menyediakan peta digital Jawa Barat yang terbagi menurut Branch Teritorry-nya (i.e Bandung, Cirebon dan Tasikmalaya). Just info, Branch merupakan gabungan dari beberapa Sub Branch, sedangkan Sub Branch merupakan fusi dari beberapa cluster yang berada dibawah teritorrynya. Cluster sendiri merupakan gabungan dari beberapa kecamatan yang menjadi wilayah kerja OMR dan Canvasser dari korporasi. Kebetulan peta digital eksisting yang kami punya hanya memiliki satu layer i.e layer Kecamatan yang bertipe object closed region sedangkan peta digital yang dibutuhkan adalah peta Branch. Agar mendapatkan peta “Branch” yang dimaksud, maka ada 3 solusi yang bisa kami lakukan;

[1]. Membeli peta baru dengan digitasi map hingga layer Branch. Ini merupakan solusi paling mudah sekaligus paling mahal. Mudah karena kita tidak perlu repot-repot melakukan digitasi sendiri, mahal karena harus mengeluarkan biaya pembelian. Meskipun demikian, kami tetap mendapatkan lampu hijau (dari Management) untuk bernegosiasi langsung dengan pihak Bakosurtanal, “engkongnya” peta digital di Indonesia guna mendapatkan peta yang kami butuhkan. Ada dua alasan, yang pertama; Peta digital Jabar yang kami punya saat ini tidak lagi updated. Beberapa kecamatan hasil pemekaran tidak lagi terakomodasi di map, yang kedua; Kebutuhannya mendesak. Jika suatu pekerjaan diserahkan kepada ahlinya, dimungkinkan akan cepat terselesaikan. Begitu menurut sebuah teori.

[2]. Melakukan sendiri proses digitasi “Branch” menggunakan teknik layering. Tapi hasilnya dijamin berantakan dan tidak akan memuaskan.. J (dah pesimis duluan)

[3]. Melakukan penggabungan data spasial yang ada (i.e Kecamatan) menggunakan fungsi Combine.

Dari 3 solusi diatas, option 1 dan 3 menjadi pilihan yang paling reasonable. Option 1 sudah dieksekusi, namun servis dari pihak Bakosurtanal ternyata kurang memuaskan kami dan terkesan tidak serius. Bahkan pertanyaan-pertanyaan penting dari kami tidak ditanggapi. Yo wes ga papa, akhirnya option 3 menjadi pilihan terakhir. Yang menjadi masalah adalah; “Piye carane yo??” (bagaimana caranya ya??); [Ini adalah salah satu pertanyaan andalan seorang pemula (seperti saya) di saat ide tak kunjung datang].

Qadarullah, saya berjumpa kembali dengan salah seorang senior sekaligus partner kerja waktu kuliah dulu, yang pernah sama-sama mengeyam manisnya pendidikan di Dayeuhkolot dan (pernah) menjadi penghuni kamar pengap Lab. PFT. Untuk urusan skill dan ilmu MapInfo, tak diragukan lagi bahwa dia jauh mengungguli saya, laiknya perumpamaan; bak bumi dengan langit, bak anak dengan bapak atau istilah lain yang semakna. Menurut pengalamannya, kombinasi data spasial bisa dilakukan dengan cara mengcreate syntax “Combine() Function” di Mapbasic yang dijalankan di MapInfo. Dua tahun yang lalu dia pernah mencobanya di beberapa project dan berhasil. Yang menjadi masalah selanjutnya adalah; saya tidak mempunyai installer Mapbasic, kalaupun ada, saya juga musti mempelajarinya terlebih dahulu sehingga waktu pengerjaan menjadi lebih lama (ini sebenarnya hanya alasan klasik dari penulis, atau dengan kata lain, ini merupakan bahasa halus dari penulis atas kalimat yang lebih ekstreem semisal; “saya tidak bisa Mapbasic”, atau “saya tidak paham Mapbasic” dst…sebagai upaya pembelaan saja J, red). Akhirnya setelah Googling, saya temukan url berikut:

http://testdrive.mapinfo.com/techsupp/miprod.nsf/kbase_by_product/A112381580BB24DF85256C54004DEC03

Nah menurut sumber diatas, kombinasi data spasial bisa dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Saya contohkan dengan peta yang saya punya dan dengan cara yang sedikit berbeda dari guidence, red):

[1]. Buka MapInfo Professional kemudian buka peta border kecamatan sebagai berikut;

[2]. Klik menu Window> New Browser Window atau tekan F2, pilih “border_kecamatan”;

[3]. Klik menu Query> Select All, kemudian klik Edit> Copy. Pindahkan data ke MS Excel. Tambahkan Kolom “Branch” dan isikan data Branch sesuai dengan territory-nya. Setelah selesai, simpan dengan nama “Data Kecamatan”;

[4]. Klik menu Table> Maintenance> Table Structure, kemudian pilih “border_kecamatan”. Klick Add Field, ketik “Branch” pada Name dan “22” pada Width, pilih “Character” pada Type, kemudian klik OK;

[5]. Klik menu Open, masuk ke folder yang terdapat “Data Kecamatan”, ubah Files of type-nya dari MapInfo (*.tab) menjadi Microsoft Excel (*.xls; *.xlsx) sehingga file “Data Kecamatan” akan tampak. Klik file tersebut hingga muncul window dibawah kemudian klik OK;

[6]. Klik menu Table> Update Column, masukkan informasi sebagaimana yang ditunjukkan gambar berikut kemudian klik OK;

[7]. Klik menu Table> Combine Objects using Column, masukkan informasi sebagaimana gambar di bawah kemudian klik OK. Simpan table dengan nama “Border Branch”;

Note: Store results in table artinya bahwa table dan layer “Border Branch” akan dibuat terpisah dari table dan layer “border_kecamatan” sedangkan Add to Current Mapper dimaksudkan agar map “Border Branch” yang tercreate berada pada satu “folder” dengan map “border_kecamatan”.

[8]. Terakhir, buka table “Border Branch”, maka akan muncul peta akhir sebagai berikut;

Itu saja yang bisa saya share, may it’s beneficial guys.

[Baca Selengkapnya...]


Mintalah Pertolongan Dengan Sabar & Shalat




Dalam kitab Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fi Tafsiir Kalaam Al-Mannan karya al-Mufassir, asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di –raheemahullaahu- (beliau adalah guru utama dari al-Mufaqqihul ‘Ashr as-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –raheemahullaahu-) vol. 1, juz. 2 disebutkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Tafsir ayat:

Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum mukminin untuk meminta pertolongan dalam segala urusan mereka baik dunia maupun akhirat, “dengan sabar dan shalat”, kesabaran adalah pengendalian dan penjagaan diri terhadap hal yang dibenci. Dan kesabaran (itu) ada tiga macam, yaitu sabar dalam keta’atan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala hingga mampu menunaikannya, sabar dari kemaksiatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala hingga menjauhinya dan sabar atas takdir-takdir Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang memilukan agar tidak memakinya.

Kesabaran adalah pertolongan yang besar dari segala sesuatu, karena tidak ada jalan bagi orang yang tidak bersabar untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, khususnya dalam hal ketaatan yang sangat sulit dan berkesinambungan, dimana hal itu sangatlah membutuhkan kesabaran dan keberanian untuk merasakan kepahitan yang menyakitkan, namun jika pelakunya itu konsekuen dengan kesabaran, niscaya ia akan memperoleh kemenangan, namun bila ia dijauhkan (oleh hal yang tidak disukai dan hal yang sulit) dari kesabaran, niscaya ia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kehampaan, demikian pula (kesabaran) dalam hal kemaksiatan dimana dorongan nafsu dan godaannya begitu kuat untuk melakukannya dan dia sendiri (sebenarnya) mampu melakukannya. Hal ini tidaklah mungkin ditinggalkan kecuali dengan kesabaran yang besar serta menahan dorongan dan godaan (hawa) nafsunya karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala, lalu dia meminta pertolongan kepadaNya untuk memeliharanya dari perbuatan tersebut, karena hal itu adalah termasuk fitnah-fitnah yang agung, dan juga ujian yang paling berat khususnya bila berlanjut. Dan ini akan lemah dengan adanya kekuatan ruhani dan jasmani namun ujian tersebut (juga) akan menimbulkan kecaman bila dia tidak melawannya dengan kesabaran karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan bertawakal kepadaNya dengan bersandar kepadaNya dan membutuhkannya secara terus menerus.

Akhirnya anda ketahui bahwa kesabaran itu sangatlah dibutuhkan oleh seorang hamba, bahkan menjadi suatu yang darurat dalam setiap kondisi, oleh karena itu Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan kepadanya dan mengabarkan bahwasanya Dia, “beserta orang-orang yang sabar”, maksudnya beserta orang-orang yang menjadikan kesabaran sebagai akhlak, sifat dan karakternya dengan adanya pertolongan, bimbingan dan arahanNya, hingga kesulitan dan kemalangan itu terasa sepele, segala hal yang luar biasa terasa mudah, dan segala kesusahan yang ia rasakan akan lenyap, hal ini adalah kebersamaan khusus yang akan menyebabkan kecintaan, pertolongan, pembelaan, dan kedekatanNya, ini semua adalah keutamaan yang besar bagi orang-orang yang bersabar. Sekiranya orang-orang yang bersabar itu tidak memiliki keutamaan, kecuali (sekedar) memperoleh kebersamaan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, maka cukuplah bagi mereka hal itu sebagai keutamaan dan kemuliaan. Adapun kebersamaan yang umum adalah kebersamaan ilmu dan kekuasaan sebagaimana (disebutkan) dalam firmanNya (yang artinya):

Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid: 4)

Yang ini adalah bersifat umum untuk seluruh makhluk.

Lalu Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk meminta pertolongan dengan shalat, karena shalat adalah tiang agama dan cahaya kaum mukminin, dan ia adalah penghubung antara seorang hamba dengan Rabbnya. Apabila shalat seorang hamba itu sempurna, ditambah dengan apa yang diwajibkan dan disunnahkan kepadanya, yang terisi oleh kehadiran hati yang merupakan intinya, hingga seorang hamba (bila mulai melaksanakan shalat), merasa masuk menemui Rabbnya dan berdiri di hadapanNya sebagaimana berdirinya seorang pembantu yang bersopan santun dan penuh perhatian dengan apa yang ia bicarakan dan apa yang ia lakukan serta terbuai dalam bermunajat kepada Rabbnya dan berdoa kepadaNya; (maka) tidak salah lagi bahwa shalat itu adalah sebesar-besar penolong dari segala perkara, karena shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan karena kehadiran hati di dalam shalat itu mengharuskan adanya sebuah karakter dalam hati seorang hamba yang mengajaknya kepada pelaksanaan perintah Rabbnya dan menjauhi larangan-laranganNya, inilah shalat yang diperintahkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala untuk dijadikan penolong dalam segala perkara.

--- Selesai kutipan ---



Lengkong Kecil, Bandung, Ba’da Shubuh.
[Baca Selengkapnya...]


Tafsir QS. Al-Baqarah 152-153



Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya;

  
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ (151) فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ (152

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kamu al-Kitab dan al-Hikmah (as-sunnah an nabawiyyah) serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepadaKu, dan jaganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku.” (QS. Al-Baqarah 151-152)


Tafsir ayat:


يقول تعالى: إن إنعامنا عليكم باستقبال الكعبة وإتمامها بالشرائع والنعم المتممة, ليس ذلك ببدع من إحساننا, ولا بأوله, بل أنعمنا عليكم بأصول النعم ومتمماتها, فأبلغها إرسالنا إليكم هذا الرسول الكريم منكم, تعرفون نسبه وصدقه, وأمانته وكماله ونصحه ( يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا ) وهذا يعم الآيات القرآنية وغيرها، فهو يتلو عليكم الآيات المبينة للحق من الباطل, والهدى من الضلال, التي دلتكم أولا على توحيد الله وكماله, ثم على صدق رسوله, ووجوب الإيمان به, ثم على جميع ما أخبر به من المعاد والغيوب, حتى حصل لكم الهداية التامة, والعلم اليقيني

Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyatakan, “Sesungguhnya pemberian nikmat Kami atas kalian dengan menghadap ke Ka’bah (lihat tasfir surat sebelumnya, red) dan penyempurnaannya dengan syariat-syariat serta nikmat-nikmat penyempurna bukanlah sesuatu yang aneh dalam kebajikan Kami dan bukan pula yang pertama, bahkan Kami telah memberikan nikmat atas kalian dengan nikmat-nikmat dasar dan penyempurnaannya dan yang paling besar adalah pengutusan Kami atas kalian seorang Rasul yang mulia dari kalangan kalian, dimana kalian mengetahui garis keturunannya, kejujuran, amanah, kesempurnaan dan ketulusannya, “yang membacakan ayat-ayat kepada kamu”, ini mencakup segala ayat-ayatNya baik ayat Al-Qur’an maupun ayat-ayat lainnya, beliau membacakan kepada kalian ayat-ayat yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan dan hidayah dari kesesatan, yang menunjukkan kalian pertama, tentang keesaan Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan kesempurnaannya, kedua, tentang kebenaran RasulNya dan wajibnnya beriman kepadanya, kemudian kepada segala hal yang dikabarkan olehnya dari Hari Pembalasan maupun hal-hal yang ghaib, sehingga kalian memperoleh hidayah yang sempurna dan ilmu yang meyakinkan.


( وَيُزَكِّيكُمْ ) أي: يطهر أخلاقكم ونفوسكم, بتربيتها على الأخلاق الجميلة, وتنزيهها عن الأخلاق الرذيلة, وذلك كتزكيتهم من الشرك, إلى التوحيد ومن الرياء إلى الإخلاص, ومن الكذب إلى الصدق, ومن الخيانة إلى الأمانة, ومن الكبر إلى التواضع, ومن سوء الخلق إلى حسن الخلق, ومن التباغض والتهاجر والتقاطع, إلى التحاب والتواصل والتوادد, وغير ذلك من أنواع التزكية


Dan mensucikan kamu”, maksudnya, mensucikan akhlak dan jiwa kalian dengan mendidiknya. Dengan akhlak yang mulia, dan membersihkannya dari akhlak tercela, yang seperti itu mensucikan mereka dari kesyirikan kepada ketauhidan, riya’ kepada keikhlasan, dari kebohongan kepada kejujuran, dari penghianatan kepada amanah, dari kesombongan kepada kerendahan hati, dari akhlak yang buruk kepada akhlak yang luhur, dari saling benci, saling bermusuhan dan saling memutuskan hubungan (silaturahmi) kepada saling mencintai, saling bersilaturahim dan saling kasih mengasihi, dan lain sebagainya dari hal penyucian.


( وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ ) أي: القرآن, ألفاظه ومعانيه، ( وَالْحِكْمَةَ ) قيل: هي السنة, وقيل: الحكمة, معرفة أسرار الشريعة والفقه فيها, وتنزيل الأمور منازلها فيكون - على هذا - تعليم السنة داخلا في تعليم الكتاب, لأن السنة, تبين القرآن وتفسره, وتعبر عنه


Dan mengajarkan kepadamu al-Kitab”, yakni Al-Qur’an baik lafadz maupun maknanya, “dan al-Hikmah”; suatu pendapat berkata, ‘as sunnah’ yang lain berpendapat, al-Hikmah adalah mengetahui rahasia-rahasia syarat dan fikih serta menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, maka dalam hal ini pengajaran sunnah termasuk ke dalam pengajaran al-Kitab, karena sunnah itu menjelaskan Al-Qur’an, menafsirkannya dan mengutarakan maksudnya.


( وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ ) لأنهم كانوا قبل بعثته, في ضلال مبين, لا علم ولا عمل، فكل علم أو عمل, نالته هذه الأمة فعلى يده صلى الله عليه وسلم, وبسببه كان، فهذه النعم هي أصول النعم على الإطلاق, ولهي أكبر نعم ينعم بها على عباده، فوظيفتهم شكر الله عليها والقيام بها؛ فلهذا قال تعالى


Dan mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”, karena mereka itu benar-benar ada dalam kesesatan yang nyata sebelum diutusnya beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, yang tidak berilmu dan tidak pula beramal. Setiap ilmu dan amal yang diperoleh umat ini adalah dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama dan karena sebabnyalah semua itu ada.

Nikmat-nikmat tersebut adalah nikmat-nikmat dasar secara mutlak, dan dia adalah kenikmatan terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya, oleh karena itu tugas mereka selanjutnya adalah bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala atas nikmat-nikmat tersebut dan menegakannya, karena itu Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya);


( فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ ) فأمر تعالى بذكره, ووعد عليه أفضل جزاء, وهو ذكره لمن ذكره, كما قال تعالى على لسان رسوله: ( من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي, ومن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم ) وذكر الله تعالى, أفضله, ما تواطأ عليه القلب واللسان, وهو الذكر الذي يثمر معرفة الله ومحبته, وكثرة ثوابه، والذكر هو رأس الشكر, فلهذا أمر به خصوصا, ثم من بعده أمر بالشكر عموما فقال


“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”, Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan hambaNya untuk mengingatNya, dan menjanjikan kepadanya sebaik-baik balasan yaitu bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan mengingatnya pula i.e bagi orang-orang yang ingat kepadaNya, sebagaimana yang disabdakan dari lisan RasulNya Shallallaahu ‘alaihi wa sallama;

Barangsiapa yang menyebut (mengingat)Ku pada dirinya niscaya Aku akan mengingatnya pada diriKu, dan barangsiapa yang menyebut (mengingat)Ku pada khalayak ramai, niscaya Aku akan mengingatnya pula pada khalayak ramai yang lebih mulia dari mereka”. (HR. Al-Bukhari No. 7405 dan Muslim No. 2675, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)

Dzikir kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang paling istimewa adalah dzikir yang dilakukan dengan hati dan lisan, yaitu dzikir yang menumbuhkan ma’rifat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, kecintaan kepadaNya dan menghasilkan ganjaran yang banyak dariNya. Dzikir adalah puncaknya rasa syukur, oleh karena itu Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan hal itu secara khusus, kemudian memerintahkan untuk bersyukur secara umum seraya berfirman;


( وَاشْكُرُوا لِي ) أي: على ما أنعمت عليكم بهذه النعم، ودفعت عنكم صنوف النقم، والشكر يكون بالقلب, إقرارا بالنعم, واعترافا, وباللسان, ذكرا وثناء, وبالجوارح, طاعة لله وانقيادا لأمره, واجتنابا لنهيه, فالشكر فيه بقاء النعمة الموجودة, وزيادة في النعم المفقودة، قال تعالى:  لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ  وفي الإتيان بالأمر بالشكر بعد النعم الدينية, من العلم وتزكية الأخلاق والتوفيق للأعمال, بيان أنها أكبر النعم, بل هي النعم الحقيقية؟ التي تدوم, إذا زال غيرها وأنه ينبغي لمن وفقوا لعلم أو عمل, أن يشكروا الله على ذلك, ليزيدهم من فضله, وليندفع عنهم الإعجاب, فيشتغلوا بالشكر.
ولما كان الشكر ضده الكفر, نهى عن ضده فقال: ( وَلا تَكْفُرُونِ ) المراد بالكفر هاهنا ما يقابل الشكر, فهو كفر النعم وجحدها, وعدم القيام بها، ويحتمل أن يكون المعنى عاما, فيكون الكفر أنواعا كثيرة, أعظمه الكفر بالله, ثم أنواع المعاصي, على اختلاف أنواعها وأجناسها, من الشرك, فما دونه


Dan bersyukurlah kepadaKu”, maksudnya terhadap apa yang telah Aku nikmatkan kepada kalian dengan nikmat-nikmat tersebut dan Aku jauhkan dari kalian berbagai macam kesulitan. Syukur itu dilakukan dengan hati berupa pengakuan atas nikmat yang didapatkan, dengan lisan berupa dzikir dan pujian, dan dengan anggota tubuh berupa ketaatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala serta kepatuhan terhadap perintahNya dan menjauhi laranganNya. Syukur itu menyebabkan kelanggengan nikmat yang telah didapatkan dan menambah kenikmatan yang belum didapatkan.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

Jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Dengan adanya perintah untuk bersyukur setelah kenikmatan agama seperti ilmu dan penyucian akhlak serta taufik kepada pengamalan merupakan penjelasan bahwa hal itu adalah sebesar-besarnya kenikmatan, bahkan dia adalah kenikmatan yang sebesarnya yang akan selalu eksis bila yang lainnya lenyap. Dan seyogyanya bagi orang yang diberikan taufik kepada ilmu dan amal agar bersyukur kepada Allah atas semua itu, agar Allah Subhaanahu wa Ta’ala menambahkan nikmatNya dan menghindarkan dirinya dari rasa bangga diri hingga akhirnya dia hanya sibuk dengan bersyukur.

Dan ketika kebalikan dari rasa syukur adalah pengingkaran maka, Allah Subhaanahu wa Ta’ala melarang pengingkaran tersebut seraya berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu”, maksud dari pengingkaran disini adalah suatu hal yang bertolak dengan bersyukur yaitu ingkar terhadap kenikmatan yang diberikan dan menampiknya serta tidak bersyukur kepadaNya.

Kemungkinan juga maknanya adalah bersifat umum maka pengingkaran itu ada bermacam-macam, dan yang paling besar adalah pengingkaran terhadap Allah Subhaanahu wa Ta’ala, kemudian macam-macam kemaksiatan dengan segala bentuk dan jenisnya dari kesyirikan dan selainnya.

-- Selesai kutipan--


Dicopy-paste dari Taisir al-Karim ar-Rahman fii Tafsir Kalam al-Mannan vol. 2, juz. 2
Ba’da Shubuh, Lengkong Kecil, Bandung
[Baca Selengkapnya...]


 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula