Beramal Untuk Akhirat












Al-Imam Ibnu Hazm al-Andalusi -rahimahullaahu- mengatakan:


“Aku dapati bahwa beramal untuk akhirat selamat dari segala aib

Bersih dari semua kotoran

Mengusir kegundahan hati secara hakiki


Aku dapati orang yang beramal untuk akhirat bila ditimpa musibah

Ia tidak resah bermuram durja

Bahkan ia merasa riang-gembira

Karena harapannya meraih pahala di balik musibah

Memberinya kekuatan untuk tetap mencari yang ia inginkan


Aku juga mendapati

Bila ada yang menghadangnya dari jalan yang ia lalui

Ia tidak gelisah

Tidak juga lebih mengutamakannya dari yang ia cari


Bila ia lelah, ia tetap bahagia

Bila terkena gangguan, ia tetap bahagia

Bila ujian menerpanya, ia tetap bahagia


Ia selalu berada dalam kegembiraan dan kebahagiaan

Sementara para pengejar dunia

Keadaan mereka sebaliknya.”

(Al-Akhlak wa Siyar, Hal. 15-16)


Sumber: www.cintasunnah.com


[Baca Selengkapnya...]


Ringan Di Lisan Namun Berat Di Konsekuensi



Hari ini saya pulang lebih cepat, begitu juga dengan rekan-rekan yang lain. “Today is like Sunday”,.. ya, “Nothing to do since nobody’s working today. It’s truly like holiday..”. Suasana di kantor memang sedang kurang kondusif (mudah-mudahan segera kembali normal, red), orang-orang memilih untuk tidak beraktifitas seperti biasanya. Duduk-duduk di basement, makan kripik hasil sumbangan ibu-ibu dan berbincang-bincang ringan sambil menunggu waktu dzuhur tiba. Beberapa senior menuturkan, “Banyak orang yang tidak amanah di tempat kita. Mereka menjanjikan sesuatu, tetapi tidak ditepati. Mereka menyepakati sesuatu, namun (nyatanya hanya) untuk diingkari”.. wallaahu Ta’ala a’lamu. Sesampainya di rumah, saya coba membuka buku tafsir untuk mengisi waktu senggang menjelang ashr dan menemukan ayat berikut;

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang shalih.’ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi. Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?” (QS. At-Taubah: 75-78)

Ayat diatas dikutip tidak untuk menyindir perilaku orang-orang yang dianggap “tidak amanah” tersebut. Kalaupun dikait-kaitkan (katakanlah begitu) kayaknya juga tidak terlalu relevan dengan kondisi yang terjadi di lingkungan kami. Ayat ini dikutip sebagai pengingat bagi kita agar berhati-hati dengan penyakit nifaq yang bisa menjangkiti siapa saja, dan kapan saja.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menerangkan azbaabun nuzul ayat diatas: “Ayat-ayat ini turun mengenai seorang munafik yang bernama Tsa’labah, dia datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama memohon kepadanya untuk berdoa kepada Allah agar memberinya karunia, dan bahwa jika Allah memberinya, maka dia akan bersedekah, bersilaturahim, dan menolong orang yang dalam musibah, maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama mendoakannya. Dia memiliki kambing, kambingnya itu terus berkembang biak sehingga dia menggembalakannya sampai keluar Madinah, akhirnya dia tidak menghadiri kecuali shalat Jum’at, kambingnya bertambah banyak maka ia semakin menjauh, akibatnya (adalah) dia tidak menghadiri (shalat) (ber)jama’ah dan Jum’at. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama merasa kehilangan dia, beliau diberitahu tentang keadaannya, maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama mengutus orang untuk mengambil zakat dari orang-orang yang wajib zakat. Ketika mereka mendatangi Tsa’labah, maka Tsa’labah berkata, “Ini tidak lain kecuali jizyah. Ini tidak lain kecuali saudaranya jizyah (note: Jizyah berasal dari kata “jazaa” yang berarti balasan dan secara istilah ia merupakan harta yang wajib dibayarkan oleh kalangan ahlu Dzimmi yang bertempat tinggal di sebuah Daulah Islam kepada pemerintah atau penguasa Daulah Islam tersebut).” Ketika Tsa’labah tidak mau membayar zakat, mereka datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama dan menyampaikan hal itu. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda;

“Celaka Tsa’labah. Celaka Tsa’labah. Celaka Tsa’labah.”

Ketika ayat ini turun kepadanya dan pada orang yang semisalnya, maka sebagian keluarganya menyampaikannya kepada Tsa’labah. Dia pun datang membawa zakatnya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, tetapi beliau tidak mau menerimanya. Setelah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama wafat, zakatnya dibawa kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu, dan beliau juga tidak mau menerimanya, lalu kepada Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu setelah Abu Bakar, dan beliau pun tidak mau menerimanya. Dikatakan bahwa Tsa’labah meninggal pada masa Utsman bin Affan radhiyallaahu ‘anhu”. [Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, vol. 3 juz. 10]

Kurang lebih begitulah gambaran orang munafik. Ia khusyuk berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala agar memberinya karunia yang banyak dan berjanji (jika doanya terkabul) akan bersedekah, berzakat, membantu orang yang terkena musibah dan mengerjakan amal-amal yang baik lagi shalih. Namun tatkala doanya terkabul, ia kemudian terbuai oleh kemewahan dunia dan lupa akan janji-janji yang pernah diucapkannya. Kemewahan membuatnya kikir untuk bersedekah dan berzakat, kesibukan dunia membuatnya lupa dan malas untuk mengerjakan amal shalih. Ketika diingatkan, ia akan mengeluarkan berbagai macam alasan untuk menolaknya. Ia sendiri yang berjanji, ia sendiri pula yang mengingkari. Ini adalah sebuah warning bagi saya pribadi yang dhaif lagi jahil ini sekaligus nasihat agar saya selalu berinstrospeksi diri setiap saat.

Tafsir ayat

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menjelaskan ayat diatas:

<75> Yakni, diantara orang-orang munafik itu ada yang berjanji kepada Allah, Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami dari dunia, lalu Dia melapangkannya dan membentangkannya untuk kami, “pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang shalih”. Kami akan bersilaturahim, menjamu tamu, membantu orang yang mendapatkan musibah dan melakukan amalan-amalan yang baik lagi shalih.

<76>; Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka ingkari ucapan mereka sendiri, bahkan mereka kikir dan berpaling dari ketaatan dan ketundukan (kepada Allah Ta’ala, red) dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi, yakni tidak melihat kebenaran.

<77>; Karena mereka tidak menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah Ta’ala, Dia menghukum mereka dan Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Maka hendaknya seorang mikmin mewaspadai sifat buruk ini, yakni berjanji kepada Allah jika maksudnya yang begini dan begini tercapai, maka dia akan melakukan ini dan itu, kemudian dia tidak menepati, karena bisa jadi Allah menghukumnya dengan kemunafikan seperti mereka. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama telah bersabda dalam hadits yang tsabit dalam ash-Shahihain,

“Tanda orang munafik ada tiga; Jika berbicara berdusta, jika melakukan perjanjian ia berkhianat dan jika berjanji tidak menepati”

Munafik ini berjanji kepada Allah jika Dia memberikan karuniaNya kepadanya niscaya ia akan bersedekah dan menjadi orang yang shalih, dia berbicara lalu berdusta, dia melakukan suatu perjanjian lalu mengkhianati dan dia berjanji lalu tidak menepati.

<78>; Karena itu Allah mengancam orang yang melakukan hal itu dengan firmanNya, Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?, Allah akan membalas mereka atas apa yang mereka kerjakan yang diketahui oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. [Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, vol. 3 juz. 10]

== Selesai kutipan ==

Mudah-mudahan kita dijauhkan dari sifat munafik beserta orang-orangnya i.e mereka yang gemar berdusta ketika berbicara, yang tak segan berkhianat ketika diberikan amanah, dan tak sungkan untuk berbuat ingkar ketika berjanji. Akhirnya saya berdoa, “Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari nifaq, (bersihkanlah) amalku dari riya, (bersihkanlah) lisanku dari dusta, (bersihkanlah) mataku dari pengkhianatan. Sesungguhnya Engkau mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan didalam dada.” (HR. Hakim (2/227)

[Baca Selengkapnya...]


Perumpamaan Dunia Selanjutnya



Dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallaahu ‘anhu dia berkata;

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama berdiri lalu berkhatbah, “Tidak wallaahi (demi Allah), aku tidak mengkhawatirkan apapun dari kalian selain pada bunga dunia yang dikeluarkan Allah.”

Seorang laki-laki berdiri, dia bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah kebaikan mendatangkan keburukan?”

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama diam, kemudian bersabda, “Apa yang engkau tanyakan?”

Laki-laki itu berkata, “Wahai Rasulullah, adakah kebaikan mendatangkan keburukan?”

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Kebaikan itu mendatangkan kebaikan juga. Segala sesuatu yang tumbuh di musim semi dapat membunuh atau membinasakan. Kecuali hewan pemakan tumbuh-tumbuhan yang ketika kenyang, ia menghadap ke arah matahari dan membuang kotorannya. Setelah itu ia lari. Setelah perutnya kosong, ia makan lagi. Maka, siapapun yang mengambil harta dengan haknya, akan diberkahi hartanya. Dan siapa yang mengambil harta yang bukan haknya maka dia seperti orang yang makan akan tetapi tidak pernah kenyang.” [HR. Bukhari No. 6427 dan Muslim No. 122 dalam az-Zakah]

Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hambali mencantumkan hadits diatas dalam kitab Qaala Ibnu Rajab. Hari ini saya ingin mengcopy-paste penjelasan al-Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab beliau ‘Uddatush Shaabirin terkait hadits tersebut. Berikut syarh-nya (semoga bermanfaat bagi kita semua).

Berkata al-Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah –Semoga Allah Ta’ala merahmatinya-:

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama mengabarkan bahwa beliau khawatir para shahabat akan terpikat oleh dunia. Oleh karena itu beliau mengumpamakan dunia dengan bunga. Sebab, kemiripan dunia dengan bunga terletak pada keindahan dan ketidakabadiannya. Padahal di balik dunia itu terdapat akhirat yang memiliki buah yang lebih baik dan lebih abadi.

Sabda beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, “Segala sesuatu yang tumbuh di musim semi dapat membunuh atau membinasakan”, adalah merupakan perumpamaan yang sangat indah. Ini adalah peringatan bagi orang yang menikmati dunia dan bergelimang harta. Sebagaimana binatang ternak bernafsu sekali dan sangat berambisi ketika melihat tumbuh-tumbuhan segar di musim semi, maka dengan rakus ia memakannya sampai mati karena kekenyangan. Pun demikian sifat rakus terhadap dunia. Sifat ini dapat mematikan orang yang menikmatinya, atau setidaknya menggiringnya kepada kematian/kebinasaan. Kenyataan membuktikan/menunjukkan bahwa banyak orang kaya (yang) terbunuh oleh kekayaan mereka sendiri. Dengan rakus mereka mengumpulkan harta kekayaan, sementara orang lain membutuhkannya. Mereka pun tidak bisa mengumpulkan harta itu kecuali dengan jalan membunuh, ataupun menginjak dan menindas orang lain.

Sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, “Kecuali hewan pemakan tumbuh-tumbuhan”, adalah perumpamaan untuk orang yang mengambil dunia secukupnya. Beliau membuat perumpamaan hewan pemakan tumbuh-tumbuhan yang makan sebatas kebutuhan dirinya, yakni sampai lambungnya penuh.

Sabda Nabi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama tersebut, “yang ketika kenyang, ia menghadap ke arah matahari dan membuang kotorannya”, mengandung tiga faidah;

[1]. Bahwa hewan itu setalah ia puas memenuhi lambungnya dengan tumbuh-tumbuhan tersebut, dia menghadap ke arah matahari dan membuang kotorannya.

[2]. Hewan itu berpaling dari kerakusan yang bisa membahayakan dirinya. Kemudian ia menghadap pada sesuatu yang bermanfaat baginya, seperti berjemur di bawah sinar matahari. Perbuatannya ini (akan) mematangkan makanan yang sedang diproses (dalam perutnya), lalu mengeluarkannya berupa kotoran dari perut (tersebut).

[3]. Hewan itu mengosongkan lambungnya dengan membuang kotoran yang berasal dari makanan yang ditimbunnya di dalam perut. Ia akan merasa leluasa dan lega setelah mengeluarkan kotorannya. Karena apabila kotoran tersebut ditahannya maka bisa membunuhnya. Dia akan mendapat kebaikan jika melakukan seperti apa yang dilakukan hewan tersebut.

Hadits tersebut dimulai dengan menyebutkan sifat rakus sebagai perumpamaan orang yang mengumpulkan dan mendapatkan kekayaan dunia. Orang seperti ini tak ubahnya binatang yang dengan kerakusan dan ketamakannya memakan tumbuh-tumbuhan sampai (/hampir) mati karena kekenyangan. Jadi ketamakan dan kerakusan itu dapat mematikan/membinasakan atau mendekatkan pada kematian/kebinasaan.

Musim semi menumbuhsuburkan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan. Maka binatang disana pun bergembira dan bersenang-senang hingga perutnya menggelembung melebihi kapasitas perutnya. Sehingga usus dan lambungnya merasa berat dan ia pun mati (karenanya). Demikian pula manusia yang pekerjaannya mencari dan menghimpun kekayaan dunia yang tidak menghiraukan halal dan haramnya, lalu menahannya dan membelanjakannya dengan tidak benar.

Kemudian pada akhir hadits ditutup dengan perumpamaan orang yang sederhana. Dia seperti pemakan tumbuh-tumbuhan yang dapat bermanfaat baginya. Akan tetapi ia tidak rakus dan tidak makan melebihi kapasitas perutnya. Ia hanya makan sesuai kebutuhan. Ia hanya mengambil sekedar yang dibutuhkannya (saja) lalu (segera) mengalihkan perhatian pada hal lain yang bermanfaat. Pengeluaran kotoran oleh hewan tersebut diumpamakan dengan orang yang mengeluarkan hartanya sesuai haknya. Karena sikap menghitung-hitung dan menahan harta itu dapan membahayakan dirinya.

Maka dari itu selamatlah dirinya dari marabahaya timbunan harta itu, karena dia hanya mengambil harta sekedar dengan kebutuhannya. Ia juga selamat dari bahaya menahan harta, yaitu dengan mengeluarkannya. Sebagaimana halnya hewan yang selamat dari kematian dengan membuang kotorannya.

Dalam hadits ini terdapat sebuah isyarat untuk hidup sederhana, hidup di tengah-tengah antara kerakusan –pada tumbuh-tumbuhan yang dapat mematikan bila berlebihan dalam memakannya- dan berpaling darinya sama sekali –sehingga dapat membuat kelaparan yang juga mematikan-. Hadits ini juga mengandung nasihat bagi orang yang memiliki banyak harta agar melakukan sesuatu yang dapat menjaga kekuatan dan kesehatan tubuh maupun hatinya, yaitu dengan mengeluarkan dan menginfakkan hartanya serta tidak menghitung-hitungnya sehingga dapat membahayakan.

== Selesai kutipan ==

[Baca Selengkapnya...]


 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula