Evaluasi Diri? Yuk Mari..



Sudah berapa banyak-kah kewajiban dan kebaikan yang sudah kita tinggalkan/lalaikan?. Jawabannya pasti tak terhitung. Entah itu yang disebabkan oleh hawa nafsu, oleh kejahilan (kebodohan) maupun ketidaksengajaan kita. Bisa jadi sama banyaknya dengan nikmat-nikmat Allah Tabaaraka wa Ta’ala yang sudah Ia berikan kepada hamba-hambaNya. Barangkali disinilah pentingnya kita “melakukan evaluasi diri” sebagai seorang hamba yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla agar tidak (terus menerus) terhanyut dalam kelalaian. Apa saja yang perlu dievaluasi?. Di jelaskan oleh al-Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d al-Zar’i ad-Dimasyqi –semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala merahmatinya- dalam kitabnya, إغاثة اللهفان من مصايد الشيطان (Ighatsatul Lahfan min Mashayidi asy-Syaithan), beliau –raheemaahullaahu- berkata:

أن يحاسب نفسه أولا على الفرائض، فإن تذكر فيها نقصا تداركه، إما بقضاء أو إصلاح. ثم يحاسبها على المناهي، فإن عرف أنه ارتكب منها شيئا تداركه بالتوبة والاستغفار والحسنات الماحية. ثم يحاسب نفسه على الغفلة، فإن كان قد غفل عما خلق له تداركه بالذكر والإقبال على الله تعالى. ثم يحاسبها بما تكلم به، أو مشت إليه رجلاه، أو بطشت يداه، أو سمعته أذناه: ماذا أرادت بهذا؟ ولم فعلته؟ وعلى أي وجه فعلته؟ ويعلم أنه لابد أن ينشر لكل حركة وكلمة منه ديوانان: ديوان لم فعلته؟ وكيف فعلته؟ فالأول سؤال عن الإخلاص، والثانى سؤال عن المتابعة، وقال تعالى:
{فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمعِينَ عَمَّا كَانُوا يعْمَلُونَ} [الحجر: 92 - 93] وقال تعالى {فَلَنَسْئَلَنَّ الّذِينَ أُرْسِلَ إلَيْهِمْ وَلَنَسْئَلَنَّ المُرْسَلِينَ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبينَ} [الأعراف: 6 - 7] وقال تعالى {لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَن صِدْقِهمْ} [الأحزاب: 8].
فإذا سئل الصادقون وحوسبوا على صدقهم فما الظن بالكاذبين؟.

(a). Mengenai amalan-amalan fardhu. Bila ia mengingat adanya kekurangan, hendaklah segera menyempurnakannya, dengan melakukan qadha’ (mengganti yang ditinggalkan, red) atau perbaikan.

(b). Mengenai hal-hal yang dilarang. Bila ia mengetahui bahwa dirinya melanggar sebagian larangan tersebut, hendaklah segera memperbaikinya dengan taubat, istighfar, dan kebaikan-kebaikan yang bisa menghapuskan dosa.

(c). Melakukan evaluasi terhadap kelalaiannya. Bila ia lalai terhadap tujuan penciptaan dirinya, hendaklah memperbaikinnya dengan berdzikir dan mengingat Allah Ta’ala.

(d). Hendaklah melakukan evaluasi terhadap apa yang diucapkannya, kemana kakinya melangkah, apa yang digenggam tangannya atau yang didengarkan oleh telingannya dengan bertanya: “Apa yang engkau ingingkan dari perbuatan ini?, untuk siapa engkau melakukannya? Apa tujuanmu melakukannya? Ia mengetahui bahwa untuk setiap gerakan dan perkataannya, akan terdapat dua pertanyaan: Mengapa engkau melakukannya? dan bagaimana?

Pertanyaan pertama berkaitan dengan keikhlasan sedangkan pertanyaan kedua berkaitan dengan mutaba’ah (i.e mengikuti petunjuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama). Allah (Subhaanahu wa) Ta’ala berfirman:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمعِينَ عَمَّا كَانُوا يعْمَلُونَ [الحجر: 92 - 93]

“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS. Al-Hijr: 92-93)

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَنَسْئَلَنَّ الّذِينَ أُرْسِلَ إلَيْهِمْ وَلَنَسْئَلَنَّ المُرْسَلِينَ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبينَ [الأعراف: 6 - 7]

“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-Rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-Rasul (Kami). Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (QS. Al-A’raf: 6-7)

Allah Ta’ala berfirman, “Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (QS. Al-Ahzab: 8).

Jika orang-orang yang benar saja dihisab dan ditanya mengenai kebenarannya, maka bagaimana dengan orang-orang yang dusta?.

==selesai kutipan==


Faidah yang bisa kita ambil dari penjelasan beliau –raheemahullaahu Ta’ala- diatas adalah:

(a). Sudah seharusnya kita bersungguh-sungguh lagi ikhlas dalam beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, dan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab beliau –raheemahullahu-:

قال تعالى:
{وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذا أَجَبْتُمُ المُرْسَلِينَ} [القصص: 65].

قال قتادة: كلمتان يسأل عنهما الأولون والآخرون: ماذا كنتم تعبدون؟ وماذا أجبتم المرسلين؟ فيسأل عن المعبود وعن العبادة.

Allah Ta’ala berfirman:

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذا أَجَبْتُمُ المُرْسَلِينَ [القصص: 65].

“Pada hari ketika Allah menyeru seraya berkata kepada mereka: ‘Apakah jawabanmu kepada para Rasul?’” (QS. Al-Qashash: 65)

Qatadah berkata, “Ada dua pertanyaan yang diarahkan kepada umat-umat terdahulu maupun umat umat kemudian: Apa yang dahulu kalian sembah? Dan apa jawaban kalian terhadap para Rasul yang diutus?. Jadi, Allah akan bertanya tentang Rabb yang disembah dan tentang ibadah.

(b). Mensyukuri segala nikmat yang Allah Tabaaraka wa Ta’ala berikan kepada kita dan tidak melakukan sebaliknya (i.e mengkufurinya), mencarinya dengan cara yang halal dan mencukupkan diri dengannya, dan memanfaatkannya untuk sesuatu yang benar dan bermanfaat.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab beliau –raheemahullaahu-:

وقال تعالى: {ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ} [التكاثر: 8].
قال محمد بن جرير: يقول الله تعالى: ثم ليسألنكم الله عز وجل عن النعيم الذي كنتم فيه فى الدنيا: ماذا عملتم فيه؟ من أين دخلتم إليه؟ وفيم أصبتموه؟ وماذا عملتم به؟.

Dan Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ [التكاثر: 8].

“Kemudian, kamu sekalian pada hari itu pasti ditanya tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8)

Muhammad bin Jarir (ath-Thabari) berkata, “Allah berfirman: ‘Kemudian Allah Azza wa Jalla pasti bertanya kepada kamu sekalian mengenai kenikmatan yang ada padamu ketika di dunia: Apa yang telah engkau lakukan dalam kenikmatan itu? Dari mana kamu memperolehnya? Dalam hal apa kamu pergunakan? Apa yang kamu lakukan dengannya?’

Mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang bisa mengambil pelajaran, amieen. Wallaahu Ta’ala a’lamu.




0 Respones to "Evaluasi Diri? Yuk Mari.."

Posting Komentar

 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula