Google Helped Me Lots Of Things



Begitulah faktanya. Bahwa: “automatic searching machine” terbesar sejagad ini mampu menghadirkan banyak informasi yang kita butuhkan adalah suatu realita. Laiknya URL-URL pada umumnya, Google adalah sebuah sarana yang (status) hukumnya disandarkan kepada tujuan (penggunanya). Menurut kaidah Ushul Fiqh, hukum asal sarana adalah mubah. Dijelaskan pula bahwa “Sarana-sarana yang menghantarkan kepada perkara yang haram atau menghantarkan kepada perkara yang makruh, maka hukumnya mengikuti perkara yang haram atau makruh tersebut”. Jadi merujuk kepada kaidah diatas, jika Google (atau internet pada umumnya) kita manfaatkan untuk mencari ilmu atau informasi yang bermanfaat, yang tidak bertentangan dengan kaidah syar’I, maka hukumnya mubah.


Google membantu saya mencarikan referensi dan menyelesaikan TA

Saya mengenal Google semenjak masa kuliah. Jika ada tugas-tugas perkuliahan yang tidak saya temukan referensinya di perpustakaan kampus, maka jalan kedua yang saya lakukan adalah “bertanya kepada Om Google”, terkadang memang tidak presisi, namun paling tidak mendekati apa yang saya cari. Google juga membantu saya menyelesaikan Tugas Akhir (secara tidak langsung, red). Just flashback, tema yang saya ambil waktu itu dianggap “kurang umum” sehingga tidak banyak peminatnya (i.e Availability and Reliability Engineering, salah satu mata kuliah wajib di jurusan Mechanical Engineering, red), tapi justru karena tidak banyak peminatnya itulah saya ambil hehe.. Yang menyebabkan tidak diminatinya tema diatas barangkali bukan karena materinya yang dianggap ribet dan “terlalu” rumit (i.e banyak melibatkan perhitungan-perhitungan Statistic dan Calculus semisal distribusi normal, weibull, uji Kolmogorov-Smirnov, integral lipat dua dengan limit tak terhingga sehingga harus melibatkan beberapa software semisal MathCad, AvSim+ dll, atau perhitungan yang terkait dengan procurement, inventory dll, red), namun lebih karena proses yang harus dilalui (dalam menyelesaikan tugas akhir bertema ini) cukup panjang dan berliku, harus ada studi kasus lah, harus banyak ke lapangan lah dlsb. Beda dengan tema-tema popular semisal Marketing, Simulasi Business, Quality Function Deployment (QFD) dll. Alasan lain (barangkali) karena terbatasnya referensi bacaan yang berbentuk buku atau handbook (waktu itu). Padahal lulus cepat dan tepat waktu adalah idealisme mahasiswa tingkat akhir supaya tidak membebani orang tua terlalu lama. Dalam hal inilah, Google hadir membantu saya menemukan referensi-referensi handbook gratis dalam bentuk file PDF yang bisa didownload, terutama handbook-handbook rujukan dalam versi aslinya (bahasa Inggris).


Google membantu saya menemukan situs-situs sunnah yang bermanfaat

Inilah yang terpenting dalam hidup saya, sebab satu-satunya ilmu yang mampu membawa seseorang menuju keridha’an Rabbnya Azza wa Jalla adalah ilmu Dien i.e al-Kitab wa Sunnah an-Nabawiyyah. Berkata al-Imam al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hambali –semoga Allah Tabaaraka wa Ta’ala merahmatinya- (terkait ilmu yang bermanfaat, red): “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil dari Al Qur-an dan Sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, serta (berusaha) memahami kandungan maknanya, dengan mendasari pemahaman tersebut dari penjelasan para sahabat Rasulullah radhiyallaahu ‘anhum, para Tabi’in (orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat), dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka dalam memahami kandungan Al-Qur’an dan Hadits. (Begitu pula) dalam (memahami penjelasan) mereka dalam masalah halal dan haram, pengertian zuhud, amalan hati (pensucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala) dan pembahasan-pembahasan ilmu lainnya, dengan terlebih dahulu berusaha untuk memisahkan dan memilih (riwayat-riwayat) yang shahih (benar) dan (meninggalkan riwayat-riwayat) yang tidak benar, kemudian berupaya untuk memahami dan menghayati kandungan maknanya. Semua ini sangat cukup (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat) bagi orang yang berakal dan merupakan kesibukkan (yang bermanfaat) bagi orang yang memberi perhatian dan berkeinginan besar (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat)”. [Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘ala ‘Ilmil Khalaf, hal. 6]

Google membantu saya menemukan situs-situs para asatidz yang (insyaAllah) istiqamah dan terpercaya, dan mengambil faidah darinya. Saya tidak mempedulikan ucapan orang yang mengatakan, “Mengambil ilmu dien dari internet atau buku-buku tidaklah sah (tertolak) karena tidak bersanad”. Sah tidaknya amalan dan ilmu seseorang tidaklah bergantung kepada sanad. Apakah seseorang yang menemukan, membaca dan memahami sebuah hadits shahih (yang terdapat dalam kitab shahih al-Bukhari, yang ditampilkan di internet misalnya) kemudian mengamalkannya dengan ikhlas dan dengan cara mutaba’ah tanpa melalui khabar seseorang yang bersanad (hari ini) dikatakan tidak sah dan bathil?. Adalah benar dan tepat jika kita harus melihat dan memeriksa sanad para perawi (pembawa khabar, red) jika ingin mengetahui keotentikan suatu hadits atau atsar, namun apabila sudah jelas dan terang bahwa suatu hadits itu dikatakan shahih (apalagi sudah dikumpulkan dan dibukukan oleh para muhadditsin, red) dengan kesepakatan para ulama, dan ditampilkan pada sebuah media oleh seseorang kemudian diambil oleh orang lain untuk diamalkan; akankah menjadikan amalan seseorang tersebut tertolak?. Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu pernah berkata tatkala mengomentari orang-orang khawarij yang menggeneralisir (tanpa memperinci, red) dan mengkafirkan seluruh kaum muslimin yang tidak berhukum dengan hukum Allah Tabaaraka wa Ta’ala dengan dalih ayat, “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka ia kafir.” (QS Al Maidah : 44); “Kalimatul haq yuradu bihal baathil; Kalimat yang benar tapi dimaksudkan pada makna yang batil (salah).” Maka dari itu, memahami sebuah hadits, atsar atau ucapan para ulama terdahulu perlu merujuk kepada pemahaman orang-orang shalih terdahulu pula. Wallaahu Ta’ala a’lamu.


Google membantu saya menemukan informasi terkait pekerjaan

Hampir sebagian besar pekerjaan yang saya lamar (sedari dulu) itu bersumber dari internet. Barangkali jika tidak ada mesin pencari ini (i.e Google), kita tidak bisa mengetahui secara persis info lowongan terbaru untuk posisi tertentu, di perusahaan atau departemen tertentu, atau mungkin juga peluang bisnis tertentu (bagi para Entrepreneur). Kita tidak tahu cara membuat curriculum vitae dan surat lamaran yang baik, tidak tahu cara menghadapi dan mempersiapkan wawancara yang baik, tidak tahu cara menjual/mempromosikan diri dengan baik dll. Dalam hal ini, Google membantu saya menemukan situs-situs yang memuat seluruh informasi yang bermanfaat dan terup-to-date tersebut anytime, i.e informasi-informasi yang kerapkali berubah dan berpindah-pindah seiring berubahnya waktu.


Google membantu saya mempermudah mempelajari dan mengenal VBA

Posisi saya saat ini memang menuntut saya untuk senantiasa berkreasi, mencari cara yang tepat agar mampu menuntaskan tugas-tugas rutin secara cepat. Berhadapan dengan data adalah pekerjaan saya sehari-hari di kantor, sehingga tidaklah mengherankan apabila aplikasi seperti Microsoft Office, ftp, dan URL internal yang memuat data-data Regional itu selalu muncul di screen komputer saya. Kerap kali bahkan rutin, team Area atau Head Office meminta kami melaporkan data-data terbaru terkait kondisi dan performansi terkini dari Regional beserta turunan-turunannya (yang tidak sedikit itu). Case-case seperti inilah yang “memaksa” saya untuk mencari cara/solusi yang lebih “cerdas” dan efektif agar mampu menyelesaikan request-request tersebut tepat waktu. Terkadang proses belajar yang dimulai dengan “pemaksaan” atau “keterpaksaan” itu bisa lebih cepat berhasil i.e kita menuntut diri sendiri untuk belajar dan mencari jalan keluar di tengah keadaan yang mendesak. Awal ketertarikan saya dengan VBA dimulai ketika saya masih berkutat dengan Tugas Akhir. Ada seorang senior kampus sekaligus senior Lab yang membuat simulasi bisnis menggunakan VBA sebagai bagian dari demonstrasi TA-nya. Lumayan bagus, kebetulan saya punya copyannya waktu itu, tapi ya begitulah,.. ga dong alias ga paham :D. Setahun kemudian saya meminta batuan seorang rekan (yang memang basicnya programmer, red) untuk membuatkan sebuah alat bantu (aplikasi, red) guna mempercepat perhitungan kombinasi kebutuhan spare part Switching Module (untuk memperkuat analisa TA, red) menggunakan Visual Basic dengan menggabungkan dua software lain ke dalamnya i.e MathCad dan AvSim+. Ternyata diapun memasukkan syntax VBA kedalamnya (secara, hasil akhir perhitungan ditampilkan di Excel, red). Untuk kesekian kalinya,.. saya masih ga dong alias ga paham :D. Tidak ada kebutuhan dan “keterpaksaan” untuk mempelajarinya waktu itu. Baru dua tahun belakangan saya mulai tertarik untuk mempelajarinya kembali meskipun awalnya “terpaksa” disebabkan kebutuhan data yang mendesak, step by step secara otodidak. Belajar dari buku-buku referensi saja tidaklah cukup. Dan Om Google-lah yang membawa saya berselancar dan menemukan situs-situs rujukan VBA seperti www.ozgrid.com, www.mrexcel.com, excel.bigresource.com, www.excelforum.com, www.peltiertech.com, www.chandoo.org dll, sekaligus memperkenalkan saya pada beberapa MVP VBA Excel (seperti Todd Seward, message board dari MrExcel.com).

Dan masih banyak bantuan-bantuan lain yang tak terhitung. Inti/esensi sebenarnya (dari apa yang saya pahami dan dapat, red) bukanlah terletak pada “Google”nya, atau “situs-situs” yang dirujuk oleh automatic searching machine terbesar tersebut (karena sekali lagi, mereka hanyalah sarana). Mereka akan bernilai positif jika digunakan untuk hal-hal yang positif/baik, dan bernilai negative jika digunakan untuk tujuan sebaliknya. Saya pribadi berpendapat bahwa sarana-sarana tersebut akan bernilai “nothing” jika tidak ada control dan proteksi dari kita, atau hanya sekedar lewat tanpa ada kemauan untuk menggali, mempelajari dan mengoptimalkan resources. That’s all….



0 Respones to "Google Helped Me Lots Of Things"

Posting Komentar

 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula