Wahyu Vs Logika: Catatan Kecil Untuk Mr. A (Bag. 1)



Dalam statusnya (di salah satu situs jejaring sosial), seorang teman cyber (sebut saja Mr. A) menyatakan keheranannya terhadap sebagian orang (di zaman ini) yang masih menganggap bahwa bekerja, belajar, berinteraksi sosial itu merupakan urusan duniawi. Kemudian ia mengatakan “Kalau begitu logikanya maka korupsi bisa dibersihkan dengan sholat, haji, shodaqah dst dong”. Dilihat dari ekspresinya, sepertinya Mr. A ingin mengatakan bahwa; sungguh aneh rasanya jika hanya dengan melakukan amalan-amalan shalih seperti itu dosa seseorang bisa terhapus (kemudian ia memberikan contoh kejahatan tindak pidana korupsi dalam case ini, ed). Padahal sudah mafhum bahwa dosa-dosa itu (memang) bisa terhapus dengan taubatan nasuuha dan amalan-amalan shalih lainnya –wallaahu a’lam-, karenanya kami menuliskan komentar di wall-nya –dengan beberapa tambahan redaksi- (tanpa sedikit pun mengurangi rasa hormat kami kepadanya, red) sebagai berikut;

“Mungkin yang dimaksud oleh pengucap adalah –wallaahu a’lam- perkara mubah dari urusan duniawi seperti bekerja, atau belajar (yang tidak terkait dengan ilmu nafi’/ ilmu ad-dien) namun tidak diniatkan untuk mengharapkan Wajah Allah Ta’ala, atau untuk mendekatkan diri kepadaNya, atau untuk mengharapkan keridhaanNya atau untuk ketaatan kepadaNya Pak (seperti bekerja dengan niat untuk menafkahi keluarga, menjaga diri (‘iffah) dari perbuatan meminta-minta, berbagi rezeki dengan saudara-saudaranya yang membutuhkan, atau berinteraksi sosial dalam rangka silaturahmi, menjaga hak-hak tetangga dan lain-lain, red). Jika kondisinya demikian maka perkara-perkara tersebut (barangkali) hanya akan menjadi urusan duniawi semata tanpa ada nilai ibadahnya. Mereka hanya akan mendapatkan hasil jerih payah mereka tanpa adanya pahala yang menyertainya, seperti orang-orang yang bekerja dengan niat mengejar atau menumpuk kekayaan, meningkatkan status sosial, atau mencari kesenangan saja misalnya (tidak untuk tujuan ketaatan atau untuk beramal shalih). Kekayaan atau status sosial atau kenikmatan-kenikmatan itu memang bisa ia dapatkan, tapi tidak dengan pahalanya. Dalilnya adalah sebagai berikut;

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab menuturkan; aku mendengar Yahya bin Sa’id mengatakan; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ibrahim bahwasanya ia mendengar ‘Alqomah bin Waqqash al-Laitsi menuturkan; aku mendengar Umar bin khaththab radhiyallaahu ‘anhu menuturkan; aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu dengan niat dan untuk setiap orang tergantung kepada apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang didapatkannya atau wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.” (HR. al-Bukhari No. 2529, 3898 dan Muslim No. 1907)

Dan memang benar (sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an wa Sunnah, red) bahwa dosa-dosa itu bisa terhapus dengan taubat, ketaatan atau amal shalih seperti shalat, haji, shadaqoh dan lain-lain, dan dalilnya sangat banyak, salah satunya adalah firman Allah Ta’ala berikut;

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (271

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)

Mari kita tanyakan makna ayat diatas kepada ahli tafsir (bukan kepada ahlul kalam atau ashabul ra’yi lo ya). Berkata al-‘Allamah as-Sa’dy –raheemahullahu- tatkala menjelaskan firman Allah Ta’ala وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ, “Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.”

“Dalam ayat ini terdapat indikasi bahwa dalam sedekah terkumpul dua hal; Pertama, memperoleh kebaikan, yaitu banyaknya balasan baik dan pahala serta ganjarannya, dan Kedua, menolak kejahatan dan musibah dunia dan akhirat dengan penghapusan dosa-dosa.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 1, juz. 3, tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –raheemahullaahu- menyatakan, “Jika seorang mukmin melakukan kemaksiatan maka hukuman akibat maksiat tersebut bisa tercegah dengan sepuluh sebab. (Diantaranya).. mukmin tersebut bertaubat sehingga Allah menerima taubatnya karena sesungguhnya orang yang bertaubat dari suatu dosa itu bagaikan orang yang tidak pernah melakukannya…. Atau dia melakukan amal kebajikan yang bisa menghapus kemaksiatannya karena sesungguhnya amal kebajikan itu menghapus dosa amal keburukan… dst.” (Majmu’ Fatawa, 10/45-46). Wallaahu ‘alam,..”


Selanjutnya Mr. A mengatakan dalam komentarnya (note: karena status yang ia unggah sudah ia hapus dari wall-nya, maka teks ucapannya berikut adalah kutipan secara makna, red), “Jadi benar ya bahwa korupsi itu bisa dihapus dengan amal shalih. Kalau dana (tabungan sang koruptor) sudah habis, ya sudah korupsi lagi kemudian beramal shalih, kan katanya dosanya bisa terhapus.. :D”. Ia mencoba bermain-main dengan logikanya dalam memahami dalil atau argumen yang menurutnya tidak masuk akal itu, namun sayangnya ia tidak benar-benar memahami. Kemudian kami meresepon ucapannya –dengan beberapa tambahan redaksi- sebagai berikut;

“Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Pak yang mengabarkan demikian (kepada kita). Dia berfirman;

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ (114

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114 )

Begitu pula dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama yang bersabda mengenai terhapusnya dosa dengan shalat lima waktu, haji atau umrah dan lain-lain (yang merupakan bagian dari amalan shaliha, red).

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالُوا لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالَ فَكَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami al-Laits dari Ibnu Al Haad dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu- bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda: “Bagaimana pendapatmu jika di depan pintu -rumah- salah seorang dari kalian ada sungai, dia mandi di sungai itu setiap hari lima kali, apakah ada sisa kotoran padanya?”, Mereka menjawab, “Tidak ada kotoran yang tersisa sedikitpun.”, Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda: “Begitulah perumpamaan shalat lima waktu. Allah menghapus dosa-dosa dengannya.” (HR. an-Nasa’i No. 458, ad-Darimi No. 1160)

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلَّا الْجَنَّةُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عُمَرَ وَعَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُبْشِيٍّ وَأُمِّ سَلَمَةَ وَجَابِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ مَسْعُودٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah dan Abu Sa’id al-Asyajj berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Khalid al-Ahmar dari Amru bin Qais dari ‘Ashim dari Syaqiq dari Abdullah bin Mas’ud –radhiyallaahu ‘anhu- berkata; Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda: “Lakukanlah haji dan umrah dalam waktu yang berdekatan, karena keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan menghapus dosa sebagaimana al-kir menghilangkan karat besi, emas dan perak. Tidak ada balasan haji mabrur kecuali syurga.” Hadits semakna diriwayatkan dari Umar, Amir bin Rabi’ah, Abu Hurairah, Abdullah bin Hubsyi, Umu Salamah dan Jabir. Abu ‘Isa berkata; “Hadits Ibnu Mas’ud merupakan hadits hasan gharib dari hadits Ibnu Mas’ud.” (Diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya No. 738)


[Baca Selengkapnya...]


Membela Shahabat Nabi Dari Celaan Syiah Rafidhah (Bag. 2)




Itu baru mencela salah seorang dari shahabat saja lo ya, lantas bagaimanakah jika ia mengkafirkan orang-orang yang utama dari para shahabat seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar Ibnul Khaththab dan Utsman bin ‘Affan radhiyallaahu ‘anhum?, atau para ahlul Badr? Atau shahabat yang berbai’at di bawah pohon (Bai’at ar-Ridwan)? Atau shahabat yang mengikuti perang Uhud? Dll. Ucapan yang tak kalah kerasnya datang dari Imamul Muhaditsin, al-Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukharee –raheemahullaahu-, (w. 256 H) beliau berkata;

ماأبالى صليت خلف الجهمى والرافضى أم صليت خلف اليهود والنصارى ولا يسلم عليه ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

“Bagi saya sama saja, apakah aku sholat di belakang Jahmy atau Rofidhiy (i.e Syiah Rafidhah, Syiah Imamiah Itsna Asyariyah, red) atau aku sholat di belakang Yahudi atau Nashrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh menikah dengan mereka dan tidak (boleh) menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibaad, 125)


Tapi bukan orang Syiah Rafidhah namanya kalau tidak pandai berkelit dan pandai menciptakan syubhat. Ketika dibawakan keutamaan shahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar sebagaimana yang disebutkan dalam QS. al-Hasyr: 8, QS. al-Hasyr: 9, QS. At-Taubah: 100 atau hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama yang shahih terkait balasan Surga terhadap mereka (baik yang disebutkan secara khusus nama-namanya atau keumuman dari mereka) dan ampunan terhadap dosa-dosa mereka dll, mereka (Syi’ah Rafidhah) berkata, “Keridhaan Allah terhadap mereka hanya terjadi ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama masih hidup saja, atau ampunan Allah terhadap mereka hanya berlaku untuk dosa-dosa sebelum dan pada saat Allah dan Rasul-Nya mengabarkan berita ampunan tersebut saja, seperti yang terjadi pada ahlul Badr misalnya; ampunan itu hanya berlaku pada dosa saat mereka melakukan perang Badr dan dosa sebelum-sebelumnya, adapun setelah kejadian itu, mereka belum tentu diampuni dan belum tentu masuk Surga!.”


Bantahan untuk syubhat diatas sebenarnya sudah sangat banyak dan para ulama ahlus sunnah wal jama’ah telah menerangkan syubhat-syubhat mereka secara tuntas. Pada kesempatan ini kami hanya ingin menukilkan salah satu kisah shahih yang berkaitan dengan shahabat Nabi bernama Hathib bin Abi Balta’ah radhiyallaahu ‘anhu (untuk membantah syubhat diatas). Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat Nabi yang paling diagungkan, paling dihormati dan paling diterima ucapannya oleh Syi’ah Rafidhah i.e Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu. Jadi kalau mereka mendustakan hadits ini, sama saja mendustakan berita dari orang yang dianggap maksum oleh mereka!.

Al-Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan sanad shahih:


بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنَا وَالزُّبَيْرَ وَالْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ قَالَ: انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً وَمَعَهَا كِتَابٌ فَخُذُوهُ مِنْهَا. فَانْطَلَقْنَا تَعَادَى بِنَا خَيْلُنَا حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الرَّوْضَةِ، فَإِذَا نَحْنُ بِالظَّعِينَةِ فَقُلْنَا: أَخْرِجِي الْكِتَابَ. فَقَالَتْ: مَا مَعِي مِنْ كِتَابٍ. فَقُلْنَا: لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُلْقِيَنَّ الثِّيَابَ. فَأَخْرَجَتْهُ مِنْ عِقَاصِهَا فَأَتَيْنَا بِهِ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَإِذَا فِيهِ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى أُنَاسٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يُخْبِرُهُمْ بِبَعْضِ أَمْرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: يَا حَاطِبُ، مَا هَذَا؟ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لاَ تَعْجَلْ عَلَيَّ، إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مُلْصَقًا فِي قُرَيْشٍ وَلَمْ أَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهَا وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ لَهُمْ قَرَابَاتٌ بِمَكَّةَ يَحْمُونَ بِهَا أَهْلِيهِمْ وَأَمْوَالَهُمْ، فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنَ النَّسَبِ فِيهِمْ أَنْ أَتَّخِذَ عِنْدَهُمْ يَدًا يَحْمُونَ بِهَا قَرَابَتِي، وَمَا فَعَلْتُ كُفْرًا وَلَا ارْتِدَادًا وَلَا رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: لَقَدْ صَدَقَكُمْ. قَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللهِ، دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ. قَالَ: إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَكُونَ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama mengutus saya dan Zubair serta Miqdad bin Al-Aswad, kata beliau: “Berangkatlah hingga tiba di Raudhatu Khah, karena di sana ada seorang wanita yang sedang dalam perjalanan membawa sepucuk surat. Ambillah surat itu darinya.” Kami pun berangkat, dalam keadaan kuda-kuda kami berlari cepat hingga kami tiba di Raudhah. Ternyata benar kami dapati seorang wanita sedang dalam perjalanan. “Keluarkan surat itu!”, kata kami. Wanita itu berkata: “Tidak ada surat apapun pada saya.” “Kamu keluarkan surat itu atau kami telanjangi kamu?” gertak kami. Akhirnya wanita itu mengeluarkannya dari gelungan rambutnya. Lalu kami bawa surat itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama. Ternyata isinya dari Hathib bin Abi Balta’ah kepada orang-orang musyrik Makkah. Dia mengabarkan kepada mereka sebagian urusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama. “Wahai Hathib, apa ini?”, kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama. Hathib segera menyahut: “Wahai Rasulullah, janganlah terburu-buru terhadapku. Sesungguhnya aku hanyalah seseorang yang menumpang di tengah-tengah bangsa Quraisy dan bukan bagian dari mereka. Sedangkan kaum Muhajirin yang bersama engkau, mereka di Makkah mempunyai kerabat yang akan melindungi keluarga dan harta mereka. Maka karena saya tidak punya hubungan nasab dengan mereka, saya ingin berbuat jasa untuk mereka agar mereka pun menjaga kerabatku. Saya lakukan ini bukan karena kekafiran, bukan pula karena saya murtad, dan bukan pula karena ridha dengan kekafiran sesudah Islam.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama berkata: “Sungguh, dia jujur kepada kalian.” ‘Umar berkata: “Wahai Rasulullah, biarkan saya tebas leher orang munafiq ini.” Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama: “Sesungguhnya dia pernah ikut perang Badr. Tahukah engkau, boleh jadi Allah telah memerhatikan ahli Badr, lalu Dia berfirman: ‘Berbuatlah sesuka kalian, sungguh Aku telah mengampuni kalian’.” (Al-Bukhari no. 4274 dan Muslim no. 2494)


Lihatlah, (tak diragukan bahwa) Hathib telah melakukan dosa besar (sebagaimana penuturan ulama) karena telah membocorkan rahasia Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama kepada kaum kafir Quraisy (meskipun belum sampai kepada mereka, red), namun beliau melarang Umar membunuhnya dengan sebab ampunan Allah Ta’ala terhadap mereka yang pernah mengikuti perang Badr. Artinya, Hathib adalah seorang mukmin sejati (yang mulia) karena kedudukannya sebagai ahlul Badr dan dosa besar yang dilakukannya tidak membuatnya keluar dari barisan kaum mukminin, bahkan Allah Ta’ala mengampuninya. Jika Hathib adalah seorang yang munafik dan murtad karena melakukan dosa besar dalam case ini, tentu Nabi akan membiarkan Umar membunuhnya. Ini menunjukkan sekaligus membantah “imajinasi” tanpa hujjah Syi’ah Rafidhah bahwa ampunan itu hanya berlaku untuk dosa-dosa para ahlul Badr sebelum terjadinya perang Badr saja. Al-Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-Atsqalany –rahimahullaahu- (w. 852 H) menjelaskan terkait makna ampunan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam hadits diatas: “Artinya, dosa-dosa kalian (para ahlul Badr, red) itu diampuni oleh Allah bagaimanapun terjadinya. Bukan berarti mereka tidak pernah berbuat dosa.” (Fathul Bari, 8/635). Para shahabat adalah manusia biasa yang sangat mungkin berbuat kesalahan dan dosa, mereka bukanlah makhluq yang maksum sebagaimana para Rasul, namun keimanan, ketakwaan, jihad, hijrah, amal shalih dan jasa mereka yang sangat besar terhadap tegaknya kalimat tauhid dan Islam di muka Bumi bisa menghapus dosa-dosa mereka. Wallaahu ‘alam.


Sebagai penutup kami kutip sikap ahlus sunnah terhadap para shahabat radhiyallaahu ‘anhum ajma’in yang diwakili oleh al-Imam al-Hafizh Abu Ja’far Ahmad Bin Muhammad ath-Thahawi –rahimahullahu, (w. 321 H) beliau berkata : “Dan kita (ahlus Sunnah) mencintai para sahabat Rasulullah –Shallallaahu ‘alaihi wa sallama- dan tidak berlebihan atau melampaui batas dalam mencintai mereka. Sebagaimana tidak seorang pun dari mereka yang kita berlepas diri darinya. Kita membenci orang-orang yang membenci mereka dan menjelek-jelekkan mereka. Pendek kata kita tidaklah menyebut para sahabat kecuali kebaikan. Kecintaan kepada mereka adalah (bagian Agama), keimanan dan ihsan, sedangkan kebencian kepada mereka adalah (bagian dari) kekufuran, kemunafikan, kezhaliman.” (al-Aqidah Ath-Athahawiyah bersama syarahnya, al-Imam Ibnul Abil ‘Izzi al-Hanafi hal. 689).



--------
Referensi
(1). Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 7, juz. 28
(2). Catatan kaki Syarh Ushul as-Sunnah al-Imam Ahmad bin Hambal, pensyarh: asy-Syaikh Walid bin Muhammad Nubaih
(3). www.asysyariah.com
(4). www.muslim.or.id
(5). www.darussalaf.or.id
(g). www.almanhaj.or.id
(6). http://118.98.214.82/hadisonline/hadis9
[Baca Selengkapnya...]


Membela Shahabat Nabi Dari Celaan Syiah Rafidhah (Bag. 1)



Agama Islam yang haq ini memerintahkan kita, kaum muslimin (tulen) untuk senantiasa mencintai orang-orang terdahulu yang beriman, memintakan ampunan bagi mereka, dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman;


وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (i.e sesudah Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.” (QS. al-Hasyr: 10)


Adalah para shahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, umat terbaik yang pernah ada dalam sejarah agama ini yang terdepan lagi terdahulu dalam keimanan, ketakwaan dan kebaikan. Oleh karenanya, al-Imam asy-Syaukani –raheemahullaahu- (w. 1250 H) berkata tatkala menjelaskan ayat ini;


“Barang siapa yang tidak memohonkan ampun kepada Allah untuk para shahabat secara keseluruhan, serta tidak memohonkan ridha Allah untuk mereka, berarti ia telah menyalahi perintah Allah dalam ayat ini. Jika seseorang mendapati suatu kebencian dalam hatinya terhadap sahabat, berarti ia telah tertimpa godaan syaithan dan telah dikuasai kemaksiatan yang besar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ia telah melakukan permusuhan kepada wali-wali Allah, generasi terbaik umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallama. Dan telah terbuka baginya pintu kehinaan yang akan mengantarkannya masuk ke dalam neraka Jahanam, jika ia tidak segera memperbaiki dirinya dengan berlindung dan meminta pertolongan kepada Allah, supaya Allah mencabut kedengkian yang mewarnai hatinya kepada generasi terbaik dan paling utama itu. Jika kemudian, kedengkian yang ada dalam hatinya itu meluap hingga melahirkan cacian pada mulut terhadap salah seorang di antara mereka, berarti ia telah takluk pada kendali syaithan dan telah terjerumus ke dalam kemurkaan Allah. Penyakit akut ini hanya menimpa orang-orang yang termakan oleh ajaran Râfidhah (Syi’ah) atau terperangkap menjadi kawan bagi musuh-musuh shahabat. Dia dipermainkan dan ditipu oleh syaithan dengan kedustaan-kedustaan, cerita-cerita bohong, serta kisah-kisah khurafat (tentang Shahabat). Syaithan telah memalingkan mereka dari Kitab Allah, kitab yang tidak bisa disentuh oleh kebatilan, baik dari arah depan maupun dari arah belakang.” (Tafsir Fathu al-Qadîr, 5/202)


Berkata al-‘Allamah Abdurrahman as-Sa’dy -raheemahullaahu- (w. 1376 H) ketika menjelaskan ayat diatas;

فهذان  الصنفان، الفاضلان الزكيان هم الصحابة الكرام والأئمة الأعلام، الذين حازوا من السوابق والفضائل والمناقب ما سبقوا به من بعدهم، وأدركوا به من قبلهم، فصاروا أعيان المؤمنين، وسادات المسلمين، وقادات المتقين وحسب من بعدهم من الفضل أن يسير خلفهم، ويأتم بهداهم، ولهذا ذكر الله من اللاحقين، من هو مؤتم بهم وسائر خلفهم فقال: وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ   أي: من بعد المهاجرين  والأنصار   يَقُولُونَ   على وجه النصح لأنفسهم ولسائر المؤمنين: رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وهذا دعاء شامل لجميع المؤمنين، السابقين من الصحابة، ومن قبلهم ومن بعدهم

“Kedua golongan mulia dan suci di atas (i.e Muhajirin wal Anshar) adalah para shahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Mereka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terdepan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah diperoleh oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan berjalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Oleh karena itulah Allah Ta’ala menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka,” Yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, “mereka berdoa,” memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan kaum Muslimin, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.” Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan shahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesudah mereka.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 7, juz. 28)


Ucapan para Imam ahlus sunnah wal Jama’ah diatas senada dengan nasihat dari salah seorang shahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud -radhiyallaahu ‘anhu-, beliau berkata, “Barang siapa di antara kamu ingin mengambil keteladanan, maka hendaklah ia mengambil keteladanan dari para shahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, sebab mereka adalah orang-orang yang hatinya baik, ilmunya mendalam, sedikit takalluf (memaksakan diri melebihi batas kemampuannya), memiliki petunjuk yang lurus, baik keadaannya. Mereka adalah suatu kaum yang Allah Ta’ala pilih untuk dijadikan sebagai sahabat Nabi-Nya. Maka dari itu, ketahuilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka, sebab mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” (Atsar dikeluarkan oleh al-Imam Ibnu Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi, 1810)


Namun anehnya, masih saja ada satu kelompok yang mengaku-ngaku sebagai bagian dari kaum muslimin namun begitu dengki terhadap mereka, membenci mereka, mengolok-olok mereka, mencaci maki mereka, bahkan mengkafirkan mereka. Siapakah kelompok yang dimaksud itu?. Siapa lagi kalau bukan Syiah Rafidhah (sebagaimana yang disebutkan oleh al-Imam asy-Syaukani –raheemahullaahu- dalam tafsirnya di atas, red) yang hari ini menjelma dalam sekte; Syiah Imamiah Itsna Asyariyah, yang merupakan madzhab resmi negara ex. Majusi Iran yang ajarannya mulai menyebar ke seluruh pelosok Indonesia itu. Perhatikan ucapan ahli hadits besar mereka, al-Kulaini. Ia membawakan riwayat dari Ja’far ash-Shadiq ‘alaihis salam (secara dusta);


“Manusia (para sahabat) telah murtad setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallama kecuali tiga orang.” Aku berkata, “Siapa saja tiga orang tersebut?”, Disebutkan, “al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.” (Furu’ Al Kaafi, al-Kulaini, hal. 115)


Sungguh kotor dan keji lisan-lisan mereka (i.e Syiah Rafidhah)!. Orang-orang shalih yang telah Allah Ta’ala pilih sebagai sahabat terbaik bagi Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, yang Allah Ta’ala puji dalam Kitab-Nya, mereka cela dan kafirkan sedemikian rupa. Padahal Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama pernah bersabda;


لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka dia tidak akan dapat menandingi sedekah satu mud mereka, bahkan tidak (pula) setengahnya.” (HR. al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540)


Sedekah emas sebesar gunung Uhud saja tidak mampu menandingi setengah mudnya (sedekah) para shahabat (1 mud itu setara dengan 0.75 Kg, red), apalagi keimanannya, ketakwaannya, jihadnya, hijrahnya, ibadahnya, dan amalan shalih lainnya. Ga pernah ada ceritanya tuh orang Syiah Rafidhah memiliki emas sebesar gunung Uhud atau menginfakkan seluruh hartanya yang sepadan dengan gunung Uhud di jalan kebaikan. Kalau pun ada dan mereka infakkan seluruhnya, tetap saja tidak akan pernah bisa mendandingi (secuil) keutamaan para shahabat radhiyallaahu ‘anhum ajma’in yang mereka caci, fasikkan dan kafirkan itu!. Atas kezindiqannya itulah, para imam ahlus sunnah wal jama’ah mengeluarkan mereka dari Islam (kecuali Syi’ah Zaidiyah yang hanya mengutamakan shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu di atas Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar Ibnul Khaththab dan Utsman bin ‘Affan radhiyallaahu ‘anhum namun tidak mengkafirkan mereka atau para shahabat lainnya, red) dan menganggap mereka bukan bagian dari Islam yang suci.


al-Imam Malik bin Anas –raheemahullaahu- (w. 179 H) mengatakan;

روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سمعت أبا عبد الله يقول قال مالك : الذى يشتم اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم ليس لهم اسم او قال نصيب فى الاسلام

Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al-Marwazi, katanya : “Saya mendengar Abu Abdillah berkata, bahwa Imam Malik berkata: ‘Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam’.” (as-Sunnah, 2/557)


Begitu pula al-Imam Ahmad bin Hambal –raheemahullaahu- (w. 241 H) sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Khalal;

أخبرنا عبد الله بن احمد بن حمبل قال : سألت أبى عن رجل شتم رجلا من اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم فقال : ما أراه على الاسلام

“Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita pada kami, katanya : “Saya bertanya kepada ayahku perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama. Maka beliau menjawab : “Saya berpendapat ia bukan orang Islam.” (as-Sunnah, 2/558)


[Baca Selengkapnya...]


Peringatan Itu Bermanfaat Bagi Orang-Orang Yang Beriman



Saling nasihat-menasihati dalam kebenaran adalah salah satu perkara penting yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dalam Islam. Dia berfirman dalam kitabNya;

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3)


al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –raheemahullahu- menjelaskan ayat di atas dalam tafsirnya;

أقسم تعالى بالعصر، الذي هو الليل والنهار، محل أفعال العباد وأعمالهم أن كل إنسان خاسر، والخاسر ضد الرابح والخسار مراتب متعددة متفاوتة قد يكون خسارًا مطلقًا، كحال من خسر الدنيا والآخرة، وفاته النعيم، واستحق الجحيم وقد يكون خاسرًا من بعض الوجوه دون بعض، ولهذا عمم الله الخسار لكل إنسان، إلا من اتصف بأربع صفات

“Allah Ta’ala bersumpah dengan masa, yaitu siang dan malam sebagai tempat terjadinya perbuatan-perbuatan manusia, bahwa manusia itu rugi. Orang yang rugi adalah kebalikan dari orang yang beruntung. Tingkatan orang yang rugi bermacam-macam; ada yang rugi secara mutlak seperti kondisi orang yang rugi di dunia dan di akhirat. Ia tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak mendapatkan neraka Jahim. Ada yang rugi di sebagian sisi saja. Karena itu Allah Ta’ala menyebutkan kerugian untuk setiap manusia secara umum, kecuali orang yang memiliki empat sifat:

الإيمان بما أمر الله بالإيمان به، ولا يكون الإيمان بدون العلم، فهو فرع عنه لا يتم إلا به

Iman terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dengan beriman kepadaNya. Dan iman tidak ada tanpa adanya ilmu. Ilmu adalah bagian dari iman yang tanpanya keimanan menjadi tidak sempurna.

والعمل الصالح، وهذا شامل لأفعال الخير كلها، الظاهرة والباطنة، المتعلقة بحق الله وحق عباده ، الواجبة والمستحبة

Amal shalih. Dan ini mencakup seluruh perbuatan baik, lahir maupun batin, yang berkaitan dengan hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak hambaNya, yang wajib dan yang dianjurkan.

والتواصي بالحق، الذي هو الإيمان والعمل الصالح، أي: يوصي بعضهم بعضًا بذلك ، ويحثه عليه، ويرغبه فيه

Saling menasihati dengan kebenaran yang merupakan iman dan amal shalih, yakni sebagian orang menasihati sebagian yang lain dengan kebenaran, mendorong dan menganjurkannya.

والتواصي بالصبر على طاعة الله، وعن معصية الله، وعلى أقدار الله المؤلمة فبالأمرين الأولين، يكمل الإنسان  نفسه، وبالأمرين الأخيرين يكمل غيره، وبتكميل الأمور الأربعة، يكون الإنسان قد سلم من الخسار، وفاز بالربح < العظيم >

Saling menasihati dengan kesabaran adalah dalam ketaatan terhadap Allah Ta’ala, bersabar menjauhi maksiat, dan bersabar atas ketentuan-ketentuan Allah Ta’ala yang menyakitkan. Dengan dua hal yang pertama, seseorang menyempurnakan dirinya sendiri dan dengan dua hal kedua, seseorang menyempurnakan orang lain dan dengan melengkapi keempat hal tersebut, seseorang terhindar dari kerugian dan mendapatkan keuntungan besar.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 7, juz. 30, tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail)



Namun herannya, masih saja ada segelintir orang yang suka bersu’uzhan (berperasangka buruk) kepada saudaranya yang gigih menyampaikan nasihat dan peringatan dengan tuduhan yang buruk dan tidak pada tempatnya. Seperti ketika seseorang menasihati saudaranya dengan perkataan, “Wahai saudaraku, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk menjauhi riba, tidak mencari rizki dengan jalan riba, tidak bekerja di tempat yang di dalamnya mengandung riba karena termasuk berta’awun ‘alal itsmi wal ‘udwan.” Lalu muncul komentar sinis dari seseorang, “Ga usahlah mengurusi urusan orang lain. Biarkan saja mereka bekerja sesuai pilihan hatinya. Toh anda tidak dirugikan kan?. Ga usah pula membicarakan halal wal haram. Bilang saja anda iri dengan kesuksesan duniawi dan karir mereka, sesuatu yang belum pernah anda dapat dan rasakan sejauh ini bukan?. Anda juga bukan Tuhan, jadi ga usahlah menghukumi seseorang.” Kemudian ia tutup dengan statement pamungkasnya i.e, “Ketauhilah bahwa sirik itu tanda tak mampu!.”

Padahal nasihat atau peringatan itu sangat penting dan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. “Siapa bilang?”, Allah Ta’ala sendiri yang mengatakan dalam kitabNya. Perhatikan firman Allah Ta’ala berikut;

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (55

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. adz-Dzariyat: 55)



al-‘Allamah as-Sa’dy menjelaskan;

والتذكير نوعان: تذكير بما لم يعرف تفصيله، مما عرف مجمله بالفطر والعقول  فإن الله فطر العقول على محبة الخير وإيثاره، وكراهة الشر والزهد فيه، وشرعه موافق لذلك، فكل ما أمر به ونهى من الشرع، فإنه من التذكير، وتمام التذكير، أن يذكر ما في المأمور به ، من الخير والحسن والمصالح، وما في المنهي عنه، من المضار والنوع الثاني من التذكير: تذكير بما هو  معلوم للمؤمنين، ولكن انسحبت عليه الغفلة والذهول، فيذكرون بذلك، ويكرر عليهم ليرسخ في أذهانهم، وينتبهوا ويعملوا بما تذكروه، من ذلك، وليحدث لهم نشاطًا وهمة، توجب لهم الانتفاع والارتفاع وأخبر الله أن الذكرى تنفع المؤمنين، لأن ما معهم من الإيمان والخشية والإنابة، واتباع رضوان الله، يوجب لهم أن تنفع فيهم الذكرى، وتقع منهم الموعظة موقعها كما قال تعالى :

فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى * سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى * وَيَتَجَنَّبُهَا الأَشْقَى

وأما من ليس له معه إيمان ولا استعداد لقبول التذكير، فهذا لا ينفع تذكيره، بمنزلة الأرض السبخة، التي لا يفيدها المطر شيئًا، وهؤلاء الصنف، لو جاءتهم كل آية، لم يؤمنوا حتى يروا العذاب الأليم

“Memberi peringatan terbagi menjadi dua macam; Peringatan yang perinciannya tidak diketahui namun secara garis besarnya dapat diketahui oleh fitrah dan akal sehat, karena Allah Ta’ala telah membentuk akal dengan fitrah yang menyukai kebaikan serta mengedepankan kebaikan dan juga membenci keburukan serta meninggalkannya. Dan syariat Allah Ta’ala sesuai dengan hal itu. Maka seluruh perintah dan dan larangan syariat merupakan peringatan. Peringatan yang sempurna adalah peringatan yang di dalamnya disebutkan kebaikan-kebaikan, kemashlahatan-kemashlahatan yang terdapat pada apa yang diperintahkan serta disebutkannya mudarat dari apa yang dilarang disebutkan. Kedua adalah peringatan yang diketahui oleh orang-orang yang beriman, hanya saja dilalaikan sehingga perlu diulang-ulang agar mereka ingat kembali, agar mengakar di dalam otak mereka, dan agar waspada sehingga mereka mengetahui peringatan yang disampaikan, menimbulkan semangat dan tekad tinggi yang menyebabkan mereka memanfaatkan peringatan tersebut hingga derajat mereka bisa terangkat. Allah Ta’ala mengabarkan bahwa peringatan itu berguna bagi orang-orang beriman sebab keimanan yang mereka miliki dan juga rasa takut (khouf), kembali kepada Allah Ta’ala, serta meniti keridhaanNya mengharuskan mereka terpengaruh oleh peringatan dan nasihat pun mengena pada tempatnya sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala;

فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى * سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى * وَيَتَجَنَّبُهَا الأَشْقَى

“Maka berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat, akan diingat oleh orang-orang yang takut dan akan dijauhi oleh orang yang celaka.” (QS. al-A’la: 9-11)

Adapun orang yang tidak memiliki keimanan serta tidak memiliki kesiapan untuk menerima peringatan, maka peringatan sama sekali tidak berguna baginya, sama seperti tanah lembab dan asin yang tidak bisa memanfaatkan air hujan sama sekali. Orang-orang seperti ini andai seluruh ayat datang kepada mereka, tentu mereka tidak beriman hingga mereka melihat azab yang pedih.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 7, juz. 27, tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail)



Ada satu pertanyaan penting yang perlu kiranya dijawab oleh orang-orang yang suka bersu’uzhan kepada saudara muslimnya yang berusaha mengamalkan QS. al-‘Ashr diatas yakni: “Apakah anda orang yang beriman?”. Jika jawabannya “Iya”, maka seharusnya anda berbahagia dan bersyukur karena masih ada saudara anda sesama muslim yang peduli dan mau berbagi nasihat dan peringatan dengan anda atau dengan saudara-saudara anda yang sedang terjatuh dalam perkara yang membinasakan. Peringatan itu seharusnya membuat kita waspada hingga kita mengetahui dan memahami peringatan yang disampaikan, menimbulkan semangat dan tekad yang tinggi untuk memanfaatkan peringatan tersebut hingga (akhirnya) derajat kita bisa terangkat (mengutip keterangan asy-Syaikh as-Sa’dy –raheemahullaahu- diatas, red). Namun jika jawabannya “Tidak” maka benarlah apa yang dikatakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala bahwa peringatan atau nasihat itu (hanya) bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Maka (mengutip penjelasan asy-Syaikh as-Sa’dy –raheemahullaahu-), “Orang-orang seperti ini andai seluruh ayat datang kepada mereka, tentu mereka tidak beriman hingga mereka melihat azab yang pedih.” Sebab peringatan atau nasihat yang baik yang disampaikan dengan cara hikmah sekalipun tidak membuat mereka berubah dan tunduk sama sekali

Finally, mudah-mudahan kita termasuk orang yang ikhlas menerima nasihat dan peringatan, terlebih-lebih jika nasihat dan peringatan itu datangnya dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sekalipun terasa pahit, pedas di telinga, dan menyakitkan hati. Wallaahu Subhaanahu wa Ta’ala a’lamu...



تقبل الله منا ومنكم
Semoga Allah (Subhaanahu wa Ta’ala) menerima ibadah kita semua.





Lengkong Kecil, Bandung

_______

Maraji’
Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 7, juz. 27 dan juz. 30, tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail
[Baca Selengkapnya...]


Mustahil Bagi Kita, Tidak Bagi Allah Ta’ala



Jujur saja, sharing session dengan Director of Human Capital Management kemarin pagi (Selasa, 14 August 2012) sedikit agak “datar”. Sebagian besar pertanyaan-pertanyaan kami (yang sebenarnya hanya sekedar repetisi dari tahun ke tahun, dari satu periode management ke periode management selanjutnya) dijawab dengan jawaban yang diplomatis dan bahasa yang general, khas “Management”. Tapi tidaklah mengapa, yang penting aspirasi kami (yang ada di “kasta” terbawah ini) sudah tersalurkan dengan uslub dan adab yang baik. Kami sangat menghargai, percaya sekaligus berharap, terobosan-terobosan baru (break through) dari Management kami dalam upayanya memperbaiki “jalan-jalan berlubang” dan membersihkan “benalu-benalu” (yang masih banyak dijumpai dan menempel) dalam tubuh perseroan kali ini mampu membawa harapan dan perubahan baru yang berarti. Never lose hope!, begitu kira-kira kata orang bijak. Dan semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada mereka agar mampu menahkodai kapal besar yang sedang kami tumpangi ini ke destinasi dan arah yang tepat, amieen.


Berbicara mengenai “harapan” atau “berharap”, ba’da shalat dhuhur berjama’ah kemarin siang seorang ustadz alumni al-Azhar Mesir yang sangat fasih dan merdu bacaan al-Qur’annya itu menuturkan dalam taushiahnya bahwa suatu ikhtiar (yang dilakukan) tanpa diiringi dengan doa yang ikhlas (karena Allah Ta’ala) disertai dengan raja’ (pengharapan) kepadaNya tidaklah cukup untuk menggapai sesuatu. Ada kalanya seseorang yang sudah mencoba berbagai macam ikhtiar, menjalankan sebab-sebabnya secara maksimal, mengerahkan seluruh kemampuan (skill) yang ia miliki, tidak pernah berhasil meraih cita-cita dan harapannya. Di dalam situasi seperti inilah doa yang ikhlas yang disertai dengan pengharapan kepada Allah Ta’ala tadi seringkali mampu mengubah keadaan yang secara akal dan fisik mustahil bisa terwujud (namun dengan kehendak Allah Ta’ala bisa terwujud). Simaklah kisah Nabi Zakaria ‘Alahissalam (dalam Kitabullah) yang dalam kondisi usia lanjut dan lemah itu masih belum mendapatkan keturunan. Beliau berdoa;


قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (6


“Ia berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, wahai Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub, dan Jadikanlah ia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai.’” (QS. Maryam: 4-6)


Lantas apa jawaban Allah Subhaanahu wa Ta’ala terhadap doa Nabi Zakaria ‘Alahissalam di atas?. Allah Ta’ala berfirman pada ayat selanjutnya;


يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا (7) قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا (8) قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا (9


“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (mendapatkan) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” Zakaria berkata: “Ya Rabbku, bagaimana (mungkin) akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”. Dia berfirman: “Demikianlah”. Rabbmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (QS. Maryam: 7-9)


Lihatlah keteladanan dari Nabi Zakaria ‘Alahissalam. Kendati usia beliau sudah tua, tulang-tulangnya mulai melemah dan rambutnya sudah beruban, ditambah lagi dengan keadaan isterinya yang mandul, beliau ‘Alahissalam tidak pernah berhenti memohon, berdoa kepada Allah Ta’ala dengan raja’ (pengharapan) agar beliau dikaruniai seorang putra yang kelak dapat meneruskan estafet kenabiannya. Jika kita cerna berdasarkan akal dan logika kita yang lemah, dengan umur yang sudah senja dan istri yang mandul, sangat kecil kemungkinannya (kalau tidak mau dibilang mustahil, red) bagi seseorang itu bisa mendapatkan seorang anak. Oleh karenanya Nabi Zakaria pun berkata;


رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا (8


“Ya Rabbku, bagaimana (mungkin) akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua” (QS. Maryam: 8)


Al-‘Allamah Abdul ar-Rahman bin Nashir as-Sa’dy –raheemahullaahu- menjelaskan dalam tafsirnya;


فحينئذ لما جاءته البشارة بهذا المولود الذي طلبه استغرب وتعجب وقال: ( رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ )
والحال أن المانع من وجود الولد، موجود بي وبزوجتي؟ وكأنه وقت دعائه، لم يستحضر هذا المانع لقوة الوارد في قلبه، وشدة الحرص العظيم على الولد، وفي هذه الحال، حين قبلت دعوته، تعجب من ذلك، فأجابه الله بقوله: ( كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ ) أي: الأمر مستغرب في العادة، وفي سنة الله في الخليقة، ولكن قدرة الله تعالى صالحة لإيجاد الأشياء بدون أسبابها فذلك هين عليه، ليس بأصعب من إيجاده قبل ولم يكن شيئا


“Ketika itu, saat Nabi Zakaria menerima kabar gembira (atas) kelahiran anak ini yang dimintanya, maka beliau merasa aneh dan keheranan. Beliau mengatakan, “Ya Rabbku, bagaimana (mungkin) akan ada anak bagiku” sementara kondisinya bahwa faktor penghalang untuk mendapatkan anak ada pada saya dan diri saya? Seakan-akan pada saat berdoa, beliau tidak menyadari keberadaan faktor penghalang ini, lantaran keinginan kuat di hatinya dan hasrat yang besar untuk mendapatkan anak. Dalam kondisi seperti ini, saat doanya dikabulkan, maka beliau keheranan. Maka Allah menjawab keheranannya dengan firmanNya, “Demikianlah”. Rabbmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku.” Maksudnya masalah ini memang aneh menurut kebiasaan, dan aneh pula menurut sunnatullah pada penciptaan makhlukNya. Akan tetapi kekuasaan Allah Ta’ala memungkinkan penciptaan Yahya, tanpa melalui sebab-sebab (yang lumrah) dan masalah ini ringan bagiNya. Tidak lebih sulit dari menciptakan Zakaria sebelumnya, padahal sebelumnya beliau tidak ada sama sekali.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 4, juz. 16 tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail)


Da’i lulusan Mesir itu juga menceritakan kisah Maryam sebagai ibrah lain (dalam al-Qur’an al-Kareem) yang bisa kita petik hikmahnya;


فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25


“Maka rasa sakit akan melahirkan anak (i.e Isa ‘Alahissalam, red) memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 23-25)


Di tengah-tengah ujian berat yang harus di hadapi oleh Maryam karena didera rasa sakit menjelang melahirkan putranya, pedihnya hati karena komentar miring dari kaumnya dan kecemasan dirinya akan kemampuannya untuk bersabar, Allah Ta’ala mengutus Jibril agar menenangkan rasa kekhawatirannya dan meneguhkan hatinya seraya berkata kepadanya, “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” Jika kita cerna berdasarkan akal dan logika kita yang terbatas ini, sangat mustahil bagi seorang wanita yang sedang mengandung seorang anak itu mampu menggoyangkan pohon kurma yang berdiri kokoh dengan kedua tangannya yang lemah dan menggugurkan buahnya. Tapi itulah faktanya, sesuatu yang mustahil (menurut akal kita yang lemah dan terbatas) ternyata tidak pernah berlaku bagi Allah Ta’ala. Jika Dia berkehendak, maka dalam sekejap sesuatu yang impossible itu bisa berubah menjadi possible, cukup dengan mengatakan “Kun”, maka sesuatu itu pasti terjadi (fayakun). BagiNya segala sesuatu itu mungkin dan mudah. Oleh karenanya manusia tidak boleh hanya terpaku kepada faktor penyebab sesuatu itu terjadi saja, namun juga tidak boleh mengabaikan Dzat yang menakdirkannya dan menyebabkannya. Berkata al-‘Allamah Abdul ar-Rahman bin Nashir as-Sa’dy –raheemahullaahu- ketika menafsirkan ayat;


قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ (21


“Jibril berkata: “Demikianlah”. Rabbmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia.” (QS. Maryam: 21)


تدل على كمال قدرة الله تعالى وعلى أن الأسباب جميعها لا تستقل بالتأثير وإنما تأثيرها بتقدير الله فيري عباده خرق العوائد في بعض الأسباب العادية لئلا يقفوا مع الأسباب ويقطعوا النظر عن مقدرها ومسببها


“Ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah Ta’ala dan menandakan bahwa semua faktor penyebab itu tidak memberikan efek dengan sendirinya, akan tetapi yang memberikan pengaruh adalah takdir Allah. Maka Allah memperlihatkan kepada hambaNya pendobrakan kejadian-kejadian yang biasa pada sebagian hukum sebab akibat yang biasa (terjadi) supaya mereka tidak hanya terpaku pada faktor penyebab saja, tanpa peduli dengan Dzat yang menakdirkan dan menyebabkannya.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 4, juz. 16 tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail)


Ketika seseorang sudah berikhtiar dengan berbagai macam cara, sudah berdoa dengan gigih kepada Allah Ta’ala namun belum juga mendapatkan sesuatu yang diharapkannya, maka bersabar atas takdir Allah adalah langkah selanjutnya yang harus dilakukan. Yakinlah bahwa Allah Ta’ala telah memilihkan sesuatu yang terbaik untuk kita, demikian penjelasan yang saya dengar dari al-Ustadz. Simaklah buah kesabaran dari seorang Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha atas musibah dan takdir Allah Ta’ala berikut; Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak seorang hamba pun yang tertimpa musibah lalu ia mengatakan;


إِنَّا لِلّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اللّهُمَّ أْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا


“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami kembali. Wahai Allah, berikanlah kami pahala dari musibah ini dan berilah ganti yang lebih baik darinya.” Kecuali Allah akan memberikan ganjaran pahala karena musibah yang menimpanya dan memberikan ganti yang lebih baik.’ Ummu Salamah berkata, “Ketika Abu Salamah wafat, aku membacanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama. Maka Allah memberikan ganti yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama.” (HR. Muslim)


Demikian,... Wallaahu Subhaanahu wa Ta’ala a’lamu.



Ba’da Shubuh, Lengkong Kecil, Bandung.
____
Maraji’ : Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 4, juz. 16 tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail
[Baca Selengkapnya...]


 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula