Merekalah Sebaik-Baik Teman



Si A bilang, “Rekan-rekan kantor saya adalah sahabat terbaik saya”. Si B bilang, “Keluarga, istri/suami saya adalah sahabat terbaik saya saat ini” dan seterusnya. May be yes may be no, bisa jadi benar bisa jadi salah. Menurut pendapat si A atau si B mereka adalah yang terbaik, namun apakah demikian menurut (pandangan) orang lain?. Berbicara mengenai teman yang terbaik, bagaimana dengan orang-orang yang Allah Tabaaraka wa Ta’ala sebutkan dalam firmanNya berikut?:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (69 ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا (70

“Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para Nabi, para Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin (orang-orang shalih). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukup Allah sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 69-70).

Tak diragukan lagi, merekalah sebaik-baik teman yang ada di dunia dan juga di akhirat kelak. Jika rekan-rekan kantor si A adalah orang-orang yang shalih, maka pernyataan si A kalau mereka adalah sahabat terbaiknya tidaklah salah. Begitu pula dengan si B, jika keluarga, istri/suaminya adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasulnya, maka pernyataan si B diatas tidaklah salah. Allah Ta’ala mengatakan bahwa berteman dengan mereka (i.e anbiya, shiddiqin, syuhada dan shalihin) merupakan sebuah karunia. Berkata asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –raheemahullaahu- ketika menjelaskan ayat diatas:


أي: كل مَنْ أطاع الله ورسوله على حسب حاله وقدر الواجب عليه من ذكر وأنثى وصغير وكبير، ( فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ) أي: النعمة العظيمة التي تقتضي الكمال والفلاح والسعادة ( مِنَ النَّبِيِّينَ ) الذين فضلهم الله بوحيه، واختصهم بتفضيلهم بإرسالهم إلى الخلق، ودعوتهم إلى الله تعالى ( وَالصِّدِّيقِينَ ) وهم: الذين كمل تصديقهم بما جاءت به الرسل، فعلموا الحق وصدقوه بيقينهم، وبالقيام به قولا وعملا وحالا ودعوة إلى الله، ( وَالشُّهَدَاءِ ) الذين قاتلوا في سبيل الله لإعلاء كلمة الله فقتلوا، ( وَالصَّالِحِينَ ) الذين صلح ظاهرهم وباطنهم فصلحت أعمالهم، فكل من أطاع الله تعالى كان مع هؤلاء في صحبتهم ( وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا ) بالاجتماع بهم في جنات النعيم والأنْس بقربهم في جوار رب العالمين.

( ذَلِكَ الْفَضْلُ ) الذي نالوه ( مِنَ اللَّهِ ) فهو الذي وفقهم لذلك، وأعانهم عليه، وأعطاهم من الثواب ما لا تبلغه أعمالهم.

( وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا ) يعلم أحوال عباده ومن يستحق منهم الثواب الجزيل، بما قام به من الأعمال الصالحة التي تواطأ عليها القلب والجوارح.


[69] “Maksudnya, setiap orang yang mentaati Allah dan RasulNya sesuai dengan kondisinya dan kadar kewajiban atasnya baik laki-laki atau perempuan, anak kecil atau orang dewasa ( فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ) “mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah” yaitu kenikmatan agung yang menuntut kesempurnaan, kemenangan dan kebahagiaan ( مِنَ النَّبِيِّينَ ) “yaitu: para Nabi” orang-orang yang dimuliakan oleh Allah (Subhaanahu wa Ta’ala) dengan wahyuNya dan mengkhususkan mereka dengan kemuliaan itu dengan cara mengutus mereka kepada makhlukNya dan menyeru mereka kepada Allah ( وَالصِّدِّيقِينَ ) “para shiddiqin” mereka itu adalah orang-orang yang kepercayaan mereka sempurna terhadap apa yang dibawa para Rasul, mereka mengetahui kebenaran dan mempercayainya dengan keyakinan diri mereka serta merealisasikannya dengan perkataan, perbuatan, keadaan dan berdakwah kepada Allah, ( وَالشُّهَدَاءِ ) “Syuhada” yaitu orang-orang yang berperang di jalan Allah demi meninggikan agama Allah lalu mereka terbunuh, ( وَالصَّالِحِينَ ) “dan orang-orang shalih” yaitu orang-orang yang baik lahir dan batin mereka, lalu baik pula perbuatan mereka, maka setiap orang yang mentaati Allah Subhaanahu wa Ta’ala niscaya akan bersama orang-orang tersebut dan menjadi teman mereka, ( وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا ) “dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” yakni dengan berkumpul bersama mereka di surga yang penuh dengan kenikmatan, dan kesenangan dekat dengan mereka pada sisi Rabb semesta alam.


[70] ذَلِكَ الْفَضْلُ ) ) “Yang demikian itu adalah karunia” apa yang mereka peroleh, ( مِنَ اللَّهِ ) “dari Allah” karena Dialah yang membimbing mereka kepada hal tersebut dan menolong mereka atasnya, kemudian memberikan kepada mereka pahala yang tidak mampu diraih oleh amal-amal mereka (وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا) “dan cukuplah Allah sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui”. Dia mengetahui kondisi hamba-hambaNya dan mengetahui orang-orang yang berhak memperoleh pahala yang melimpah karena apa yang telah mereka lakukan dari perbuatan-perbuatan (amal) shalih yang berkorelasi antara hati dan tubuh.” [Taisir al-Karim ar-Rahman Fii Tafsir Kalam al-Mannan vol. 1 juz. 10]


Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

« مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً »

“Permisalan teman yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya, dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu, dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Dari penjelasan diatas bisa ditarik kesimpulan pendek bahwa “Berteman dengan orang yang shalih/baik is a must!”. Wallaahu a’lam.

[Baca Selengkapnya...]


Evaluasi Diri? Yuk Mari..



Sudah berapa banyak-kah kewajiban dan kebaikan yang sudah kita tinggalkan/lalaikan?. Jawabannya pasti tak terhitung. Entah itu yang disebabkan oleh hawa nafsu, oleh kejahilan (kebodohan) maupun ketidaksengajaan kita. Bisa jadi sama banyaknya dengan nikmat-nikmat Allah Tabaaraka wa Ta’ala yang sudah Ia berikan kepada hamba-hambaNya. Barangkali disinilah pentingnya kita “melakukan evaluasi diri” sebagai seorang hamba yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla agar tidak (terus menerus) terhanyut dalam kelalaian. Apa saja yang perlu dievaluasi?. Di jelaskan oleh al-Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d al-Zar’i ad-Dimasyqi –semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala merahmatinya- dalam kitabnya, إغاثة اللهفان من مصايد الشيطان (Ighatsatul Lahfan min Mashayidi asy-Syaithan), beliau –raheemaahullaahu- berkata:

أن يحاسب نفسه أولا على الفرائض، فإن تذكر فيها نقصا تداركه، إما بقضاء أو إصلاح. ثم يحاسبها على المناهي، فإن عرف أنه ارتكب منها شيئا تداركه بالتوبة والاستغفار والحسنات الماحية. ثم يحاسب نفسه على الغفلة، فإن كان قد غفل عما خلق له تداركه بالذكر والإقبال على الله تعالى. ثم يحاسبها بما تكلم به، أو مشت إليه رجلاه، أو بطشت يداه، أو سمعته أذناه: ماذا أرادت بهذا؟ ولم فعلته؟ وعلى أي وجه فعلته؟ ويعلم أنه لابد أن ينشر لكل حركة وكلمة منه ديوانان: ديوان لم فعلته؟ وكيف فعلته؟ فالأول سؤال عن الإخلاص، والثانى سؤال عن المتابعة، وقال تعالى:
{فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمعِينَ عَمَّا كَانُوا يعْمَلُونَ} [الحجر: 92 - 93] وقال تعالى {فَلَنَسْئَلَنَّ الّذِينَ أُرْسِلَ إلَيْهِمْ وَلَنَسْئَلَنَّ المُرْسَلِينَ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبينَ} [الأعراف: 6 - 7] وقال تعالى {لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَن صِدْقِهمْ} [الأحزاب: 8].
فإذا سئل الصادقون وحوسبوا على صدقهم فما الظن بالكاذبين؟.

(a). Mengenai amalan-amalan fardhu. Bila ia mengingat adanya kekurangan, hendaklah segera menyempurnakannya, dengan melakukan qadha’ (mengganti yang ditinggalkan, red) atau perbaikan.

(b). Mengenai hal-hal yang dilarang. Bila ia mengetahui bahwa dirinya melanggar sebagian larangan tersebut, hendaklah segera memperbaikinya dengan taubat, istighfar, dan kebaikan-kebaikan yang bisa menghapuskan dosa.

(c). Melakukan evaluasi terhadap kelalaiannya. Bila ia lalai terhadap tujuan penciptaan dirinya, hendaklah memperbaikinnya dengan berdzikir dan mengingat Allah Ta’ala.

(d). Hendaklah melakukan evaluasi terhadap apa yang diucapkannya, kemana kakinya melangkah, apa yang digenggam tangannya atau yang didengarkan oleh telingannya dengan bertanya: “Apa yang engkau ingingkan dari perbuatan ini?, untuk siapa engkau melakukannya? Apa tujuanmu melakukannya? Ia mengetahui bahwa untuk setiap gerakan dan perkataannya, akan terdapat dua pertanyaan: Mengapa engkau melakukannya? dan bagaimana?

Pertanyaan pertama berkaitan dengan keikhlasan sedangkan pertanyaan kedua berkaitan dengan mutaba’ah (i.e mengikuti petunjuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama). Allah (Subhaanahu wa) Ta’ala berfirman:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمعِينَ عَمَّا كَانُوا يعْمَلُونَ [الحجر: 92 - 93]

“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS. Al-Hijr: 92-93)

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَنَسْئَلَنَّ الّذِينَ أُرْسِلَ إلَيْهِمْ وَلَنَسْئَلَنَّ المُرْسَلِينَ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبينَ [الأعراف: 6 - 7]

“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-Rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-Rasul (Kami). Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (QS. Al-A’raf: 6-7)

Allah Ta’ala berfirman, “Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (QS. Al-Ahzab: 8).

Jika orang-orang yang benar saja dihisab dan ditanya mengenai kebenarannya, maka bagaimana dengan orang-orang yang dusta?.

==selesai kutipan==


Faidah yang bisa kita ambil dari penjelasan beliau –raheemahullaahu Ta’ala- diatas adalah:

(a). Sudah seharusnya kita bersungguh-sungguh lagi ikhlas dalam beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, dan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab beliau –raheemahullahu-:

قال تعالى:
{وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذا أَجَبْتُمُ المُرْسَلِينَ} [القصص: 65].

قال قتادة: كلمتان يسأل عنهما الأولون والآخرون: ماذا كنتم تعبدون؟ وماذا أجبتم المرسلين؟ فيسأل عن المعبود وعن العبادة.

Allah Ta’ala berfirman:

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذا أَجَبْتُمُ المُرْسَلِينَ [القصص: 65].

“Pada hari ketika Allah menyeru seraya berkata kepada mereka: ‘Apakah jawabanmu kepada para Rasul?’” (QS. Al-Qashash: 65)

Qatadah berkata, “Ada dua pertanyaan yang diarahkan kepada umat-umat terdahulu maupun umat umat kemudian: Apa yang dahulu kalian sembah? Dan apa jawaban kalian terhadap para Rasul yang diutus?. Jadi, Allah akan bertanya tentang Rabb yang disembah dan tentang ibadah.

(b). Mensyukuri segala nikmat yang Allah Tabaaraka wa Ta’ala berikan kepada kita dan tidak melakukan sebaliknya (i.e mengkufurinya), mencarinya dengan cara yang halal dan mencukupkan diri dengannya, dan memanfaatkannya untuk sesuatu yang benar dan bermanfaat.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab beliau –raheemahullaahu-:

وقال تعالى: {ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ} [التكاثر: 8].
قال محمد بن جرير: يقول الله تعالى: ثم ليسألنكم الله عز وجل عن النعيم الذي كنتم فيه فى الدنيا: ماذا عملتم فيه؟ من أين دخلتم إليه؟ وفيم أصبتموه؟ وماذا عملتم به؟.

Dan Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ [التكاثر: 8].

“Kemudian, kamu sekalian pada hari itu pasti ditanya tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8)

Muhammad bin Jarir (ath-Thabari) berkata, “Allah berfirman: ‘Kemudian Allah Azza wa Jalla pasti bertanya kepada kamu sekalian mengenai kenikmatan yang ada padamu ketika di dunia: Apa yang telah engkau lakukan dalam kenikmatan itu? Dari mana kamu memperolehnya? Dalam hal apa kamu pergunakan? Apa yang kamu lakukan dengannya?’

Mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang bisa mengambil pelajaran, amieen. Wallaahu Ta’ala a’lamu.


[Baca Selengkapnya...]


Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus



Jika kita seorang muslim, maka:

Surat ini wajib dibaca oleh kaum muslimin setiap hari...

Surat ini selalu dilafadzkan oleh mereka (minimal) 17 kali dalam sehari...

Dan shalat seorang muslim dinyatakan rusak jika tidak membaca surat ini...

What’s that?...Tepat, Surat Al-Fatihah.

Di setiap rakaat shalat yang kita kerjakan (entah itu shalat fardhu atau rawatib, red), kita selalu berdoa kepada Allah Tabaaraka wa Ta’ala dengan lafadz;


اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (7


“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)



Namun tahukah (anda) makna dari ayat diatas?. Berkata: asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –semoga Allah merahmatinya- (الشيخ عبدالرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله) dalam tafsirnya, Taisir al-Karim ar-Rahman Fii Tafsir Kalam al-Mannan vol. 1 juz. 1 (تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان) ketika menjelaskan ayat diatas:


( اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ) أي: دلنا وأرشدنا, ووفقنا للصراط المستقيم, وهو الطريق الواضح الموصل إلى الله, وإلى جنته, وهو معرفة الحق والعمل به, فاهدنا إلى الصراط واهدنا في الصراط. فالهداية إلى الصراط: لزوم دين الإسلام, وترك ما سواه من الأديان, والهداية في الصراط, تشمل الهداية لجميع التفاصيل الدينية علما وعملا. فهذا الدعاء من أجمع الأدعية وأنفعها للعبد ولهذا وجب على الإنسان أن يدعو الله به في كل ركعة من صلاته, لضرورته إلى ذلك



( اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ) ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus’ maksudnya: tuntunlah kami, bimbinglah kami dan arahkan kami kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang sangat jelas yang menghantarkan kepada Allah (Subhaanahu wa Ta’ala) dan kepada surga-Nya, yaitu mengetahui kebenaran dan melaksanakannya. Tunjukilah kami kepada jalan, maka petunjuk kepada jalan adalah konsisten terhadap agama Islam dan meninggalkan agama-agama selainnya, dan petunjuk kepada jalan adalah meliputi petunjuk kepada seluruh perincian-perincian agama baik ilmu maupun amalannya. Oleh karena itu, doa ini adalah termasuk doa yang paling lengkap dan paling berguna bagi seorang hamba, dengan demikian maka wajiblah atas manusia untuk berdoa kepada Allah (Subhaanahu wa Ta’ala) dengan doa itu dalam setiap rakaat shalatnya karena butuhnya dia terhadap hal tersebut,

وهذا الصراط المستقيم هو:

Dan jalan yang lurus itu adalah:


( صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ) من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين. ( غَيْرِ ) صراط ( الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ) الذين عرفوا الحق وتركوه كاليهود ونحوهم. وغير صراط ( الضَّالِّينَ ) الذين تركوا الحق على جهل وضلال, كالنصارى ونحوهم



( صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ) ‘[Yaitu] jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka’ dari para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin (orang-orang shalih), ( غَيْرِ ) ‘bukan’ jalan

( الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ) ‘mereka yang dimurkai’ yang mengetahui kebenaran namun meninggalkan kebenaran tersebut seperti Yahudi dan semisal mereka (i.e yang mengikuti jalan/sunnah mereka, red), dan bukan pula jalan ( الضَّالِّينَ ) ‘mereka yang sesat’ (yakni) orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan seperti Nashrani dan semisal mereka (i.e yang mengikuti jalan/sunnah mereka, red)

== selesai kutipan ==



Setiap hari kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menunjuki (kita) jalan yang lurus, namun ketika kebenaran tersebut datang, tidak sedikit pula dari kita yang menolak dan meninggalkannya (dengan berbagai macam alasan) lalu memilih jalan-jalan lain yang bukan jalannya orang-orang mukmin (i.e jalan petunjuk). Ibarat kita meminta makanan, setelah makanan tersebut tersaji, kita tidak mau memakannya dengan alasan tidak sesuai dengan selera kita. Bukankah itu namanya tidak menghargai yang memberi?. Let’s think.....Bagaimana Allah akan mengabulkan doa kita jika hak Allah (untuk didengar dan ditaati) tidak dihiraukan oleh seorang hamba?...

[Baca Selengkapnya...]


Sesungguhnya Pertolongan Allah Itu Amat Dekat



Dalam daurah 6 jam (yang insyaAllah bermanfaat) kemaren (i.e Sabtu, 7 Januari 2012), pemateri (i.e al-Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Umar as-Sewed –hafidzahullaahu-) menukil sebuah ayat dari QS. Al-Baqarah dalam sebuah pembahasan ilmiyyah mengenai bahayanya akidah dan pemikiran (Syi’ah) Rafidhah, sebuah firqah (aliran) yang mencela dan melaknat para shahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama yang utama semisal Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khaththab (note: kedua shahabat sekaligus al-khulafaa ar-rasyidin al-mahdiyyin yang mulia ini mereka sebut sebagai dua berhala quraisy, na’udzubillaahi min dzalik, kita berlepas diri dari kekejian ucapan mereka, red), Abu Hurairah, Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq dll radhiyallaahu ‘anhum. Bunyi ayat yang dimaksud tersebut adalah sebagai berikut:

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Beliau membawakan ayat ini ketika menjelaskan kekokohan iman para shahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in sekaligus membantah ucapan rafidhah yang mengatakan bahwa para shahabat adalah orang-orang yang munafik. Malamnya saya buka Taisir al-Karim ar-Rahman Fii Tafsir Kalam al-Mannan vol. 1 juz. 2 karya gurunya guru beliau (i.e guru dari asy-Syaikh al-Faqih Ibnu Utsaimin, asy-Syaikh al-Mufassir Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah alu Sa’di –semoga Allah Ta’ala merahmati mereka berdua-) untuk melihat tafsir ayat diatas. Berikut adalah penjelasannya, mudah-mudahan bermanfaat:

Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwasanya Dia sudah pasti akan menguji hamba-hambaNya dengan malapetaka, kesengsaraan dan kesulitan sebagaimana yang Dia lakukan terhadap orang-orang yang sebelumnya, karena itu adalah sunnahNya yang berjalan yang tidak berganti dan tidak berubah.

Barangsiapa yang menegakkan agama dan syariat-Nya, ia pasti akan diuji, apabila dia bersabar dalam perintah Allah dan tidak mempedulikan kesulitan yang menghadang dihadapannya, maka dia adalah orang yang benar yang mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dan jalan kepemimpinan, dan barangsiapa yang menjadikan fitnah (ujian) manusia seperti siksa dari Allah yaitu bahwa dia terhalang oleh segala kesulitan dari tujuan yang ditempuhnya, dan dia dibelokkan oleh cobaan-cobaan dari maksud dan sasarannya, maka dia adalah pembohong dalam pengakuan keimanannya, karena keimanan itu bukanlah dengan kekaguman, angan-angan dan sebatas pengakuan, hingga perbuatan yang akan membenarkan atau mendustainya, sesungguhnya telah terjadi pada umat-umat terdahulu apa yang diceritakan oleh Allah tentang mereka, { مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ } “Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan” yaitu kemiskinan dan penyakit pada tubuh mereka, {وَزُلْزِلُوا} “serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)” dengan berbagai macam ketakutan seperti ancaman pembunuhan dan pengusiran, harta mereka diambil, pembunuhan orang-orang yang dicintai, dan macam-macam hal yang berbahaya hingga kondisi mereka memuncak dan goncangan itu membuat mereka menduga bahwa kelambatan pertolongan Allah itu lambat padahal mereka yakin akan kedatangannya.

Akan tetapi karena situasi yang dahsyat dan kesulitannya itu hingga berkata, { الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ} “Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’” Dan ketika datang pertolongan Allah pada kesusahan, dan setiap kali perkara telah terasa sulit kemudian menjadi lapang, Allah berfirman, { أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ} “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. Demikianlah setiap orang yang menegakkan kebenaran itu pasti akan diuji, dan ketika persoalannya semakin sulit dan susah lalu dia bersabar dan tegar menghadapinya niscaya ujian tersebut akan berubah menjadi anugerah untuknya, dan segala kesulitan itu menjadi ketenangan, lalu Allah menyusulkan semua itu dengan kemenangannya atas musuh-musuhnya serta mengobati penyakit yang ada dalam hatinya.

Ayat ini sejalan dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 142)

Dan firmanNya yang lain, “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan se-sungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 1-3),

Maka ketika ujian itu ada, (maka) seseorang menjadi mulia atau menjadi hina.

==Selesai kutipan==


Akhirnya kami berdoa;

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَ لِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan membawa iman, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hasyr: 10)

Ya...jauhkanlah kami dari kedengkian terhadap orang-orang yang beriman lebih dahulu dari kami (i.e para shahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar) dan jagalah dan bersihkanlah lisan-lisan kami dari mencela mereka (agar tidak menyerupai lisan-lisan kotor Syiah Rafidhah!)

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Tuhan kami! Anugrahkanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan datangkanlah jalan keselamatan bagi kami.” (QS. Al-Kahfi: 10)

[Baca Selengkapnya...]


Perjuangan Hidup Seorang Pemuda Jogja



Awal cerita dimulai dengan kalimat “Once upon a time” (sebagaimana cerita rakyat pada umumnya). Hidup seorang pemuda desa nan lugu di daerah “pedalaman” Yogyakarta, di daerah Kulon Progo (Persisnya dimana? plis jangan tanya, namanya juga cerita to, jadi sak karepe sing nulis wae.. :D). Dia adalah Brian (bukan nama sebenarnya, red), anak sulung dari tiga bersaudara pasangan petani. Koq keren, kayak nama orang bule, mana aksen jawanya? Katanya dari Jogja. Sebentar..sebentar, “Brian” itu adalah nama panggilannya, nama panjangnya (baca: sebenarnya) adalah Sabrianto (meskipun hanya sekedar samaran/rekaan). Kebetulan panggilan Sabri dan Yanto sudah dipatenkan (baca: dipakai) oleh tetangganya, jadilah nama Brian yang tersisa dan digunakan sebagai nama panggilan untuk membedakan dirinya dengan rekannya yang lain. Diceritakan bahwa ia adalah seorang anak yang baik, berbakti kepada kedua orang tuanya, dan mampu menjadi panutan bagi dua saudara kecilnya. Sebelum memasuki usia baligh, ia sudah ditinggal wafat oleh ayahnya. Jadilah ia anak yatim yang besar dibawah bimbingan Ibunya seorang. Kondisi tersebut tidak lantas membuat semangatnya surut (meskipun ia paham kondisi finansial keluarganya tidaklah mendukung), tekadnya masih tetap bulat, menjadi seorang Guru!. Bagi pemuda dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan seperti dirinya, profesi guru sangatlah prestigious. Tiap pagi sulung dari tiga bersaudara ini membawa sebongkah kayu balok, atau hasil bumi dari ladang peninggalan ayahnya untuk dijual di pasar. Uang yang ia dapatkan ia digunakan sebagai bekal perjalanannya menuju sekolah guru (di kotanya). Apabila bersisa, ia gunakan kembali sebagai bekal untuk hari berikutnya, dan demikian seterusnya. Suatu ketika kakak sepupu dan bibinya datang berkunjung dari pulau Sumatera. Dulunya mereka adalah transmigran, dan boleh dibilang mereka adalah transmigran yang sukses. Kehidupan mereka jauh lebih baik dari keluarga Brian. Kondisi ekonomi dan dukungan pendidikan yang lebih baik membuat sepupu brian tersebut bisa melanjutkan kuliahnya di UGM (kelak ia berkarir di Freeport McMoRan, Caltex & Pertamina hingga pensiun, red). Kunjungan tersebut sekaligus merupakan awal terjalinnya kembali tali silaturahmi yang sudah lama terputus karena jarak.

Beberapa tahun kemudian, Brian benar-benar mampu mewujudkan cita-citanya. Kerja kerasnya berbuah manis. Setelah lulus dari sekolah pendidikan guru, ia melamar menjadi tenaga pengajar. Waktu itu jumlah guru masih sangat terbatas seiring terbatasnya jumlah sekolah dan fasilitas pendidikan di wilayah pedesaan sehingga proses seleksi guru pun tidak terlalu susah/rumit (seperti sekarang). Namun demikian ada satu harapan yang (akhirnya) tak terwujud, i.e keinginannya mengajar di tempat kelahirannya. SK penempatan berkata lain, ia harus hijrah ke daerah (lain) yang jauh dari wilayahnya. Hal ini berarti pula bahwa ia harus meninggalkan Ibu dan kedua saudaranya.

Mengadu nasib, demikian istilah yang digunakan Brian menyikapi SK penempatannya. Ia berharap tempat barunya tersebut bersahabat. Ia beruntung memiliki saudara (yang juga perantau) di tempat barunya (sebut saja namanya Warto [bukan nama sebenarnya], red). Sungguh tak terhitung lagi jasa baiknya buat Brian. Ia diberikan tempat tinggal dan makanan gratis (ala kadarnya) selama di sana (sebelum ia berkeluarga, red). Baginya, Warto sudah ia anggap seperti orang tua ke-duanya. Gaji Brian tidaklah besar. Namun ia masih mampu menabung dan menyisihkan sebagian gajinya untuk membantu Ibu dan kedua saudaranya. Istilah Oemar Bakri sepertinya belum pupuler waktu itu, atau belum ada. Mungkin karena “pengkebirian” gaji pegawai negeri (baca: guru) sebagaimana yang disebutkan oleh lirik sebuah syair belum terasa. Atau sebenarnya sudah, hanya saja Brian, sang pemuda dari Jogja tersebut tidak pernah menghiraukannya. Hemm..entahlah. Hidup dan besar dalam sebuah keluarga yang sederhana membuat “segalanya yang terasa pahit bagi orang lain” terasa manis di sisi Brian. Mengapa?...karena kepahitan hidup adalah menu sehari-hari Brian sedari dulu, tidak ada yang berbeda dan tidak pula ada yang berubah. Pada suatu kesempatan Brian pernah berkata (mengenai prinsip hidupnya, red), “Ngudi kratoning narimo nggayuh swargo tentrem” yang maknanya (kurang lebih) bahwa menerima dengan ikhlas dan ridha terhadap pemberian Allah Tabaaraka wa Ta’ala, Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, akan membawa seseorang kepada ketentraman batin dan ketentaraman hidup (Itulah Qana’ah, red). Prinsip hidup yang selanjutnya ia ajarkan kepada anak-anaknya sebagai dasar/pondasi agar mereka mampu menghadapi kerasnya kehidupan beserta godaan-godaannya. Itulah cerita singkat seorang Brian, sang Oemar Bakri, pemuda lugu nan bersahaja dari Jogja….


Thanks to my father for his beautiful quote & story...

[Baca Selengkapnya...]


 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula