
Pajak lagi pajak lagi, ga ada tema yang lain apa?.. J. Dengan niat yang ikhlas mengharapkan Wajah Allah Ta’ala untuk saling berbagi, nasehat-menasehati dalam kebaikan dan takwa, kalaupun harus menulis dan mengulang seribu tema yang sama pun tidak jadi masalah. Menurut para ulama, menerangkan hukum sya’ri adalah perkara yang utama, karena dengan mengetahui hukum-hukum agama itu manusia bisa membedakan/ memisahkan mana yang haq dan mana yang bathil, yang halal, yang syubhat dan yang haram. Jika kita sekedar beramal saja tanpa mengetahui ilmunya, lalu bagaimana kita akan tahu dan yakin kalau amalan (yang kita kerjakan) tersebut benar?. Saking pentingnya ilmu, sampai-sampai Al-Imam al-Bukhari –raheemahullaahu- membuat sebuah judul bab pada kitab shahih-nya: “al-‘ilmu qabla al-qoul wal ‘amal: ilmu itu sebelum berkata dan beramal.” Begitu pula dengan masalah Pajak, sebelum berdalam-dalam di dunia tersebut, mengambil dan memakan harta dari sumber tersebut, sudah seharusnya kita mencari tahu hukum-hukumnya terlebih dahulu agar tidak menyesal di kemudian hari. Saya kutipkan penjelasan al-Imam al-Hafidz adz-Dzahabi –raheemahullaahu- terkait dengan Maks/Pajak/Bea Cukai dalam bab: المكاس. Namun sebelumnya, siapakah beliau?, Beliau adalah Syamsuddin Muhammad bin ‘Utsman bin Qaimaz at-Turkmany al-Fariqy ad-Dimasyqy asy-Syafi’i atau masyhur dengan sebutan al-Imam al-Hafidz adz-Dzahabi (w. 747 H), murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –raheemahullahu-. Beliau digelari Imamul Wujud Hifzhan (imamnya semua yang ada di hafalan), Syaikhul Jarhi wa Ta’dil (pakar dalam menilai ketsiqahan para perawi hadits) dan Rajul ar-Rijal fii Kulli Sabil (satu dari seribu orang dalam seluruh disiplin ilmu) oleh para ulama lain. Beliau juga seorang huffadz (hafal ribuan hadits i.e matan hadits beserta jalur-jalur periwayatannya, red) dengan banyak karya tulis terkenal semisal Mizanul I’tidal yang digunakan oleh para ahlul hadits sebagai rujukan dalam menilai ketsiqahan para perawi sanad. Berikut penjelasan beliau dalam kitabnya, al-Kabaair:
وهو داخل في قول الله تعالى إنما السبيل على الذين يظلمون الناس ويبغون في الأرض بغير الحق أولئك لهم عذاب أليم والمكاس من أكبر أعوان الظلمة بل هو من الظلمة أنفسهم فإنه يأخذ ما لا يستحق ويعطيه لمن لا يستحق ولهذا قال النبي المكاس لا يدخل الجنة وقال لا يدخل الجنة صاحب مكس رواه أبو داود وما ذاك إلا لأنه يتقلد مظالم العباد ومن أين للمكاس يوم القيامة أن يؤدي للناس ما أخذ منهم إنما يأخذون من حسناته إن كان له حسنات وهو داخل في قول النبي أتدرون من المفلس قالوا يا رسول الله المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع قال إن المفلس من أمتي من يأتي بصلاة وزكاة وصيام وحج ويأتي وقد شتم هذا وضرب هذا وأخذ مال هذا فيؤخذ لهذا من حسناته وهذا من حسناته فإن فنيت حسناته قبل أن يقضي ما عليه أخذ من سيئاتهم فطرحت عليه ثم طرح في النار
Perbuatan memungut pajak/cukai termasuk ke dalam firman Allah Ta’ala:
إنما السبيل على الذين يظلمون الناس ويبغون في الأرض بغير الحق أولئك لهم عذاب أليم
“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih”. (QS. Asy-Syura: 42)
Orang yang memungut pajak/cukai itu adalah orang yang paling besar bantuannya kepada orang-orang yang dzalim. Bahkan ia sendiri termasuk yang dzalim. Sebab, ia telah mengambil apa yang bukan menjadi haknya dan memberikannya kepada yang tidak berhak.
Nabi (Shallallaahu ‘alaihi wa sallama) bersabda:
المكاس لا يدخل الجنة
“Pemungut pajak/cukai itu tidak akan masuk surga”
Beliau juga bersabda:
لا يدخل الجنة صاحب مكس رواه أبو داود
“Tidak akan masuk surga orang yang kerjanya memungut pajak/cukai” (HR. Abu Dawud)
Pemungut pajak/cukai itu memikul tanggung jawab penganiayaan terhadap manusia. Pada hari kiamat kelak mereka tidak akan mendapatkan sesuatu untuk membayar kembali hak orang yang sudah diambilnya. Sesungguhnya mereka akan membayarnya dengan diambilkan kebaikannya jika ia mempunyai kebaikan.
Rasulullah (Shallallaahu ‘alaihi wa sallama) bersabda: “Tahukah kamu, siapakah orang-orang yang muflis/bangkrut itu?”, Sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, menurut kami orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham atau kekayaan”, Rasulullah (Shallallaahu ‘alaihi wa sallama) menjelaskan, “Sebenarnya orang yang bangkrut dari ummatku itu adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, zakat, shiyam/puasa dan haji, namun ia datang dalam keadaan telah mencela si anu dan menumpahkan darah si anu. Maka kebaikannya diambil untuk si anu, diambil lagi untuk si anu. Apabila kebaikannya sudah habis sebelum habisnya kesalahannya terhadap orang-orang itu, maka diambillah kejahatan orang-orang itu lalu dipikulkan kepadanya, hingga akhirnya ia masuk neraka”... [al-Kabaair hal. 115, al-Hafidz adz-Dzahabi]
Pengutip: Salah satu alasan mengapa banyak orang yang tertarik untuk bekerja di sektor Perpajakan dan Bea Cukai adalah status sosial/ kedudukannya yang dianggap prestigeous di mata masyarakat dan pendapatannya (yang katanya) cukup besar. Namun bagi orang yang mengetahui hukum syariat seperti para ulama yang wara’ dan hanif, pekerjaan seperti itu tidaklah berfaidah sama sekali dan harus ditinggalkan. Mengapa demikian? Apa alasannya?. Kan prestigeous, kan gajinya gedhe, kan... kan.... Let’s take a look perkataan al-Imam al-Hafidz adz-Dzahabi berikut di dalam bab: “Memakan Barang Haram” (masih di dalam kitab yang sama i.e al-Kabaair), serem mas Bro..:
قال الله عز وجل ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil”. (QS. Al-Baqarah: 188)
قال ابن عباس رضي الله عنهما يعني باليمين الباطلة الكاذبة يقتطع بها الرجل مال أخيه بالباطل والأكل بالباطل على وجهين أحدهما أن يكون على جهة الظلم نحو الغصب والخيانة والسرقة والثاني على جهة الهزل واللعب كالذي يؤخذ في القمار والملاهي ونحو ذلك
Ibnu Abbas –radhiyallaahu ‘anhuma- berkata, “Maksudnya adalah dengan sumpah palsu, yang dengan sumpah palsu itu seseorang bisa mendapatkan harta saudaranya secara bathil.”
Memakan dengan cara yang bathil itu ada dua macam:
Pertama, Diperoleh dengan jalan kedzaliman seperti merampas, berkhianat atau mencuri.
Kedua, Diperoleh dengan cara bermain seperti berjudi, tempat-tempat hiburan dan lain-lain.
وفي صحيح البخاري أن رسول الله قال إن رجالا يتخوضونن في مال الله بغير حق فلهم النار يوم القيامة
Dalam shahih Bukhari disebutkan, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda:
“Sesungguhnya orang-orang yang menceburkan diri ke dalam harta Allah tanpa hak, maka bagi mereka disediakan Neraka pada hari kiamat.”
وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله الدنيا حلوة خضرة من اكتسب فيها مالا من حله وأنفقه في حقه أثابه الله وأورثه جنته ومن اكتسب فيها مالا من غير حله وأنفقه في غير حقه أدخله الله تعالى دار الهوان ورب متخوض فيما اشتهت نفسه من الحرام له النار يوم القيامة
Ibnu Umar -radhiyallaahu ‘anhuma- meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Dunia itu manis dan hijau. Barangsiapa berusaha di dalamnya secara halal lalu menafkahkannya pada jalan yang benar, niscaya Allah Ta’ala akan mengganjarnya dan mewariskan Surga baginya. Dan barangsiapa berusaha di dalamnya melalui cara yang haram dan membelanjakannya pada jalan yang tidak benar, niscaya Allah Ta’ala akan memasukannya ke tempat yang hina (Neraka). Berapa banyak orang yang menceburkan diri pada apa-apa yang haram yang disenangi hawa nafsunya, mengakibatkan ia masuk neraka pada hari Kiamat nanti”. (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab [5139] dari Ibnu Umar, ash-Shahih [3410])
وقال سفيان الثوري من أنفق الحرام في الطاعة كمن طهر الثوب بالبول والثوب لا يطهره إلا الماء والذنب لا يكفره إلا الحلال
Berkata Sufyan ats-Tsauri –Raheemahullaahu-, “Orang yang menafkahkan uang haram dalam perbuatan ta’at adalah ibarat orang yang mencuci baju dengan air seni. Padahal baju tidaklah dicuci kecuali dengan air, dan dosa tidaklah dihapus kecuali dengan yang halal.”.... [al-Kabaair hal. 118, al-Imam adz-Dzahabi]
Look!, al-Imam Sufyan ats-Tsauri (salah seorang ulama besar salafus shalih dari (salah satu) generasi terbaik Islam, tabi’ut tabi’in, red) saja menyamakan “uang haram” dengan “air seni” yang jelas-jelas najis dan tidak bisa digunakan untuk bersuci. Padahal itu ditujukan untuk kebaikan semisal menafkahi anak istri, shadaqah, menyantuni anak yatim dll, apatah lagi jika digunakan untuk keburukan/ kemaksiatan. Pertanyaannya; Jika Maks/Pajak/Bea Cukai dihukumi haram oleh para ulama berdasarkan nash-nash shahih karena mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak haq (syar’i), lantas bagaimana dengan penghasilannya?, bagaimana dengan daging yang tumbuh dari makanan yang dibeli dari uang tersebut?, bagaimana dengan doa dan ibadah dari orang yang mendapatkan harta dengan jalan tersebut?...
Sebenarnya tidak ada masalah dengan sisi prestigeousnya, begitu pula dengan pendapatannya yang besar, namun jangan sampai hal-hal membanggakan dan mengagumkan yang sifatnya fana dan hanya sementara itu mengalahkan perkataan/ hukum Allah dan RasulNya Shallallaahu ‘alaihi wa sallama. Kemulian tidaklah diukur dengan banyak atau sedikitnya harta koq mas Bro, karena jika itu tolok ukurnya, tentu Fir’aun dianggap lebih mulia dari nabi Musa ‘Alaihissalam. Yang memandang mulia tidaknya seseorang dari banyak sedikitnya harta hanya mereka kaum kuffar sebagaimana penjelasan al-Imam al-Qurthubi, “..Sesungguhnya kemuliaan menurut orang kafir adalah dilihat pada banyak atau sedikitnya harta. Sedangkan orang mukmin, kemuliaan menurutnya adalah dilihat pada ketaatan kepada Allah dan bagaimana ia menggunakan segala nikmat untuk tujuan akhirat. Jika Allah memberinya rizki di dunia, ia pun memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.” [Al-Jaami’ li Ahkamil Qur’an]
Jika saya seorang pegawai Pajak, maka tidak ada pilihan lain yang lebih baik bagi saya kecuali mengajukan pindah ke bagian lain atau resign dari pekerjaan tersebut (worst case jika ikhtiar pertama ditolak atasan, red) dan mencari pekerjaan lain yang lebih halal demi kebaikan saya sendiri dan keluarga... Wallaahu a’lam...




Previous Article
