Kebaikan Vs Keburukan Serta Balasannya Kelak Di Akhirat



Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyebutkan dua perbuatan yang saling bertolak belakang beserta balasannya di akhirat kelak i.e perbuatan baik dan perbuatan buruk, di dalam kitab-Nya yang haq lagi shahih, Al-Qur’an Al-Karim secara berturut-turut i.e QS. Yunus 25-26 dan QS. Yunus 27. Mudah-mudahan kita sebagai seorang mukallaf diberikan bashirah oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala agar mampu mengambil pelajaran dari setiap keterangan atau khabar yang termaktub di dalam Al-Kitab wa Sunnah an-Nabawiyyah, mendengar, menerima dan mengamalkannya, amieen.


Perbuatan Baik

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman ketika menjelaskan keadaan orang-orang yang berbuat baik (beramal shalih, red);

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menunjukki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam). Orang-orang yang berbuat baik mendapatkan pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus 25-26)

Berkata al-‘Allamah asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –semoga Allah Ta’ala merahmatinya- ketika menafsirkan ayat diatas, “Allah Ta’ala mengajak, mendorong dan menganjurkan hamba-hambaNya secara umum kepada Darussalam (Surga), dan Dia mengkhususkan hidayah kepada siapa (saja) yang Dia kehendaki untuk dipiih dan diangkatNya. Ini adalah karunia dan kebaikanNya, dan Allah mengkhususkan rahmatNya kepada hambaNya yang Dia kehendaki. Ini adalah keadlilan dan hikmahNya, tidak ada seseorang pun yang memiliki hujjah setelah adanya penjelasan dan (setelah) diutusnya Rasul. Allah Subhaanahu wa Ta’ala menamakan Surga dengan Darussalam karena ia selamat dari cacat-cacat dan kekurangan, dan hal itu dikarenakan kesempurnaan nikmatnya, kelengkapannya, kekekalannya dan keindahannya dari segala segi.

Manakala Dia mengajak kepada Darussalam maka seakan-akan jiwa itu berhasrat kepada amal perbuatan yang mengantarkannya kepada Surga, maka Dia menyampaikannya dengan firmanNya, “Orang-orang yang berbuat baik mendapatkan pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya”. Maksudnya, orang-orang yang berbuat baik dalam beribadah kepada Allah hendaklah beribadah kepadaNya dengan pijakan muraqabah (merasa diawasi), dan ketulusan (keikhlasan) dalam beribadah, dan melaksanakan apa yang dia mampu darinya. Mereka juga berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dengan apa yang mereka mampu, berupa perbuatan baik yang bersifat perkataan dan perbuatan: memberikan kebaikan materi, kebaikan jasmani, amar ma’ruf, nahi mungkar, mengajar orang-orang yang bodoh (jahil), memberikan nasihat kepada orang-orang yang berpaling dan kebaikan-kebaikan yang lain. Orang-orang yang berbuat baik itulah yang mendapatkan kebaikan i.e Surga yang sempurna kebaikannya dan sebuah tambahan i.e melihat Wajah Allah Ta’ala yang mulia, mendengar firmanNya, meraih ridhaNya, (dan) berbahagia dengan kedekatan kepadaNya. Dengan ini terwujudlah harapan tertinggi yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap dan sesuatu yang dimohon oleh orang-orang yang memohon.

Kemudian Dia menyebutkan lenyapnya ketakutan mereka, Dia berfirman, “Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan”. Maksudnya, mereka tidak ditimpa sesuatu yang tidak diinginkan dari segi apapun, karena jika sesuatu yang tidak diinginkan menimpa manusia, maka hal itu akan terbaca di wajahnya, ia akan kusut dan suram. Adapun mereka (yang mengerjakan amal shalih), maka Allah berfirman tentangnya,

“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan”. (QS. Al-Muthaffifin 24).

Mereka itu adalah penduduk Surga yang tinggal kekal di dalamnya, tidak berpindah, tidak lenyap dan tidak akan berubah.” [Taisir al-Kareem ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannaan, vol. 3, juz. 11]


Perbuatan Buruk

Di ayat berikutnya Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman (ketika menjelaskan keadaan orang-orang yang berbuat keburukan), “Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Mereka tidak memiliki seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (QS. Yunus 27)

Kembali asy-Syaikh al-Mufassir Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menjelaskan ayat diatas di dalam tafsirnya, “Manakala Allah menyebutkan penduduk Surga, maka Dia menyebutkan penghuni Neraka, lalu Dia menyebutkan bahwa barang dagangan mereka yang mereka dapatkan di dunia adalah amal-amal buruk yang mengundang murka Allah berupa berbagai macam kekufuran, pendustaan dan kemaksiatan, maka balasan (kepada) mereka adalah keburukan yang sepertinya yakni balasan yang menyedihkan mereka menurut keburukan yang mereka lakukan sesuai dengan perbedaan keadaan mereka. Dan mereka ditutupi”, maksudnya dinaungi, “kehinaan” di hati mereka dan ketakutan terhadap azab Allah, tidak ada yang melindungi mereka darinya, dan tidak ada yang membentengi. Kehinaan batin itu merembet kepada lahir mereka, maka wajah mereka (pun) menghitam “seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. Berapa (jauh) perbedaan antara kedua golongan (tersebut)?. Betapa jauhnya jurang antara keduanya.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnya-lah mereka melihat. Dan wajah (orang-orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.” (QS.Qiyamah 22-25)

“Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. Abasa 38-42)[Taisir al-Kareem ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannaan, vol. 3, juz. 11]


Dari penjelasan as-Syaikh as-Sa’dy diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa perbuatan baik dalam bentuk amalan shaliha akan membawa pelakunya kepada Darussalam (Surga) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, tempat yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan, lagi kekal di dalamnya untuk selama-lamanya, ‘abadan ‘abada. Wajah mereka berseri-seri, tidak ditutupi oleh debu hitam, dan tidak pula oleh kehinaan. Adapun perbuatan buruk dalam bentuk kesyirikan, kekufuran, pendustaan terhadap ayat-ayat Allah Tabaaraka wa Ta’ala dan risalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan berbagai bentuk kemaksiatan, akan membawa pelakunya kepada Neraka, azab Allah Tabaaraka wa Ta’ala yang pedih, dan kehinaan tiada akhir. Wajah mereka menghitam, tertutupi oleh debu dan kegelapan seakan-akan tertutupi oleh kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, na’udzubillaahi min dzalik. Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang pertama yang ikhlas dalam mengerjakan amal shalih dan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama demi mengharapkan Wajah Allah yang mulia di Surga kelak. Wallahu Ta’ala a’lamu.

[Baca Selengkapnya...]


Create a Dynamic Chart in Excel



Excel Mania, masih ingatkah anda dengan article “Trik Membuat Grafik Menggunakan VBA Excel”?, i.e sebuah artikel sederhana yang mengupas (tentang) tata cara membuat grafik di MS Excel menggunakan fasilitas Visual Basic Editor. Adalah fakta bahwa untuk menciptakan grafik yang interaktif itu tidak harus menguasai syntax-syntax yang rumit. Ada metode/cara lain yang lebih sederhana dengan output akhir yang tidak kalah menarik (dibandingkan VBA, red). “Banyak jalan menuju Roma”, begitu kata pepatah. Untuk itu mari kita tinggalkan sejenak dunia per-VBA-an dan beralih ke dunia per-function-an. Kita gali kembali beberapa formulasi yang terdapat di Microsoft Excel kemudian kita optimalkan untuk membuat dynamic charts yang interaktif. Yuk kita mulai…..

Ada beberapa fungsi yang akan kita gunakan (terkait pembuatan dynamic chart ini, red), yakni; Offset function, Row function, Column function, Address function, Index function dan Indirect function. Sebelum masuk ke inti pembahasan, mari kita bahas secara singkat fungsi-fungsi diatas satu-persatu.

Pertama; Offset function. Fungsi ini pernah saya bahas di artikel sebelumnya. Silahkan merujuk ke sini.

Kedua; Row function dan Column function. Syntaxnya adalah sebagai berikut: ROW(reference) dan COLUMN(reference). Menurut “Excel Help”, reference pada syntax diatas adalah the cell or range of cells for which you want the row or column number, atau dengan bahasa lain reference merupakan cell atau range yang ingin kita ketahui numerical valuenya dari record suatu baris atau kolom. Contoh: =Row(B3), jika kita enter akan menghasilkan numerical value 3. Adapun =Column(B3) akan menghasilkan numerical value 2 (penjelasan detailnya bisa dilihat di Excel Help).

Ketiga; Address function. Syntaxnya adalah sebagai berikut: ADDRESS(row_num, column_num, [abs_num], [a1], [sheet_text]). Inputan Row_num dan column_num berupa numeric value (lihat pembahasan Row function dan Column function pada poin kedua, red), [abs_num] juga berupa numeric value (i.e angka antara 1-4 dimana 1 artinya [Absolute] yang ditandai dengan $ pada sisi baris dan $ pada sisi kolomnya e.g $B$1, 2 yang artinya [Absolute row; relative column] yang ditandai dengan $ pada sisi barisnya saja e.g B$1, 3 yang artinya [Relative row; absolute column] yang ditandai dengan $ pada sisi kolomnya saja e.g $B1 dan 4 yang artinya [Relative], yakni tidak ditandai $ pada sisi baris maupun kolomnya e.g B1. Sedangkan inputan [a1] berupa logical value i.e True atau False. Jika [a1] kita isi dengan “True” maka format yang dihasilkan adalah A1 e.g B1, namun jika kita isi dengan “False” maka format yang dihasilkan adalah R1C1 e.g B1 di format A1 sama dengan R1C2 di format R1C1. Adapun [sheet_text] diisi dengan nama Sheet, dan sifatnya optional, tidak mandatory. Anda bisa googling atau berselancar di Excel Help jika ingin mengetahui lebih detail.

Keempat; Index function. Detail syntaxnya kurang lebih sebagai berikut: INDEX(reference,row_num,column_num,area_num). Inputan dari Reference adalah range e.g A1:A20, B1:B5 dll yang berisi record, sedangkan row_num dan column_num berupa numeric value dimana intersection (pertemuan) dari keduanya (pada range yang kita select) akan menghasilkan sebuah record yang kita cari. Inputan area_num adalah numeric value, jika reference yang kita isikan itu hanya satu range (single), maka kita cukup mengisikan numeric value 1 pada area_num ini, namun jika reference yang kita isikan itu lebih dari satu range, maka numeric value yang dimasukkan harus disesuaikan dengan jumlah rangenya dan posisi recordnya. Misal ada 3 buah range i.e range1, range2 dan range3, jika record yang kita cari itu terdapat di range3, maka numeric value yang kita inputkan (pada area_num) adalah 3 dst (silahkan merujuk ke Excel Help untuk penjelasan lebih lanjut).

Kelima; Indirect function. Syntaxnya adalah sebagai berikut: INDIRECT(ref_text,a1). Fungsi INDIRECT menghasilkan beragam tipe data, bisa berupa text, numeric value dll tergantung tipe data apa yang terdapat pada cell yang dituju e.g A1 berisi record: “900”, berarti tipe data dari cell A1 adalah numeric value, jika record A1 berisi: “Old Nakula” misalnya, berarti tipe data dari cell A1 adalah text. ref_text pada dasarnya menunjukkan cell e.g A1, A2, B1 dll meskipun bisa jadi (cell-cell tersebut) dibentuk dari gabungan character dan value e.g “A1” bisa dibentuk dari character A digabung dengan value 1 menggunakan formula =A&1 atau CONCATENATE(A,1). Adapun inputan a1 berupa logical value (lihat pembahasannya pada Address function di poin ketiga, red). Untuk lebih detailnya, rekan-rekan bisa melihat contoh penggunaannya pada Excel Help.

Beberapa waktu yang lalu saya mendownload file dynamic chart di URL berikut: http://peltiertech.com/Excel/Charts/ChartByControl.html, nama filenya: ChartAgainstStandard.zip. Sebenarnya banyak sample chart yang bisa kita pelajari dan eksplor lebih jauh disana, namun kali ini saya hanya akan mengambil satu contoh chart saja i.e chart against standard dengan beberapa modifikasi dan tambahan formulasi versi saya sendiri (silahkan mendownload file aslinya terlebih dahulu pada URL diatas untuk mempermudah pemahaman). Di file dengan nama “Chart Against Standard” tersebut terdapat 4 buah Sheets/Worksheet i.e Test, Hydrogen, Helium, Lithium, dan Beryllium yang berisi data numeric (masing-masing data dimulai dari cell A1 sampai cell B21). Tampilan filenya adalah sebagai berikut:



Pembahasan pertama kita awali dari Combo Box atau List Box. Pada dasarnya kedua form control tersebut sama (khususunya dalam hal pengambilan source data), karenanya saya cukupkan pembahasan ini hanya pada salah satu (dari kedua form control) tersebut saja (saya pilih List Box yang berada dibawah Combo Box. Lihat gambar diatas, red). Klik menu Developer (jika menu tersebut belum muncul di excel, silahkan klik symbol MS Office di pojok kiri atas, klik Word options di pojok kiri bawah, centang Show Developer tab in the Ribbon, kemudian klik OK, maka akan muncul “Developer” di menu Excel, red), lalu klik Insert Control> List Box [Form control] dan klik kanan pada Sheets(“Test”). Maka List Box yang kita butuhkan akan muncul (di file aslinya sendiri sudah ada List Box dan Combo Box, jadi poin ini hanya sebagai pembelajaran saja, red). Ini adalah langkah yang pertama. Langkah yang kedua adalah: Perhatikan kolom N pada gambar diatas [i.e Sheets(“Test”)], ada Cell link dan Input range. Klik menu Formulas>Name Manager>New. Masukkan formulasi ini =OFFSET(Test!$N$3,0,1,COUNTA(Test!$O:$O)-1,1) ke “Refers to”, [penjelasan formulasi seperti ini bisa anda lihat di sini, red) dan ketik RgMaterial pada “Name”. Apa sih kegunaannya?. Inilah fungsi yang akan mengupdate data List Box secara otomatis (a dynamic range function, red). Katakanlah anda ingin menambahkan zat “Kalium” pada Input Range [di kolom O dibawah Beryllium misalnya, red) maka List Box akan memasukkan dan menampilkan seluruh data secara otomatis ke dalam database-nya termasuk zat Kalium yang paling terakhir terupdate. Bagaimana cara mengkoneksikan/memasukkan data-data tersebut ke dalam List Box?, ikuti langkah ketiga berikut. Klik kanan form List Box> Format Control> Control. Pada Input range, ketik RgMaterial, dan ketik $O$1 pada Cell link, pilih Single pada Selection type, kemudian klik OK. Proses ini cukup dilakukan sekali saja. Cell link berfungsi sebagai pengurut record, jika kita select Helium misalnya pada List Box maka Cell link akan menunjukkan angka 2.

Coba perhatikan sample grafik “Chart Against Standard” yang kita download tersebut, setiap kali kita menselect pilihan zat/material yang ada di List Box, content data pada kolom P & Q akan ikut berubah secara otomatis mengikuti pilihan di List Box. Kuncinya dimana sih?, mari kita ambil salah satu formula di cell Q1 sebagai sample yakni:

=INDIRECT("'"&INDEX(RgMaterial,$O$1)&"'!"&ADDRESS(ROW(B1),COLUMN(B1)))

Formula =ADDRESS(ROW(B1),COLUMN(B1)) akan menghasilkan sebuah cell $B$1, yakni dari ADDRESS(1,2,,,,). Adapun =INDEX(RgMaterial,$O$1) menghasilkan salah satu pilihan zat yang terselect di List Box. Jika kita select Helium misalnya, maka hasil yang akan dimunculkan oleh formulasi tersebut adalah Helium. Jika kita gabungkan ke-2 formulasi tersebut menjadi: ="'"&INDEX(RgMaterial,$O$1)&"'!"&ADDRESS(ROW(B1),COLUMN(B1)) maka value yang dihasilkan adalah 'Helium'!$B$1. Lantas apa fungsi INDIRECT pada INDIRECT('Helium'!$B$1)?. INDIRECT ini akan mengambil value dari Sheets(“Helium”) pada cell B1 i.e text “Helium” itu sendiri (silahkan lihat content data pada Sheet Helium, red). Dengan kata lain, jika kita tarik formulasi tersebut hingga ke bawah (i.e dari Q1 sampai Q21 pada Sheets(“Test”)), maka data yang akan tercopy di range tersebut adalah data B1:B21 pada Sheet Helium. Dan itu akan berubah-ubah secara dinamis mengikuti pilihan pada List Box, fahimtum?.. J. Catatan: kita abaikan saja data yang terdapat pada range A1:B21 di Sheet(“Test”) karena tidak terlalu signifikan perannya pada pembahasan kali ini.

Ok lanjut, coba kita klik kanan charts pada Sheets(“Test”) tersebut. Maka akan muncul informasi sebagai berikut:



Awalnya (sebelum saya modifikasi), Series X values =ChartAgainstStandard.xls!$P$3:$P$21, Series Y values =ChartAgainstStandard.xls!$Q$3:$Q$21 (bisa dicheck di file asli yang temen-temen download, red). Namun kemudian saya ubah formatnya menjadi seperti yang terlihat pada gambar diatas (i.e $P$3:$P$21 saya ganti dengan SumbuX dan $O$3:$O$21 saya ganti dengan sumbuY). Apa tujuannya? Tidak lain dan tidak bukan: Automatic data selection, yakni setiap kali ada penambahan record data e.g dari $P$3:$P$21 menjadi $P$3:$P$35 misalnya, maka grafik akan mengupdate sumbu x sesuai dengan penambahan data terbaru i.e menselect record sampai $P$35, begitu juga dengan sumbu y. Tapi sebelum mengganti $P$3:$P$21 dengan SumbuX dan $O$3:$O$21 dengan sumbuY, kita harus mendefinisikan terlebih dahulu SumbuX dan SumbuY tersebut pada Name Manager. Klik menu Formulas>Name Manager>New. Masukkan formulasi ini ke “Refers to”, =OFFSET(Test!$N$3,0,2,COUNTA(Test!$P:$P)-1,1) dan ketik SumbuX pada “Name”. Ulangi langkah yang sama dengan memasukkan =OFFSET(Test!$N$3,0,3,COUNTA(Test!$Q:$Q)-1,1) pada “Refers to” dan SumbuY pada “Name”. Baru setelah itu anda bisa mengganti range $P$3:$P$ dan $O$3:$O$21 dengan SumbuX dan SumbuY. OK, itu saja corat-coret tak berbobot dari saya hari ini, mohon maaf jika ada kekurangan, may it’s beneficial and...have a nice try!..

[Baca Selengkapnya...]


Beramal Untuk Akhirat












Al-Imam Ibnu Hazm al-Andalusi -rahimahullaahu- mengatakan:


“Aku dapati bahwa beramal untuk akhirat selamat dari segala aib

Bersih dari semua kotoran

Mengusir kegundahan hati secara hakiki


Aku dapati orang yang beramal untuk akhirat bila ditimpa musibah

Ia tidak resah bermuram durja

Bahkan ia merasa riang-gembira

Karena harapannya meraih pahala di balik musibah

Memberinya kekuatan untuk tetap mencari yang ia inginkan


Aku juga mendapati

Bila ada yang menghadangnya dari jalan yang ia lalui

Ia tidak gelisah

Tidak juga lebih mengutamakannya dari yang ia cari


Bila ia lelah, ia tetap bahagia

Bila terkena gangguan, ia tetap bahagia

Bila ujian menerpanya, ia tetap bahagia


Ia selalu berada dalam kegembiraan dan kebahagiaan

Sementara para pengejar dunia

Keadaan mereka sebaliknya.”

(Al-Akhlak wa Siyar, Hal. 15-16)


Sumber: www.cintasunnah.com


[Baca Selengkapnya...]


Ringan Di Lisan Namun Berat Di Konsekuensi



Hari ini saya pulang lebih cepat, begitu juga dengan rekan-rekan yang lain. “Today is like Sunday”,.. ya, “Nothing to do since nobody’s working today. It’s truly like holiday..”. Suasana di kantor memang sedang kurang kondusif (mudah-mudahan segera kembali normal, red), orang-orang memilih untuk tidak beraktifitas seperti biasanya. Duduk-duduk di basement, makan kripik hasil sumbangan ibu-ibu dan berbincang-bincang ringan sambil menunggu waktu dzuhur tiba. Beberapa senior menuturkan, “Banyak orang yang tidak amanah di tempat kita. Mereka menjanjikan sesuatu, tetapi tidak ditepati. Mereka menyepakati sesuatu, namun (nyatanya hanya) untuk diingkari”.. wallaahu Ta’ala a’lamu. Sesampainya di rumah, saya coba membuka buku tafsir untuk mengisi waktu senggang menjelang ashr dan menemukan ayat berikut;

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang shalih.’ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi. Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?” (QS. At-Taubah: 75-78)

Ayat diatas dikutip tidak untuk menyindir perilaku orang-orang yang dianggap “tidak amanah” tersebut. Kalaupun dikait-kaitkan (katakanlah begitu) kayaknya juga tidak terlalu relevan dengan kondisi yang terjadi di lingkungan kami. Ayat ini dikutip sebagai pengingat bagi kita agar berhati-hati dengan penyakit nifaq yang bisa menjangkiti siapa saja, dan kapan saja.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menerangkan azbaabun nuzul ayat diatas: “Ayat-ayat ini turun mengenai seorang munafik yang bernama Tsa’labah, dia datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama memohon kepadanya untuk berdoa kepada Allah agar memberinya karunia, dan bahwa jika Allah memberinya, maka dia akan bersedekah, bersilaturahim, dan menolong orang yang dalam musibah, maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama mendoakannya. Dia memiliki kambing, kambingnya itu terus berkembang biak sehingga dia menggembalakannya sampai keluar Madinah, akhirnya dia tidak menghadiri kecuali shalat Jum’at, kambingnya bertambah banyak maka ia semakin menjauh, akibatnya (adalah) dia tidak menghadiri (shalat) (ber)jama’ah dan Jum’at. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama merasa kehilangan dia, beliau diberitahu tentang keadaannya, maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama mengutus orang untuk mengambil zakat dari orang-orang yang wajib zakat. Ketika mereka mendatangi Tsa’labah, maka Tsa’labah berkata, “Ini tidak lain kecuali jizyah. Ini tidak lain kecuali saudaranya jizyah (note: Jizyah berasal dari kata “jazaa” yang berarti balasan dan secara istilah ia merupakan harta yang wajib dibayarkan oleh kalangan ahlu Dzimmi yang bertempat tinggal di sebuah Daulah Islam kepada pemerintah atau penguasa Daulah Islam tersebut).” Ketika Tsa’labah tidak mau membayar zakat, mereka datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama dan menyampaikan hal itu. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda;

“Celaka Tsa’labah. Celaka Tsa’labah. Celaka Tsa’labah.”

Ketika ayat ini turun kepadanya dan pada orang yang semisalnya, maka sebagian keluarganya menyampaikannya kepada Tsa’labah. Dia pun datang membawa zakatnya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, tetapi beliau tidak mau menerimanya. Setelah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama wafat, zakatnya dibawa kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu, dan beliau juga tidak mau menerimanya, lalu kepada Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu setelah Abu Bakar, dan beliau pun tidak mau menerimanya. Dikatakan bahwa Tsa’labah meninggal pada masa Utsman bin Affan radhiyallaahu ‘anhu”. [Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, vol. 3 juz. 10]

Kurang lebih begitulah gambaran orang munafik. Ia khusyuk berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala agar memberinya karunia yang banyak dan berjanji (jika doanya terkabul) akan bersedekah, berzakat, membantu orang yang terkena musibah dan mengerjakan amal-amal yang baik lagi shalih. Namun tatkala doanya terkabul, ia kemudian terbuai oleh kemewahan dunia dan lupa akan janji-janji yang pernah diucapkannya. Kemewahan membuatnya kikir untuk bersedekah dan berzakat, kesibukan dunia membuatnya lupa dan malas untuk mengerjakan amal shalih. Ketika diingatkan, ia akan mengeluarkan berbagai macam alasan untuk menolaknya. Ia sendiri yang berjanji, ia sendiri pula yang mengingkari. Ini adalah sebuah warning bagi saya pribadi yang dhaif lagi jahil ini sekaligus nasihat agar saya selalu berinstrospeksi diri setiap saat.

Tafsir ayat

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menjelaskan ayat diatas:

<75> Yakni, diantara orang-orang munafik itu ada yang berjanji kepada Allah, Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami dari dunia, lalu Dia melapangkannya dan membentangkannya untuk kami, “pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang shalih”. Kami akan bersilaturahim, menjamu tamu, membantu orang yang mendapatkan musibah dan melakukan amalan-amalan yang baik lagi shalih.

<76>; Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka ingkari ucapan mereka sendiri, bahkan mereka kikir dan berpaling dari ketaatan dan ketundukan (kepada Allah Ta’ala, red) dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi, yakni tidak melihat kebenaran.

<77>; Karena mereka tidak menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah Ta’ala, Dia menghukum mereka dan Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Maka hendaknya seorang mikmin mewaspadai sifat buruk ini, yakni berjanji kepada Allah jika maksudnya yang begini dan begini tercapai, maka dia akan melakukan ini dan itu, kemudian dia tidak menepati, karena bisa jadi Allah menghukumnya dengan kemunafikan seperti mereka. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama telah bersabda dalam hadits yang tsabit dalam ash-Shahihain,

“Tanda orang munafik ada tiga; Jika berbicara berdusta, jika melakukan perjanjian ia berkhianat dan jika berjanji tidak menepati”

Munafik ini berjanji kepada Allah jika Dia memberikan karuniaNya kepadanya niscaya ia akan bersedekah dan menjadi orang yang shalih, dia berbicara lalu berdusta, dia melakukan suatu perjanjian lalu mengkhianati dan dia berjanji lalu tidak menepati.

<78>; Karena itu Allah mengancam orang yang melakukan hal itu dengan firmanNya, Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?, Allah akan membalas mereka atas apa yang mereka kerjakan yang diketahui oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. [Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, vol. 3 juz. 10]

== Selesai kutipan ==

Mudah-mudahan kita dijauhkan dari sifat munafik beserta orang-orangnya i.e mereka yang gemar berdusta ketika berbicara, yang tak segan berkhianat ketika diberikan amanah, dan tak sungkan untuk berbuat ingkar ketika berjanji. Akhirnya saya berdoa, “Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari nifaq, (bersihkanlah) amalku dari riya, (bersihkanlah) lisanku dari dusta, (bersihkanlah) mataku dari pengkhianatan. Sesungguhnya Engkau mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan didalam dada.” (HR. Hakim (2/227)

[Baca Selengkapnya...]


Perumpamaan Dunia Selanjutnya



Dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallaahu ‘anhu dia berkata;

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama berdiri lalu berkhatbah, “Tidak wallaahi (demi Allah), aku tidak mengkhawatirkan apapun dari kalian selain pada bunga dunia yang dikeluarkan Allah.”

Seorang laki-laki berdiri, dia bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah kebaikan mendatangkan keburukan?”

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama diam, kemudian bersabda, “Apa yang engkau tanyakan?”

Laki-laki itu berkata, “Wahai Rasulullah, adakah kebaikan mendatangkan keburukan?”

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Kebaikan itu mendatangkan kebaikan juga. Segala sesuatu yang tumbuh di musim semi dapat membunuh atau membinasakan. Kecuali hewan pemakan tumbuh-tumbuhan yang ketika kenyang, ia menghadap ke arah matahari dan membuang kotorannya. Setelah itu ia lari. Setelah perutnya kosong, ia makan lagi. Maka, siapapun yang mengambil harta dengan haknya, akan diberkahi hartanya. Dan siapa yang mengambil harta yang bukan haknya maka dia seperti orang yang makan akan tetapi tidak pernah kenyang.” [HR. Bukhari No. 6427 dan Muslim No. 122 dalam az-Zakah]

Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hambali mencantumkan hadits diatas dalam kitab Qaala Ibnu Rajab. Hari ini saya ingin mengcopy-paste penjelasan al-Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab beliau ‘Uddatush Shaabirin terkait hadits tersebut. Berikut syarh-nya (semoga bermanfaat bagi kita semua).

Berkata al-Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah –Semoga Allah Ta’ala merahmatinya-:

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama mengabarkan bahwa beliau khawatir para shahabat akan terpikat oleh dunia. Oleh karena itu beliau mengumpamakan dunia dengan bunga. Sebab, kemiripan dunia dengan bunga terletak pada keindahan dan ketidakabadiannya. Padahal di balik dunia itu terdapat akhirat yang memiliki buah yang lebih baik dan lebih abadi.

Sabda beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, “Segala sesuatu yang tumbuh di musim semi dapat membunuh atau membinasakan”, adalah merupakan perumpamaan yang sangat indah. Ini adalah peringatan bagi orang yang menikmati dunia dan bergelimang harta. Sebagaimana binatang ternak bernafsu sekali dan sangat berambisi ketika melihat tumbuh-tumbuhan segar di musim semi, maka dengan rakus ia memakannya sampai mati karena kekenyangan. Pun demikian sifat rakus terhadap dunia. Sifat ini dapat mematikan orang yang menikmatinya, atau setidaknya menggiringnya kepada kematian/kebinasaan. Kenyataan membuktikan/menunjukkan bahwa banyak orang kaya (yang) terbunuh oleh kekayaan mereka sendiri. Dengan rakus mereka mengumpulkan harta kekayaan, sementara orang lain membutuhkannya. Mereka pun tidak bisa mengumpulkan harta itu kecuali dengan jalan membunuh, ataupun menginjak dan menindas orang lain.

Sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, “Kecuali hewan pemakan tumbuh-tumbuhan”, adalah perumpamaan untuk orang yang mengambil dunia secukupnya. Beliau membuat perumpamaan hewan pemakan tumbuh-tumbuhan yang makan sebatas kebutuhan dirinya, yakni sampai lambungnya penuh.

Sabda Nabi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama tersebut, “yang ketika kenyang, ia menghadap ke arah matahari dan membuang kotorannya”, mengandung tiga faidah;

[1]. Bahwa hewan itu setalah ia puas memenuhi lambungnya dengan tumbuh-tumbuhan tersebut, dia menghadap ke arah matahari dan membuang kotorannya.

[2]. Hewan itu berpaling dari kerakusan yang bisa membahayakan dirinya. Kemudian ia menghadap pada sesuatu yang bermanfaat baginya, seperti berjemur di bawah sinar matahari. Perbuatannya ini (akan) mematangkan makanan yang sedang diproses (dalam perutnya), lalu mengeluarkannya berupa kotoran dari perut (tersebut).

[3]. Hewan itu mengosongkan lambungnya dengan membuang kotoran yang berasal dari makanan yang ditimbunnya di dalam perut. Ia akan merasa leluasa dan lega setelah mengeluarkan kotorannya. Karena apabila kotoran tersebut ditahannya maka bisa membunuhnya. Dia akan mendapat kebaikan jika melakukan seperti apa yang dilakukan hewan tersebut.

Hadits tersebut dimulai dengan menyebutkan sifat rakus sebagai perumpamaan orang yang mengumpulkan dan mendapatkan kekayaan dunia. Orang seperti ini tak ubahnya binatang yang dengan kerakusan dan ketamakannya memakan tumbuh-tumbuhan sampai (/hampir) mati karena kekenyangan. Jadi ketamakan dan kerakusan itu dapat mematikan/membinasakan atau mendekatkan pada kematian/kebinasaan.

Musim semi menumbuhsuburkan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan. Maka binatang disana pun bergembira dan bersenang-senang hingga perutnya menggelembung melebihi kapasitas perutnya. Sehingga usus dan lambungnya merasa berat dan ia pun mati (karenanya). Demikian pula manusia yang pekerjaannya mencari dan menghimpun kekayaan dunia yang tidak menghiraukan halal dan haramnya, lalu menahannya dan membelanjakannya dengan tidak benar.

Kemudian pada akhir hadits ditutup dengan perumpamaan orang yang sederhana. Dia seperti pemakan tumbuh-tumbuhan yang dapat bermanfaat baginya. Akan tetapi ia tidak rakus dan tidak makan melebihi kapasitas perutnya. Ia hanya makan sesuai kebutuhan. Ia hanya mengambil sekedar yang dibutuhkannya (saja) lalu (segera) mengalihkan perhatian pada hal lain yang bermanfaat. Pengeluaran kotoran oleh hewan tersebut diumpamakan dengan orang yang mengeluarkan hartanya sesuai haknya. Karena sikap menghitung-hitung dan menahan harta itu dapan membahayakan dirinya.

Maka dari itu selamatlah dirinya dari marabahaya timbunan harta itu, karena dia hanya mengambil harta sekedar dengan kebutuhannya. Ia juga selamat dari bahaya menahan harta, yaitu dengan mengeluarkannya. Sebagaimana halnya hewan yang selamat dari kematian dengan membuang kotorannya.

Dalam hadits ini terdapat sebuah isyarat untuk hidup sederhana, hidup di tengah-tengah antara kerakusan –pada tumbuh-tumbuhan yang dapat mematikan bila berlebihan dalam memakannya- dan berpaling darinya sama sekali –sehingga dapat membuat kelaparan yang juga mematikan-. Hadits ini juga mengandung nasihat bagi orang yang memiliki banyak harta agar melakukan sesuatu yang dapat menjaga kekuatan dan kesehatan tubuh maupun hatinya, yaitu dengan mengeluarkan dan menginfakkan hartanya serta tidak menghitung-hitungnya sehingga dapat membahayakan.

== Selesai kutipan ==

[Baca Selengkapnya...]


Tukang Sol Sepatu Itu....



Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Rabb pemilik arsy, Rabb semesta alam. Dia ciptakan segala sesuatunya secara sempurna. Tiada sekutu bagi-Nya baik dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya maupun asma wa sifat-Nya. Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

Hari ini saya lebih banyak berdiam diri dan beraktifitas di rumah. Sebagian besar (waktu luang) saya gunakan untuk beristirahat, memulihkan kondisi fisik yang kurang fit pasca berkeliling Jabar beberapa hari belakangan. Baru ba’da dzuhur tadi saya keluar rumah membersihkan motor yang sudah mulai kotor dan berdebu karena dua minggu ini terkena hujan dan tidak dicuci. Setelah hajat terpenuhi, saya kembali ke rumah, memanaskan mesin, mengeringkan body motor dan melumasi rantai belakang motor agar tidak berbunyi saat dikendarai. Tak lama kemudian, melintaslah seorang lelaki tua memanggul dua buah kotak kecil di kanan kirinya. Lalu saya pun memanggilnya....

“Punten Pak, bapak tukang sol sepatu?”, tanyaku.

“Muhun cep”, jawabnya dengan sopan.

“Berapa ongkos sol-nya pak untuk satu pasang sepatu?”, tanyaku kembali.

“Tergantung cep, lihat dulu kondisinya”, sahutnya dengan lembut, ia pun tersenyum hingga garis-garis keriput di dahi dan pipinya terlihat.

Saya berkata, “Baik Pak, bapak tunggu disini dulu (di depan masjid, red), saya akan kembali dengan sepatu saya.”

“Mangga cep.”, katanya.

Saya pun naik ke atas, meletakkan jaket dan helm di dekat pintu dan mengambil sepasang sepatu futsal yang sudah jebol di bagian depannya di atas lemari baju. Kemudian saya kembali menemuinya di depan.

Saya bilang, “Ini Pak sepatunya, bagian depannya jebol. Mungkin sebaiknya di lem dulu sebelum di sol.”

Ia pun mengangguk tanda setuju. Ia mulai bekerja menggunakan perlengkapan jahit yang sederhana itu, yakni sebuah jarum yang sudah dimodifikasi (i.e dari jeruji sepeda yang dihaluskan dengan gerinda dan dibuatkan kait di ujungnya), satu kaleng lem kecil dan beberapa helai benang nilon hitam.

Ternyata bapak tersebut tidak begitu lancar berbahasa Indonesia, ia hanya fasih berbahasa sunda. Dari awal ia selalu membalas pertanyaan saya dengan bahasa ibunya (i.e bahasa daerah), namun ketika ia tahu kalau saya bukan orang sunda dan tidak bisa berbahasa sunda, ia pun mencoba menyelipkan beberapa kosakata berbahasa Indonesia semampunya, meskipun (tetap saja) banyak kalimat yang tidak saya mengerti.. J. I do appreciate for your effort Sir....

Usianya sekitar 60 tahun, kecil dan kurus tubuhnya. Teduh wajahnya dan sopan sekali tutur katanya, khas orang Garut. Ia selalu tersenyum setiap kali berbicara...ya, tersenyum seolah-olah ia tahu bahwa senyum itu adalah ibadah. Ia kenakan topi coklat yang sudah berlubang di bagian atas dan kirinya untuk melindungi kepalanya dari sengatan matahari. Baju dan celananya pun lusuh terkena debu jalanan yang tersibak angin di gang atau jalan yang ia lalui. Namanya Supari, dari Garut Selatan. Sudah 12 tahun lebih ia menjalani profesi sebagai tukang sol sepatu keliling di Bandung. Ia memiliki 1 orang putra dan 2 orang putri. Dua yang terbesar tidak ia sekolahkan dan berhenti sampai tingkat SD saja karena terbentur masalah biaya. Kebetulan mereka berdua adalah wanita. Pola pikir Pak Supari sederhana, mereka kelak akan menjadi ibu rumah tangga dan akan ada suami yang menanggung kebutuhan hidupnya sehingga tidak ada kekhawatiran kalaupun mereka tidak melanjutkan sekolah. Mereka berdua membantu ibunya bertani di ladang milik orang lain di kampungnya. Adapun yang bungsu adalah seorang anak laki-laki yang berkesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi (dari kedua saudaranya) di tingkat SMP hingga hari ini.

Pak Supari tinggal di sebuah kontrakan bersama 20 orang teman seperjuangannya sekaligus seprofesinya di wilayah Bandung Selatan. Ia keluarkan uang Rp. 3,000 per hari untuk menetap, tidur, dan mandi. Ia berjalan puluhan kilometer setiap hari. Bayangkan, 12 tahun ia menjalani profesi ini, berapa ratus kilometer jarak yang sudah ia tempuh, berjalan kaki mengelilingi Bandung dan sekitarnya. Berangkat jam 07.00 pagi, pulang jam 19.00 malam. Ketika saya tanya; “Punten pisan Pak, berapa penghasilan bapak per hari?”, Ia menjawab, “Ga tentu cep, kadang Rp. 15,000 kadang Rp. 25,000, dan paling banyak Rp. 50,000, alhamdulillah”. Ia pulang ke Garut 1 bulan sekali guna menjenguk dan menafkahi keluarganya, menetap di sana selama 2 minggu untuk membantu istrinya bertani kemudian kembali lagi ke Bandung dengan profesi pokoknya. Saya kembali bertanya, “Kenapa bapak tidak bertani saja di Garut, bukankan air di sana cukup banyak?”,..Ia menjawab, “Muhun cep, air disana cukup bagus, kendalanya di modal cep. Bapak tidak punya ladang, jadi harus menyewa ke tuan tanah. Setelah 3 bulan, hasil panennya harus dibagi dua. Dari 7 kwintal gabah, bapak mendapatkan 70 Kg, atau kira-kira setara dengan Rp. 400,000. Itu pun kalau hasilnya (maksudnya kualitas gabahnya, red) bagus.” Pak Supari mengatakan bahwa dengan uang sebesar itu sebenarnya sudah mencukupi keperluan keluarganya sehari-hari selama beberapa bulan i.e jika digunakan untuk makan sehari-hari karena beberapa bahan makanan seperti sayuran yang mereka konsumsi bisa mereka ambil dari pekarangannya sendiri. Namun ia butuh tambahan biaya untuk sekolah anak laki-lakinya yang kelak akan menjadi kepala rumah tangga dan andalan keluarganya.

Raut wajahnya ceria ketika bercerita, tak terlihat dan tidak pula (mencoba) menampakkan dirinya kalau ia seorang fakir. Pelajaran yang bisa saya ambil dari Pak Supari hari ini adalah;

1]. Apapun yang Allah Subhaanahu wa Ta’ala berikan, banyak atau sedikitnya, syukurilah. Rizki halal yang kita dapatkan dengan susah payah, melalui ribuan kalori energi yang harus dikeluarkan tiap hari untuk berjalan, berfikir dll akan menjadi berkah tatkala disyukuri. Hal ini bisa kita lihat dari kata-kata beliau, “.....dan paling banyak Rp. 50,000, alhamdulillah”.

2]. Janganlah malu apalagi gengsi terhadap ikhtiar yang kita lakukan selama hal itu benar secara syar’i dan halal. Jangan setengah-setengah. Pepatah mengatakan, “Satu ditambah satu sama dengan dua, setengah ditambah setengah sama dengan nol”, artinya; jika ikhtiar yang kita lakukan tidak total/sungguh-sungguh, maka hasilnya pun tidak maksimal, bahkan (terkesan) sia-sia belaka. Namun demikian ada saja yang berkata, “..lebih baik menjadi pengangguran seumur hidup daripada harus menjadi tukang ini dan itu. Harga diri dan status sosial saya akan hilang dan jatuh jika saya melakukan ini dan itu...dst”. Bagi saya, orang dengan karakter seperti ini tidak lebih mulia daripada pak Supari, si tukang sol sepatu keliling yang rendah hati (tawadhu’) itu..

3]. Kalaupun kita belum bisa mendapatkan pekerjaan yang “layak” sesuai background kita,..jagalah ‘iffah (kehormatan diri) dengan tidak menjadi peminta-minta, koruptor, penjilat atau pencuri. Satu sisi ada orang yang besar gengsinya (seperti poin no. 2) di sisi lain ada orang yang malas berusaha sehingga memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang. Lihatlah pak Supari,..ia rela berjalan berpuluh-puluh kilometer dengan beban di pundaknya sambil meneriakkan “Sol sepatu..sol sepatu...sol sepatu..”. Ia buang perasaan malunya demi mendapatkan rizki yang halal dan thayib serta menjaga ‘iffahnya..

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan menjaganya, dan siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya maka Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 6470 dan Muslim no. 1053 )

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan: “Dalam hadits ini ada anjuran untuk ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta), qana’ah (merasa cukup) dan bersabar atas kesempitan hidup dan selainnya dari kesulitan (perkara yang tidak disukai) di dunia.” (Syarah Shahih Muslim, 7/145)

4]. Bersikap Qana’ah dalam hidup. Meskipun pendapatannya kecil, namun tak terlihat raut putus asa di wajahnya, tak terdengar kalimat-kalimat yang mengandung keluhan keluar dari lisannya. Dapat disimpulkan dari cara ia berbicara, dari cara ia berpakaian, dari gerak-gerik dan bahasa tubuhnya bahwa ia ikhlas dan ridha’ dengan apa yang ia dapatkan dan merasa cukup dengannya, wallaahu a’lam.

5]. Terakhir, lihatlah ke bawah (ke orang-orang seperti pak Supari ini) agar kita bisa lebih menghargai nikmat yang Allah Subhaanahu wa Ta’ala berikan. [Note: poin ini akan selalu saya ingat insyaAllaahu Ta’la]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dan jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian ini (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian.” (HR. Muslim)

Obrolan kami berakhir setelah sepasang sepatu futsal itu selesai disol. Saya tanya, “Berapa pak ongkos servicenya?”, Ia hanya tersenyum dan berkata, “Terserah asep (panggilan orang sunda ke anak muda, red) saja.”, kemudian kuberi beberapa lembar rupiah sebagai ucapan terima kasih. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberkahi anda dan keluarga anda pak Supari, menjaga kesehatan dan melapangkan rizki anda dan keluarga, amieen....

[Baca Selengkapnya...]


 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula