Menjadi Kaya, Sebuah Cita-Cita?



Dulu ketika masih duduk di Sekolah Dasar (di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah), salah seorang guru kami bercerita kepada murid-muridnya mengenai kisah orang-orang ternama lagi sukses yang (akhirnya menjadi) kaya raya di masa lampau. Di akhir cerita ia pun bertanya kepada anak-anak didiknya, “Siapa diantara kalian yang ingin (menjadi orang) kaya?”, Secara serempak semua murid menjawab, “Saya Paaaak”. Apalagi sebagian besar dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Setelah belasan tahun berlalu, Allah pun menakdirkan beberapa orang di antara mereka hidup layak dan berkecukupan. Kalau pertanyaan yang sama diajukan hari ini, sebagian besar orang (barangkali) akan menjawab dengan jawaban yang sama i.e “Iya, saya ingin menjadi orang kaya”. Apakah ada yang salah dengan jawaban itu?. Tentu tidak. Banyak koq orang-orang shalih terdahulu yang Allah anugerahi kekayaan melimpah seperti Abdurrahman bin ‘Auf, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al-Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Mas’ud, Hakim bin Hizam bin Khuwailid dll radhiyallaahu ‘anhum ajma’in.

Namun apakah motivasi para pendahulu kita yang shalih (dahulu) dengan orang-orang zaman sekarang dalam mencari/mendapatkan harta kekayaan itu sama?. Wallaahu a’lam. Coba kita perhatian dan telaah perjalanan hidup para salafus shalih diatas terkait harta yang dimiliknya berikut;

Al-Imam Az-Zuhri berkata (terkait shahabat yang mulia, Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallaahu ‘anhu):

تصدق عبد الرحمن بن عوف على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم بشطر ماله ثم تصدق بعد بأربعين ألف دينار ثم حمل على خمسمائة فرس في سبيل الله وخمسمائة راحلة وكان أكثر ماله من التجارة

“Abdurrahman bin Auf mengeluarkan shadaqah pada masa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama dari setengah hartanya, kemudian beliau mengeluarkan shadaqah 40.000 dinar setelahnya, kemudian beliau mengeluarkan shadaqah 500 ekor kuda dan 500 ekor unta di jalan Allah. Dan kebanyakan hartanya berasal dari perdagangan.” (Al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah: 4/347).

Just info bahwa kurs Dinar dan Dirham per 01/02/2012 adalah sbb: 1 Dinar: Rp 2,218,000 adapun 1 Dirham: Rp 52,000.

Ummu Bakar bintu Miswar berkata:

ان عبد الرحمن باع أرضا له من عثمان بأربعين ألف دينار، فقسمه في فقراء بني زهرة، وفي المهاجرين، وأمهات المؤمنين

“Bahwa Abdurrahman bin Auf membeli sebidang tanah dari Utsman seharga 40.000 dinar. Kemudian beliau membagi-bagikan tanah tersebut untuk orang-orang faqir dari Bani Zuhrah, kaum Muhajirin, dan istri-istri Rasulullah –Shallallaahu ‘alaihi wa sallama-.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/86, al-Hafizh adz-Dzahabi).

Thalhah bin Abdirrahman bin Auf berkata:

كان أهل المدينة عيالا على عبد الرحمن بن عوف: ثلث يقرضهم ماله، وثلث يقضي دينهم، ويصل ثلثا

“Adalah penduduk Madinah menjadi tanggungan atas Abdurrahman bin Auf; sepertiga dari mereka diberi pinjaman oleh Abdurrahman dari hartanya, sepertiga dari mereka dibayarkan hutang mereka olehnya dan sepertiganya disambung olehnya.” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/88, al-Hafizh adz-Dzahabi).

Al-Imam Az-Zuhri berkata:

أوصى عبد الرحمن بن عوف لكل من شهد بدرا بأربعمائة دينار فكانوا مائة رجل

“Abdurrahman bin Auf pernah berwasiat (untuk membagikan dari hartanya sepeninggalnya, pen) kepada setiap orang yang ikut perang Badar dengan 400 dinar. Mereka berjumlah 100 orang.” (Al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah: 4/349).

Abdurrahman bin Samurah berkata (mengenai shahabat yang mulia Utsman bin ‘Affan radhiyallaahu ‘anhu):

جاء عثمان بن عفان رضي الله عنه إلى النبي صلى الله عليه وسلم في غزوة تبوك، وفي كمه ألف دينار، فصبها في حجر النبي صلى الله عليه وسلم ثم ولى قال عبد الرحمن: فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم يقلبها بيده في حجره ويقول: « ما ضر عثمان ما فعل بعدها أبدا»

“(Ketika perang Tabuk) Utsman bin Affan radhiyallaahu ‘anhu datang kepada Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallama. Di lengan bajunya terdapat uang 1.000 dinar. Kemudian ia menuangkannya di pangkuan Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallama dan berpaling (pulang).” Abdurrahman berkata: “Maka aku melihat Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallama menerima uang tersebut di pangkuan beliau dengan tangan beliau sendiri dan berkata: “Tidak akan berbahaya apa yang dilakukan oleh Utsman setelah ini.” (HR. Al-Ajurri dalam Asy-Syariah: 1371 (4/55) dan ini adalah redaksinya, At-Tirmidzi: 3634 dan ia berkata: “Hadits hasan gharib.” Di-shahih-kan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya: 4553 (3/110) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Ibrahim At-Taimi berkata (mengenai shahabat yang mulia Thalhah bin Ubaidillah radhiyallaahu ‘anhu):

كان طلحة يغل بالعراق أربع مائة ألف، ويغل بالسراة عشرة آلاف دينار أو أقل أو أكثر، وبالاعراض له غلات وكان لا يدع أحدا من بني تيم عائلا إلا كفاه، وقضى دينه، ولقد كان يرسل إلى عائشة إذا جاءت غلته كل سنة بعشرة آلاف، ولقد قضى عن فلان التيمي ثلاثين ألفا

“Adalah Thalhah mendapatkan penghasilan di Iraq 400.000 (dinar), mendapatkan penghasilan di Sarah 10.000 dinar atau kurang atau lebih, di A’radl juga mendapatkan penghasilan. Dan beliau tidaklah meninggalkan orang miskin dari Bani Taim pun kecuali beliau telah mencukupinya dan membayarkan hutangnya. Dan beliau –ketika penghasilannya datang- mengirimkan setiap tahun 10.000 (dinar) untuk Ibunda Aisyah –radhiyallaahu ‘anha-. Dan beliau telah membayarkan hutang Fulan At-Taimi 30.000 (dinar).” (Siyar A’lamin Nubala’: 1/33, al-Hafizh adz-Dzahabi)

Dan lain-lain. Apakah orang-orang kaya di zaman ini yang begitu tinggi ambisinya terhadap dunia (sampai-sampai tidak lagi mempedulikan apakah itu halal maupun haram, red) meneladani para pendahulunya yang shalih semisal shahabat yang mulia Abdurrahman bin ‘Auf, Utsman bin ‘Affan, Thalhah bin Ubaidillah dan lain-lain radhiyallaahu ‘anhum ini dalam merealisasikan rasa syukur terhadap karunia harta yang Allah titipkan kepadanya?. Wallaahu a’lam. Yang jelas, tidaklah mereka (i.e para shahabat) radhiyallaahu ‘anhum mengumpulkan harta/ kekayaan untuk kesenangan diri-sendiri, akan tetapi mereka kumpulkan semua itu untuk menyantuni para faqir miskin, berjihad di jalan Allah, menghidupi istri-istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama dan menyambung tali silaturahim.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda:

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ…الخ

“Dunia hanyalah untuk 4 kelompok orang; yaitu seorang hamba yang diberikan rejeki harta dan ilmu oleh Allah kemudian ia menggunakannya untuk bertaqwa kepada Rabbnya, menyambung sanak saudaranya dan ia mengetahui hak-hak Allah yang harus ditunaikan dari harta itu. Orang ini berada pada kedudukan yang paling tinggi; dan seorang hamba…..dst.” (Ahmad: 17339, At-Tirmidzi: 2247 dan di-shahih-kan olehnya dari Abu Kabsyah Al-Anmari t. Hadits ini di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 3024).

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama juga pernah berkata kepada Amr bin Al-Ash radhiyallaahu ‘anhu:

يَا عَمْرُو نَعِمَّا بِالْمَالِ الصَّالِحِ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ

“Wahai Amr! Alangkah beruntungnya jika harta yang baik dipunyai oleh orang yang shalih.” (HR. Ahmad: 17134, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 22627 (7/18) dan di-shahih-kan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya: 2130 (2/3) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Dan di-shahih-kan pula oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykat: 3756 (2/355))

Sungguh beruntung harta-harta yang dimiliki para shahabat, karena pemegangnya adalah orang-orang yang shalih dan mulia. Di tangan mereka, harta-harta tersebut disalurkan sesuai dengan proporsinya dalam rangka ketaatan kepada Rabbnya di jalan yang lurus yang Dia ridhai. Mudah-mudahan kita bisa mengikuti jejak-jejak mereka dalam menggunakan harta dunia yang Allah titipkan (kepada kita) dengan baik dan menjauhi sikap kufur nikmat, takabur dan sombong yang disebabkan oleh harta tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Qorun. Ia berkata;

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)

أي: إنما أدركت هذه الأموال بكسبي ومعرفتي بوجوه المكاسب، وحذقي، أو على علم من اللّه بحالي، يعلم أني أهل لذلك

“Maksudnya aku memperoleh harta kekayaan ini karena usahaku dan pengetahuanku tentang berbagai bentuk model usaha dan kepandaianku. Atau berdasarkan pengetahuan Allah tentang keadaanku. Dia telah mengetahui bahwa aku memang berhak untuk itu.” (Taisirul Karimirrahman vol 5, juz. 20)

Hingga akhirnya Allah Ta’ala membinasakannya sebagaimana firmanNya:

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الأَرْضَ

“Maka Kami timbun Qorun beserta rumahnya ke dalam bumi...” (QS. Al-Qashash: 81)

جزاء من جنس عمله، فكما رفع نفسه على عباد اللّه، أنزله اللّه أسفل سافلين، هو وما اغتر به، من داره وأثاثه، ومتاعه

“Sebagai balasan setimpal atas perbuatannya. Oleh karena dia telah mengangkat dirinya (sombong) di atas hamba-hamba Allah, maka Allah menurunkannya pada derajat manusia yang paling rendah. Dia tenggelamkan bersama semua harta yang telah menjadikannya terpedaya, yaitu rumah, seluruh harta benda dan kekayaannya.” (Taisirul Karimirrahman vol 5, juz. 20)

Dan mudah-mudahan Allah Ta’ala menjadikan kita para hambaNya yang bersabar dan bisa meraih pahala yang melimpah dari kesabaran tersebut. Dia berfirman;

وَلَايُلَقَّاهَاإِلَّاالصَّابِرُونَ

“..Dan tidaklah diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Qashash: 80)

الذين حبسوا أنفسهم على طاعة اللّه، وعن معصيته، وعلى أقداره المؤلمة، وصبروا على جواذب الدنيا وشهواتها، أن تشغلهم عن ربهم، وأن تحول بينهم وبين ما خلقوا له، فهؤلاء الذين يؤثرون ثواب اللّه على الدنيا الفانية

“Yaitu mereka yang menahan diri mereka semata-mata untuk ta’at kepada Allah, menahan diri mereka dari kedurhakaan terhadap Allah, dan menerima takdir-takdir Allah yang menyakitkan, mereka sabar atas gemerlap dunia dan kenikmatannya sehingga tidak memalingkan mereka dari Allah, dan tidak menjadi penghalang antara mereka dengan tujuan mereka diciptakan. Merekalah orang-orang yang mengutamakan pahala dari Allah atas dunia yang fana ini.” (Taisirul Karimirrahman vol 5, juz. 20). Wallaahu Ta’ala a’lamu.

___________

Maraji’:

1). http://sulaifi.wordpress.com/2011/10/14/menjadi-kaya-siapa-takut/

2). Taiseer al-Kareem ar-Rahman Fii Tafsir Kalam al-Mannan vol. 5, juz. 20, tafsir QS. Al-Qashash

[Baca Selengkapnya...]


Memindahkan Hasil Olah Data Dari Excel ke PowerPoint Using VBA



Anda terbiasa mengolah data menggunakan Visual Basic Application (VBA) di Microsoft Excel? Atau, apakah anda sering membuat presentasi business menggunakan data-data hasil olahan Microsoft Excel (seperti Tabel & Grafik) yang (kemudian) anda pindahkan ke Microsoft PowerPoint (secara manual)?. Jika iya, maka ada trik VBA sederhana (dengan sedikit modifikasi dari penulis, red) dari seorang MVP (Microsoft Valuable Player) Excel asal India, Purna Duggirala yang mengupas mengenai cara memindahkan data-data presentasi dari Microsoft Excel ke Microsoft PowerPoint secara otomatis hanya dengan sekali “Click”. Berikut adalah langkah-langkahnya:




a). Build your charts in Excel (Silahkan anda buat chart beserta keterangannya di Excel). Contoh:



b). Open VBA. To do this, you can press ALT + F11 (silahkan anda buka VBA di Excel ada dengan menekan ALT + F11)

c). In your VBA Editor window, click Insert Module. (Setelah jendela VBA Editor terbuka, klik menu Insert Module)

d). Paste the following code into the module. (Copy dan paste syntax berikut pada Module1 yang sudah ada insert tersebut)

Sub CreatePowerPoint()

'Add a reference to the Microsoft PowerPoint Library by:

'1. Go to Tools in the VBA menu

'2. Click on Reference

'3. Scroll down to Microsoft PowerPoint X.0 Object Library, check the box, and press Okay

'First we declare the variables we will be using

Dim newPowerPoint As PowerPoint.Application

Dim activeSlide As PowerPoint.Slide

Dim cht As Excel.ChartObject

'Let's create a new PowerPoint

If newPowerPoint Is Nothing Then

Set newPowerPoint = New PowerPoint.Application

End If

'Make a presentation in PowerPoint

If newPowerPoint.Presentations.Count = 0 Then

newPowerPoint.Presentations.Add

End If

'Show the PowerPoint

newPowerPoint.Visible = True

'Loop through each chart in the Excel worksheet and paste them into the PowerPoint

For Each cht In ActiveSheet.ChartObjects

'Add a new slide where we will paste the chart

newPowerPoint.ActivePresentation.Slides.Add newPowerPoint.ActivePresentation.Slides.Count + 1, ppLayoutText

newPowerPoint.ActiveWindow.View.GotoSlide newPowerPoint.ActivePresentation.Slides.Count

Set activeSlide = newPowerPoint.ActivePresentation.Slides(newPowerPoint.ActivePresentation.Slides.Count)

'Copy the chart and paste it into the PowerPoint as a Metafile Picture

cht.Select

ActiveChart.ChartArea.Copy

activeSlide.Shapes.PasteSpecial(DataType:=ppPasteMetafilePicture).Select

'Set the title of the slide the same as the title of the chart

With activeSlide.Shapes(1).TextFrame.TextRange

.Text = cht.Chart.ChartTitle.Text

.Font.Size = 28

End With

'Adjust the positioning of the Chart on Powerpoint Slide

With newPowerPoint.ActiveWindow.Selection.ShapeRange

.Left = 45

.Top = 125

End With

With activeSlide.Shapes(2)

.Width = 200

.Left = 505

End With

'If the chart is the "US" consumption chart, then enter the appropriate comments

If InStr(activeSlide.Shapes(1).TextFrame.TextRange.Text, "CIANJUR") Then

activeSlide.Shapes(2).TextFrame.TextRange.Text = Range("J5").Value & vbNewLine

End If

'Now let's change the font size of the callouts box

activeSlide.Shapes(2).TextFrame.TextRange.Font.Size = 14

Next

AppActivate ("Microsoft PowerPoint")

Set activeSlide = Nothing

Set newPowerPoint = Nothing

End Sub

e). Click Tools References. Add the Microsoft PowerPoint Library. (Masih pada jendela VBA Editor, klik menu Tools References. Tambahkan “Microsoft PowerPoint 12.0 Library”.)



f). Now all you need to do is go to Excel and run the CreatePowerPoint macro! To make this easy, draw a rectangle shape in your Excel worksheet which contains all the charts you want to export to PowerPoint. (Sekarang, yang perlu anda lakukan adalah kembali ke jendela Excel dan menjalankan “CreatePowerPoint Macro”. Biar lebih mudah, anda bisa membuat “rectangle shape” atau kalau tidak, anda juga bisa menggunakan ActiveXControl [Command Button] di worksheet yang terdapat grafik yang ingin anda pindahkan/copy ke PowerPoint).


g). Right click the rectangle/ Command Button and click Assign Macro (if you use rectangle and Click on the CreatePowerPoint macro and press Okay) or view Code if you use Command Button then paste this code:

Private Sub Export_Click()

Run "CreatePowerPoint"

End Sub


h). That’s it! Just click your rectangle/ Command button then sit back and watch it run! You’ll have your presentation in no time!

Mudah-mudahan bermanfaat.


[Baca Selengkapnya...]


Merenungkan Bilamana Nikmat Allah Itu Tiada



Belasan tahun yang lalu, ada seorang anak yang begitu gigih memohon dan memelas di hadapan Ibunya, berharap agar ia dibelikan sesuatu. Sang Ibu berkata sembari menyelesaikan pekerjaannya (secara makna), “Nah coba engkau perhatikan orang tua itu nak, ia berjalan jauh membawa kursi (bambu) di pundaknya, hampir setiap minggu ia berlalu lalang di jalan itu, meneriakkan dan menawarkan sesuatu agar orang lain mendengar dan tertarik untuk membelinya (i.e kursi tersebut). Tidakkah engkau bayangkan betapa berat perjuangan hidupnya. Sekarang coba engkau renungkan, bagaimana jika engkau ada di posisinya, atau di posisi anaknya?. Kemudian engkau bandingkan dengan apa yang sudah engkau miliki saat ini. Jangan lupa bayangkan bagaimana jika semua itu hilang darimu. Jika engkau berada di posisi mereka, belum tentu engkau bisa menikmati apa yang engkau nikmati hari ini.”


Sederhana, tapi cukup dalam pesannya. Beliau mencoba bersikap bijak dengan tidak menolak maupun mengiyakan permintaan anaknya. Beliau lantas mengajaknya berpikir kemudian merenungkan keberadaan nikmat-nikmat yang ada padanya dan memintanya membayangkan ketidakberadaannya. Suatu nikmat seringkali baru terasa (besar manfaatnya) setelah nikmat tersebut hilang atau Allah cabut dari diri seorang hamba. Merenungkan ketidakberadaannya akan membantu seorang hamba untuk mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.


Saya kembali teringat ucapan seorang Ibu kepada anaknya tersebut tatkala membaca tafsir QS. Al-Qashash: 71-73 berikut, Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman:


قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلا تَسْمَعُونَ (71) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلا تُبْصِرُونَ (72) وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (73


“Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai Hari Kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?’ Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai Hari Kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?’ Dan karena rahmatNya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karuniaNya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepadaNya.” (QS. Al-Qashash: 71-73)


Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di –rahemahullaahu- menjelaskan:

هذا امتنان من اللّه على عباده، يدعوهم به إلى شكره، والقيام بعبوديته وحقه، أنه جعل لهم من رحمته النهار ليبتغوا من فضل اللّه، وينتشروا لطلب أرزاقهم ومعايشهم في ضيائه، والليل ليهدأوا فيه ويسكنوا، وتستريح أبدانهم وأنفسهم من تعب التصرف في النهار، فهذا من فضله ورحمته بعباده، فهل أحد يقدر على شيء من ذلك؟


“Ini adalah karunia dari Allah –Subhaanahu wa Ta’ala- terhadap hamba-hambaNya. Dia mengajak mereka bersyukur (berterima kasih) kepadaNya, melaksanakan pengabdian kepadaNya dan menunaikan hakNya, karena Dia telah menjadikan untuk mereka sebagian dari rahmat (kasih sayang)Nya berupa siang, agar mereka dapat mencari karunia Allah dan bertebaran untuk mencari rizki dan penghidupan di bawah cahayaNya, dan berupa malam agar mereka merasakan ketenangan dan kedamaian, agar jasad dan jiwa mereka beristirahat dari kelelahan beraktifitas di siang hari. Ini semua bagian dari karunia dan rahmatNya kepada hamba-hambaNya (manusia). Apakah ada seseorang yang mampu melakukan hal itu (yaitu melakukan apa yang diperbuat oleh Allah, red)?”


Tapi kita (khususnya penulis, red) seringkali lupa terhadap nikmat-nikmat tersebut. Katakanlah saat kondisi tubuh kita sehat, sudah berapa banyak amal shalih yang kita tinggalkan, terlena oleh kesenangan dunia yang fana. Bahkan nikmat sehat itu sendiri pun luput dari rasa syukur. Belum lagi nikmat waktu luang yang begitu tinggi harganya. Namun ketika satu-persatu penyakit mulai datang (menyerang) hingga tubuh yang dulunya kokoh tidak lagi bisa digerakkan, mulut yang dulunya lantang tidak lagi bisa mengucapkan sesuatu, mata yang dulunya tajam tidak lagi bisa melihat, telinga yang sebelumnya normal tidak lagi bisa mendengar dll, baru kita tersadar bahwa (ternyata) sehat itu sangat berharga, sehat itu mahal, dan sehat itu nikmat!. Kita juga baru tersadar bahwa amal shalih itu (ternyata) penting melebihi segala-galanya, melebihi apa yang kita kejar-kejar hari ini dari perkara dunia. Di saat sakit, ibadah seseorang tidak lagi bisa leluasa dan seoptimal ketika waktu sehatnya. Wallaahu Subhaanahu wa Ta’ala a’lamu.


Penjelasan asy-Syaikh –raheemahullaahu- selanjutnya sangat “in line” dengan nasihat Ibu di atas. Beliau –raheemahullaahu Ta’ala- melanjutkan:


وفي هذه الآيات، تنبيه إلى أن العبد ينبغي له أن يتدبر نعم اللّه عليه، ويستبصر فيها، ويقيسها بحال عدمها، فإنه إذا وازن بين حالة وجودها، وبين حالة عدمها، تنبه عقله لموضع المنة، بخلاف من جرى مع العوائد، ورأى أن هذا أمر لم يزل مستمرا، ولا يزال. وعمي قلبه عن الثناء على اللّه، بنعمه، ورؤية افتقاره إليها في كل وقت، فإن هذا لا يحدث له فكرة شكر ولا ذكر


“Di dalam ayat-ayat di atas terkandung peringatan bahwa seorang hamba hendaklah merenungkan karunia dan nikmat-nikmat Allah kepadanya dan berupaya mengenalnya dan menganalogikannya dengan kondisi ketidakberadaannya. Sebab apabila ia membandingkan antara kondisi keberadaan nikmat tersebut dengan kondisi ketiadaannya, maka akalnya akan menyadari letak kebaikan Allah. Berbeda halnya dengan orang yang sudah terbiasa dengan berbagai kebiasaan, dan dia melihat bahwa yang menjadi kebiasaan ini adalah perkara yang akan terus berlanjut, sedangkan mata hatinya buta, tidak bisa memuji Allah atas nikmatNya dan tidak bisa merasakan betapa sangat butuhnya dia kepada nikmat-nikmat tersebut setiap saat, maka hal seperti itu tidak akan menimbulkan pikiran (kesadaran) untuk bersyukur dan tidak pula mengingat (Allah Subhaanahu wa Ta’ala).”


Ketika seseorang berjalan di jalanan yang penuh dengan onak dan duri, ia akan selalu memandang ke bawah agar tidak terperangkap/ terjebak olehnya. Begitu pula dengan sebuah kenikmatan (kecil atau besar), seorang hamba sangat perlu melihat/ memandang ke bawah kepada hamba-hamba Allah Ta’ala lainnya yang tidak mendapatkan kenikmatan tersebut agar ia bersyukur dan tidak meremehkan nikmat-nikmat (yang datang kepadanya), dan perlunya merenungkan kembali bagaimana kiranya jika kenikmatan tersebut hilang darinya untuk selama-lamanya. Berdasarkan penjelasan asy-Syaikh –raheemahullaahu-, sikap seperti itu bisa membangun rasa syukur seorang hamba kepada Rabbnya Azza wa Jalla. Wallaahu Ta’ala a’lamu.


__________

Maraji’: Taiseer al-Kareem ar-Rahman fii Tafsir Kalam al-Mannan vol 5, juz. 20

[Baca Selengkapnya...]


Merenungi Makna QS. Al-Qashash: 60-61



Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلا تَعْقِلُونَ (60) أَفَمَنْ وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لاقِيهِ كَمَنْ مَتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ (61

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu dia memperolehnya sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan duniawi; kemudian dia pada hari Kiamat termasuk orang-orang yang dihadirkan (ke neraka).” (QS. Al-Qashash: 60-61)


Tafsir Ayat

هذا حض من الله لعباده على الزهد في الدنيا وعدم الاغترار بها، وعلى الرغبة في الأخرى، وجعلها مقصود العبد ومطلوبه، ويخبرهم أن جميع ما أوتيه الخلق، من الذهب، والفضة، والحيوانات والأمتعة، والنساء، والبنين، والمآكل، والمشارب، واللذات، كلها متاع الحياة [الدنيا] وزينتها، أي: يتمتع به وقتا قصيرا، متاعا قاصرا، محشوا بالمنغصات، ممزوجا بالغصص ويزين به زمانا يسيرا، للفخر والرياء، ثم يزول ذلك سريعا، وينقضي جميعا، ولم يستفد صاحبه منه إلا الحسرة والندم، والخيبة والحرمان


{60} “Ini adalah dorongan dari Allah -Subhaanahu wa Ta’ala- kepada hamba-hambaNya untuk bersikap zuhud (sederhana, red) di dunia dan tidak terpedaya dengannya, dan selalu mengharapkan kehidupan akhirat, menjadikannya sebagai tujuan dan dambaan seseorang. Dan Allah mengabarkan kepada mereka bahwa seluruh apa saja yang diberikan kepada manusia seperti emas, perak, berbagai hewan ternak, harta benda, wanita, anak-anak, berbagai jenis makanan, minuman dan berbagai kelezatan, semuanya adalah kenikmatan kehidupan [dunia] dan perhiasannya. Maksudnya, semua itu hanya dinikmati dalam waktu yang relatif singkat, kesenangan sementara, penuh dengan kesulitan, bercampur dengan himpitan. Ia hanya bisa dijadikan perhiasan dalam waktu yang singkat untuk berbangga-bangga dan riya’ (pamer); kemudian ia akan sirna dengan cepat, dan ia akan musnah semuanya, dan pelakunya tidak akan mendapatkan sesuatu kecuali penyesalan, keluh kesah, kegagalan dan tidak mendapatkan kebaikan.


(وَمَا عِنْدَ اللَّهِ) من النعيم المقيم، والعيش السليم (خَيْرٌ وَأَبْقَى) أي: أفضل في وصفه وكميته، وهو دائم أبدا، ومستمر سرمدا (أَفَلا تَعْقِلُونَ) أي: أفلا يكون لكم عقول، بها تزنون أي: الأمور أولى بالإيثار، وأي الدارين أحق للعمل لها فدل ذلك أنه بحسب عقل العبد، يؤثر الأخرى على الدنيا، وأنه ما آثر أحد الدنيا إلا لنقص في عقله،


وَمَا عِنْدَ اللَّهِ)) ‘sedang apa yang ada di sisi Allah’ berupa kenikmatan abadi dan kehidupan yang menyenangkan (خَيْرٌ وَأَبْقَى) ‘adalah lebih baik dan lebih kekal’ lebih utama kualitas dan kuantitasnya, dan ia kekal abadi sepanjang masa. أَفَلا تَعْقِلُونَ)) ‘Maka apakah kamu tidak memahaminya?’ maksudnya, apakah kalian tidak mempunyai akal untuk mempertimbangkannya, yang mana dari dua perkara itu yang seharusnya diutamakan? Dan negeri yang mana yang lebih berhak dikerahkan amal perbuatan untuknya?. Hal ini membuktikan bahwa hal itu sesuai (dengan kadar) kesadaran seseorang, maka dia akan lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, dan bahwa sebenarnya seseorang tidak lebih mengutamakan kehidupan dunia melainkan karena akalnya kurang!.


ولهذا نبه العقول على الموازنة بين عاقبة مؤثر الدنيا ومؤثر الآخرة، فقال: (أَفَمَنْ وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لاقِيهِ)

أي: هل يستوي مؤمن ساع للآخرة سعيها، قد عمل على وعد ربه له، بالثواب الحسن، الذي هو الجنة، وما فيها من النعيم العظيم، فهو لاقيه من غير شك ولا ارتياب، لأنه وعد من كريم صادق الوعد، لا يخلف الميعاد، لعبد قام بمرضاته وجانب سخطه، (كَمَنْ مَتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا) فهو يأخذ فيها ويعطي، ويأكل ويشرب، ويتمتع كما تتمتع البهائم، قد اشتغل بدنياه عن آخرته، ولم يرفع بهدى الله رأسا، ولم ينقد للمرسلين، فهو لا يزال كذلك، لا يتزود من دنياه إلا الخسار والهلاك (ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ) للحساب


{61} Oleh karenanya Allah mengingatkan akal untuk melakukan pertimbangan antara akibat orang yang lebih mengutamakan dunia dengan orang yang lebih mengutamakan akhirat, seraya berfirman, (أَفَمَنْ وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لاقِيهِ) ‘Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu dia memperolehnya’ maksudnya, apakah sama orang yang beriman, yang selalu berupaya sekuat tenaga untuk akhirat, sedangkan dia telah berbuat berdasarkan janji Rabbnya, yaitu ia akan memperoleh pahala yang baik, yaitu surga dan segala kenikmatan agung yang ada di dalamnya, lalu dia pasti memperolehnya, tidak diragukan lagi, sebab itu adalah janji dari Dzat Yang Mahapemurah yang Mahabenar janjiNya, Dia tidak pernah mengingkari janji kepada seorang hamba yang berbuat untuk mendapatkan keridhaan Rabbnya dan menjauhi murkaNya, (كَمَنْ مَتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا) ‘sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan duniawi’ sehingga dia dapat mengambil dan memberi, makan dan minum, bersenang-senang sebagaimana hewan-hewan ternak bersenang-senang. Ia sibuk dengan dunianya dengan melupakan akhiratnya, sama sekali tidak peduli dengan petunjuk Allah, tidak mau tunduk kepada para Rasul, lalu dia terus seperti itu, dia tidak membekali diri dari dunianya kecuali kerugian dan kebinasaan. (ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ) ‘kemudian dia pada hari Kiamat termasuk orang-orang yang dihadirkan (ke neraka).’ untuk dihisab.


وقد علم أنه لم يقدم خيرا لنفسه، وإنما قدم جميع ما يضره، وانتقل إلى دار الجزاء بالأعمال، فما ظنكم إلى ما يصير إليه؟ وما تحسبون ما يصنع به؟ فليختر العاقل لنفسه، ما هو أولى بالاختيار، وأحق الأمرين بالإيثار


Dan dia sudah dikenal tidak pernah mempersiapkan kebaikan untuk dirinya sendiri, dan dia hanya mempersiapkan hal-hal yang membahayakan dirinya, dia pun beralih ke negeri pembalasan amal perbuatan. Lalu bagaimana menurut kalian, kemana dia akan kembali? Apa dugaan kalian? Apa yang akan diperlakukan terhadapnya? Maka orang yang berakal hendaklah memilih untuk dirinya apa yang lebih baik untuk dijadikan pilihan, mana yang akan lebih berhak dari dua perkara ini untuk diutamakan.” [Taiseer al-Kareem ar-Rahman Fii Tafsir Kalam al-Mannan vol. 5, juz. 20]


[Baca Selengkapnya...]


Anda Seorang Pemimpin Atau Penguasa? Belajarlah Dari Kisah Dzulqarnain



Kalau saja para penguasa di negeri ini benar-benar mau membantu rakyatnya dengan ikhlas tanpa pamrih, tanpa syarat atau embel-embel “sesuatu” di belakangnya , “ya alhamdulillah”. Itu benar-benar luar biasa dan memang demikian seharusnya sikap seorang pemimpin itu, nggih to?. Namun apakah fakta di lapangan demikian?, wallaahu Ta’ala a’lamu. Coba perhatikan berita berikut, “Pungli Masih Marak, Pengusaha dan Buruh Jadi Korban.” Kalau memang niatnya ikhlas membantu pengusaha dan buruh agar perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di negeri ini maju dan sejahtera (dulu kan janjinya mau mensejahterakan rakyat, red), mengapa mereka masih diperah (baca: dipungut secara liar) lagi ya?, sudah dibebani pajak, masih dipalak pula. Sungguh memprihatinkan, bukankah demikian faktanya?. Atau coba anda baca judul berita yang satu ini, “Jaksa Pemeras Tersangka Rp 500 Juta Harus Diseret ke Pengadilan.” Nah kalau case yang satu ini (atau yang semisalnya) sudah menjadi rahasia umum (diketahui bersama, red) bahwa hal itu memang kerap terjadi. Kebetulan kasus semisal pernah menimpa salah seorang tetangga kami (di Bandung) yang keluarganya terjerat permasalahan hukum hingga harus berakhir di penjara. Beliau menceritakan (langsung ke kami) bahwa ia harus menyerahkan uang sejumlah sekian dan sekian ke pihak Lapas (sebagai institusi yang memberian penilaian terhadap perilaku terpidana selama di tahanan, atau report lah istilahnya, red) jika ingin saudaranya itu mendapatkan remisi. Semakin banyak uang yang diserahkan, semakin besar pula “diskon” remisi yang bisa diberikan pihak Lapas kepada saudaranya itu. Hanya saja, tidak semua pemimpin (di negeri ini) itu berperilaku buruk, maka dari itu case diatas tidak bisa digeneralisir person to person. Wallaahu a’lam..

Sepertinya para pemimpin masa kini (entah yang berada di Instansi Pemerintah, Instansi Swasta, atau Para Wakil Rakyat yang konon “terhormat” itu, red) perlu membaca dan mengkaji kembali kisah keteladanan para pemimpin Islam masa lalu yang ‘alim lagi shalih (bukan pemimpin yang dzahirnya terlihat baik, namun menghalalkan taqiyah [bermuka dua, berdusta], red) mengenai bagaimana seharusnya seorang pemimpin yang bijak itu menempatkan (memposisikan) dirinya di tengah-tengah rakyatnya/ masyarakatnya, khususnya yang terkait “tolong-menolong/ ta’awun tanpa pamrih”, sebagaimana kisah Dzulqarnain berikut.

Dalam Al-Qur’an dikisahkan bahwa tatkala Dzulqarnain mendapati suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan )di antara dua buah gunung(, kaum itu berkata kepadanya:

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا (94

“Mereka berkata, ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka.’” (QS. Al-Kahfi: 94)

وقد أعطى الله ذا القرنين من الأسباب العلمية، ما فقه به ألسنة أولئك القوم وفقههم، وراجعهم، وراجعوه، فاشتكوا إليه ضرر يأجوج ومأجوج، وهما أمتان عظيمتان من بني آدم فقالوا: ( إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ) بالقتل وأخذ الأموال وغير ذلك. ( فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا) أي جعلا ( عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا ) ودل ذلك على عدم اقتدارهم بأنفسهم على بنيان السد، وعرفوا اقتدار ذي القرنين عليه، فبذلوا له أجرة، ليفعل ذلك، وذكروا له السبب الداعي، وهو: إفسادهم في الأرض

“Sungguh, Allah telah memberikan sebab kausalitas ilmiah bagi Dzulqarnain yang menyebabkannya sanggup memahami bahasa mereka dan memaklumi kondisi mereka, hingga Dzulqarnain bisa berkomunikasi dengan mereka, dan mereka pun dapat menjalin komunikasi dengannya. Mereka pun menyampaikan keluhan tentang gangguan dari Ya’juj dan Ma’juj. Mereka berkata, ( إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ) ‘sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi’, dengan tindakan pembunuhan, merampas harta (orang lain) dan tindakan buruk lainnya, ( فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا ) ‘maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu’, hadiah timbal balik, ( عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا )‘supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka.’ Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mampu membangun dinding sendiri dan mengetahui kemampuan Dzulqarnain. Maka mereka menyodorkan bayaran agar dia membuatnya disertai menyampaikan kepadanya tentang alasan yang mendorong mereka (meminta pertolongan), yaitu kerusakan yang ditimbulkan oleh kaum Ya’juj dan Ma’juj di bumi.” (Taisir al-Kareem ar-Rahman vo. 4, juz. 16)

Dalam kisah (yang Allah abadikan dalam firman-Nya) diatas dijelaskan bahwa suatu kaum menyampaikan uneg-uneg/ permasalahan kepada Dzulqarnain mengenai kejahatan yang dilakukan oleh Ya’juj dan Ma’juj (kepada mereka) dan mereka yang lemah meminta bantuan Dzulqarnain, seorang pemimpin yang shalih itu agar membangunkan dinding bagi mereka sebagai benteng perlindungan dan kemudian menawarkan imbalan kepadanya. Note: Dzulqarnain tidaklah meminta kaum itu untuk membayarnya, namun kaum itu sendirilah yang menawarkan upah kepadanya. Lantas bagaimana sikap Dzulqarnain?

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman;

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا (95

“Dzulqarnain berkata, ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.’” (QS. Al-Kahfi: 95)

فلم يكن ذو القرنين ذا طمع، ولا رغبة في الدنيا، ولا تاركا لإصلاح أحوال الرعية، بل كان قصده الإصلاح، فلذلك أجاب طلبتهم لما فيها من المصلحة، ولم يأخذ منهم أجرة، وشكر ربه على تمكينه واقتداره، فقال لهم: ( مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ) أي: مما تبذلون لي وتعطوني، وإنما أطلب منكم أن تعينوني بقوة منكم بأيديكم ( أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا) أي: مانعا من عبورهم عليكم

Dzulqarnain bukan tipe orang yang rakus dan gandrung terhadap dunia, dan bukan tipe orang yang enggan untuk memperbaiki keadaan rakyatnya. Bahkan orientasinya adalah melakukan perbaikan. Untuk itu dia menyambut permintaan mereka, karena mengandung kemashlahatan tanpa meminta timbal balik. Justru dia bersyukur kepada Allah atas kekuasaan dan kemampuan yang dimiliki. Dia berkata kepada mereka, ( مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ ) ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik’, maksudnya lebih baik daripada apa yang kalian kerahkan dan berikan kepadaku. Aku hanya meminta kalian membantuku dengan kekuatan fisik kalian melalui tangan tangan kalian, ( أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا ) ‘agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.’ Yaitu dinding yang akan menghalangi mereka menyeberang kepada kalian.” (Taisir al-Kareem ar-Rahman vo. 4, juz. 16)

Lihatlah, Dzulqarnain bukanlah hamba Allah Ta’ala yang tamak/ rakus terhadap dunia. Tidaklah ia pamrih atas usahanya dan ikhlas membantu rakyatnya tanpa meminta imbalan harta sepeser pun. Sungguh bertolak belakang sekali dengan perilaku (beberapa) pembesar kita saat ini yang justru memanfaatkan kekuasaan dan kedudukannya untuk meraih kemasyhuran, ketenaran, dan kekayaan duniawi, meski harus menggunakan cara-cara kotor sekalipun. Dzulqarnain tidak pernah meminta imbalan tatkala rakyatnya meminta bantuannya, justru ia mengorbankan apa yang ia miliki demi kebaikan rakyatnya. Coba bandingkan dengan kondisi (beberapa) pemimpin di zaman ini, begitu kontras (180 derajat) dengan potret (pemimpin) masa lalu. Sudah mafhum di telinga kita bahwa (beberapa) diantara mereka (justru sengaja) meminta imbalan, meminta jatah, meminta persenan (atau apalah namanya) kepada rakyat yang lemah atau yang mengadukan permasalahan hidupnya dengan alasan/ dalih-dalih yang tidak masuk akal, padahal kekayaan mereka sudah melimpah, bahkan kekuasaan juga sudah digenggamnya (atas kehendak Allah tentunya) untuk melakukan perubahan. Kalau saja mereka bersikap amanah, jujur, zuhud, wara’, tawadhu dan shalih, saya yakin setiap kali mereka membutuhkan bantuan rakyatnya, (tanpa banyak bertanya dan bicara) rakyat akan membantunya dengan sekuat tenaga, sebagaimana kaum Dzulqarnain yang dengan senang hati membantu pemimpinnya yang shalih itu.

Satu lagi, ketika suatu permasalahan terpecahkan atau kondisi yang (sebelumnya) buruk berangsur-angsur membaik, coba anda perhatikan: mereka saling berlomba-lomba, saling mengklaim satu sama lain di atas mimbar atau di depan khalayak ramai (rakyat) atas keberhasilan yang sudah diraih tersebut dengan mengatakan bahwa (semua itu) tidak terlepas dari usaha dan hasil kerja keras dirinya atau kelompoknya. Sikap ‘ujub yang muncul tersebut pada akhirnya menutup pintu rasa syukur dan pujian yang seharusnya ditujukan kepada Allah Tabaaraka wa Ta’ala. Bandingkan dengan Dzulqarnain, ia justru berkata (ketika berhasil membangun dinding yang diminta rakyatnya, red):

هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي .... (98

“..Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku..” (QS. Al-Kahfi: 98)

أي: من فضله وإحسانه عليَّ، وهذه حال الخلفاء الصالحين، إذا من الله عليهم بالنعم الجليلة، ازداد شكرهم وإقرارهم، واعترافهم بنعمة الله كما قال سليمان عليه السلام، لما حضر عنده عرش ملكة سبأ مع البعد العظيم، قال: هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ بخلاف أهل التجبر والتكبر والعلو في الأرض فإن النعم الكبار، تزيدهم أشرا وبطرا.

كما قال قارون -لما آتاه الله من الكنوز، ما إن مفاتحه لتنوء بالعصبة أولي القوة- قال: إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Maksudnya berasal dari keutamaan dan kebaikanNya yang tercurahkan bagiku. Inilah kondisi para khalifah (penguasa) yang shalih, saat mereka menerima kenikmatan yang agung dari Allah, niscaya rasa syukur, penetapan, dan pengakuan terhadap kenikmatan Allah semakin meningkat. Seperti yang dikatakan oleh Sulaiman ‘Alaihissalam ketika singgasana ratu Saba’ muncul di hadapannya, padahal jaraknya sangat jauh. Beliau berkata;

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmatNya).” (QS. An-Naml: 40)

Berbeda halnya dengan orang-orang yang sombong, takabur, dan congkak di atas bumi ini, kenikmatan-kenikmatan yang besar semakin menambah keburukan dan kesombongan mereka. Seperti yang dikatakan oleh Qarun tatkala dikaruniai perbendaharaan kekayaan yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sekumpulan orang-orang kuat. Dia berkata;

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)”

(Taisir al-Kareem ar-Rahman vo. 4, juz. 16)

Ya,.. Qarun mengklaim apa yang didapatnya, apa yang berhasil dinikmati oleh dirinya dan orang lain tersebut adalah hasil dari kerja kerasnya dan ilmunya semata tanpa campur tangan Allah Subhaanahu wa Ta’ala sedikit pun. Sungguh bentuk kesombongan yang nyata. Mudah-mudahan Allah Ta’ala membukakan mata hati para pemimpin kita, menjadikan mereka orang-orang yang shalih dan amanah dan menujukki mereka dan kita jalan kebenaran yang hakiki, menganugerahi lisan yang baik (kepada kita) dan hati yang bersyukur yang jauh dari sifat sombong dan sifat tercela lainnya, amieen. Wallaahu Subhaanahu wa Ta’ala a’lamu.

[Baca Selengkapnya...]


 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula