Bersyukur Dengan Lisan Dan Seluruh Anggota Badan



Seorang laki-laki bertanya kepada Abu Hazim, “Apakah syukur dari kedua mata wahai Abu Hazim?”

Dia menjawab, “Apabila engkau melihat kebaikan dengan kedua mata itu, engkau menceritakannya dan apabila engkau melihat keburukan dengannya, engkau menutupinya.”

“Apakah syukur dari kedua telinga?”, tanya laki-laki itu lagi.

Dia menjawab, “Apabila engkau mendengar kebaikan dengan keduanya, engkau memperhatikannya dan apabila engkau mendengar keburukan dengan keduanya maka engkau menolaknya.”

Laki-laki itu kembali bertanya, “Apakah syukur dari kedua tangan?”

Dia menjawab, “Janganlah ambil dengan keduanya sesuatu pun yang bukan hakmu, dan jangan halangi hak Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang ada pada keduanya.”

“Apakah syukur dari perut?”, tanyanya kemudian.

Dia menjawab, “Menjadikan di bagian bawahnya makanan dan di atasnya ‘ilmu.”

Laki-laki itu bertanya sekali lagi, “Apakah syukur dari kemaluan?.”

Dia menjawab, “Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu’minun: 5-7)”

“Apakah syukur dari kedua kaki?”, tanya laki-laki itu untuk kali yang terakhir.

Dia menjawab, “Jika engkau mengetahui amal shalih seseorang yang mati, lantas engkau merasa iri dan ingin menandinginya, maka engkau menirunya dan kedua kakimu engkau pergunakan untuk melakukan amal shalih itu. Apabila engkau membenci amal buruknya maka engkau tidak mau melakukannya sambil tetap bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla.

Sedangkan orang yang hanya bersyukur dengan lisannya saja dan tidak bersyukur dengan semua anggota badannya, maka perumpamannya seperti seorang laki-laki yang memiliki baju, akan tetapi ia hanya memegang ujung-ujungnya dan tidak memakainya, sehingga baju itu tidak bermanfaat baginya, baik untuk menahan panas maupun dingin, baik salju maupun hujan.[1]


Abdullah ibn Abi Nuh bercerita:

Seorang laki-laki di tepi pantai bertanya kepadaku, “Berapa sering engkau memperlakukan Allah Azza wa Jalla dengan perbuatan yang tidak Dia sukai, sedangkan Dia memperlakukanmu dengan perbuatan yang engkau sukai?”

“Aku tidak bisa menghitungnya karena terlalu banyak”, jawabku.

Laki-laki itu bertanya, “Apakah engkau pernah memohon kepada-Nya dalam kedukaanmu, namun dia tidak mempedulikanmu?”

“Demi Allah, tidak pernah. Dia selalu berbuat baik kepadaku dan menolongku.”

Laki-laki itu bertanya lagi, “Apakah engkau pernah meminta sesuatu kepada-Nya dan Dia tidak memberimu?”

Aku menjawab, “Apakah Dia tidak memberiku ketika aku meminta kepada-Nya?, Tiap kali aku meminta sesuatu, Dia pasti memberiku, dan setiap aku memohon pertolongan kepada-Nya, pastilah Dia menolongku.”

“Apa pendapatmu kalau sebagian anak Adam melakukan hal itu (i.e kebaikan-kebaikan, red) kepadamu, apa balas budimu?”, Tanya laki-laki tadi.

Aku menjawab, “Tentu aku tidak mampu membalas budinya.”

Dia berkata, “Kalau begitu, Rabbmu Azza wa Jalla lebih berhak dan lebih pantas untuk engkau syukuri, yaitu yang telah berbuat baik kepadamu, dulu dan sekarang. Demi Allah, bersyukur kepada-Nya lebih mudah daripada membalas budi kepada hamba-hambaNya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala meridhai hamba-Nya yang memuji-Nya dan (yang) bersyukur kepada-Nya.[2]

== Selesai kutipan ==


Penutup:

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata: “Qadha’ (ketetapan Allah Ta’ala) berjalan dan di dalamnya berisi kebaikan sebagai tambahan untuk orang mukmin yang percaya kepada Allah Azza wa Jalla, bukan untuk orang yang lalai. Jika datang kegembiraan kepadanya atau mendapatkan kesusahan pada dua keadaan tersebut, dia mengucapkan: “Alhamdulillaah” (segala puji hanya milik Allah Subhaanahu wa Ta’ala semata)”[3]


Di-“copas” dari ‘Uddatush Shaabirin karya al-Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah

Gd. TTC Soetta 1st Floor No. 707, Bandung

_____________________

[1]. ‘Uddatush Shaabirin, hal. 215

[2]. ‘Uddatush Shaabirin, hal. 220

[3]. Bardul Akbaad, hal. 9

[Baca Selengkapnya...]


Kekayaan Yang Tercela



Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al-Marwazy Al-Baghdadi –raheemahullaahu- berkata, Abu Al-Mughirah menyampaikan kepada kami, Shafwan menyampaikan kepada kami dari Yazid ibn Maisarah, dia bercerita:

Di zaman dahulu, seorang laki-laki menimbun kekayaan dan menyimpannya (tanpa diinfakkan). Pada suatu hari, sewaktu sedang berada di tengah-tengah keluarganya, dia berkata kepada dirinya sendiri, “Aku bisa hidup enak bertahun-tahun lamanya (dengan harta sebanyak ini).”

Tidak lama kemudian, malaikat pencabut nyawa mengetuk pintu rumahnya dalam rupa orang melarat (miskin). Orang-orang rumah keluar menemuinya, lalu sang malaikat berkata, “Panggilkanlah tuan rumah untukku.”

Mereka menjawab, “Tuan kami sedang keluar rumah menemui orang sepertimu.”

Sang malaikat meninggalkannya sejenak, lalu kembali mengetuk pintu seperti tadi dan berkata, “Sampaikan kepadanya bahwa aku adalah malaikat pencabut nyawa.”

Mendengar hal itu si tuan rumah jatuh terduduk saking takutnya, lalu ia berbicara kepada orang-orang di rumahnya, “Bicaralah dengan halus kepadanya.”

Mereka (mulai) menawar, “Apakah ada orang yang engkau kehendaki selain tuan kami? Semoga Allah Azza wa Jalla memberkati anda.”

“Tidak.”, jawab sang malaikat maut.

Kemudian sang malaikat pencabut nyawa masuk menemuinya dan berkata, “Berdiri dan berwasiatlah karena aku akan mencabut nyawamu sebelum aku keluar dari sini.”

Lantas para penghuni rumah menjerit dan menangis. Si tuan rumah berkata kepada mereka, “Bukalah peti-peti harta.”

Mereka pun membuka semuanya. Kemudian si tuan rumah menghampiri harta kekayaannya itu dan mencaci makinya dengan berkata, “Engkau harta terlaknat!, engkaulah yang membuatku melupakan Rabbku dan membuatku terlalu sibuk untuk beramal (shalih) demi akhiratku sampai ajal menjemputku.”

Tiba-tiba harta kekayaan berbicara, “Jangan cela diriku! Bukankah engkau dahulu orang hina di mata manusia, lalu aku menolongmu?? Bukankah kamu dipandang orang karena pengaruhku?? Dengankulah engkau sampai di istana-istana para raja dan para pemimpin dan (akhirnya) kamu bisa masuk. Sementara hamba-hamba yang shalih juga sampai disana, namun mereka tidak bisa masuk. Dengankulah engkau melamar putri-putri raja dan para pemimpin, lantas kamu dikawinkannya. Sementara hamba-hamba Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang shalih juga melamarnya, namun mereka ditolak. Bukankah engkau membelanjakanku di jalan yang buruk lalu aku tidak bisa menentangmu?? Seandainya engkau membelanjakanku di jalan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, akupun tidak bisa menentangmu. Engkau lebih tercela daripada aku. Aku dan engkau wahai anak Adam, sama-sama makhluk yang diciptakan dari tanah, namun ada yang membawa pahala dan ada pula yang membawa dosa.” Demikianlah penuturan harta, maka waspadalah.

Sa’id ibn Musayyab berkata, “Tidak ada kebaikan dalam diri orang yang tidak mau mengumpulkan harta yang halal, yang dengannya dia bisa menghindari rasa malu (dari) meminta-minta kepada orang lain, (yang) dengannya ia bisa bersilaturahim dan dengannya ia bisa menunaikan haknya.”

Yusuf ibn Sibath berkata, “Harta yang tercela hanyalah harta yang diperoleh tidak sebagaimana mestinya (i.e dari sumber dan dengan cara yang tidak halal, red), yang dibelanjakan tidak pada tempatnya, yang memperbudak tuannya, yang menguasai hati dan melalaikannya dari Allah Azza wa Jalla dan negeri akhirat. Ia tercela karena merusak atau melalaikan tujuan-tujuan yang terpuji. Jadi, celaan itu ditujukan kepada subjek, bukan objek.

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Celakalah hamba dinar, celakalah budak dirham..” (HR. Al-Bukhari No. 6435). Beliau mengecam orang yang menjadi budak dinar dan dirham, bukan dinar atau dirham itu sendiri.”

=== Selesai kutipan ===


Di-“copas” dari ‘Uddatush Shaabirin hal. 415-417, karya Al-Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah

Gd. TTC Soetta 1st Floor, No.707 Bandung.

[Baca Selengkapnya...]


Klusterisasi Dalam Bisnis Seluler



Apakah Hard Cluster itu?. Orang yang berkecimpung di dunia telekomunikasi tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah tersebut. Singkatnya, hard cluster atau klusterisasi merupakan kebijakan/startegi operator seluler yang bertujuan untuk menjamin ketersediaan (availability) pulsa di pasaran, menjaga stabilitas harga sekaligus mendorong pengusaha lokal agar mampu mengembangkan dan mengoptimalkan potensi pasar seluler di wilayahnya. Selain itu, hard cluster juga bertujuan untuk mencegah dan memonitor penyalahgunaan distribusi barang yang berakibat pada kelangkaan pulsa dan disparitas (perbedaan, red) harga yang merugikan pelanggan operator yang bersangkutan. Secara teknis, kebijakan ini diterapkan dengan cara mengkotak-kotakan atau memetakan sebuah region ke dalam cluster-cluster (wilayah) yang lebih kecil kemudian menempatkan satu authorized dealer di masing-masing cluster sebagai kepanjangan tangan dari operator tersebut dalam mengatur distribusi (sirkulasi) barang (voucher, perdana) ke reseller, outlet maupun end-user di clusternya. Tidak itu saja, reseller atau outlet yang terdaftar di sebuah cluster tertentu juga tidak diperbolehkan menjual voucher keluar dari clusternya. Hal inilah yang memicu reaksi/ protes sebagian kalangan pengusaha pulsa termasuk server player yang hidup dari business ini. Mengapa mereka keberatan dengan kebijakan tersebut?.

Ada beberapa alasan yang menjadi pokok kekhawatiran mereka selama ini, yakni:

[1]. Mereka khawatir tidak bisa menghabiskan stock voucher yang mereka miliki (jika hanya diharuskan menjual) ke outlet-outlet di cluster yang mereka pegang. Sebelum hard cluster diberlakukan, mitra dealer bisa dengan leluasa menjual dan menghabiskan stock voucher keluar wilayah clusternya. Dengan menurunkan harga barang lebih rendah dari harga pasar, atau lebih rendah dari harga lead dealer yang memegang cluster yang dituju, stock voucher (yang tersisa) bisa lebih cepat terserap di cluster tetangganya disebabkan permintaan pasar yang tinggi. Bagi sebagian dealer, stock merupakan modal yang tertahan, apabila tidak segera dilikuidasi, maka mitra dealer tidak akan mendapatkan suntikan dana segar yang mencukupi (khususnya dealer-dealer kecil, red). Sedangkan para dealer wajib menyetorkan sejumlah modal (baca: initial cost) ke operator agar bisa mengambil voucher siap jual tiap minggunya.

[2]. Jika hard cluster diberlakukan, maka ruang gerak mereka yang selama ini luas dan bebas menjadi kian terbatas. Bagi mitra dealer, pelanggaran-pelanggaran yang nantinya dilakukan (seperti cross region, cross cluster dll, red) bisa menjadi boomerang dan bom waktu yang mengancam dan merusak eksistensi bisnis dan hubungan kemitraan dengan operator (yang terjalin dengan baik selama ini) meskipun -pada case-case tertentu- pihak operator masih mau mendengar dan bersedia memberikan toleransi/keringanan. Namun perlakuan khusus yang berbentuk toleransi ini tidak akan selamanya diberikan oleh operator, adakalanya punishment untuk kasus pelanggaran berat diterapkan, mulai dari teguran dan surat peringatan, diturunkannya nilai Key Performance Indicator (KPI), hingga (scenario terburuknya:) pemutusan ikatan kerjasama secara sepihak oleh operator. Jika worst case tersebut terjadi, apakah operator rugi dalam hal ini?, mungkin saja, namun opsi yang dimiliki operator nyatanya tetap melimpah, bisa saja operator memberikan cluster (yang ditinggalkan pemilik lama) ke mitra dealer lain yang (selama ini) memiliki kinerja yang mumpuni, atau bisa juga merangkul para calon mitra dealer baru yang rela mengantri agar bisa mengikat kerja sama dengan operator tersebut. Para mitra dealer itu tahu betul kalau bisnis (dalam bidang ini) sangat menguntungkan. Betapa tidak, dengan hanya menjual voucher seharga bandrol operator saja sudah untung, apalagi jika prosentase marginnya diperbesar. Bagi Multiserver, kebijakan ini dianggap “mencekik leher” mereka. Kenapa?, sebab stock melimpah yang biasanya bisa mereka dapatkan dari dealer, kuantitasnya semakin dibatasi (per A number) dan kebebasan mereka untuk melakukan recharge pulsa ke luar cluster/region pun ikut terbelenggu. Jika mau menambah stock, mereka harus rela membeli RS baru. Jika mau merecharge B number keluar cluster/region-nya, tidak ada pilihan yang lebih baik bagi mereka selain menggunakan jalur host-to-host (demi menghindari suspend, red). Demikian pula bagi outlet-outlet pulsa (khususnya mereka yang mengambil stock multichip dari multiserver, red). Jika stock server terbatas dan sulit didapatkan, maka mereka pun ‘terpaksa’ harus membeli stock A number langsung ke lead dealer agar dapur mereka tetap berasap, dan ‘terpaksa’ pula membeli hp baru untuk menanamkan chip A numbernya (jika frekuensi transaksi per harinya besar, red). Akibatnya cost semakin meningkat dan margin keuntungan yang didapat pun turut berkurang.

[3]. Terjadinya monopoli harga oleh Mitra Dealer di clusternya. Dulu, multiserver atau outlet masih bisa bebas mengambil stock dari dealer manapun yang mereka anggap cocok baik dari sisi harga maupun pelayanannya, tapi jika hard cluster diterapkan, multiserver dan outlet mau tidak mau harus mengambil stock dari lead cluster di wilayahnya sekalipun harga voucher yang dibandrol lead dealer tinggi. Mengapa?, karena dealer lain diluar clusternya tidak lagi berani menjual langsung A number (RS) beserta stocknya keluar clusternya (kecuali lewat host to host, red). Kalaupun mereka memaksakan diri menjual A number ke luar clusternnya, nomor RS tersebut juga tidak bisa digunakan (tapi saat ini sepertinya masih bisa, red). Jika masih membandel, operator dipastikan akan menghukum dealer yang bersangkutan (catatan: jika operator benar-benar konsisten dengan aturan yang dibuatnya, red). Namun kekhawatiran praktek monopoli ini bisa ditanggulangi dengan cara menyamakan/menyeragamkan harga transfer price (harga dealer ke outlet, red) dan menghukum dealer yang menaikan margin harga diluar batas kewajaran.

Namun demikian yang namanya kebijakan tentu tidak selamanya membahagiakan semua pihak sebagaimana prinsip dasar: “Tidak setiap kebijakan itu menguntungkan dan memuaskan semua pihak.” Ada yang pro dan ada pula yang kontra, ada plusnya ada pula minusnya. Beberapa alasan dasar mengapa hard cluster diberlakukan pun telah disampaikan operator (sebagaimana penjelasan sebelumnya, red) meskipun implementasinya terkadang masih tidak sesuai dengan harapan. Alasan lainnya (mengapa hard cluster ini diimplementasikan) antara lain:

[1]. Adanya jaminan dari operator akan ketersediaan pulsa bagi end-user di area manapun dengan harga yang lebih stabil atau tidak jauh berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya (poin ini masih menjadi titik lemah operator, red).

[2]. Mendorong terciptanya iklim usaha yang sehat dalam penyediaan pulsa untuk masyarakat sebagai dampak dari terbangunnya mekanisme keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) pulsa di satu wilayah/area. Terciptanya iklim usaha yang sehat juga akan mendorong semakin tumbuh dan berkembangnya para pengusaha kecil dan menengah dalam melakukan bisnis penjualan pulsa di wilayah operasional masing-masing.

[3]. Himbauan pemerintah bagi para pelaku usaha untuk dapat menjamin ketersediaan produk dan jasanya untuk masyarakat dimanapun mereka berada sesuai dengan wilayah operasional pelaku bisnis yang bersangkutan, dan lain-lain.

Sebagian dealer, pemain server dan outlet barangkali beranggapan bahwa operator seluler akan menemui kesulitan dalam mengontrol dan mengawasi pelaksanaan implementasi kebijakan mereka, khususnya operator yang membagi regionnya ke dalam beberapa cluster/wilayah kerja yang lebih kecil. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, “Apakah operator-operator itu mampu mendeteksi dealer, pemain server (multiserver) dan outlet yang melakukan pelanggaran transaksi (i.e recharge pulsa cross region dan cross cluster, red)?. Jawabannya bisa iya bisa pula tidak. Perhatikan gambar dibawah ini:


Gambar diatas merupakan capture-an BTS (Base Transceiver Station) beserta arah sector-sectornya di MapInfo (baik GSM, DCS maupun 3G). Perhatikan 3 bulatan putih di border berwarna hijau tua diatas. Itu merepresentasikan outlet yang terdaftar di cluster hijau tua. Dan perhatikan pula 3 bulatan putih di border berwarna kuning, itu merepresentasikan outlet yang terdaftar di cluster kuning. Contoh penerapan konsep hard cluster dalam hal ini adalah: System akan mendeteksi terjadinya pelanggaran apabila outlet yang terdaftar di cluster hijau tua membeli atau mengambil stock voucher/perdana kepada dealer penguasa (lead cluster, red) cluster kuning. Dalam prinsip hard cluster, outlet yang terdaftar di cluster kuning seharusnya membeli stock voucher/perdana kepada lead cluster kuning bukan kepada lead cluster hijau tua, begitu pula sebaliknya. Mengapa? Karena operator telah melakukan perhitungan stock di masing-masing cluster sekaligus buffernya secara seksama sesuai kebutuhan cluster dan historical penyerapan stock market tiap minggunya (di masing-masing cluster tersebut) sehingga apabila cross cluster/region dilakukan, maka dikhawatirkan stock market yang tersedia di pasar tidak mampu mencukupi atau bahkan melebihi kebutuhan cluster-cluster tersebut. Inilah yang kerap terjadi akhir-akhir ini. Prinsip lainnya adalah, jika outlet-outlet yang terdapat di cluster hijau tua (pemilik A number semisal M-Kios, Dompu, M-Tronik dll, red) merecharge pulsa customer (B number, red) yang ada di cluster wilayah kuning misalnya, system juga akan mendeteksi kasus ini sebagai pelanggaran. Yang benar adalah outlet cluster hijau hanya diperbolehkan mengisikan pulsa end-customer yang berada di wilayahnya (sebagaimana alasan diatas, red). Ini sudah menjadi kesepakatan antara operator pemilik produk dan mitra dealernya. Tujuan akhir keduanya pada prinsipnya sama, yakni bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya, namun pihak operator yang menjadi mata rantai utama bisnis ini memiliki ekspektasi besar yang lain, yakni tetap terkontrolnya supply and demand, terkontrolnya harga, serta tetap sehatnya persaingan para mitra bisnis yang berada dibawah chain-nya. Mitra dealer adalah ujung tombak dari operator, oleh karenanya operator berharap banyak pada kinerja positif mitra-mitranya. Yang diharapkan operator-operator itu adalah mitra dealer tidak hanya focus mengejar keuntungan belaka dengan hanya “membuang” atau menghabiskan stock voucher/perdana kemanapun ia mau (meskipun harus menjualnya ke luar clusternya, red), namun juga bisa menjadi partner yang baik dengan mengembangkan, memaksimalkan dan memaintain potensi clusternya sendiri. Perubahan pola bisnis ini memang dirasakan sulit oleh sebagian pihak (terutama server dan outlet, red) namun apabila semuanya berkomitmen untuk serius menjalankannya, kesulitan itu bisajadi akan berbuah manis di akhirnya.

Sedikit menyinggung masalah “buang-membuang stock” ke cluster/region lain, operator akan melakukan investigasi dengan cara menurunkan data transaksi end-customer (B number) dan data transaksi outlet (A number) secara detail dari BTS. Kemudian operator akan melakukan cross check berdasarkan data latitude dan Longitude outlet di setiap cluster untuk memastikan posisi fisik masing-masing outlet dan untuk mengetahui secara pasti oleh BTS manakah outlet tersebut dicover. Ketika outlet X yang terdaftar di cluster hijau tua misalnya, merecharge end-customer di cluster kuning, maka A number dari outlet X akan tercatat transaksinya di BTS yang berada di cluster kuning, tepatnya di BTS dimana end-customer tercover oleh signal salah satu sector BTS yang bersangkutan. “Sengaja dan tidak sengajanya” dealer, multiserver dan outlet melakukan transaksi lintas cluster bisa diketahui dari data ini, jadi tidak perlu kaget apabila operator/dealer melakukan suspend A Number (MKIOS, Dompu, M-Tronik dll) kepada server atau outlet tertentu yang terindikasi melakukan pelanggaran. Namun bisa saja ditemukan pengecualian di lokasi tertentu dimana beberapa server atau outlet yang (sebenarnya) sudah melakukan transaksi sesuai prosedur/aturan yang berlaku (i.e merecharge A number atau B number di clusternya) tertangkap di BTS cluster lain diluar clusternya (bukan di BTS cluster sendiri, red). Kejadian ini biasanya terekam di wilayah border sebagaimana ditunjukkan gambar diatas. Untuk case yang seperti ini biasanya dilakukan rekonsiliasi ulang oleh operator agar pihak mitra dealer, server maupun outlet tidak dirugikan (i.e diturunkannya nilai KPI untuk dealer yang berdampak pada pengurangan jatah voucher, disuspendnya nomer A number (MKIOS, Dompu, M-Tronik dkk) untuk multiserver dan outlet, red).

Mudah-mudahan coretan jelek diatas bermanfaat…


[Baca Selengkapnya...]


Nasihat Al-Imam Al-Auza’i Raheemahullaahu



Preface:

Berkata Abu Hazim: “Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang disingkirkan dariku berupa dunia lebih mulia bagiku daripada nikmat lainnya yang diberikan kepadaku. Aku melihat Allah Subhaanahu wa Ta’ala memberikan nikmat kepada suatu kaum, lantas mereka binasa. Sebab, setiap nikmat yang tidak bisa mendekatkan diri pemiliknya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala maka ia sebenarnya adalah cobaan. Apabila Allah Subhaanahu wa Ta’ala memberikan nikmat kepadamu sedangkan engkau berbuat maksiat kepadanya, maka waspadalah!.”


Nasihat Al-Imam Abu ‘Amr Abdurahman bin ‘Amr Asy-Syamy Al-Auza’I ad-Dimasqy –raheemahullaahu-

Juru Tulis Laits meriwayatkan dari Hiql, dari Al-Imam Al-Auza’I, bahwa beliau menyampaikan ceramah;

“Wahai manusia, peliharalah nikmat yang sedang kalian rasakan ini dengan cara melarikan diri dari neraka Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang menyala-nyala dan membakar hati. Sebab kalian berada di suatu negeri yang kehidupannya hanya sebentar (sementara/ fana, red). Kalian diharapkan berbeda dengan umat yang terdahulu pada abad-abad sebelumnya dalam mempergunakan dunia, mereka mengambil apa yang paling mereka sukai dan (yang) penuh (dengan) keindahan, umur mereka jauh lebih panjang daripada umur kalian, dan postur tubuh mereka lebih besar, dan peninggalan mereka (jauh) lebih banyak.

Mereka mendaki gunung, menyeberangi padang pasir, dan membangun gedung-gedung yang tiangnya menjulang tinggi. Hari demi hari, malam demi malam telah berlalu hingga akhirnya bangunan mereka dimusnahkan (dihancurleburkan, red). Peninggalan mereka lenyap dan rumah mereka roboh. Bahkan kenangan indah tentang kejayaan mereka terlupakan, hingga tidak ada seorangpun dari mereka yang mendengar suara sayup-sayup. Padahal sebelumnya, mereka adalah bangsa yang hidup penuh (dengan) kemewahan (duniawi) dan merasa aman, namun karena mereka menjadi kaum yang lalai, mereka pun (akhirnya) menyesal.

Kalian telah mengetahui azab Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang turun pada malam hari ke rumah-rumah mereka, sehingga banyak di antara mereka yang mati bergelimpangan. Sementara yang masih hidup melihat bekas-bekas reruntuhan (bangunan) akibat dari azab Allah Subhaanahu wa Ta’ala, hilangnya nikmat, dan tempat tinggal yang kosong. Hal ini mengandung tanda bagi orang-orang yang takut akan azab Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang pedih dan pelajaran bagi orang yang khouf.

Setelah itu, ajal (umur, red) kalian sangat pendek dan (terus) berkurang, dunia tergenggam, zaman telah hilang kenikmatannya dan tidak lagi makmur. Tidak ada (lagi) yang tersisa selain lumpur (yang) kotor dan air yang keruh, (sebuah) pelajaran yang membuat bulu kuduk (manusia) merinding, hukuman yang dahsyat, munculnya fitnah-fitnah, (dan) gempa bumi yang terbungkus dengan kehinaan. Akibat (dari) ulah mereka (itu), timbullah kerusakan di darat dan di laut.

Janganlah kalian menjadi orang yang tertipu oleh angan-angan dan khayalan umur panjang.[1] Kami memohon kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala agar menjadikan kita semua orang-orang yang sadar akan peringatan-Nya, memahami kabar gembira-Nya dan mempersiapkan diri.”

== Selesai Kutipan==


Di-“copas” oleh al faqir dari ‘Uddatus Shaabirin hal. 213-214, Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

TTC Soetta Bandung, 1st Floor

________________________

[1]. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis-garis lalu bersabda, “Ini adalah manusia, ini angan-angannya dan ini adalah ajalnya. Maka tatkala manusia berjalan menuju angan-angannya tiba-tiba sampailah dia ke garis yang lebih dekat dengannya (daripada angan-angannya, pent).” Yakni ajalnya yang melingkupinya. (HR. Al-Bukhariy No. 6418)

[Baca Selengkapnya...]


Lagi, Seputar Syukur dan Sabar



Seputar Syukur

Seorang laki-laki mendatangi Yunus Ibn ‘Ubaid dan mengadukan keadaannya yang (menurutnya, red) susah. Lalu Yunus bertanya kepadanya, “Apakah engkau mau penglihatanmu ditukar dengan seratus ribu dirham?”[1]

“Tidak”, jawabnya.

Yunus bertanya lagi, “Bagaimana jika kedua tanganmu ditukar dengan seratus ribu dirham?”

“Tidak mau”, jawabnya.

Yunus berkata, “Bagaimana kalau kakimu saja yang ditukar dengan seratus ribu dirham?”

“Tidak mau”, jawabnya.

Setelah menyebutkan kepadanya nikmat-nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala itu, Yunus lalu berkata, “Aku melihatmu memiliki beratus-ratus ribu dirham, tetapi engkau masih mengeluhkan keadaanmu!.”[2]

al-Imam al-Hasan al-Bashri berkata, “Allah Subhaanahu wa Ta’ala memberikan nikmat sekehendak-Nya. Apabila nikmat itu tidak disyukuri, Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan mengubahnya menjadi azab. Oleh karena itulah orang-orang menjuluki syukur sebagai “pemelihara” (al-hafizh) karena ia memelihara keberadaan nikmat, juga sebagai “penarik” (al-jalib) karena ia menarik nikmat yang dicari-cari.”[3]

Ibnu Abi Dunya menyebutkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu bahwa ia berkata kepada seorang laki-laki dari Hamadzan, “Nikmat itu tercapai berkat syukur, dan syukur berkaitan dengan nikmat tambahan. Keduanya bertalian erat dalam satu simpul sehingga nikmat tambahan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala tidak akan terputus sebelum syukur terputus dari hamba.”[4]

Muthrif Ibn ‘Abdillah berkata,, “Aku memperhatikan kesehatan dan syukur, lalu aku dapati keduanya mengandung sebaik-baiknya dunia dan akhirat. Menjadi sehat lalu bersyukur lebih aku sukai daripada diberi cobaan lalu bersabar.”[5]

Bakr Ibn ‘Abdillah al-Muzanni bercerita, “Aku melihat seorang kuli panggul yang sedang memanggul barang bawaannya sambil berucap, ‘Alhamdulillah (segala puji hanya bagi Allah semata), astagfirullaah (aku memohon ampunan kepada Allah).’ Maka aku menunggunya hingga ia meletakkan barang yang dipanggulnya, lalu aku bertanya kepadanya, “Apakah engkau bisa membaca selain bacaan itu?”. Ia menjawab, “Ya. Bahkan ada yang jauh lebih baik darinya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an, red). Akan tetapi hamba selalu berada antara nikmat dan dosa. Maka aku memuji Allah Allah Subhaanahu wa Ta’ala atas nikmat-Nya dan memohon ampun kepada-Nya atas dosa-dosaku.”[6]


Seputar Sabar

Abdullah Ibnul Mubarak berkata, Abdullah bin Luhai’ah memberitahukan kepada kami, dari Atha’ Ibn Dinar bahwa Sa’id bin Jubair mengatakan:

“Kesabaran adalah pengakuan hamba kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala bahwa apa yang menimpanya berasal dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan mengharapkan pahala disisi-Nya. Adakalanya setiap orang tetap merasa gelisah, padahal ia berusaha untuk tabah, namun yang terlihat darinya hanyalah kesabaran.”

Perkataan Said ibn Jubair, “pengakuan hamba kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala bahwa apa yang menimpanya berasal dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala,” seolah olah merupakan penafsiran firman Allah Ta’ala, “…sesungguhnya kami (hanyalah) milik Allah”. Jadi dia mengakui bahwa dirinya adalah milik Allah pengakuan hamba kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala bahwa apa yang menimpanya berasal dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan Sang Pemilik bisa sesuka hati bertindak terhadapnya.

Adapun perkataannya, “Adakalanya setiap orang tetap merasa gelisah, padahal ia berusaha untuk tabah, namun yang terlihat darinya hanyalah kesabaran.”, maksudnya adalah kesabaran bukanlah sekedar berusaha untuk tabah, melainkan menahan amarah terhadap takdir (Allah Subhaanahu wa Ta’ala) dan menahan lisan agar tidak mengadu (mengeluh, red). Barangsiapa berusaha untuk tabah namun hatinya marah terhadap takdir, berarti dia tidak bersabar.[7]

Ibnu Abi Dunya berkata, Muhammad bin Ja’far ibn Mahran menceritakan kepadaku seorang wanita Quraisy bersyair,

Demi yang tiada keabadian selain Zat-Nya

Dan yang tidak ada persamaan dalam kebesaran-Nya yang kokoh

Jika memulai kesabaran itu pahit rasanya

Maka buah yang akan dipetiknya akan manis rasanya


== Selesai kutipan ==

Di-“copy-paste” oleh al-faqir ilallah

TTC Soetta Bandung 1st Floor

___________________________________________

[1]. Jika dirupiahkan, 100.000 dirham setara dengan Rp. 234.607.779 (http://www.mataf.net/en/currency/converter-AED-IDR)

[2]. ‘Uddatush Shaabirin hal. 209. Banyak manusia (saat ini) yang bersikap sebagaimana laki-laki yang berbicara dengan Yunus Ibn ‘Ubaid pada kisah diatas. Allah Ta’ala telah memberikan limpahan rezeki dan nikmat dunia yang begitu banyak kepada mereka, namun tetap saja masih merasa kurang dan (mengeluh) kesusahan.

[3]. ‘Uddatus Shaabirin hal. 192

[4]. Ibid

[5]. ‘Uddatus Shaabirin hal. 195

[6]. Ibid

[7]. ‘Uddatus Shaabirin hal. 154

[Baca Selengkapnya...]


Refleksi Rasa Syukur dan Sabar



Berkata Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah –raheemahullaahu-:

Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Iman itu terdiri dari dua bagian, separuhnya berupa kesabaran dan separuhnya berupa syukur.” Sebab itulah Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyatukan antara sabar dan syukur dalam firman-Nya, “…sesungguhnya pada hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang penyabar lagi banyak bersyukur.” (QS. Ibrahim: 5). Ayat ini terdapat dalam surah Ibrahim, Asy-Syura, Saba’ dan Luqman.

Kemudian penulis kitab ‘Uddatus Shabirin tersebut (i.e Al-Imam Ibnul Qayyim, red) menjelaskan beberapa pelajaran yang terkandung dalam dua bagian keimanan diatas dan menjabarkannya ke dalam sepuluh poin. Pada kesempatan ini, penukil hanya akan menampilkan lima diantara sepuluh pelajaran yang beliau tuliskan dalam kitab beliau tersebut (mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua, amieen), yakni:

Beliau –raheemahullaahu- berkata:

[A]. (Bahwa) pada hakikatnya agama adalah harap dan cemas. Orang mukmin adalah orang yang penuh (dengan) harapan, akan tetapi terkadang juga penuh (dengan) rasa cemas. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “…sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap (rogbah) dan cemas (rohbah)..”[1] (QS. Al-Anbiya: 90)

Doa (ketika hendak) tidur yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam (kitab) Shahihnya berbunyi:

“Ya Allah, kuserahkan diriku kepada-Mu, kuhadapkan wajahku kepada-Mu, kupercayakan urusanku kepada-Mu, dan kusandarkan punggungku kepada-Mu dengan harap dan cemas kepada-Mu.”

Karena itu anda selamanya pasti akan mendapati orang mukmin dalam keadaan berharap dan cemas. Harapan dan kecemasan hanya berdiri di atas kaki kesabaran. Rasa cemas akan mengarahkan orang untuk bersabar dan rasa harap akan mengarahkannya untuk bersyukur.

[B]. (Bahwa) semua yang dilakukan oleh hamba di dunia ini tidak lepas dari hal yang bermanfaat baginya di dunia dan di akhirat, atau merugikannya di dunia dan di akhirat, atau bermanfaat baginya di salah satu (bagian) saja (i.e di dunia saja atau di akhirat saja, red) dan merugikannya di salah satunya saja. Hamba yang paling mulia adalah (hamba) yang melakukan hal (atau amalan) yang bermanfaat baginya di akhirat dan tidak melakukan hal yang merugikannya di akhirat; inilah hakikat keimanan. Melakukan hal yang bermanfaat baginya merupakan refleksi rasa syukur, sedangkan tidak melakukan hal yang merugikannya adalah refleksi kesabaran.

[C]. (Bahwa) diri hamba mengandung dua penyeru, yakni suatu penyeru yang mengajaknya kepada dunia, syahwat, serta kenikmatannya dan suatu penyeru yang mengajaknya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, negeri akhirat serta kenikmatan kekal yang dipersiapkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala untuk wali-wali-Nya. Menolak ajakan penyeru syahwat dan hawa nafsu adalah wujud kesabaran, sedangkan memenuhi ajakan penyeru di jalan Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan negeri akhirat adalah wujud rasa syukur.

[D]. (Bahwa) Agama berporos pada dua sumbu, yakni tekad dan keteguhan. Kedua pondasi ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Imam An-Nasa’I dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam beragama, dan tekad untuk tetap berada di jalan kebenaran.” [2]

Syukur berakar pada tekad yang benar, sedangkan kesabaran berakar pada keteguhan yang kuat. Apabila seorang hamba telah diperkuat dengan suatu tekad dan keteguhan, berarti dia telah diperkuat dengan pertolongan Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan taufik-Nya.

[E]. (Bahwa) Agama dibangun diatas dua pokok; kebenaran dan kesabaran. Keduanya disebutkan dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala, “Dan saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 3)

Ketika yang diharapkan dari (seorang) hamba adalah mengamalkan kebenaran pada dirinya dan (kemudian) melaksanakannya pada orang lain, maka inilah hakikat rasa syukur. Itupun hanya terlaksana dengan cara bersabar. Dengan demikian, kesabaran adalah separuh dari keimanan. Wallaahu a’lam.

=== Selesai kutipan ===


Di-copy-paste oleh al-Faqir yang jahil (bodoh), yang selalu butuh akan pertolongan dan ampunan Rabbnya Azza wa Jalla dari ‘Uddatus Shaabirin hal. 172-176.

Gd. TTC SCS Regional Jawa Barat Lt.1

Jl. Soekarno-Hatta No. 707 Bandung

________________________________

[1]. Dari ayat ini, Allah mengisahkan tentang Zakaria, istrinya dan Yahya yang selalu bersegera dalam melakukan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah. Allah memuji mereka karena mereka berdoa kepada Allah dengan mengharap rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, serta dengan merendahkan diri kepada-Nya. Mereka menyembah Allah dengan berbagai bentuk ibadah tersebut. [Aysarut Tafaasir, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi].

Apa makna harap (rogbah) dan cemas (rohbah)?. Asy-Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan berkata, “Makna rogbah (harap) adalah meminta, merendahkan diri, dan mengharap sepenuh hati dengan penuh kecintaan yang mengantarkan kepada sesuatu yang dicintai. Sedangkan makna rohbah (cemas) adalah takut yang menyebabkan seseorang menjauh dari sesuatu yang ditakuti. [Lihat Hushulul Ma’mu bisyarhi Tsalatsatil Ushul]

[2]. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari (hadits No. 6313) dan Al-Imam Muslim dalam Adz-Dzikr (hadits No. 56)

[Baca Selengkapnya...]


 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula