Create Rating Product Using Excel Formula And VBA (Vol. 1)




Membuat dan mengupdate dashboard offline merupakan salah satu (indirect) job saya. Seperti biasa, software yang paling mudah, paling cocok dan paling familiar untuk membuat report dengan scheme seperti itu (i.e dashboard) adalah Microsoft Excel. Anyway busway, bila anda kerap berselancar ke situs-situs online shop seperti Amazon.com, CNET.com dll, pasti anda akan menemukan symbol bintang (umumnya berderet lima, red) atau symbol lain yang sejenis (seperti yang ditunjukkan gambar di bawah, red) di bagian kanan, kiri, atas atau bawah sebuah product yang dipromosikan. Symbol seperti itu biasa disebut dengan istilah “Rate” atau Rating. Rating pada umumnya digunakan oleh Online shop sebagai indikator kualitas sebuah product yang dijual atau bisa juga menunjukkan seberapa tinggi respon pasar terhadap produk yang ditawarkan. Mereka menamakannya dengan “User Review” atau “Customer Review”. Terinspirasi dengan apa yang sudah dibuat oleh Online shop tersebut, saya berencana memasukkan display rating yang serupa pada report dashboard perseroan agar terlihat lebih atraktif.




Anyway, bagaimana cara membuatnya?

Ternyata sederhana. Berikut akan saya terjemahkan (dengan tambahan seperlunya dari penerjemah, red) langkah-langkah membuat “Product Review” di Microsoft Excel dari tulisan original seorang Master Excel dan VBA sekaligus MVP (Microsoft most Valuable Professional), Mr. Purnachandra R Duggirala. Siapkan segelas teh atau kopi hangat, plus cemilan (sehat) untuk menemani aktivitas anda kali ini, since it’s going to spend much time anyway,.. J. Let’s kick off!...

Saya sarankan anda masuk terlebih dahulu ke Chandoo dot Com, kemudian geser scroll bar anda ke bawah, cari judul “Download Example Workbook – On-demand Details in Excel” dan klik link download di bawahnya untuk mendapatkan sample chartnya. Belajar dengan menggunakan contoh dan mempraktekannya secara langsung biasanya lebih mudah ditangkap dan dicerna. Sudah?, Let’s go on…

Perhatikan unlive demo di bawah ini (sekedar info bahwa contoh rating di bawah merupakan replica dari review sebuah product di Amazon.com, red). Ketika anda mengklik di Row (baris) manapun yang anda suka di dalam cell Item + Rating Table di bawah, detail review dari Item yang berkesesuaian (dengan pilihan anda tersebut) akan tampil pada chart di sampingnya.


Nah, apa saja yang perlu dilakukan?

1). Memahami Database

Database ini merupakan source (sumber) dari Chart yang akan kita buat. “It has 3 columns” antara lain Item, Reviewer ID dan Rating (lihat sheet “Item ratings”). Masing-masing Item memiliki rating (antara 1 sampai 5) yang diberikan oleh beberapa reviewer yang berbeda-beda. Nah yang akan kita lakukan adalah mensummarykan seluruh rating-rating tersebut (ke dalam sebuah table dan grafik, red). Seluruh record data berada pada Range Table1 (i.e B2:B102). Kita akan menggunakan structured reference [What are they?] dalam formula agar data dapat tetap terbaca.


(2). Menset-up table Item dan Rating

Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah menampilkan table dengan seluruh Item productnya dan rata-rata rating setiap Item product yang berkesesuaian (note: Pada “Table1” hanya terdapat 9 Products dari 102 record nama yang sebagiannya berulang). Kemudian akan kita tambahkan “circle indicators” atau indicator rating yang berbentuk bulatan untuk memvisualisasikan average rating. Perhatikan gambar di bawah dan pahami penjelasannya (i.e formulasi yang digunakannya).



Ada 3 formulasi yang digunakan dalam hal ini.

(a). AVERAGEIF() formula
Formulasi ini sangat sederhana. Perhatikan, product Item berada pada range C5:C13 (i.e di sheet “Rating Summary”). Klik Cell D5 dan masukkan formulasi berikut =AVERAGEIF(Table1[Item],C5,Table1[Rating]) untuk mengetahui berapa nilai rata-rata rating Item C5 (i.e Instant Road). Kemudian “Fill the rest by dragging the formula down” i.e silahkan anda drag kursor dari D5 ke bawah untuk mengisi Row (baris) yang tersisa.

(b). Conditional Formatting
Setiap kali anda mengklik data pada column Items atau Rating di baris manapun yang anda suka di dalam range Item + Rating Table, maka warna dari Row tersebut akan ikut berubah secara otomatis. Di sinilah fungsi dari Conditional Formatting. Caranya; klik menu Home > Conditional Formatting > Manage Rule. Disana sudah ada sample formulanya untuk masing-masing cell. Silahkan anda pelajari.

(c). REPT formula
Formulasi ini digunakan untuk membuat repetisi (pengulangan) sebuah value (dalam case ini adalah symbol). Jika average rating dari suatu item product nilainya 3 misalnya, maka pada baris yang sama dalam column Rating akan muncul 3 bulatan penuh. Artinya formulasi akan melakukan repetisi symbol full circles sebanyak 3 kali secara otomatis (note: sebenarnya penulis i.e Duggirala “Chandoo” bermaksud menggunakan symbol bintang, namun ternyata tidak tersedia di defaut fonts Excel sehingga dia memilih circle symbol sebagai penggantinya. Simak penuturannya berikut, “There are no star symbols in the default fonts. But we have circles – a full circle, an empty circle and a donut to indicate half-circle. These symbols are available in Wingdings 2 font.”


Jika average ratingnya adalah angka bulat (1, 2, 3, 4 atau 5 misalnya), maka rating yang terprint menjadi 3 full circle dan 2 empty circle. Bagaimana jika average ratingnya decimal e.g 2.83?. Maka rating yang terprint adalah 2 full circles, one donut and 2 empty circles. Silahkan ikuti petunjuk berikut [inserting symbols in to Excel workbooks] untuk menampilkan circle symbol pada worksheet/ workbook anda.


Formulasi Repetisinya sendiri juga tidak kalah sederhana. Karena average ratingnya berada pada range D5:D13, maka formulasinya menjadi sebagai berikut;

=REPT(fullCircleSymbol,INT(D5)) & REPT(donutSymbol,(INT(D5)<>D5)+0) & REPT(emptyCircleSymbol,INT(5-D5))

Anda bisa memulai dari cell E5 dengan mengetikkan formulasi berikut ini;

=REPT($D$37,INT(D5))&REPT($E$37,(INT(D5)<>D5)+0)&REPT($F$37,INT(5-D5))

Block range C5:E15, kemudian kasih nama - rngReviews. Penamaan range ini (i.e di menu Formulas > Name Manager, red) berguna bagi user pada saat melakukan pengcodingan procedure menggunakan VBA. Selain melalui menu Name Manager, kita juga bisa membuat penamaan range di window VBA dengan mengetikkan syntax berikut;

Set rngReviews = Sheets(“Rating Summary”).range(“C5:E15”)

Tafadhal, terserah anda mau menggunakan metode yang mana.. J. O ya, jangan lupa beri nama range C5:C13 dengan lstItems dan cell E28 dengan valSelItem. Apa fungsinya?, akan terjawab pada penjelasan selanjutnya.



(Bersambung ke pembahasan 2)
[Baca Selengkapnya...]


Syukur Itu Membawa Nikmat



Tidak ada habisnya jika kita berbicara mengenai nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala, betul?. Hal ini selaras dengan apa yang Allah Ta’ala firmankan, “Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat menghitungnya...”. (QS. Ibrahim: 34). Ada sebuah kisah di dalam hadits shahih yang sangat panjang riwayat al-Imam al-Bukhari dalam kitab Ahadits al-Anbiya’, Bab: Abrash, Aqra wa A’ma (Si Belang, Si Botak dan Si Buta) no. 3464 dan al-Imam Muslim dalam kitab az-Zuhd wa ar-Raqa’iq no. 2964 yang menjelaskan tentang nikmat dan syukur yang bisa kita jadikan ibrah (terkhusus bagi pencopy-paste yang bodoh lagi dha’if ini, red). Nah berikut ini adalah matan haditsnya;






عن أَبي هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ ثَلَاثَةً فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى فَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا
فَأَتَى الْأَبْرَصَ فَقَالَ أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ لَوْنٌ حَسَنٌ وَجِلْدٌ حَسَنٌ وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ قَالَ فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ قَذَرُهُ وَأُعْطِيَ لَوْنًا حَسَنًا وَجِلْدًا حَسَنًا قَالَ فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ الْإِبِلُ أَوْ قَالَ الْبَقَرُ شَكَّ إِسْحَقُ إِلَّا أَنَّ الْأَبْرَصَ أَوْ الْأَقْرَعَ قَالَ أَحَدُهُمَا الْإِبِلُ وَقَالَ الْآخَرُ الْبَقَرُ قَالَ فَأُعْطِيَ نَاقَةً عُشَرَاءَ فَقَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِيهَا قَالَ فَأَتَى الْأَقْرَعَ فَقَالَ أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ شَعَرٌ حَسَنٌ وَيَذْهَبُ عَنِّي هَذَا الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ قَالَ فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ وَأُعْطِيَ شَعَرًا حَسَنًا قَالَ فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ الْبَقَرُ فَأُعْطِيَ بَقَرَةً حَامِلًا فَقَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِيهَا قَالَ فَأَتَى الْأَعْمَى فَقَالَ أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ أَنْ يَرُدَّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَأُبْصِرَ بِهِ النَّاسَ قَالَ فَمَسَحَهُ فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ قَالَ فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ الْغَنَمُ فَأُعْطِيَ شَاةً وَالِدًا فَأُنْتِجَ هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا قَالَ فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنْ الْإِبِلِ وَلِهَذَا وَادٍ مِنْ الْبَقَرِ وَلِهَذَا وَادٍ مِنْ الْغَنَمِ قَالَ ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى الْأَبْرَصَ فِي صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ فَقَالَ رَجُلٌ مِسْكِينٌ قَدْ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي فَلَا بَلَاغَ لِي الْيَوْمَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحَسَنَ وَالْجِلْدَ الْحَسَنَ وَالْمَالَ بَعِيرًا أَتَبَلَّغُ عَلَيْهِ فِي سَفَرِي فَقَالَ الْحُقُوقُ كَثِيرَةٌ فَقَالَ لَهُ كَأَنِّي أَعْرِفُكَ أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ فَقِيرًا فَأَعْطَاكَ اللَّهُ فَقَالَ إِنَّمَا وَرِثْتُ هَذَا الْمَالَ كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ فَقَالَ إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ قَالَ وَأَتَى الْأَقْرَعَ فِي صُورَتِهِ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَى هَذَا فَقَالَ إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ قَالَ وَأَتَى الْأَعْمَى فِي صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ فَقَالَ رَجُلٌ مِسْكِينٌ وَابْنُ سَبِيلٍ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي فَلَا بَلَاغَ لِي الْيَوْمَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ أَسْأَلُكَ بِالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا فِي سَفَرِي فَقَالَ قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَخُذْ مَا شِئْتَ وَدَعْ مَا شِئْتَ فَوَاللَّهِ لَا أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ شَيْئًا أَخَذْتَهُ لِلَّهِ فَقَالَ أَمْسِكْ مَالَكَ فَإِنَّمَا ابْتُلِيتُمْ فَقَدْ رُضِيَ عَنْكَ وَسُخِطَ عَلَى صَاحِبَيْكَ




Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dia pernah mendengar Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Ada tiga orang dari bani Israil, yaitu: Penderita penyakit sopak (belang), orang berkepala botak, dan orang buta. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat. Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita berpenyakit sopak dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan ?”, Ia menjawab : “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah Ia rupa yang bagus, kulit yang indah, kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi ?”, Ia menjawab : “Unta atau sapi”. Ishaq (rawi) ragu. Kemudian diberilah Ia seekor unta yang sedang bunting, dan Ia pun didoakan : “Semoga Allah memberikan berkahNya kepadamu dengan unta ini.”

Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, ‘Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang yang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, Ia menjawab: “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikan di kepalaku ini hilang”, maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah Ia rambut yang indah, kemudian malaikat tadi bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang kamu senangi ?”. Ia menjawab : “Sapi atau unta”, maka diberilah Ia seekor sapi yang sedang bunting, seraya didoakan: “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

Kemudian malaikat mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, Ia menjawab: “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang”, maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya, kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi ?”, Ia menjawab : “Kambing”, maka diberilah Ia seekor kambing yang sedang bunting.

Selanjutnya orang pertama dan kedua mengurusi kelahiran unta dan sapi mereka, demikian pula dengan orang ketiga, Ia mengurusi kelahiran kambingnya. Orang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melanjutkan, ‘Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita penyakit sopak, dengan menyerupai dirinya disaat ia masih dalam keadaan berpenyakit sopak, dan berkata kepadanya: “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan yang banyak ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku”, tetapi permintaan ini ditolak dan dijawab : “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak”, kemudian malaikat tadi berkata kepadanya: “Sepertinya aku pernah mengenal anda, bukankah anda ini dahulu orang yang menderita penyakit sopak, dan orang-orang merasa jijik kepada anda, dan dahulu pula anda orang yang miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan ?”, Dia malah menjawab: “Harta kekayaan ini warisan dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat”, maka malaikat tadi berkata kepadanya: “Jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya disaat masih botak, dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit sopak, serta ditolaknya pula permintaannya sebagaimana ia ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata: “Jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda seperti keadaan semula”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu disaat ia masih buta, dan berkata kepadanya: “Aku adalah orang yang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku”. Maka orang itu menjawab: “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, saya tidak akan mempersulit anda dengan mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah”. Maka malaikat tadi berkata: “Peganglah (tahanlah, red) harta kekayaan anda, karena sesungguhnya engkau ini hanya diuji oleh Allah, Allah telah meridhai anda, dan memurkai kedua teman anda.” [Shahih, al-Bukhari No. 3464, Muslim No. 2964]



Asy-Syaikh al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab at-Tamimi an-Najdi –raheemahullaahu- memasukkan hadits ini dalam kitab beliau (Kitab Tauhid) dan memberi catatan pada poin keempat, “Maa fii haazhihil qishshatil ‘ajiibati minal ‘ibaril ‘adziimati” i.e Pelajaran-pelajaran besar yang tersimpan di dalam kisah yang unik ini. Kemudian pensyarh Kitabut Tauhiid, asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan ‘alu asy-Syaikh –raheemahullaahu- menjelaskan kandungannya.



Apa Pelajaran Yang Bisa Kita Ambil?
Beliau (i.e asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan) –raheemahullaahu- mengatakan, “Ini adalah hadits agung yang mengandung pelajaran. Dua orang pertama mengingkari nikmat Allah, keduanya tidak mengakui nikmatNya, keduanya tidak menisbatkan nikmat kepada Sang Pemberinya, keduanya tidak menunaikan hak Allah padanya, maka keduanya mendapatkan murka. Adapun si buta, maka dia mengakui nikmat Allah, dia menisbatkan nikmat itu kepadaNya, dia menunaikan hak Allah padanya, maka ia memperoleh keridha’an dari Allah karena dia menunaikan hak syukur nikmat pada saat dia menunaikan tiga rukun syukur dimana syukur tidak tegak tanpanya, yaitu mengakui nikmat dan menisbatkannya kepada Sang Pemberinya i.e Allah Subhaanahu wa Ta’ala, serta membelanjakannya pada jalan yang Dia cintai.



Al-‘Allamah Ibn al-Qayyim (al-Jauziyyah) –raheemahullaahu- berkata i.e di dalam kitab Madarij as-Salikin 2/135-144: ‘Asal syukur adalah pengakuan terhadap pemberian nikmat dari Sang Pemberi nikmat disertai dengan ketundukan, kerendahan dan kecintaan kepadaNya. Barangsiapa tidak mengetahui nikmat, dia jahil (bodoh) terhadapnya, maka dia tidak mensyukurinya. Barangsiapa mengetahuinya namun dia tidak mengetahui Sang Pemberinya maka dia tidak bersyukur juga. Barangsiapa mengetahui nikmat dan Sang Pemberinya, namun dia mengingkarinya seperti seorang pengingkar mengingkari nikmat pemberi nikmat maka dia mengkufurinya. Barangsiapa mengetahui nikmat Sang Pemberi nikmat, mengakui dan tidak mengingkarinya, namun dia tidak tunduk kepadaNya, tidak mencintaiNya, dan tidak rela (ridha) kepadaNya, maka dia tidak bersyukur juga. Barangsiapa mengetahuinya, mengetahui Sang Pemberi nikmat, mencintai dan meridhaiNya, menggunakannya untuk ketaatan kepadaNya dan di jalan yang Dia cintai, maka inilah orang yang bersyukur. Syukur memerlukan ilmu hati, perbuatan yang mengikuti ilmu, yaitu kecenderungan kepada Sang Pemberi nikmat, mencintai dan tunduk kepadaNya’.” [Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhiid, Bab Tafsir Fushshilat: 50]


== Selesai Kutipan ==



Adapun hal lain yang bisa kita ketahui dari dzahir hadits diatas adalah –CMIIW-;

[1]. Di jaman dahulu, masih ada orang-orang shalih dari kalangan bani Isra’il, seperti seorang buta yang dikisahkan dalam hadits diatas yang kokoh terhadap ajaran Nabinya

[2]. Nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada seseorang adalah sebuah ujian, apakah ia bersyukur, tawadhu’ dan mampu merealisasikan syukur tersebut di jalan yang Allah cintai atau tidak. Adalah fakta bahwa tidak sedikit manusia yang terlena dengan nikmat yang Allah berikan hingga lalai mensyukurinya, tidak mengakui nikmatNya, tidak mau menisbatkan nikmat tersebut kepada Allah Ta’ala, tidak mau menunaikan hakNya dan tidak mau menggunakan nikmat itu di jalanNya sebagaimana seorang penderita sopak dan seorang botak yang dikisahkan dalam hadits diatas

Wallaahu Subhaanahu wa Ta’ala a’lamu..


____

Referensi:
Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhiid hal. 1065-1074, asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan ‘alu asy-Syaikh.

[Baca Selengkapnya...]


Team Hoyt, An Inspirational Story Of A Father




Ada sebuah kisah inspiratif yang datang dari seorang ayah bernama Dick Hoyt, pensiunan “The Air National Guard” of USA dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel yang begitu gigih dan sabar dalam mendidik dan membesarkan anak tertuanya, Rick Hoyt (lahir pada tahun 1962. Kurang lebih seumuran dengan Ibu saya, red) yang ditakdirkan cacat permanen karena mengalami defisit Oxygen pada otaknya (Kelainan ini dikenal dalam dunia kodekteran dengan istilah “Spastic Quadriplegic with Cerebral Palsy” atau kelumpuhan otak –CMIIW-, red). Akibatnya Rick tidak bisa berjalan, dan karenanya pula ia tidak bisa berbicara. Dick Hoyt adalah seorang “family man” sebagaimana penuturannya dalam buku “Devoted: The Story of a Father’s Love for His Son – Dick Hoyt” pg. 2, Ia berkata, “I just worked for the National Guard and tried to spend as much time with my family as possible”. Artinya, tidak hanya sekedar “Quality time” saja yang diprioritaskan olehnya (sebagaimana umumnya orang-orang “super sibuk” masa kini, red), tetapi juga “Quantity time” sehingga ia bisa –sesering mungkin- berinteraksi, berdiskusi, mengawasi dan mengedukasi putra tercintanya tersebut.



Apa saja yang dilakukan Dick untuk putranya?
Sebagaimana orang tua pada umumnya, Dick dan istrinya Juddy tidak pernah lupa memperhatikan hak putranya untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan layak. Mereka memperkenalkan beberapa olahraga kebugaran kepada Rick seperti berenang dan beselancar, tak lupa pula mengajarkan huruf-huruf dan angka-angka sebagaimana kebiasaan para orang tua pada umumnya. Hal ini dilakukan Dick dan Juddy untuk menggali informasi lebih dalam mengenai bakat (kemampuan) dan tingkat intelegensia Rick yang bisa dikembangkan di masa depan. Pada website www.teamhoyt.com dijelaskan, “Dick and Judy would take Rick sledding and swimming, and even taught him the alphabet and basic words, like any other child. After providing concrete evidence of Rick's intellect and ability to learn like everyone else, Dick and Judy needed to find a way to help Rick communicate for himself.” Akhirnya pada tahun 1972, bermodalkan uang USD 5.000 dan kreasi para insinyur (engineer) dari Tufts University, dibuatlah sebuah komputer interaktif khusus untuk Rick sebagai alat bantu (penunjang) komunikasi Rick sehari-hari. Sungguh (alat) ini merupakan wujud rasa cinta Dick dan Juddy terhadap putranya yang terlahir cacat tersebut,… tak diragukan lagi.


Ada satu moment dimana Dick dan Juddy pada akhirnya sadar/ mengetahui bahwa putranya Rick menyukai olahraga. Melalui computer yang melekat pada anggota tubuhnya, Rick berkata, “Go Bruins!”. Apa maksudnya? Sekedar info saja bahwa Boston Bruins adalah sebuah team “Ice Hockey” professional yang berasal dari Boston, Massachusetts, USA dan Rick merupakan salah satu penggemarnya. Pada saat Rick mengucapkan kalimat tersebut, ia sedang menonton pertandingan final “Ice Hockey” yang melibatkan team kesayangannya itu. Hal ini diceritakan dalam www.teamhoyt.com, “….The Boston Bruins were in the Stanley Cup finals that season.” Kemudian Dick berkata (terkait ucapan Rick tersebut, red), “It was clear from that moment on, that Rick loved sports and followed the game just like anyone else.”


Kehebatan seorang anak (memang) tidak pernah lepas dari peran dan dukungan orang tuanya. It must be noted!. Seorang Rick Hoyt yang menderita kelumpuhan otak permanen itu pada akhirnya mampu menyandang gelar Sarjana Pendidikan Khusus pada tahun 1993 dari Boston University, salah satu universitas ternama yang terletak di Boston, Massachusetts, USA. Alur perjalanan intelektualnya diceritakan dalam www.teamhoyt.com sebagai berikut, “In 1975, at the age of 13, Rick was finally admitted into public school. After high school, Rick attended Boston University, and he graduated with a degree in Special Education in 1993.”


Dick Hoyt begitu mencintai putranya hingga ketika Rick muda mengungkapkan keinginannya untuk berpartisipasi dalam lomba lari “5-Mile Benefit Run” (tahun 1977) yang disiapkan khusus bagi para penyandang cacat itu, ia pun mengiyakannya. Dick sepakat untuk berlari, mendorong Rick melalui kursi rodanya hingga menyentuh garis finish. Pada malam hari (setelah lomba berakhir), Rick berkata pada ayahnya, “Dad, when I’m running, it feels like I’m not handicapped.” Luar biasa!, Rick sadar bahwa ia tidak bisa berlari, tapi semangat dan optimismenya (pada akhirnya) mampu membuat dirinya “berlari”. Apa yang dilakukan Dick dan putranya (Rick) diatas hanyalah permulaan saja. Karena dalam www.teamhoyt.com diceritakan, “This realization was just the beginning of what would become over 1,000 races completed, including marathons, duathlons and triathlons (6 of them being Ironman competitions). Also adding to their list of achievements, Dick and Rick biked and ran across the U.S. in 1992, completing a full 3,735 miles in 45 days. In a triathlon, Dick will pull Rick in a boat with a bungee cord attached to a vest around his waist and to the front of the boat for the swimming stage. For the biking stage, Rick will ride a special two-seater bicycle, and then Dick will push Rick in his custom made running chair (for the running stage).”




Ketika seorang ayah/ ibu mencintai anak-anaknya dengan tulus, mengajarkan kebaikan serta menanamkan optimisme kepada anak-anaknya dengan cara yang baik/ benar, anak-anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang lurus (insyaAllah). Sang anak akan selalu mengingat kebaikan-kebaikan kedua ibu bapaknya dan berbuat baik kepada keduanya. Dalam kisah Rick Hoyt ini, ada satu hal yang menarik dan (sejujurnya) membuat saya terharu. Dalam literature yang saya baca (www.teamhoyt.com) disebutkan, “Rick was once asked, if he could give his father one thing, what would it be? Rick responded, “The thing I’d most like is for my dad to sit in the chair and I would push him for once.”” Sepertinya harapan Rick diatas sederhana, hanya sekedar meminta ayahnya duduk di wheelchair kemudian ia akan berlari mendorongnya. Namun ada makna tersirat yang bisa kita pahami dari ucapan Rick tersebut i.e Ia sangat ingin membalas kebaikan ayahnya yang tidak pernah mengeluh merawatnya, yang rela mendorongnya bermil-mil hanya untuk mewujudkan impiannya. Jika ia mampu berlari, itulah yang pertama kali akan ia lakukan untuk ayahnya tercinta sebagai bentuk rasa baktinya. Amazing!.


Dick memang seorang ayah yang baik. “Ketidakmampuan” anaknya dalam melakukan aktivitas normal (laiknya orang dewasa pada umumnya) tidak lantas membuatnya bersikap diskriminatif. Bahkan baginya, Rick adalah sumber inspirasi. Let’s check his statement out, Dick Hoyt said as follows (dalam bukunya: “Devoted: The Story of a Father’s Love for His Son – Dick Hoyt” pg. 7);





Di sebuah video (Klik disini) terrecord perjalanan/ summary hidup mereka berdua sebagai berikut;

A Father, A son
Dick Hoyt, Rick Hoyt
Because of tragedy at birth, Rick can’t walk or talk
Because of tragedy at birth, Dick can’t play catch with his son
Because of together, they’re an inspiration to people around the world
Dick and his wife Judy wanted a normal life for their son
Together they put Rick in public school
Rick learned to write his thoughts using a special computer
When Rick was 15, he communicated to his dad that he wanted to participate in a five-mile benefit run
Dick was not a runner, but agreed to push Rick in his wheelchair
For the first time in his life, Rick didn’t feel handicapped
So together they run
Together they compete in marathons
Together they compete in triathlons
Together they trekked 3.770 miles across America
Rick couldn’t compete without his dad
Dick wouldn’t compete without his son
Dick is body, Rick is the heart
Together has power, don’t run alone



Sebagai penutup, saya akan mengutip trademark moto yang dijadikan prinsip hidup oleh, Dick Hoyt yang kemudian ditularkan kepada putra tercintanya Rick Hoyt yang terlahir cacat itu; “YES YOU CAN!”. Jika seorang Rick yang terlahir lumpuh dan Allah takdirkan tidak mampu berbicara secara verbal saja (terlepas dari dia adalah seorang non-muslim, red) mampu berbuat banyak dalam hidupnya, tidak mau berdiam diri sekalipun kondisi fisiknya lemah dan (bahkan) mampu menjadi sumber inspirasi banyak orang di dunia, lantas mengapa kita (sebagai seorang muslim) yang “sempurna” fisik dan akalnya ini lebih banyak berkeluh kesah dengan segala kenikmatan yang sudah Allah Ta’ala lebihkan dan tidak berusaha memaksimalkan kelebihan tersebut sebagaimana seorang Rick?. Hopefully, kita bisa mencontoh “semangat” seorang Rick Hoyt dalam menjalani hidup di tengah-tengah keterbatasan fisik dan akal yang ada pada dirinya. Lihatlah kepada orang-orang seperti dirinya, niscaya kita akan menjadi pribadi yang banyak bersyukur. Wallaahu Ta’ala a’lamu,….


_________


Referensi

2). Devoted: The Story of a Father’s Love for His Son – Dick Hoyt
[Baca Selengkapnya...]


Anak Yang Shalih Adalah Investasi Yang Lestari



Bagi sebagian besar orang, harta/ kekayaan merupakan investasi terbaik di dunia, sampai-sampai mereka rela menghabiskan sebagian besar waktu dan umurnya hanya untuk mencari dan mengumpulkan harta. Sedikit saja dari mereka yang berpendapat bahwa “sesungguhnya anak yang shalih itu merupakan investasi terbesar seseorang yang tak ternilai harganya” (selain amal shalih tentunya, red). Mengapa anak yang shalih?. Di saat orang lain tidak tahu dan tidak mau tahu tentang batasan harta yang boleh diambil dan dinikmati, anak yang shalih selalu membekali dirinya dengan ilmu dien [yang syar’i] dalam mencari dan mengumpulkan harta yang halal dan thayib, di saat orang lain tidak tahu bagaimana seharusnya ia memperlakukan kedua orang tuanya yang masih hidup, anak yang shalih mampu memahami dan mengejawentahkan perintah Allah Ta’ala dan RasulNya dengan berbakti kepada keduanya dengan cara yang baik dan syar’i. Di saat orang lain lebih suka menghambur-hamburkan harta [amanah] orang tuanya untuk sesuatu yang sia-sia dengan cara yang boros, anak yang shalih lebih suka membelanjakkan harta keduanya dengan cara yang adil dan bijak demi kemaslahatan dirinya dan orang banyak. Ketika orang lain sibuk mempermalukan kedua orang tuanya di depan manusia dengan perilakunya/ akhlaknya yang tercela, anak yang shalih berjuang dengan gigih agar mampu menahan lisannya, memperbaiki amalan dan akhlaknya sehingga kehormatan dan nama baik keduanya tetap terjaga. Tatkala orang lain tanpa malu menuntut kemewahan duniawi kepada kedua orang tuanya, anak yang shalih lebih suka bersyukur, bersabar dan bersikap qana’ah atas pemberian Allah Ta’ala melalui keduanya. Tatkala orang lain sibuk bermaksiat kepada Rabbnya Azza wa Jalla, anak yang shalih sibuk bermunajat kepadaNya dan membekali dirinya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Ketika orang lain menelantarkan dan melalaikan hak kedua orang tuanya di waktu senjanya, anak yang shalih sibuk merawat, melayani dan menjaga hak-hak keduanya, Dan ketika orang lain lalai mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan kepada Rabbnya Azza wa Jalla untuk kedua orang tuanya yang telah wafat, anak yang shalih selalu mengisi hari-harinya dengan mendoakan kebaikan dan ampunan bagi keduanya hingga kelak Allah Ta’ala mewafatkan dirinya. Dua kebaikan bisa didapatkan oleh orang tua sekaligus, i.e kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat kelak.


Harta dunia bisa kita cari dan bisa kita kumpulkan kapan saja selama kita mau berikhtiar dengan sungguh-sungguh dan banyak bersyukur kepadaNya. Tapi mendidik seorang anak yang berakhlak mulia lagi berilmu itu tidak lebih mudah dari mengumpulkan harta dunia. Mendidik anak yang shalih, taat kepada Allah Ta’ala dan RasulNya, serta berbakti kepada kedua Ibu Bapaknya sebagaimana Ibrahim ‘Alaihissalam, Ismail ‘Alaihissalam, Isa ‘Alaihissalam, dan para anbiya yang lain, atau para shahabat radhiyallaahu ‘anhum dan para salafus shalih yang lain sungguh membutuhkan perjuangan yang gigih. Tapi justru di situlah sisi mulia dari para orang tua yang rela bersusah payah mendidik dan menanamkan kebaikan kepada anak-anaknya. Al-‘Allamah al-Fadhil asy-Syaikh Shalih al-Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan –semoga Allah Ta’ala menjaganya- memberikan sedikit nasihat kepada para orang tua. Beliau -hafizhahullaahu- berkata;


“Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya para pemuda itu adalah tiangnya umat, mereka adalah generasi penerus dan dari merekalah akan berdiri bangunan umat ini. Dari mereka akan muncul para ulama, pembimbing umat, para mujahid, dan para teknokrat. Bila mereka menjadi pemuda yang shalih maka akan menjadi penyejuk mata bagi orang tua mereka yang masih hidup dan menjadi pahala yang terus mengalir bagi orang tua mereka yang telah meninggal dunia. Mereka akan saling bertemu bila kesemuanya masuk ke dalam surga.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
Allah berfirman (artinya) : “Dan orang-orang beriman lalu diikuti anak keturunannya dalam keimanan, maka Kami pertemukan mereka dengan anak keturunannya tersebut.” [Ath-Thuur : 21]


جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ
Allah berfirman (artinya) : “Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang shalih dari kalangan bapak-bapak, istri-istri dan anak keturunan mereka. Para malaikat menyambut mereka di setiap pintu surga.” [Ar-Ra’d : 23]

Karena itu, perhatian para Nabi ‘Alaihimussalaam sangat diarahkan kepada anak keturunan mereka sebelum lahir. Inilah Nabi Ibrahim al-Khalil ‘Alaihissalam yang berdoa (artinya) :

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي
“Ya Rabbku, jadikanlah aku sebagai orang yang menegakan shalat dan juga demikian bagi anak keturunanku.” [Ibrahim : 40]


Inilah Nabi Zakariya ‘Alaihissalaam yang berdoa (artinya) :

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Ya Rabbku, anugerahkanlah bagiku anak keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa hamba-Mu.” [Ali Imran : 38]


Hamba yang shalih pun berdoa (artinya) :

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي
“Ya Rabbku, limpahkanlah anugerah untuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, berbakti kepada kedua orangtuaku, beramal shalih yang Engkau ridhai dan perbaikilah anak keturunanku.” [Al Ahqaf : 15]


Dahulu para salaf ash-shalih memberikan perhatian kepada anak-anak mereka sejak usia dini. Mereka mengajari dan menumbuhkembangkan anak-anak di atas kebaikan, menjauhkan anak-anak dari kejelekan, memilihkan guru yang shalih, pendidik yang bijak dan bertakwa untuk anak-anak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallama mendorong para orang tua untuk memulai dengan pendidikan agama dan akhlak kepada anak-anak sejak usia tamyiz. Beliau bersabda (artinya) :

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat pada usia 7 tahun. Pukullah mereka (bila meninggalkan shalat) pada usia 10 tahun. Pisahkanlah tempat tidur mereka (di usia tersebut).” [HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan al-‘Allamah al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil, no. 247]


Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya pemuda umat ini bila rusak maka robohlah bangunan umat ini. Musuh-musuh Islam akan menguasai mereka. Selanjutnya akan sirnalah keberadaan umat ini. Diantara hal yang menyayat hati dan membuat mata kita menangis adalah apa yang kita saksikan dari kebanyakan pemuda saat ini. Mereka berani kepada orang tuanya, akhlaknya rusak, agamanya rusak, bergerombol di jalan-jalan setelah waktu ashar sampai penghujung malam untuk melakukan kesia-siaan dengan mobil mereka (kalau di negeri kita-motor-pent.), menggangu pengguna jalan dan penduduk, mengundang bahaya bagi orang lain, meninggalkan shalat bahkan mengganggu kekhusyu’an orang shalat, keburukan menyelimuti mereka, menyebarnya rokok dan narkoba, buruknya akhlak dan terjerumus dalam kekejian.


Keburukan telah berhasil membeli mereka, bahaya telah mengancam, mereka telah berani melawan orang yang menasehati dan melarang perbuatan mereka. Hendaknya kalian bertakwa kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah. Ketahuilah bahwa kalian sedang berada di masa yang penuh dengan kerusakan. Kalian hidup di tengah-tengah musuh. Orang-orang jahat menebarkan kerusakan di tengah-tengah kalian dalam bentuk makar yang halus dan tipu daya yang jahat. Ketahuilah bahwa perbendaharaan dan kekayaan terbesar yang kalian hasilkan di dunia ini setelah amal shalih adalah anak-anak kalian. Di dalam sebuah hadits, Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallama bersabda (artinya) :

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له
“Bila anak cucu Adam meninggal dunia, maka terputuslah pahala amal shalihnya, kecuali pahala dari 3 hal : shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kebaikan untuk orang tuanya.” [HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu]


Sesungguhnya anak-anak itulah yang akan menjaga kalian setelah kalian berusia lanjut dan lemah. Merekalah yang akan mengganti kalian untuk menjaga kehormatan kalian. Mereka lebih bermanfaat bagi kalian daripada harta kalian. Lalu bagimana kalian bisa menyia-nyiakan urusan mereka dan tidak peduli terhadap mereka?!


Seseorang menyesal dan minder takala melihat orang-orang kafir mampu memperhatikan pendidikan anak-anaknya dengan materi duniawi, tidak membiarkan anak-anaknya berkeliaran di jalan-jalan, tidak membiarkan anak-anaknya menganggur, bahkan mengatur kehidupan anaknya dengan tertib. Adapun kebanyakan kaum muslimin, mereka tidak memberikan perhatian kepada anak-anaknya kecuali sebatas memberi nama ketika lahir, memberi makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal lalu tidak mengerti apa yang harus dilakukan setelah itu. Bahkan sebagian kaum muslimin menyediakan sarana-sarana kerusakan untuk anak mereka. Mereka memenuhi saku anak-anaknya dengan uang, memberikan mobil mewah (kalau di negeri kita-motor mahal-pent.), memenuhi rumah dengan alat-alat musik, film yang tidak bermoral, sehingga jangan engkau tanya lagi bagaimana pertumbuhan anak-anak yang mendapatkan sarana-sarana tersebut berupa kerusakan akhlak, kerusakan pola pikir, moral binatang yang melampaui batas. Jangan engkau tanya pula tentang dosa yang ditimpakan kepada orang tua mereka, penyesalan yang dirasakan orang tua tatkala didurhakai sang anak, tidak mendapatkan kebaikan dari sang anak tatkala orang tua tersebut berusia lanjut dan sedang butuh terhadap anaknya. Sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatannya. Sebenarnya Allah telah mewasiatkan kepada anak-anak untuk membalas kebaikan orang tua dengan berbakti saat orang tua mereka berusia lanjut.


Allah Ta’ala berfirman (artinya) :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Rabbmu telah menetapkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya (Allah) dan (agar) kalian berbakti kepada orang tua. Bila salah satu atau kedua orangtuanya telah berusia lanjut maka janganlah engkau mengatakan ‘ah’ kepada keduanya dan jangan pula membentak. Namun katakanlah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” [Al-Israa’ : 23-24]


Allah memerintah seorang anak untuk senantiasa mengingat kebaikan kedua orang tua saat anak tersebut (dahulu) lemah dan masih kecil, agar dapat membalas kebaikan kedua orang tuanya tersebut saat keduanya lemah dan berusia lanjut. Lalu bagimana bila sang anak tidaklah mengingat kedua orangtuanya melainkan kesia-siaan, kejelekan, dan pendidikan yang rusak yang diberikan kedua orang tuanya? Apa yang dilakukan sang anak untuk membalas hal itu?


Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah. Ketahuilah bahwa anak itu adalah amanah bagi kalian. Bertakwalah kepada Allah terhadap anak dan amanah. Allah berfirman (artinya) :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah, rasul-Nya, dan amanah yang dibebankan kepada kalian dalam keadaan kalian mengetahui. Ketahuilah bahwa harta dan anak itu adalah ujian bagi kalian. Di sisi Allah-lah pahala yang sangat besar.” [Al-Anfaal : 27-28].  (Al-Khuthab al-Minbariyah fil Munasabatil ‘Ashriyah)


Berkata al-‘Allamah as-Sa’di –raheemahullaahu- ketika menafsirkan QS. Al-Anfal: 28 diatas;

“.. Allah Ta’ala memberitahukan bahwa anak dan harta benda adalah fitnah yang dengannya Allah menguji hamba-hambaNya, dan bahwa ia adalah pinjaman yang akan ditunaikan kepada yang memberinya dan dikembalikan kepada yang menitipkannya.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 3 juz. 9)

Sungguh anak yang shalih adalah investasi yang lestari bagi kedua orang tuanya dan merupakan amanah bagi para orang tua agar mendidiknya menjadi orang-orang yang shalih. Ia tidak hanya akan menyenangkan, membahagiakan dan bermanfaat bagi keduanya di dunia dengan amal baktinya, namun juga kelak di akhirat dengan doa-doanya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda;

إن الله ليرفع الدرجة للعبد الصالح في الجنة فيقول: يارب أنى لي هذه فيقول: باستغفار ولدك لك
(Artinya); “Sesungguhnya Allah –Subhaanahu wa Ta’ala- mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga, maka ia berkata, ‘Rabbku. Dari mana aku memperoleh derajat ini! Allah Ta’ala menjawab: ‘Ini adalah permohonan ampun anakmu untukmu’.”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)




Mudah-mudahan kita mampu menjadi orang tua yang shalih dan berilmu sehingga bisa mengajarkan banyak kebaikan kepada anak-anak kita, sekarang maupun yang akan datang. Kalau tidak diawali dari diri kita sendiri, lalu dari siapa lagi?

Wallaahu subhaanahu wa Ta’ala a’lamu.


_________
Referensi.
(2). Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 3 juz. 9
[Baca Selengkapnya...]


Mereka Bertanya Bilakah Azab Allah Ta’ala Itu Datang



”Kalau betul kaum luth dihujani batu karena lesbianisme, kenapa Tuhan tak melakukan hal yang sama sekarang pada mereka? Koq mereka aman-aman saja?”, demikian “ocehan” sang pendiri JIL sekaligus tokoh utamanya, Ulil Abshar Abdala. Barangkali yang dimaksud olehnya adalah azab Allah ‘Azza wa Jalla dalam firman-Nya, “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Huud: 82) atau firman-Nya; “Dan Kami turunkan hujan i.e kepada kaum Luth (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberikan peringatan itu.” (QS. An-Naml: 58)


Statementnya memang tidak pernah sepi dari kontroversi. Ia dikenal sebagai sosok yang gemar melabeli orang-orang yang berseberangan dengannya dengan atribut “radikal”, “ekstimis” dll. Di sisi lain ia juga terkenal “hobi” memelintir ayat-ayat Allah dan menakwilkan maknanya sesuai akal dan hawa nafsunya. Coba rekan-rekan perhatikan sekali lagi “igauan” sang “pejuang” HAM dan pengusung kebebasan itu di atas, kemudian bandingkan dengan ucapan berikut, “Kalau memang kaum gay atau lesbian itu salah (berdosa) dan layak mendapatkan azab Allah Ta’ala sebagaimana kaum nabi Luth terdahulu yang  Allah hujani dengan batu panas (akibat penyimpangan mereka, red), lantas kenapa Allah tidak melakukan hal yang sama kepada mereka hari ini?. Toh faktanya mereka aman-aman saja kan?.” Kalau kita cermati, makna inilah yang –secara tersirat- ingin disampaikan oleh tokoh kontroversial tersebut melalui statementnya di atas. Kalau akal dan filsafat lebih dikedepankan daripada wahyu Illahi, ya begitulah akhirnya, rusak!. Maka tidaklah aneh jika al-Imam asy-Syafi’i –raheemahullaahu- jauh-jauh hari mewanti-wanti kita agar berhati-hati dari racun ini (i.e filsafat/ ilmu kalam, red); Imam Harawi meriwayatkan dari Yunus al-Mishri, katanya, Imam Syafi’i رحمه الله pernah berkata: “Seandainya Allah عزّوجلّ memberikan cobaan (ujian) kepada seseorang, sehingga ia melakukan larangan-larangan Allah عزّوجلّ selain syirik, hal itu masih lebih bagus dari pada ia mendapati cobaan (ujian) dengan terperosok pada Ilmu Kalam.” (Ibn Abi Hatim, Manaqib asy-Syafi’i, hal. 182)


Secara eksplisit, Ucapan Pak Ulil itu sejatinya bernada tantangan, “Kalau memang benar kaum gay/ lesbian (homoseks) itu (layak) diazab, silahkan tunjukkan buktinya!”, kurang lebih begitu.  Ada sedikit kemiripan (kalau tidak mau dibilang “persis”, red) dengan ucapan orang-orang kafir terdahulu yang selalu mendustakan risalah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama;

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (71

“Bilakah datangnya azab itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?.” (QS. An-Naml: 71)


al-‘Allamah as-Sa’dy –raheemahullaahu- menjelaskan;

ويقول المكذبون بالمعاد وبالحق الذي جاء به الرسول مستعجلين للعذاب: ( مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ) وهذا من سفاهة رأيهم وجهلهم فإن وقوعه ووقته قد أجله الله بأجله وقدره بقدر، فلا يدل عدم استعجاله على بعض مطلوبهم ولكن -مع هذا- قال تعالى محذرا لهم وقوع ما استعجلوه: ( قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ رَدِفَ لَكُمْ ) أي: قرب منكم وأوشك أن يقع بكم ( بَعْضُ الَّذِي تَسْتَعْجِلُونَ ) من العذاب

“Dan orang-orang yang mendustakan itu berkata tentang kebangkitan dan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama seraya meminta agar azab segera menimpanya, ‘Bilakah datangnya azab itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?’. Ini merupakan kepicikan pikiran dan kebodohan mereka; sebab sesungguhnya terjadinya azab dan waktunya telah ditangguhkan oleh Allah pada waktu yang telah ditentukan dan telah ditetapkan berdasarkan ketetapanNya. Sehingga tidak menunjukkan ketidaksegeraanNya mewujudkan permintaan mereka. Sekalipun demikian Allah Ta’ala berfirman dengan nada mengingatkan mereka akan terjadinya apa yang mereka minta untuk disegerakan.


“Katakanlah, ‘Mungkin telah hampir datang kepadamu’. Maksudnya; sudah dekat dari kalian, atau sudah hampir menimpa kalian, ‘Sebagian dari (azab) yang kamu minta (supaya) disegerakan itu.’ Yaitu berupa azab (siksaan).” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 5, juz. 20)


Beliau –raheemahullaahu- juga menjelaskan dalam tafsir ayat yang lain (i.e QS. Yunus: 48-49);

فليحذر المكذبون لك من مشابهة الأمم المهلكين، فيحل بهم ما حل بأولئك ولا يستبطئوا العقوبة ويقولوا: ( مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ) فإن هذا ظلم منهم، حيث طلبوه من النبي صلى الله عليه وسلم، فإنه ليس له من الأمر شيء، وإنما عليه البلاغ والبيان للناس وأما حسابهم وإنزال العذاب عليهم، فمن الله تعالى، ينزله  عليهم إذا جاء الأجل الذي أجله فيه، والوقت الذي قدره فيه، الموافق لحكمته الإلهية فإذا جاء ذلك الوقت لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون، فليحذر المكذبون من الاستعجال بالعذاب، فإنهم مستعجلون بعذاب الله الذي إذا نزل لا يرد بأسه عن القوم المجرمين، ولهذا قال :

“Hendaklah orang-orang yang mendustakanmu (i.e Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama) mewaspadai sikap menyerupai umat-umat yang dibinasakan sehingga mereka bisa ditimpa azab yang telah menimpa mereka (yang terdahulu), janganlah menantang azab Allah dan mengatakan, ‘Bilakah datangnya (ancaman) itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?. Karena ini adalah kezhaliman dari mereka dimana mereka menuntutnya dari Nabi (kalau case hari ini; JIL dan kaum homoseks menuntutnya (i.e bukti azab itu) dari orang-orang yang menasihati mereka, red), padahal dia (Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama) tidak memiliki hak sedikitpun dalam urusan ini, tugasnya hanyalah menyampaikan dan menjelaskan kepada manusia. Adapun hisab mereka dan penurunan azab atas mereka maka ia dari Allah, Dia menurunkannya kepada mereka jika tiba waktu dan saat yang ditentukan dan diletakkan olehNya yang sesuai dengan hikmah Ilahiyah. Jika waktu tersebut telah hadir maka mereka tidak bisa menunda dan memajukannya (barang) sesaat pun. Orang-orang yang mendustakan hendaklah mewaspadai sikap menuntut turunnya azab karena mereka menuntut disegerakannya azab Allah yang mana jika ia turun maka azabNya tidak tertolak dari orang-orang yang berdosa. Oleh karena itu Dia berfirman;



قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُهُ بَيَاتًا أَوْ نَهَارًا مَاذَا يَسْتَعْجِلُ مِنْهُ الْمُجْرِمُونَ (50) أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ آمَنْتُمْ بِهِ آلآنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ (51) ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلا بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ (52

“Katakanlah, ‘Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaanNya di waktu malam atau siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?. Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya?. Apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?’. Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zhalim (musyrik) itu, ‘Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal, tidaklah kamu diberikan balasan melainkan apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. Yunus: 50-52)


Beliau –raheemahullahu- melanjutkan penjelasannya;

 ( أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ آمَنْتُمْ بِهِ ) فإنه لا ينفع الإيمان حين حلول عذاب الله، ويقال لهم توبيخًا وعتابًا في تلك الحال التي زعموا أنهم يؤمنون،   ( آلآنَ ) تؤمنون في حال الشدة والمشقة؟ ( وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ ) فإن سنة الله في عباده أنه يعتبهم إذا استعتبوه قبل وقوع العذاب، فإذا وقع العذاب لا ينفع نفسًا إيمانها، كما قال تعالى عن فرعون، لما أدركه الغرق  
قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ   وأنه يقال له:
آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
وقال تعالى:   فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّتَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ   وقال هنا: ( أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ آمَنْتُمْ بِهِ آلآنَ ) تدعون الإيمان  ( وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ ) فهذا ما عملت أيديكم، وهذا ما استعجلتم به.

Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya?, Iman tidak lagi berguna pada waktu azab Allah turun. Dikatakan kepada mereka sebagai bentuk penyalahan dan pencacian dalam kondisi tersebut yang mana mereka mengaku beriman (note: persis seperti apa yang dikatakan kaum JIL itu. Kalau mereka ditanya, “Apakah anda beriman?”, niscaya mereka akan menjawab “Ya, kami beriman”. Padahal banyak hal dari ayat-ayat Allah Ta’ala yang mereka dustakan dan simpangkan maknanya, red). ‘Apakah sekarang’, kamu beriman dalam kondisi sulit dan susah?. ‘Padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?’. Karena sunnah Allah yang berlaku bagi hamba-hambaNya adalah bahwa Dia memperingatkan mereka ketika mereka minta diturunkan peringatan sebelum azab itu turun dan jika azab telah turun, maka iman seseorang tidak lagi berguna sebagaimana firman Allah tentang Fir’aun pada saat dia tenggelam;

قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Berkatalah dia, ‘Saya percaya bahwa tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Rabb yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Yunus: 90)
Maka dikatakan kepadanya;

آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?.” (QS. Yunus: 91)
Dan Allah Ta’ala berfirman;

فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّتَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ

“Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hambaNya.” (QS. Al-Mu’min: 85)


Disini Allah Ta’ala berfirman, ‘Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya?’. ‘Apakah sekarang’, kamu mengaku beriman, ‘Padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?’. Ini adalah akibat perbuatanmu, inilah yang kamu tuntut agar disegerakan.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 3, juz. 11)


Kalau saja orang-orang JIL dan kawan-kawannya itu mau memahami dan menghayati ayat-ayat diatas tanpa menakwilkan maknanya, mungkin mereka bisa mengambil pelajaran. Sebagai penutup, mari kita jawab pertanyaan/ pernyataan dari Pak Ulil  di atas, i.e; “Kenapa Tuhan tak melakukan hal yang sama (i.e mengirimkan hujan batu) sekarang pada mereka (i.e kaum homoseks)?”. Allah Subhaanahu wa Ta’ala Yang Mahasuci lagi Mahatinggi berfirman;

وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ فَنَذَرُ الَّذِينَ لا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (11

“Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia sebagaimana permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bingung di dalam kesesatan mereka.” (QS. Yunus: 11)

al-‘Allamah as-Sa’dy –semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menjelaskan;

وهذا من لطفه وإحسانه بعباده، أنه لو عجل لهم الشر إذا أتوا بأسبابه، وبادرهم بالعقوبة على ذلك، كما يعجل لهم الخير إذا أتوا بأسبابه ( لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ ) أي: لمحقتهم العقوبة، ولكنه تعالى يمهلهم ولا يهملهم، ويعفو عن كثير من حقوقه، فلو يؤاخذ الله الناس بظلمهم ما ترك على ظهرها من دابة ويدخل في هذا، أن العبد إذا غضب على أولاده أو أهله أو ماله، ربما دعا عليهم دعوة لو قبلت منه لهلكوا، ولأضره ذلك غاية الضرر، ولكنه تعالى حليم حكيم وقوله: ( فَنَذَرُ الَّذِينَ لا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ) أي: لا يؤمنون بالآخرة، فلذلك لا يستعدون لها، ولا يعلمون ما ينجيهم من عذاب الله، ( فِي طُغْيَانِهِمْ ) أي: باطلهم، الذي جاوزوا به الحق والحد  ( يَعْمَهُونَ ) يترددون حائرين، لا يهتدون السبيل، ولا يوفقون لأقوم دليل، وذلك عقوبة لهم  على ظلمهم، وكفرهم بآيات الله

“Ini termasuk kasih sayang dan kebaikan Allah kepada hamba-hambaNya bahwa seandainya Dia menyegerakan keburukan dan hukuman kepada mereka (jika mereka melakukan sebab-sebabnya) sebagaimana Dia menyegerakan kebaikan kepada mereka (jika mereka melakukan sebab-sebabnya), ‘pastilah diakhiri umur mereka’, Yakni hukuman itu akan membinasakan mereka, akan tetapi Allah memberi tempo kepada mereka, dan tidak melalaikan mereka, Dia memaafkan banyak hak-hakNya, seandainya Dia menghukum manusia karena kezhalimannya, pastilah Dia tidak membiarkan seorang hamba pun di muka bumi, termasuk dalam hal ini adalah bahwa seorang hamba jika ia marah kepada anak-anaknya atau keluarganya atau hartanya bisa saja dia mendoakan tidak baik yang mungkin saja jika dikabulkan pastilah mereka binasa, dan hal itu sangat merugikannya, akan tetapi Allah Mahabijaksana dan Mahalembut.

FirmanNya, ‘Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami.’ Yakni tidak beriman kepada akhirat, oleh karena itu dia tidak bersiap-siap untuknya dan melakukan apa yang menyelamatkan mereka dari azab Allah. FirmanNya, ‘Bingung di dalam kesesatan mereka’, yakni kebatilan dimana mereka melebihi batas-batas kebenaran, ‘bingung’, mondar-mandir kebingungan, tidak mengetahui jalan, tidak dibimbing kepada jalan yang lurus. Hal itu sebagai hukuman kepada mereka atas kezhaliman dan kekufuran mereka kepada ayat-ayat Allah.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 3, juz. 11)

Jika mereka bertanya, “Kapan??”, kita jawab; Azab Allah adalah sesuatu yang ghaib yang hanya Dia Subhaanahu wa Ta’ala sendiri yang mengetahui. فَقُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ “Maka katakanlah, ‘Sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah, sebab itu (tunggu) sajalah olehmu, sesungguhnya aku bersamamu termasuk orang-orang yang menunggu.” (QS. Yunus: 20).

Wallaahu Subhaanahu wa Ta’ala a’lamu.
SAY NO TO JIL!, the destruction’s more than Drugs!.

___________

Referensi: Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 3 dan vol 5, al-‘Allamah as-Sa’dy –raheemahullaahu-

[Baca Selengkapnya...]


 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula