Cerita Dari Lereng Merapi



Rabu, 10 October 2012 pukul 13.00 WIB kami bertolak dari kantor kami di Jl. Soetta menuju Bandara Hussein Sastranegara Bandung dalam rangka menghadiri undangan Workshop Channel HQ di Yogyakarta (destinasi awal sebenarnya Denpasar Bali, namun karena suatu hal, acara dialihkan ke Yogyakarta. Sempat juga dikabarkan akan dialihkan oleh Panitia ke Semarang karena sebagian besar Hotel di Yogyakarta statusnya “Reserved”, “Booked”, i.e imbas dari acara pelantikan Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Sri Paduka Pakualam IX sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta di Gedung Agung (Jl. Ahmad Yani, Persimpangan kawasan Kilometer 0, Malioboro, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta) sehingga jumlah wisatawan dari dalam dan luar negeri (yang sengaja datang untuk menyaksikan moment bersejarah tersebut) menjadi membludak berkali-kali lipat –wallaahu a’lam-. Namun akhirnya salah satu Hotel dibawah Aston Group di Jl. Kusumanegara No. 91 Yogyakarta mengokonfirmasi ketersediaan (availability) space kamar dan ruang workshop kepada Panitia sehari sebelum acara workshop dikick-off. Kali ini kami sengaja berangkat lebih awal agar kasus ketinggalan pesawat (seperti kejadian workshop Batam satu bulan yang lalu) tidak terulang kembali J. Ini adalah kali kedua bagi kami menghadiri undangan Channel HQ di kota Gudheg, Yogyakarta, sekaligus kali kedua bagi kami harus berangkat menggunakan pesawat baling-baling yang paling dihindari oleh sebagian rekan-rekan kami di Regional, Wings Air ATR 72-500!, i.e sebuah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop yang dibangun oleh perusahaan pesawat Perancis-Italia ATR. Pada saat jam istirahat (sesaat sebelum keberangkatan), salah seorang rekan kami  di Basement bertanya, “Mau kemana bro?”, Saya menjawab, “Ke Yogyakarta mas.” Terus dia bilang, “Pake pesawat baling-baling ya?, Wah,.. lamun saya mah cukup sekali saja... gak mau lagi, ngeri euy.” Memang benar, “sensasi” yang dirasakan oleh penumpang pada saat di udara sungguh luar biasa terutama ketika pesawat ini take off dalam kondisi cuaca berawan atau angin kencang (seperti kemaren). Yo piye maneh mas (ya mau gimana lagi mas, red), wong belum ada pesawat (bermesin) Jet semisal Boeing atau Airbus yang melayani rute Bandung-Yogyakarta je. Akhirnya “Sport Jantung” itu benar-benar berakhir setelah kami mendarat dengan selamat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Sebenarnya ada dua alternatif lain yang bisa kita pilih, pertama; Naik pesawat Boeing atau Airbus (semisal Garuda, Lion Air, atau Air Asia) dari Bandara Soetta Cengkareng rute Jakarta-Yogyakarta yang jadwalnya bervariasi itu, namun kita harus rela menempuh perjalanan lebih lama dengan waktu tempuh 4,5 Jam dari Bandung, atau kedua; Naik kereta Argo Wilis dari stasiun Bandung, namun harus rela bersabar, duduk manis di dalam gerbong kereta besi itu selama (kurang lebih) 7 Jam. Pilih mana?

Alhamdulillah, acara workshop berjalan dengan lancar, bahkan bisa dibilang “sangat lancar”, ini semua tidak terlepas dari sentuhan tangan dingin panitia yang sangat “kreatif”. Gimana gak dibilang kreatif, lah wong Minute of Meetingnya (MoM) sendiri sudah dibuat jauh-jauh hari sebelum workshop tersebut berlangsung koq,.. Hehe. Buktinya peserta workshop cuma di tanya (waktu itu), “Dari Department Market Development (MD) dan Service Quality Assurance (SQA) di masing-masing Regional, sepakat tidak kalau waktu uploading data LAC-CI per Region kita majukan menjadi M+...?” dan hebatnya lagi semua poin-poin kesepakatan itu sudah dicantumkan dalam 4 lembar MoM yang kami sendiri tidak pernah merasa mendiskusikannya (sebelumnya), luar biasa... Hehe. No problemo lah, karena esensi dari workshop (i.e percepatan waktu release Key Performance Indicator [KPI] Dealer) sendiri sudah dibahas dan disepakati bersama oleh para peserta, yang terpenting adalah hasil kesepakatan tersebut benar-benar diimpelementasikan sesuai dengan isi MoMnya. Praktis jadwal “serius” hanya berlangsung satu hari saja, sisanya?, Panitia sudah mempersiapkan acara lain yang ternyata tidak kalah menantangnya, bahkan bisa dibilang lebih “menarik” daripada acara workshop itu sendiri, i.e Petualangan bertajuk; “Merapi, Ring of Fire Expedition Jilid. I” (mengapa diberi embel-embel “Jilid. I” dibelakangnya?, karena semua peserta berharap akan ada petualangan jilid-jilid berikutnya yang disiapkan oleh Panitia pada workshop-workshop mendatang... maklum lah, terlalu banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikan, sehingga penyakit stress kadangkala datang... Hehe). Lagi pula workshop sendiri bisa diplesetkan artinya menjadi “Work” dan “Shop”, i.e bekerja dan berbelanja, atau bekerja dan refreshing, harapannya ketika para peserta sudah kembali ke meja kerjanya atau departemennya masing-masing, semangat kerja mereka akan kembali terpacu... :D (Nglindur.Com)

Sesampainya di BaseCamp, kami disambut hangat oleh penduduk lokal dan pemandu setempat. Tak lupa mereka mengucapkan, “Sugeng Rawuh. Monggo dipun pilih kendaraanipun ingkang sekeco.”

Tanggal 12 October 2012, ba’da shalat Jum’at di belakang Gedung Agung, tepatnya di Masjid Baitu ar-Raheem Polresta Yogyakarta, Jl. Reksobayan No. 1 (Gondomanan), Yogyakarta, kami berangkat menuju rumah makan “Mbah Jingkrak - Khas Jawa –“ Jalan Kaliurang Km 9.5 untuk makan siang sekaligus shalat ‘Ashr. Baru setelah itu, rombongan yang terdiri dari 4 Mobil (kurang lebih 20-an orang) itu bertolak menuju lereng Gunung Merapi, salah satu gunung berapi paling aktif di Dunia, gunung yang juga sangat tersohor dengan “wedhus gembelnya” atau awan panasnya (yang sudah memakan ribuan korban jiwa) itu. Sesampainya di BaseCamp, kami disambut hangat oleh penduduk lokal dan pemandu setempat. Tak lupa mereka mengucapkan, “Sugeng Rawuh. Monggo dipun pilih kendaraanipun ingkang sekeco. (Selamat datang, silahkan anda dipilih kendaraannya).” Puluhan motor sport ber-cc tinggi antara 150 – 250 cc itu berjejer rapi di pelataran BaseCamp. Satu per satu dari kami menghampiri motor-motor itu, mengenakan sepatu pelindung berplat besi dan helm (tak berkaca) yang disediakan Panitia. Sayangnya hanya itu saja kelengkapan pengaman yang tersedia di BaseCamp, sarung tangan kulit yang biasanya wajib digunakan oleh para rider otomotif ekstreem ternyata tidak tersedia, pelindung lutut dan siku juga tidak ada. Kalau perlengkapan wajib seperti itu saja tidak tersedia, maka jangan ditanya “Ada asuransi Jiwanya ndak?”,..:D. Padahal rute perjalanan yang harus kami lalui itu berbatu terjal dan berpasir. Tapi antusiasme peserta mampu mengalahkan kekhawatiran dan ketakukan terhadap resiko fatal yang mungkin saja terjadi pada kami di perjalanan. Buktinya?, beberapa peserta yang tidak pernah mengendarai motor berkopling pun tetap nekat ikut, atau yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah mengendarai motor berkopling (seperti saya) juga nekat ikut, dan yang lebih luar biasa lagi, salah salah seorang rekan kami dari SQA Jabotabek yang “mohon maaf” secara berat badan sangat tidak memungkinkan untuk mengendarai motor dalam medan berat nan berbahaya seperti ini dan bahkan mengaku sudah lama tidak bersentuhan dengan sepeda motor juga nekat turut serta. Wes jan, do nekat kabeh lah pokoke. Padahal panitia sudah menyediakan mobil off-road yang lebih safety bagi mereka (yang tidak terampil) sebagai alternatif petualangan Merapi.


Starting awal di mulai dari BaseCamp, benar saja, belum sampai 100 meter dari lokasi keberangkatan, sudah ada satu peserta yang terjatuh dari motornya (i.e akibat licinnya jalan berpasir yang kami lewati). Tapi tak lama kemudian ia segera berdiri dan bilang, “Tidak apa-apa, Let’s go on buddy!”, padahal jalannya saja sudah tertatih-tatih.. :D. Perlahan tapi pasti, deru Kawasaki KLX 140 yang kami kendarai mulai berpacu dengan debu vulkanik dan batu kerikil. Pemandu mengarahkan kami untuk turun ke Jalur lahar dingin Kali Gendol, nama sungai yang tidak asing lagi di telinga para pendengar berita erupsi Merapi tahun 2010. Pasir hitam kasar, batu kerikil, hingga batu-batu besar muntahan Merapi seukuran badan Gajah bertumpuk menjadi satu di sungai yang tak berair itu. Kondisi fisik sungai itu lebar dan dalam, sekitar 20 meter (lebarnya) dan 15 meter (dalamnya). Ketika Merapi mengalami erupsi, sungai itu menjadi jalur aliran lahar (lava) panas berwarna merah kekuningan bersuhu tinggi antara 1.100 sampai 1.300 derajat celcius. Cuaca sore itu mulai mendung dan gelap, hawa dingin khas pegunungan mulai menusuk tulang, beruntunglah mereka (para peserta) yang sedari awal mengenakan jaket pelindung karena suhu tubuh mereka tetap hangat terjaga. Setiap sekian kilometer kami berhenti dan beristirahat, menunggu teman-teman yang tertinggal di belakang sembari membayangkan kedahsyatan erupsi Merapi yang meluluhlantakan kehidupan makhluk hidup di sekitarnya itu. Sesekali kami lihat beberapa orang mengangkut pasir dari Kali Gendol untuk dijual. Konon, pasir Merapi termasuk material bangunan kelas satu yang memiliki nilai ekonomis tinggi, sehingga banyak orang yang mencari. Rupanya bencana Merapi tidak hanya meninggalkan kepedihan/kepiluan, namun juga keberkahan bagi penduduk di sekitarnya. Semakin ke atas, medan yang kami lalui semakin berat, terjal dan sepi. Sisa-sisa suasana erupsi masih kental terasa. Bangkai pohon-pohon besar masih telihat di kanan dan kiri jalan, di sekelilingnya tumbuh perdu-perdu baru yang masih segar. Hingga akhirnya perjalanan kami berhenti di sebuah dusun mati yang tertimbun material panas Merapi sejak tahun 2010 yang lalu. Dusun itu bernama Dusun Jambu, yang terletak di Desa Kepuhharjo, Yogyakarta. Tidak ada satupun bangunan yang tersisa di sana, semuanya luluh lantak dan rata dengan tanah. Di lokasi tersebut hanya terlihat gundukan tanah, bebatuan dan tulang belulang binatang (i.e Sapi, Kerbau atau Kambing) yang menandakan bahwa beberapa tahun yang lalu pernah ada kehidupan di dusun itu sebelum akhirnya hancur terkena erupsi dahsyat Merapi, ada pula batu sebesar rumah yang mereka (i.e penduduk setempat) namakan dengan Batu Alien (karena mirip wajah manusia). Dari manakah asal batu ini?, darimana lagi kalau bukan dari perut Merapi. Bisa kita bayangkan betapa mengerikannya erupsi Merapi waktu itu, batu sebesar gajah berterbangan ke angkasa kemudian jatuh ke atap-atap rumah penduduk setempat, atau ladang-ladang penduduk yang jauhnya puluhan Kilometer dari puncak Merapi!, tidak hanya itu, aliran larva panas bersuhu ribuan derajat celcius juga membanjiri dan membakar tempat itu!, tidak hanya itu, awan panas bersuhu ratusan derajat celcius yang bergerak dengan kecepatan ratusan Kilometer per Jam di udara juga menghanguskan apa saja yang dilewatinya, di tempat itu!.



Gerimis mulai turun dan kabut mulai datang. Kami masih harus bergegas menuju atas i.e Dusun terakhir sebelum gelap menghampiri. Dalam kondisi cuaca yang bersahabat, puncak Merapi bisa terlihat jelas dari Dusun itu, demikian penuturan salah seorang Pemandu. Dahulu, puncak Merapi sulit terlihat karena tertutup oleh pepohonan raksasa dan kabut, namun kini sebagian besar pepohonan itu telah hangus menjadi bangkai, hanya menyisakan kabut pekat yang menjadi satu-satunya penghalang jarak pandang. Kemudian kami melanjutkan perjalanan, dalam suasana yang sudah gelap gulita itu, akhirnya kami berhasil menginjakkan kaki di dusun yang dimaksud, i.e Dusun Kinahrejo, dusun terakhir di lereng gunung Merapi yang dahulu pernah dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Termasuk di dalamnya adalah “juru kunci” Merapi yang ketika erupsi terakhir terjadi, enggan dievakuasi dan akhirnya meninggal terkena sapuan awan panas alias wedhus gembel bersuhu 800 derajat celcius, Mbah Maridjan. Sebagaimana dusun-dusun yang terletak di bawahnya e.g Dusun Jambu, Dusun Kinahrejo juga hancur lebur tak bersisa, sepi ndhedhet, dan tidak terlihat tanda-tanda kehidupan manusia  di sana. Awalnya petualangan “Ring of Fire” ini masih akan berlanjut hingga mendekati puncak Merapi, namun karena cuaca di hari itu tidak bersahabat, plus medan menuju puncak konon lebih ekstreem dan berbahaya, maka Panitia dan peserta memutuskan untuk kembali ke BaseCamp.

Ada dua hal yang kami dapatkan dalam ekspedisi Merapi kali ini; i.e Refreshing dan Spiritual Experience. Pelajaran yang kami maksud adalah; tidaklah ‘Allah Azza wa Jall menurunkan musibah yang maha dahsyat seperti itu kepada manusia tanpa sebab. Musibah itu terjadi atas kehendak Allah Subhaanahu wa Ta’ala, tidak terjadi dengan sendirinya atau terjadi secara kebetulan atau hanya sekedar gejala alam yang tidak ada kaitannya dengan rububiyah Allah Ta’ala sebagaimana pemahaman kaum Qadariyah yang meyakini bahwa setiap perbuatan (yang dilakukan oleh) makhluk itu murni karena kehendak makhluk itu sendiri, tidak ada campur tangan Allah Ta’ala yang menciptakan kehendak bagi makhluk dalam hal ini. Atau jika dikaitkan dengan bencana alam seperti peristiwa erupsi gunung Merapi, maka kaum Qadariyah atau yang sejalan dengannya dari kalangan Mu’tazilah dan lainnya meyakini bahwa meletusnya Merapi itu murni karena gejala alam, tidak ada kaitannya dengan perbuatan syirik dan maksiat yang dilakukan oleh makhluk (baca: penduduk) di sekitarnya (note: No offence, di Yogyakarta masih banyak kita temukan praktik-praktik kesyirikan yang dilakukan oleh sebagian masyarakatnya seperti menyembelih sesuatu bukan karena Allah Ta’ala atau membuat sesajen (baca: sesajian) sebagai bentuk persembahan atau pengagungan terhadap makhluk (e.g gunung Merapi, makam-makam keramat dll), mensakralkan benda-benda tertentu yang dianggap bertuah dan bertabaruk dengannya dll, red) karenanya Allah Ta’ala menurunkan azabNya di dunia. Padahal Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman;

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahan kalian).” (QS. asy-Syura: 30)

Al-‘Allamah ‘Abd ar-Rahman bin Nasheer as-Sa’dee –rahemaahullaahu- (w. 1376 H) menjelaskan dalam tafsirnya;

يخبر تعالى، أنه ما أصاب العباد من مصيبة في أبدانهم وأموالهم وأولادهم وفيما يحبون ويكون عزيزا عليهم، إلا بسبب ما قدمته أيديهم من السيئات، وأن ما يعفو اللّه عنه أكثر، فإن اللّه لا يظلم العباد، ولكن أنفسهم يظلمون

“Allah Ta’ala mengabarkan bahwa apa pun musibah yang menimpa hamba-hambaNya, pada jasad mereka, pada harta atau pun anak-anak mereka dan pada apa saja yang mereka cintai lagi sangat mereka sayangi, adalah akibat dosa-dosa yang mereka lakukan sendiri, dan sesungguhnya yang dimaafkan oleh Allah Ta’ala lebih banyak dari itu. Sebab, sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim terhadap hamba-hambaNya, akan tetapi diri mereka sendirilah yang menzhalimi diri mereka sendiri.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 6, juz. 25, Tahqiq; Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail)

Adakah kezhaliman yang lebih besar daripada perbuatan syirik kepada Allah, i.e menyekutukan Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam peribadatan kepadaNya?. Ada dua kemungkinan yang terjadi pada seseorang pasca ia tertimpa musibah. Bagi orang-orang yang berakal dan mampu mengambil pelajaran, musibah itu akan semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, membuatnya bersabar atas segala ujianNya dan bersyukur atas segala nikmatNya. Ia tinggalkan kezhaliman yang ia lakukan terhadap Allah Ta’ala dan bertaubat karenanya. Adapun bagi orang-orang yang tersesat dan lemah akalnya, musibah itu akan semakin menjauhkan dirinya terhadap rahmat Allah Ta’ala, dan semakin menenggelamkan dirinya ke dalam lembah kesyirikan dan kemaksiatan. Wallaahu a’lam.
[Baca Selengkapnya...]


My Father, My Inspiration



Esok hari, 1 October 2012 adalah akhir dari perjalanan karir nan panjang seorang pendidik, sekaligus hari terakhir ia mengajar murid-muridnya di sekolah dasar (secara formal). Tak terasa sudah empat puluh tahun ia mengabdi kepada negeri ini, tak terhitung banyaknya ujian hidup yang sudah ia lalui selama itu. Hampir 2/3 umurnya ia habiskan untuk mendidik anak-anak desa nan lugu, membantu mereka mewujudkan cita-citanya yang tinggi. He’s my great teacher, my beloved father, and my best partner. Ia lahir di Yogyakarta, enam puluh tahun yang lalu, atau tujuh tahun setelah proklamasi kemerdekaan. Ia lahir dan besar di tengah-tengah keluarga yang sangat sederhana, menjadi anak yatim sejak belia. Ia merupakan anak tertua dari tiga bersaudara. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai petani, “Kerjo neng alas” kata orang sana. Sepetak sawah yang tidak luas menjadi mata pencaharian utama kedua orang tuanya. Diceritakan, jika mereka mempunyai rejeki lebih, mereka membeli ternak untuk dipelihara. Seandainya suatu saat kebutuhan hidup sehari-hari tidak tercukupi (karena musim paceklik misalnya, red) maka ternak-ternak itulah yang menjadi sumber penghasilannya. Ternak adalah investasi yang paling berharga dan paling mudah diliquidasi waktu itu. Cita-citanya sederhana, “menjadi seorang guru”. Puluhan kilo meter harus ia tempuh setiap harinya demi mengejar impiannya itu. Ia pernah bercerita bahwa bekerja keras adalah keharusan agar ia tidak putus sekolah. Bisa dimaklumi karena tulang punggung utama keluarga (i.e ayahnya) sudah lama tiada. Tidak ada namanya sepeda onthel atau sepeda motor, yang ada hanyalah berjalan kaki!. Pengorbanannya tidak sia-sia, Allah Subhaanahu wa Ta’ala menjawab dan mengabulkan doanya. Setelah lulus dari SPG (Sekolah Pendidikan Guru, setingkat SMA, red) ia diterima sebagai guru (PNS). Waktu itu melamar sebagai PNS tidak sesulit dan serumit masa sekarang. Ia ditempatkan di sebuah daerah yang berjarak ratusan kilo meter dari tempat kelahirannya.


Setelah berkarir beberapa tahun lamanya, berbekal keseriusan dan itikad baik untuk membangun sebuah keluarga yang samara, ia memberanikan diri melamar seorang gadis cantik (versi ayah kami). Pinangannya “tak bertepuk sebelah tangan” alias diterima. Kemudian mereka menikah. Dengan tabungan seadanya mereka memilih hidup mandiri, menempati rumah sederhana yang agak jauh dari kedua orang tuanya. Jangan dibayangkan kalau rumah-rumah di pedesaan waktu itu bertembok dan beralaskan keramik, yang ada hanyalah bilik-bilik bambu dan lantai tanah. Tak lama berselang, anak pertama mereka lahir (seorang perempuan, red), disusul anak kedua tiga tahun kemudian (anak laki-laki, red).


Alhamdulillah, itulah kalimat yang paling pantas saya ucapkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Azza wa Jalla. “Segala puji bagi Allah”;

 ( الْحَمْدُ لِلَّهِ ) [هو] الثناء على الله بصفات الكمال, وبأفعاله الدائرة بين الفضل والعدل, فله الحمد الكامل, بجميع الوجوه

“Adalah pujian kepada Allah dengan sifat kesempurnaan dan dengan perbuatan-perbuatanNya yang berkisar di antara kemuliaan dan keadilan, bagiNya pujian yang sempurna dalam segala bentuknya.” Demikian penjelasan al-‘Allamah ‘Abd ar-Rahman bin Nasheer as-Sa’dee –raheemahullaahu- dalam tafsirnya[1].


Dan Dia -Azza wa Jalla- adalah Rabb yang memelihara keluarga kami, menjaga keluarga kami, memberikan rejeki dan hidayah kepada keluarga kami.

هي خلقه للمخلوقين, ورزقهم, وهدايتهم لما فيه مصالحهم, التي فيها بقاؤهم في الدني

“Dia menciptakan makhluk, memberi rizki kepada mereka, memberi hidayah mereka kepada hal-hal yang berguna bagi mereka yang merupakan sarana terpenting bagi mereka dalam mempertahankan hidup di dunia.”[2]


Allah Ta’ala mentakdirkan saya lahir dan besar di tengah-tengah mereka, bisa melihat, dan merasakan perjuangan mereka dari bawah. Itulah salah satu nikmat (dunia) terbesar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada saya yang dhaif ini. Sekedar mengenang moment-moment “indah waktu kecil bersama keduanya; saya ingat ketika Allah Ta’ala mengirimkan musibah (banjir) di pertengahan malam kepada kami (waktu itu saya berusia sekitar 6-7 tahun, red), arus air yang sangat deras (setinggi pinggang orang dewasa) hampir saja merobohkan dan menghanyutkan gubuk kami. Seluruh perabotan terapung-apung, lantai rumah yang terbuat dari tanah itu tergerus habis dan hampir rata. Allah menyelamatkan kami dari bencana tersebut. Demikianlah, selalu ada hikmah dibalik musibah, keluarga kami cepat berbenah, membangun kembali rumah permanen (yang jauh lebih kokoh) yang bertahan hingga hari ini. Saya mengalami masa dimana aliran listrik belum menjangkau desa kami. Satu-satunya penerangan yang paling terang waktu itu adalah lampu petromak. Itu pun hanya dinyalakan dari pukul 18.00 – 21.00, demi mengakomodasi waktu belajar kami. Jika di waktu shubuh kami dibangunkan (oleh salah satu dari keduanya) untuk belajar, lampu tempel-lah yang setia menerangi. Satu-satunya moda transportasi yang ayah miliki waktu itu adalah sepeda tua nan kokoh. Kendaraan inilah yang selalu setia mengantar kami berempat kemana pun kami pergi. Qadarullah, “harta” berharga kami satu-satunya itu hilang dicuri orang, namun beberapa tahun kemudian Allah Ta’ala menggantinya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Hiburan mingguan (baca: weekend) yang paling menarik hanyalah berkunjung/ bersilaturahmi ke tempat para kerabat atau ke rumah guru-guru lain seprofesinya. Keluar kota?, bisa dihitung dengan jari. Ayah selalu mengunjungi rumah-rumah mereka yang terdapat anak kecil seusia kami agar kami tidak bosan. Hampir setiap minggu selalu begitu, entah itu dengan bersepeda maupun berjalan kaki. Berangkat ba’da maghrib dan pulang sebelum tengah malam. Ayah kami dikenal sebagai sosok yang disiplin di sekolah, tidak pernah pilih kasih, tidak pernah membeda-bedakan termasuk kepada anaknya sendiri. Pernah suatu ketika ia mengajar mata pelajaran favoritnya (i.e matematika) di kelas; adalah saya, objek yang paling banyak dikritik olehnya (di hadapan teman-teman). Porsi bermain yang lebih banyak daripada belajar, menjadi alasan teguran keras waktu itu. Well, baginya, semua anak didiknya itu sama. Jika mereka rajin ia puji, jika mereka malas ia tegur. Demikian salah satu uslub yang ia terapkan dalam mendidik. Ia lakukan secara turun-temurun kepada murid-muridnya, dari generasi ke generasi.


Seandainya tolok ukur keberhasilan adalah kekayaan, niscaya hanya ada sedikit orang-orang yang dianggap berhasil di dunia ini. Ayah kami bukanlah orang yang kaya harta (hingga hari ini, red), tapi bagi kami ia adalah seorang panutan yang berhasil. Pengabdiannya yang sangat panjang dalam mengentaskan kebodohan di pedesaan layak diapresiasi. Ia membantu mencerdaskan anak-anak desa nan lugu, mengajarinya budi pekerti luhur dan membuka wawasan baru tentang kehidupan. Sosok yang bertanggungjawab, mencintai istri dan kedua anaknya. Bagi kami itu sudah lebih dari cukup, wallaahi.


Kini usianya tidak muda lagi, sebagian besar nama dan wajah anak didiknya terdahulu tidak bisa ia ingat kembali. Ada cerita yang menarik, Iedul Fithri yang lalu ada seorang pemuda dan keluarganya (ia adalah seorang enterpreneur, red) yang datang berkunjung ke rumah kami, ia bercerita bahwa sejak puluhan tahun yang lalu ia tidak pernah menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya itu. Setelah mengunjungi sisa-sisa kerabatnya di desa, ia sempatkan diri untuk singgah ke rumah kami. Ia bertanya kepada ayah kami waktu itu, “Apakah bapak masih ingat saya?. Saya dahulu yang demikian dan demikian itu Pak.” Ayah kami hanya tersenyum dan berkata, “Yang mana ya, maaf, saya sudah lupa.”


Ada satu prinsip hidup yang menjadi pegangan ayah kami dalam memimpin keluarganya (selama puluhan tahun itu), sebuah pepatah Jawa;



“Ngudi Kratoning Narimo Nggayuh Swargo Tentrem”. Intinya adalah; Jalani hidup apa adanya, terima dan syukuri apapun dan berapapun rizki yang Allah Subhaanahu wa Ta’ala berikan, merasa cukup (qana’ah) terhadapnya, tidak putus asa terhadap rahmatNya, dan bertawakal kepadaNya, sehingga beban hidup yang terasa berat akan menjadi lebih ringan untuk dihadapi dan (hati) akan terasa lebih tentram. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala;

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS: ath-Thalaq: 3)

(وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ) أي: في أمر دينه ودنياه، بأن يعتمد على الله في جلب ما ينفعه ودفع ما يضره، ويثق به في تسهيل ذلك (فَهُوَ حَسْبُهُ) أي: كافيه الأمر الذي توكل عليه به، وإذا كان الأمر في كفالة الغني القوي [العزيز] الرحيم، فهو أقرب إلى العبد من كل شيء

‘Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah,’ dalam urusan agama dan dunianya dengan bergantung sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dengan maksud untuk mendapatkan apa-apa yang bermanfaat dan menghindari apa-apa yang mudharat serta percaya sepenuhnya kepada Allah Ta’ala bahwa ia akan diberi kemudahan, ‘niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.’ Maksudnya, Allah Ta’ala akan mencukupi keperluan yang disandarkannya kepada Allah Ta’ala. Dan ketika suatu urusan berada dalam tanggungan Yang Mahakaya, Makakuat, Mahaperkasa lagi Mahapenyayang, maka Dia paling dekat dengan hambaNya melebihi segala sesuatu.” Demikian penjelasan al-‘Allamah ‘Abd ar-Rahman bin Nasheer as-Sa’dee –raheemahullaahu- dalam tafsirnya.[3]


Baginya, melihat anak-anaknya sukses, berakhlak luhur, lebih baik daripada mengisi perabotan rumahnya dengan barang-barang mewah tak berguna. Mesin jahit, lampu petromak, lampu tempel, dan tumpukan buku-buku pelajaran sekolah dari kurikulum ke kurikulum, dari generasi ke generasi itu merupakan “saksi bisu” perjuangannya. Mudah-mudahan Allah Azza wa Jall menjaganya (guru kami, ayah kami), memanjangkan umurnya, memperbaiki agama dan amal shalihnya, menjadikan sisa hidupnya bermanfaat bagi dirinya, keluarga, kerabat dan tetangga-tetangganya, amieen.


From your son and those who love and respect you.....


______________
[1]. Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 1, juz. 1, tafsir QS. al-Fatihah: 1
[2]. Idem
[3]. Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 7, juz. 28, tafsir QS. ath-Thalaq: 3
[Baca Selengkapnya...]


Ekstrimisme!



Dari sejak zaman kuliah hingga hari ini, saya masih sering mendengar kata “ekstrim”, “ekstrimis” atau kata lain yang semisal (dengan kata itu) disematkan kepada orang-orang tertentu yang (bisa jadi) tidak layak menyandang predikat itu secara syar’i sebagai bahan olok-olokan atau cap/stempel buruk. Bahkan jauh-jauh hari ketika saya masih menimba ilmu di sekolah menengah dahulu (di Daerah Istimewa Yogyakarta), kata-kata itu pun sering terdengar berulang kali dari lisan seorang Ibu yang hendak memperingatkan saya dari bahayanya bergaul dengan salah seorang senior sekolah saya waktu itu. Beliau berkata, “Mas, hati-hati yo, jangan dekat-dekat apalagi bergaul dengan si Fulan, dia seorang ekstrimis!. Khawatirnya sampeyan nanti berubah.” Bahkan (konon) saking ekstrimnya si Fulan ini, ia pernah membuat marah beberapa aktivis Nashara (di sekolah kami) hingga harus dihadang oleh sejumlah aktivis dari kalangan mereka di jalan dekat sebuah Gereja yang tidak jauh dari sekolah kami, diancam oleh mereka agar tidak lagi berulah, bahkan sampai perlu dihadiahi bogem mentah di wajahnya sebagai pelajaran. Seberapa “ekstrim”-kah dia sampai harus menyandang label “ekstrimis”?. Yang jelas, dia adalah seorang aktivis sekolah laiknya siswa sekolah pada umumnya, anggota sekaligus wakil ketua organisasi keagamaan di sekolah kami. Namun tidak masuk akal rasanya jika karena (alasan) itu orang-orang (baik di lingkup sekolah maupun di luar sekolah) mencapnya sebagai seorang ekstrimis. Mengapa? Karena tidak ada seorang pun selain dirinya di dalam organisasi (sekolah) tersebut yang mendapatkan label yang sama (termasuk penulis yang waktu itu hanya duduk sebagai pelengkap di organisasi, red). Ia memang terkenal cukup vokal, berani menerapkan prinsip al-wala’ wa al-bara fil Islam di lingkungan sekolah dan bersungguh-sungguh dalam berittiba’ terhadap sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama. Ibu itu pernah mengatakan bahwa label ekstreem terhadap si Fulan muncul karena dia memiliki tabiat atau pemahaman yang berbeda dengan keumuman anak-anak di sekolah dalam berislam. Ketika anak-anak lainnya berisbal ria misalnya (memanjangkan pakaiannya di bawah mata kaki, red), dia justru berbuat sebaliknya, dan hal itu menurutnya merupakan perbuatan yang aneh, tidak lazim dan menyimpang. Ibu itu menjadikan “keumuman” amalan yang lestari dan berkembang di masyarakat sebagai tolok ukur kebenaran sehingga tatkala ia menemukan sesuatu yang berbeda (pada amalan seseorang yang tidak sejalan dengan perbuatan manusia pada umumnya), label “ekstreem” pun lantas disematkan padanya tanpa melihat sedikit pun hujjah yang dijadikan dasar amalan oleh orang tersebut. Padahal jika mau bersikap ilmiah, si Fulan sejatinya sedang mengamalkan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama berikut;

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ قَالَ :" ثَلَاثَةٌ لا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلا يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلٍيْمٌ",قَالَ :فَقَرَأَهَا رَسُوْلُ اللهِ ثَلاثَ مِرَارٍ .قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ :"خَابُوا وَ خَسِرُوْا. مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ :"المُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلْفِ الْكَاذِبِ"

Dari Abu Dzar dari Nabi, beliau bersabda: “Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat dan tidak dilihat dan tidak (juga) disucikan dan bagi mereka adzab yang pedih.” Abu Dzar menceritakan, “Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali.”, “Sungguh merugi mereka, siapakah mereka wahai Rasulullah?”, tanya Abu Dzar. Nabi menjawab: “Orang yang isbal (menurunkan pakaiannya di bawah mata kaki, red), orang yang mengungkit-ngungkit sedekahnya dan penjual yang bersumpah palsu.” (HR. Muslim No. 106)

Apakah layak si Fulan dicap sebagai ekstrimis lantaran kedalaman ilmunya (saat itu) (compared to teman-teman sebayanya) dalam memahami sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama?. Ia memandang bahwa meninggikan pakaian diatas mata kaki adalah sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama yang harus diamalkan karena ia khawatir dengan ancaman Allah Ta’ala atasnya.

Ada cerita lain terkait riwayat hidup si Fulan. Suatu ketika libur kenaikan kelas telah tiba. Di saat-saat seperti itu biasanya pihak sekolah mengadakan study tour ke Bali (i.e untuk anak kelas 2 yang naik ke kelas 3, red). Sebagai anak kelas 3 yang baru naik, si Fulan seharusnya ikut tour ke Bali sebagaimana teman-teman seangkatannya. Namun pada akhirnya ia lebih memilih menyalahi “jumhur” dan menerima ajakan saya (yang saat itu masuk ke tingkat 2, red) untuk ikut pulang kampung ke kota kelahiran saya di Cilacap. Ketika saya tanya, “Mengapa anda tidak ikut study tour ke Bali?.”, Ia justru bertanya balik, “Apa manfaat terbesar dari acara study tour tersebut?.” Saya menjawab sekenanya, “Refreshing. Konon pantai disana sangat indah i.e Kuta dan Sanur, tidakkah hal itu membuat anda tertarik?.” Ia menjawab, “Saya sering sekali berkunjung ke pantai Glagah (i.e pantai di sekitar tempat tinggalnya di Yogyakarta, red). Saya kira tidak ada bedanya antara pantai-pantai di Bali dengan pantai-pantai di Yogyakarta. Justru akan lebih bermanfaat jika saya pergi bersama anda karena saya bisa menyambung tali silaturahmi dengan anda dan keluarga anda. Bukankah demikian?.” Itulah jawaban anak kelas 2 yang baru naik ke kelas 3 itu. Apakah karena sikapnya yang berbeda dengan keumuman teman-temannya ini menjadikan dia layak menyandang label ekstrimis?, padahal dia ingin mengamalkan hadits berikut; Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama, beliau bersabda;

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. at-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976. al-‘Allamah al-Albani mengatakan bahwa hadits ini; shahih)

Berkata al-Imam al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali –raheemahullaahu-; “Hadits ini mengandung makna bahwa di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baik berupa perkataan atau perbuatan.” (Jaami’ul ‘Ulum wa al-Hikam, 1/ 288)

Dan si Fulan memandang bahwa liburan ke Bali tidak lebih bermanfaat baginya dibandingkan dengan menyambung tali silaturahmi dengan keluarga saya di kampung halaman. Selama liburan di rumah kami, setiap pagi sebelum adzan shubuh berkumandang, ia sudah terbangun dari tidurnya. Di pagi hari dia duduk santai di teras rumah kami, menyibukkan diri dengan aktivitas membaca. Ketika saya tanya, “Apa yang sedang anda baca?.”, Ia menjawab, “Sebuah buku.”, Saya mohon ijin meminjamnya kemudian saya buka halaman demi halamannya secara acak. Ternyata sebuah kitab kuning dengan rangkaian huruf arab gundulnya itu. Saya tanya ke dia, “Apakah anda bisa membacanya?.”, dia menjawab sembari tersenyum, “InsyaAllah bisa.” Subhanallah, itulah aktivitas yang biasa dia lakukan untuk mengisi waktu-waktu senggangnya, bercengkrama dengan buku, mengambil faidah ilmu dari kitab-kitab gundul para ulama. Aktivitas yang sangat tidak lazim bagi keumuman teman-teman sebayanya waktu itu. Kemampuan dan kefasihan anak kelas 2 yang baru saja naik ke kelas 3 dalam membaca kitab-kitab klasik “kelas berat” itu melebihi keumuman anak-anak sebayanya, padahal dia tidak pernah duduk, bertalaqqi secara khusus di pesantren!, bahkan saya yakin tidak ada satu pun anak sebayanya di sekolah kami yang mampu berbahasa arab secara fasih seperti dirinya waktu itu!. Apakah aktivitas kesehariannya yang “tidak umum” itu, yang tidak sejalan dengan kebiasaan teman-teman sebayanya waktu itu (i.e yang sebagian besar dari mereka lebih suka memanfaatkan waktu libur dan senggangnya untuk berkhalwat dengan pasangannya, bersenang-senang dlsb, red) menjadikannya layak menyandang predikat ekstreemis?. Padahal dia hanya ingin berittiba’ dengan hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama berikut; Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallama bahwasannya beliau berkata kepada seorang laki-laki untuk menasihatinya :

إِغْتَنِمْ خَمْساًَ قًبْلَ خَمْسٍِ : حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ

“Manfaatkanlah lima (perkara) sebelum (datangnya) lima (perkara yang lain): Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh al-‘Allamah al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’ no. 1077)

Dengan berbekal otak brilian yang ia miliki sebenarnya ia sangat mampu menekuni bidang-bidang keilmuan favorit anak-anak SMA waktu itu seperti ilmu teknik maupun ilmu kedokteran, namun entah mengapa ia lebih tertarik mendalami sastra arab (dan memang qadarullah pada akhirnya ia diterima dan belajar di jurusan sastra arab UGM setahun kemudian, red). Ketika saya tanya mengapa ia lebih memilih jurusan tersebut, ia hanya menjawab, “InsyaAllah ilmu ini akan lebih bermanfaat bagi agama dan dunia saya kelak.” Itulah sosok si Fulan, anak yang selalu dicap “ekstrimis” dan dibenci oleh sebagian orang-orang di sekelilingnya karena “keestrimannya” selama 3 tahun di sekolah.


Apa sih makna “ekstrim” sebenarnya?. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna ekstrem secara bahasa ada dua yakni;

1). Paling ujung (paling tinggi, paling keras, dsb); (adjektiva)
2). Sangat keras dan teguh; fanatik; (adjektiva)
Contoh: Mereka termasuk golongan ~ dl pendirian mereka.

Kata ekstreem ini sudah terlanjur identik dengan perilaku buruk dan berlebihan dari seseorang, padahal secara makna literal, kata ini sangat mungkin melekat pada perilaku yang baik. Misal; si Fulan adalah orang yang paling ekstreem dalam berittiba’ kepada sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama di sekolahnya. Artinya si Fulan sangat teguh dalam berpegang kepada ucapan dan perbuatan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama dalam aktivitas kesehariannya. Bukankah ini perkara yang baik?. Namun (hari ini) ketika ada seseorang yang berkata, “Si Fulan orangnya ekstreem.”, biasanya identik dengan konotasi buruk terhadap pribadi orang yang dibicarakannya. Disadari maupun tidak, dunia ini memang sudah terbalik-balik, sesuatu yang bathil dikatakan haq, yang syirik dikatakan tauhid, yang bid’ah dikatakan sunnah, yang khurafat dan tahayul dikatakan karamah, yang dhaif dikatakan shahih, yang jahil dikatakan pinter dlsb. Jadi jangan heran jika suatu saat ada wanita setengah telanjang berjalan di muka bumi, akan dijumpai orang-orang di sekitarnya yang berkomentar “anggun, berpakaian rapi, modern, stylish, beradab” dst adapun jika yang berjalan adalah seorang wanita yang berpakaian tertutup, longgar, tidak mencolok, maka dikatakan sebagai seorang wanita yang “ekstreem, tidak lazim, jumud, ekslusif, layak hidup di zaman batu” dst. Memang kelak apa yang datang dari sisi Allah Ta’ala dan rasulNya akan dirasa asing bagi manusia, dianggap aneh dan tidak lazim. Hal ini sebagaimana sabda beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallama;

“Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan kelak akan kembali asing sebagaimana (keadaan) semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing itu (al-Ghuroba’).” (Shahih, HR. Muslim)

“Berbahagialah orang-orang yang asing (al-Ghuroba’). (Mereka adalah) orang-orang shalih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad)

Jadi,..... seandainya hari ini ada orang-orang yang ingin berpegang kepada sunnah Nabinya Shallallaahu ‘alaihi wa sallama dan mau mengamalkannya lantas orang-orang di sekitarnya mengatakan, “Anda seorang ekstreemis”, maka jika demikian keadaannya, ketahuilah bahwa saya pun rela dicap sebagai ekstreemis... Wallaahu Ta’ala a’lamu,.....
[Baca Selengkapnya...]


Team Hoyt, An Inspirational Story Of A Father




Ada sebuah kisah inspiratif yang datang dari seorang ayah bernama Dick Hoyt, pensiunan “The Air National Guard” of USA dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel yang begitu gigih dan sabar dalam mendidik dan membesarkan anak tertuanya, Rick Hoyt (lahir pada tahun 1962. Kurang lebih seumuran dengan Ibu saya, red) yang ditakdirkan cacat permanen karena mengalami defisit Oxygen pada otaknya (Kelainan ini dikenal dalam dunia kodekteran dengan istilah “Spastic Quadriplegic with Cerebral Palsy” atau kelumpuhan otak –CMIIW-, red). Akibatnya Rick tidak bisa berjalan, dan karenanya pula ia tidak bisa berbicara. Dick Hoyt adalah seorang “family man” sebagaimana penuturannya dalam buku “Devoted: The Story of a Father’s Love for His Son – Dick Hoyt” pg. 2, Ia berkata, “I just worked for the National Guard and tried to spend as much time with my family as possible”. Artinya, tidak hanya sekedar “Quality time” saja yang diprioritaskan olehnya (sebagaimana umumnya orang-orang “super sibuk” masa kini, red), tetapi juga “Quantity time” sehingga ia bisa –sesering mungkin- berinteraksi, berdiskusi, mengawasi dan mengedukasi putra tercintanya tersebut.



Apa saja yang dilakukan Dick untuk putranya?
Sebagaimana orang tua pada umumnya, Dick dan istrinya Juddy tidak pernah lupa memperhatikan hak putranya untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan layak. Mereka memperkenalkan beberapa olahraga kebugaran kepada Rick seperti berenang dan beselancar, tak lupa pula mengajarkan huruf-huruf dan angka-angka sebagaimana kebiasaan para orang tua pada umumnya. Hal ini dilakukan Dick dan Juddy untuk menggali informasi lebih dalam mengenai bakat (kemampuan) dan tingkat intelegensia Rick yang bisa dikembangkan di masa depan. Pada website www.teamhoyt.com dijelaskan, “Dick and Judy would take Rick sledding and swimming, and even taught him the alphabet and basic words, like any other child. After providing concrete evidence of Rick's intellect and ability to learn like everyone else, Dick and Judy needed to find a way to help Rick communicate for himself.” Akhirnya pada tahun 1972, bermodalkan uang USD 5.000 dan kreasi para insinyur (engineer) dari Tufts University, dibuatlah sebuah komputer interaktif khusus untuk Rick sebagai alat bantu (penunjang) komunikasi Rick sehari-hari. Sungguh (alat) ini merupakan wujud rasa cinta Dick dan Juddy terhadap putranya yang terlahir cacat tersebut,… tak diragukan lagi.


Ada satu moment dimana Dick dan Juddy pada akhirnya sadar/ mengetahui bahwa putranya Rick menyukai olahraga. Melalui computer yang melekat pada anggota tubuhnya, Rick berkata, “Go Bruins!”. Apa maksudnya? Sekedar info saja bahwa Boston Bruins adalah sebuah team “Ice Hockey” professional yang berasal dari Boston, Massachusetts, USA dan Rick merupakan salah satu penggemarnya. Pada saat Rick mengucapkan kalimat tersebut, ia sedang menonton pertandingan final “Ice Hockey” yang melibatkan team kesayangannya itu. Hal ini diceritakan dalam www.teamhoyt.com, “….The Boston Bruins were in the Stanley Cup finals that season.” Kemudian Dick berkata (terkait ucapan Rick tersebut, red), “It was clear from that moment on, that Rick loved sports and followed the game just like anyone else.”


Kehebatan seorang anak (memang) tidak pernah lepas dari peran dan dukungan orang tuanya. It must be noted!. Seorang Rick Hoyt yang menderita kelumpuhan otak permanen itu pada akhirnya mampu menyandang gelar Sarjana Pendidikan Khusus pada tahun 1993 dari Boston University, salah satu universitas ternama yang terletak di Boston, Massachusetts, USA. Alur perjalanan intelektualnya diceritakan dalam www.teamhoyt.com sebagai berikut, “In 1975, at the age of 13, Rick was finally admitted into public school. After high school, Rick attended Boston University, and he graduated with a degree in Special Education in 1993.”


Dick Hoyt begitu mencintai putranya hingga ketika Rick muda mengungkapkan keinginannya untuk berpartisipasi dalam lomba lari “5-Mile Benefit Run” (tahun 1977) yang disiapkan khusus bagi para penyandang cacat itu, ia pun mengiyakannya. Dick sepakat untuk berlari, mendorong Rick melalui kursi rodanya hingga menyentuh garis finish. Pada malam hari (setelah lomba berakhir), Rick berkata pada ayahnya, “Dad, when I’m running, it feels like I’m not handicapped.” Luar biasa!, Rick sadar bahwa ia tidak bisa berlari, tapi semangat dan optimismenya (pada akhirnya) mampu membuat dirinya “berlari”. Apa yang dilakukan Dick dan putranya (Rick) diatas hanyalah permulaan saja. Karena dalam www.teamhoyt.com diceritakan, “This realization was just the beginning of what would become over 1,000 races completed, including marathons, duathlons and triathlons (6 of them being Ironman competitions). Also adding to their list of achievements, Dick and Rick biked and ran across the U.S. in 1992, completing a full 3,735 miles in 45 days. In a triathlon, Dick will pull Rick in a boat with a bungee cord attached to a vest around his waist and to the front of the boat for the swimming stage. For the biking stage, Rick will ride a special two-seater bicycle, and then Dick will push Rick in his custom made running chair (for the running stage).”




Ketika seorang ayah/ ibu mencintai anak-anaknya dengan tulus, mengajarkan kebaikan serta menanamkan optimisme kepada anak-anaknya dengan cara yang baik/ benar, anak-anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang lurus (insyaAllah). Sang anak akan selalu mengingat kebaikan-kebaikan kedua ibu bapaknya dan berbuat baik kepada keduanya. Dalam kisah Rick Hoyt ini, ada satu hal yang menarik dan (sejujurnya) membuat saya terharu. Dalam literature yang saya baca (www.teamhoyt.com) disebutkan, “Rick was once asked, if he could give his father one thing, what would it be? Rick responded, “The thing I’d most like is for my dad to sit in the chair and I would push him for once.”” Sepertinya harapan Rick diatas sederhana, hanya sekedar meminta ayahnya duduk di wheelchair kemudian ia akan berlari mendorongnya. Namun ada makna tersirat yang bisa kita pahami dari ucapan Rick tersebut i.e Ia sangat ingin membalas kebaikan ayahnya yang tidak pernah mengeluh merawatnya, yang rela mendorongnya bermil-mil hanya untuk mewujudkan impiannya. Jika ia mampu berlari, itulah yang pertama kali akan ia lakukan untuk ayahnya tercinta sebagai bentuk rasa baktinya. Amazing!.


Dick memang seorang ayah yang baik. “Ketidakmampuan” anaknya dalam melakukan aktivitas normal (laiknya orang dewasa pada umumnya) tidak lantas membuatnya bersikap diskriminatif. Bahkan baginya, Rick adalah sumber inspirasi. Let’s check his statement out, Dick Hoyt said as follows (dalam bukunya: “Devoted: The Story of a Father’s Love for His Son – Dick Hoyt” pg. 7);





Di sebuah video (Klik disini) terrecord perjalanan/ summary hidup mereka berdua sebagai berikut;

A Father, A son
Dick Hoyt, Rick Hoyt
Because of tragedy at birth, Rick can’t walk or talk
Because of tragedy at birth, Dick can’t play catch with his son
Because of together, they’re an inspiration to people around the world
Dick and his wife Judy wanted a normal life for their son
Together they put Rick in public school
Rick learned to write his thoughts using a special computer
When Rick was 15, he communicated to his dad that he wanted to participate in a five-mile benefit run
Dick was not a runner, but agreed to push Rick in his wheelchair
For the first time in his life, Rick didn’t feel handicapped
So together they run
Together they compete in marathons
Together they compete in triathlons
Together they trekked 3.770 miles across America
Rick couldn’t compete without his dad
Dick wouldn’t compete without his son
Dick is body, Rick is the heart
Together has power, don’t run alone



Sebagai penutup, saya akan mengutip trademark moto yang dijadikan prinsip hidup oleh, Dick Hoyt yang kemudian ditularkan kepada putra tercintanya Rick Hoyt yang terlahir cacat itu; “YES YOU CAN!”. Jika seorang Rick yang terlahir lumpuh dan Allah takdirkan tidak mampu berbicara secara verbal saja (terlepas dari dia adalah seorang non-muslim, red) mampu berbuat banyak dalam hidupnya, tidak mau berdiam diri sekalipun kondisi fisiknya lemah dan (bahkan) mampu menjadi sumber inspirasi banyak orang di dunia, lantas mengapa kita (sebagai seorang muslim) yang “sempurna” fisik dan akalnya ini lebih banyak berkeluh kesah dengan segala kenikmatan yang sudah Allah Ta’ala lebihkan dan tidak berusaha memaksimalkan kelebihan tersebut sebagaimana seorang Rick?. Hopefully, kita bisa mencontoh “semangat” seorang Rick Hoyt dalam menjalani hidup di tengah-tengah keterbatasan fisik dan akal yang ada pada dirinya. Lihatlah kepada orang-orang seperti dirinya, niscaya kita akan menjadi pribadi yang banyak bersyukur. Wallaahu Ta’ala a’lamu,….


_________


Referensi

2). Devoted: The Story of a Father’s Love for His Son – Dick Hoyt
[Baca Selengkapnya...]


Menjaga Lisan Dari Mengolok-olok Sunnah Rasul



Minggu lalu, tepatnya tanggal 4-5 April 2012, rombongan karyawan dari Jabotabek-Jabar (Area II) melakukan kunjungan ke Area I Sumatera dalam rangka “Benchmarking” ke salah satu Regional yang (konon) dianggap berhasil mengimplementasikan konsep CDMP (i.e Coverage, Distribution, Merchandising and Promotion) dengan baik. Jika ditilik dari rundown acaranya, kunjungan tersebut memang murni berkaitan dengan benchmarking CDMP dan sharing ilmu mengenai tools yang diklaim mampu mempermudah decision maker melakukan controlling dan optimalisasi konsep CDMP di Regional tersebut, tidak ada kaitannya dengan performansi Regional kami maupun Regional yang bersangkutan (karena semuanya bertumbuh, red). Hari pertama para leader di Regional tersebut (selevel Spv dan Mgr) menyampaikan highlight CDMP dan implementasi tools GIS berbasis web yang digunakan untuk memonitor performansi sales dan network secara real time dan membantu user melakukan pengambilan keputusan secara akurat (dengan mempertimbangkan faktor spasial, red) dan tepat sasaran. Seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Tidak ada leader tertinggi (selevel GM, kecuali dari Regional kami) yang berada di ruangan itu. Pun demikian, tidak ada sesuatu yang membuat suasana “kebatinan” di hari itu terasa aneh.


Baru di hari kedua, ketika leader Regional yang bersangkutan melakukan presentasi, ada sesuatu yang mengusik hati saya, dan mungkin pula (suasana hati) sebagian peserta yang berada di ruangan itu. Keprihatinan saya diawali ketika ia mengatakan (di awal presentasinya) bahwa keberhasilannya mempimpin salah satu Regional SCS di Sumatera tersebut disebabkan karena dirinya mampu mereformasi paradigma atau pola pikir “jumud” yang masih dipegang sebagian besar karyawan-karyawannya. Kemudian ia bercerita panjang lebar mengenai kondisi psikologis beberapa leadernya (sebelum ia datang) yang stress karena memikirkan target-target perusahaan, masalah tidak kondusifnya lingkungan pekerjaan hingga tidak harmonisnya hubungan personal antar karyawan yang berdampak pada penurunan performansi dirinya, sampai urusan rumah tangganya dll. Oke lah, untuk yang satu ini, no problemo. Namun ternyata tidak cukup sampai di situ saja, ia kemudian menceritakan sesuatu yang (sebenarnya) tidak ada urgensinya dan kaitannya langsung dengan pekerjaan, yakni bahwasanya kejumudan itu disebabkan oleh kedangkalan pola pikir orang-orang yang berjenggot di Regional tersebut, atau orang-orang bercelana ngatung (tidak isbal, red) yang mengatakan ini dan itu, seolah-olah hanya mereka saja yang berhak masuk Surga dll. “Jika demikian, enak banget yah Fidel Castro, ia kan berjenggot lebat, berarti bisa masuk Surga dong!”, katanya. Sungguh analogi yang bathil. Herannya, pernyataannya itu justru membuat dirinya dan sebagian orang-orang yang berada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak. Sepertinya puas sekali bisa mentertawakan orang-orang yang berjenggot dan bercelana ngatung di Regional tersebut. Is it a joke?. Apa kaitannya jenggot dengan performansi perusahaan kita ya Pak?. Pola pikir mana (dari orang-orang yang berjenggot itu) yang menghambat kemajuan perusahaan kita ya Pak?. Masalah baik tidaknya performansi perusahaan koq anda kaitkan dengan urusan Surga dan Neraka ya Pak?. Apakah anda memiliki permasalahan pribadi dengan mereka?. Tidak puas hanya sekali, pernyataan itu pun ia ulang berkali-kali pada kesempatan yang berbeda. Saya pribadi merasa tidak punya urusan atau kepentingan dengan mereka. Biarlah masalah itu menjadi urusan dapur mereka sendiri. Yang sangat saya sayangkan adalah bahwasanya ucapan tersebut keluar dari lisan seorang leader yang seharusnya bertutur kata bijak, yang sepantasnya mengayomi para bawahannya, yang seharusnya paling mampu menuntut dirinya untuk berpikir terlebih dahulu sebelum berucap. Jika ia tidak suka dengan sebagian bawahannya, ya tinggal kritik saja perilakunya, bukan malah melecehkan jenggotnya atau celana ngatungnya, atau membuat-buat guyonan dengannya. Selama dua hari saya perhatikan, setiap kali shalat berjamaah di waktu dhuhur dan ‘Ashr didirikan, orang tersebut tidak pernah muncul batang hidungnya. Justru orang-orang yang ia lecehkan penampilan fisiknya itulah yang selalu ada di shaf terdepan. Sungguh ironis,.. Wallaahu Ta’ala a’lamu.


Bagi sebagian orang, pernyataan seperti itu barangkali dianggap sepele. “Gak usah diambil hati lah, namanya juga guyonan”. Namun adakah sesuatu yang “sepele” jika berkaitan dengan syariat?. Apakah diperkenankan syariat ini dijadikan bahan lelucon?. Ini bukan masalah diambil hati atau tidak, tapi masalahnya jauh lebih besar dari itu mas bro. Allah Ta’ala berfirman;

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66)


Azbabun nuzul (sebab diturunkannya) ayat diatas adalah: Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qotadah, hadits dengan rangkuman sebagai berikut. Disebutkan bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, “Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini (yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama dan para sahabatnya), kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh.”

(Mendengar hal ini), ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang tersebut, “Engkau dusta, kamu ini munafik. Aku akan melaporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama.”

Maka ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama. Namun sebelum ‘Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallama (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersenda gurau dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama sebagai bahan candaan itu mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallama yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang tadi berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama, kami tadi hanyalah bersenda gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!”

Ibnu Umar (salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama yang berada di dalam rombongan) bercerita, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, “Kami tadi hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah Ta’ala):

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66).

Beliau mengucapkan itu tanpa menoleh orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu.” (HR. Ibnu Jarir Ath Thobariy dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar dan asy-Syaikh Muqbil bin Hadi dalam Ash-Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul mengatakan bahwa sanad Ibnu Abi Hatim hasan)


Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama masih hidup saja masih ada orang-orang munafik yang berani mengolok-olok beliau dan para shahabatnya, apatah lagi di zaman ini dimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallama dan para shahabatnya sudah wafat dan hanya tersisa di hadapan kita sunnah-sunnahnya saja, tentu orang-orang bodoh dan berpenyakit hatinya lebih berani lagi!. Kalau dahulu orang-orang munafik mengolok-olok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama di belakang beliau, di zaman ini orang-orang yang berpenyakit hatinya itu mengolok-olok dan bersenda gurau dengan sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallama, dan itu tidak ada bedanya! (i.e antara mengolok-olok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama dan mengolok-olok sunnahnya, karena mengolok-olok sunnah beliau sama saja dengan mengolok-olok beliau shallallahu ‘alaihi wa sallama, red).


Berkata al-‘Allamah as-Sa’dy –raheemahullaahu- ketika menjelaskan QS. At-Taubah: 65-66 diatas;

وفي هذه الآيات دليل على أن من أسر سريرة خصوصا السريرة التي يمكر فيها بدينه ويستهزئ به وبآياته ورسوله فإن اللّه تعالى يظهرها ويفضح صاحبها ويعاقبه أشد العقوبة وأن من استهزأ بشيء من كتاب اللّه أو سنة رسوله الثابتة عنه أو سخر بذلك أو تنقصه أو استهزأ بالرسول أو تنقصه فإنه كافر باللّه العظيم وأن التوبة مقبولة من كل ذنب وإن كان عظيما

“Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa menyimpan rahasia buruk, khususnya rahasia makar terhadap agamaNya, mengolok-olokNya, ayat-ayatNya, serta RasulNya, maka Allah Ta’ala akan menampakannya, membeberkannya, dan menghukum pelakunya dengan keras. Dan barangsiapa yang menghina sesuatu dari Kitabullah (Al-Qur’an) atau sunnah Rasul yang shahih darinya atau mencelanya atau merendahkannya atau memperolok-olok Rasul atau merendahkannya, maka ia adalah kafir kepada Allah Yang Mahaagung dan bahwa taubat akan diterima dari segala dosa, meskipun dosa itu besar.” (Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 3, juz. 10)


Ketahuilah, memelihara jenggot adalah sunnah beliau, meninggikan kain diatas mata kaki juga bagian dari sunnah beliau sebagaimana hadits;

“Cukurlah kumis dan peliharalah jenggot.” (HR. Muslim)

“Jauhilah olehmu Isbal (menurunkan kain dibawah mata kaki, red), karena ia termasuk perbuatan yang sombong.” (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi dengan sanad yang shahih)


Apakah anda wahai bapak, tidak menyukai sunnah beliau ini sekalipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama mengerjakannya dan menjadikannya sebagai bagian dari syariat?. Mbok ya kalau sedang “galau” jangan meremehkan sunnah Nabi to Pak Pak, berat hukumannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallama bersabda;

(( فَمَنْ رَغِمَ عَنْ سُنَّتِىْ فَلَيْسَ مِنِّيْ ))

“Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka dia bukan golonganku.” (HR. al-Bukhari)

Ini baru sekedar “tidak menyukai” atau membenci saja, bagaimanakah dengan mereka yang mengolok-olok sunnah beliau namun mengaku mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallama?. al-Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy –raheemahullaahu- berkata;

“Yang dimaksud sunnah adalah jalan (metode) dan bukan berarti kalau dilaksanakan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa dan ‘tidak menyukai sesuatu” artinya berpaling darinya kepada yang lain. Maksudnya, siapa yang tidak menyukai jalan (metode) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama dan mengambil jalan (metode) selainnya maka dia bukan golongan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama.” (Fathul Bari Bi Syarh Shahih al-Bukhari, IX/105)

al-Imam an-Nawawiy –raheemahullaahu- berkata: “Maksud “لَيْسَ مِنِّي” (bukan golonganku) artinya dia termasuk orang kafir jika ia berpaling dari Sunnah Nabi, tidak meyakini Sunnah itu sesuai dengan nyatanya. Tapi jika ia meninggalkannya karena menggampangkannya maka ia tidak di atas tuntunan Nabi.” (Syarh Shahih Muslim, 9/179)


Ada dua kemungkinan yang terdapat pada sang Leader atau yang semisal dengannya;

Pertama; ia adalah orang awam yang jahil (bodoh) terhadap syariat sekalipun background pendidikannya setinggi langit atau jabatannya sedalam bumi.

Kedua; ia adalah orang yang berilmu terhadap syariat namun mengedepankan hawa nafsunya dan mengedepankan akal yang lemah sebagai tolok ukur kebenaran yang utama sekalipun tidak sejalan dengan syariat.

Jika ia masuk kategori yang pertama, ini adalah musibah (karena perkara seperti ini ternyata tidak tahu hukumnya, red), mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan dirinya dan saya dan semua orang-orang jahil (bodoh) huda (petunjuk) ke jalan yang lurus, bashirah dan ilmu dan menjaga lisan ini dari ucapan kotor dan buruk terhadap syariat yang bisa menyeret manusia ke dalam Jahannam. Jika ia masuk kategori yang kedua, mudah-mudahan Allah Ta’ala mengampuninya dan mudah-mudahan ia segera bertaubat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala atas ucapan dan perbuatannya itu sebab Allah Ta’ala berfirman;

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun?.” (QS. Al-Qashash: 50)


Dan mudah-mudahan, kita termasuk orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain dan terhindar dari fitnah sebagaimana firman-Nya;

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah berhati-hati orang yang menyelisihi perintah Rasul-Nya untuk tertimpa fitnah atau tertimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)

al-Hafizh Ibnu Katsir –raheemahullaahu- menafsirkan ayat diatas dengan berkata: “Hendaklah takut siapa saja yang menyelisihi syariat Rasul secara lahir maupun batin untuk tertimpa fitnah dalam hatinya baik berupa kekafiran, kemunafikan atau bid’ah atau tertimpa adzab yang pedih di dunia dengan dihukum mati atau dihukum had atau dipenjara atau sejenisnya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/319)

Wallaahu subhaanahu wa Ta’ala a’lamu...

_____________

Rujukan:

1). Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 3

2). Ilmu Ushul al-Fiqh al-Bida’

3). www.muslim.or.id

4). www.asysyariah.com

5). www.abuzuhriy.com

[Baca Selengkapnya...]


 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula