Tafsir QS. Az-Zumar: 2-3



Masih terkait dengan tema sebelumnya i.e istighatsah kepada para penghuni kubur, artikel kali ini akan membahas tafsir QS. az-Zumar: 2-3 yang pernah kami singgung sebelumnya (mengenai) keadaan para pelaku kesyirikan di zaman jahiliyyah dahulu yang menyangkal telah melakukan penyembahan, meminta pertolongan dan berharap kepada illah selain Allah ‘Azza wa Jall dengan berargumentasi; “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Mereka yakin bahwa berhala-berhala yang mereka sembah, yang mereka ambil sebagai pelindung di sisi-sisi mereka itu mampu mendekatkan diri-diri mereka, atau menyampaikan harapan-harapan mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Padahal berhala-berhala tersebut tidak mampu memberikan manfaat atau madharat sedikit pun kepada mereka. Jika kita bandingkan antara penyembahan/ pengagungan thoghut-thoghut oleh para pelaku kesyirikan di zaman dahulu dengan zaman sekarang (menggunakan akal sehat kita yang jernih) sekilas ada kemiripan. Bedanya orang-orang jahiliyyah pada zaman dahulu menyembah/ mengagungkan orang-orang shalih seperti al-Latta dan Uzza (i.e pembuat sawiq [adonan gandum] bagi jamaah haji, red)[1] atau Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr[2] (mereka adalah orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalam, red) dalam bentuk patung-patung sedangkan pelaku kesyirikan di zaman ini menyembah/ mengagung-agungkan secara ghuluw kuburan-kuburan orang-orang shalih beserta penghuninya.

Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman;

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (2) أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (3

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepadaNya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. az-Zumar: 2-3)


al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy –rahemahullaahu-menjelaskan tafsir ayat diatas sebagai berikut;


قال: ( فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ ) أي: أخلص للّه تعالى جميع دينك، من الشرائع الظاهرة والشرائع الباطنة: الإسلام والإيمان والإحسان، بأن تفرد اللّه وحده بها، وتقصد به وجهه، لا غير ذلك من المقاصد

Allah berfirman; “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepadaNya.” Maksudnya, ikhlaskan kepada Allah Ta’ala seluruh agamamu, baik berupa syariat yang nampak dan syariat yang tidak nampak, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan, dengan cara mengesakan Allah Ta’ala dengannya dan dengan niat mengharapkan wajahNya, bukan niat apapun yang lainnya.”

( أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ) هذا تقرير للأمر بالإخلاص، وبيان أنه تعالى كما أنه له الكمال كله، وله التفضل على عباده من جميع الوجوه، فكذلك له الدين الخالص الصافي من جميع الشوائب، فهو الدين الذي ارتضاه لنفسه، وارتضاه لصفوة خلقه وأمرهم به، لأنه متضمن للتأله للّه في حبه وخوفه ورجائه، وللإنابة إليه في عبوديته، والإنابة إليه في تحصيل مطالب عباده وذلك الذي يصلح القلوب ويزكيها ويطهرها، دون الشرك به في شيء من العبادة. فإن اللّه بريء منه، وليس للّه فيه شيء، فهو أغنى الشركاء عن الشرك، وهو مفسد للقلوب والأرواح والدنيا والآخرة، مُشْقٍ للنفوس غاية الشقاء، فلذلك لما أمر بالتوحيد والإخلاص، نهى عن الشرك به، وأخبر بذم من أشرك به فقال


“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih.” Ini adalah penegasan perintah ikhlas dan penjelasan bahwasannya Allah Ta’ala, sebagaimana halnya kepunyaanNya-lah semua kesempurnaan dan karunia atas hamba-hambaNya dari segala sisi, maka demikian juga hanya milikNya-lah agama yang bersih lagi bebas dari segala noda. Itulah agama yang diridhaiNya dan diridhai oleh manusia pilihanNya dan yang diperintahkan kepada mereka, sebab ia berisi mempertuhankan Allah dalam mencintaiNya, takut dan berharap kepadaNya, berinabah (kembali) kepadaNya dalam mencari segala kebutuhan hamba-hambaNya. Itulah yang bisa memperbaiki qalbu (hati), membersihkan dan menyucikannya; kecuali mempersekutukanNya dalam ibadah apapun, karena Allah Ta’ala anti darinya dan persekutuan itu tidak layak bagi Allah. Sebab, Dia adalah Rabb yang paling tidak membutuhkan syirik (persekutuan) dan syirik itu merusak kalbu, ruh, dunia dan akhirat dan sangat menyengsarakan jiwa dengan kesengsaraan yang paling menyakitkan.

Maka dari itu, setelah Allah memerintahkan tauhid dan ikhlas, Allah melarang syirik kepadaNya (mempersekutukanNya) dan Dia menginformasikan celaan terhadap siapapun yang mempersekutukanNya, seraya berfirman;


وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ) أي: يتولونهم بعبادتهم ودعائهم، معتذرين عن أنفسهم وقائلين  )


Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah”, maksudnya berlindung kepada mereka dengan menyembah dan berdoa kepada mereka, sambil mengemukakan pembelaan terhadap diri mereka dan berkata;


( مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى ) أي: لترفع حوائجنا للّه، وتشفع لنا عنده، وإلا فنحن نعلم أنها، لا تخلق، ولا ترزق، ولا تملك من الأمر شيئا أي: فهؤلاء، قد تركوا ما أمر اللّه به من الإخلاص، وتجرأوا على أعظم المحرمات، وهو الشرك، وقاسوا الذي ليس كمثله شيء، الملك العظيم، بالملوك، وزعموا بعقولهم الفاسدة ورأيهم السقيم، أن الملوك كما أنه لا يوصل إليهم إلا بوجهاء، وشفعاء، ووزراء يرفعون إليهم حوائج رعاياهم، ويستعطفونهم عليهم، ويمهدون لهم الأمر في ذلك، أن اللّه تعالى كذلك وهذا القياس من أفسد الأقيسة، وهو يتضمن التسوية بين الخالق والمخلوق، مع ثبوت الفرق العظيم، عقلا ونقلا وفطرة، فإن الملوك، إنما احتاجوا للوساطة بينهم وبين رعاياهم، لأنهم لا يعلمون أحوالهم. فيحتاج من يعلمهم بأحوالهم، وربما لا يكون في قلوبهم رحمة لصاحب الحاجة، فيحتاج من يعطفهم عليه [ويسترحمه لهم]  ويحتاجون إلى الشفعاء والوزراء، ويخافون منهم، فيقضون حوائج من توسطوا لهم، مراعاة لهم، ومداراة لخواطرهم، وهم أيضا فقراء، قد يمنعون لما يخشون من الفقر وأما الرب تعالى، فهو الذي أحاط علمه بظواهر الأمور وبواطنها، الذي لا يحتاج من يخبره بأحوال رعيته وعباده، وهو تعالى أرحم الراحمين، وأجود الأجودين، لا يحتاج إلى أحد من خلقه يجعله راحما لعباده، بل هو أرحم بهم من أنفسهم ووالديهم، وهو الذي يحثهم ويدعوهم إلى الأسباب التي ينالون بها رحمته، وهو يريد من مصالحهم ما لا يريدونه لأنفسهم، وهو الغني، الذي له الغنى التام المطلق، الذي لو اجتمع الخلق من أولهم وآخرهم في صعيد واحد فسألوه، فأعطى كلا منهم ما سأل وتمنى، لم ينقصوا من غناه شيئا، ولم ينقصوا مما عنده، إلا كما ينقص البحر إذا غمس فيه المخيط وجميع الشفعاء يخافونه، فلا يشفع منهم أحد إلا بإذنه، وله الشفاعة كلها فبهذه الفروق يعلم جهل المشركين به، وسفههم العظيم، وشدة جراءتهم عليه ويعلم أيضا الحكمة في كون الشرك لا يغفره اللّه تعالى، لأنه يتضمن القدح في اللّه تعالى، ولهذا قال حاكما بين الفريقين، المخلصين والمشركين، وفي ضمنه التهديد للمشركين


“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Maksudnya, agar mereka mengajukan segala kebutuhan kami kepada Allah dan menjadi pemberi syafa’at bagi kami di sisiNya, kalau bukan demikian, maka sesungguhnya kami mengetahui bahwasannya berhala-berhala itu tidak bisa menciptakan sesuatu, tidak memberi rizki dan tidak memiliki sesuatu apapun. Maksudnya, orang-orang musyrik itu telah mengabaikan apa yang telah Allah Ta’ala perintahkan, yaitu ikhlas (tauhid), dan mereka dengan lancang telah melakukan perbuatan haram yang paling besar, yaitu syirik.

Mereka mengkiaskan Rabb yang tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya, Yang Maharaja nan Mahaagung dengan raja-raja (penguasa). Mereka beranggapan berdasarkan akal mereka yang rusak dan pikiran mereka yang sakit, bahwasanya para raja tidak mungkin bisa langsung ditemui kecuali melalui orang-orang terdekatnya, orang-orang kepercayaannya, dan para menterinya yang mengajukan berbagai kepentingan (tuntutan) rakyatnya, dan membujuknya untuk mengasihani rakyatnya serta memudahkan segala permasalahan dalam hal tersebut, maka demikian juga (dengan) Allah Ta’ala.[3]

Analogi (qiyas) seperti ini adalah analogi yang paling rusak, karena mengandung makna penyetaraan sang Khaliq (Pencipta) dengan makhluq, padahal sudah pasti terdapat perbedaan yang sangat besar antara keduanya secara akal, syar’i dan fitrah. Para raja membutuhkan perantara (pembantu) yang menghubungkan mereka dengan rakyatnya, sebab mereka tidak mengetahui kondisi rakyat, maka dibutuhkan orang yang (bertugas) memberitahu mereka tentang kondisi rakyat secara langsung; dan barangkali tidak ada rasa kasih sayang di dalam hati mereka kepada orang yang mempunyai keperluan (tuntutan), sehingga dibutuhkan orang yang bisa membuat hati mereka kasihan kepada mereka. Dan mereka membutuhkan para pembantu dan para menteri, dan rakyat takut kepada mereka, sehingga para raja mau memenuhi kebutuhan orang-orang yang berperantara kepada mereka demi menghormati dan menjaga perasaan mereka. Para raja itu juga sebenarnya orang-orang fakir, kadang menahan sesuatu karena takut miskin.

Adapun Rabb, Allah Ta’ala, Dialah yang pengetahuanNya meliputi segala sesuatu, baik perkara-perkara yang nampak maupun yang tidak nampak. Dia tidak membutuhkan orang yang menginformasikan kepadaNya tentang keadaan hamba-hambaNya, dan Dia juga (Dzat) Yang Mahapengasih, Mahapemurah, tidak membutuhkan kepada salah seorang makhlukNya untuk menjadikanNya mengasihi hamba-hambaNya. Bahkan Dia lebih (kasih) sayang terhadap mereka daripada diri mereka sendiri dan daripada kedua orang tua mereka. Dia-lah yang menghimbau dan mengajak mereka untuk melakukan sebab-sebab yang dengannya mereka bisa mendapatkan rahmatNya, dan Dia menghendaki kemashlahatan mereka yang tidak mereka kehendaki untuk diri mereka. Dia-lah Yang Mahakaya, yang milikNya-lah kekayaan yang sempurna lagi absolut (mutlak), yang jika sendainya seluruh manusia dari yang terdahulu hingga kemudian terkumpul di satu tempat lalu semuanya memohon kepadaNya, kemudian Dia memberi masing-masing permohonan dan harapannya, maka mereka tidak (akan) mengurangi sedikitpun kekayaanNya dan mereka juga tidak mengurangi apa-apa yang ada di sisiNya kecuali seperti berkurangnya samudera apabila sebilah jarum ditenggelamkan ke dalamnya (lalu diangkat). Dan seluruh pemberi syafa’at takut kepadaNya, sehingga tidak seorang pun di antara mereka dapat memberikan syafa’at kecuali dengan izinNya, dan milikNyalah seluruh syafa’at.

Dengan perbedaan-perbedaan ini dapat diketahui (bagaimana) kebodohan orang-orang musyrikin, kedangkalan pikiran mereka dan betapa lancangnya mereka kepada Allah. Dan juga diketahui hikmah kenapa syirik itu tidak diampuni oleh Allah Ta’ala, yaitu karena syirik mengandung arti melecehkan Allah Ta’ala. Maka dari itu Dia berfirman sembari memberi keputusan antara kedua golongan; orang-orang yang bertahuid dan orang-orang musyrik, dan di dalamnya terdapat ancaman bagi kaum musyrikin,


( إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ )
وقد علم أن حكمه أن المؤمنين المخلصين في جنات النعيم، ومن  يشرك باللّه فقد حرم اللّه عليه الجنة، ومأواه النار

“Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya”. Sudah dimaklumi bahwa keputusanNya adalah bahwa orang-orang yang beriman yang berlaku ikhlas ditempatkan di dalam surga-surga kenikmatan, sedangkan siapa saja yang mempersekutukan Allah, maka Allah telah mengharamkan surga bagiNya dan tempat tinggalnya adalah neraka.


( إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي ) أي: لا يوفق للهداية إلى الصراط المستقيم ( مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ ) أي: وصفه الكذب أو الكفر، بحيث تأتيه المواعظ والآيات، ولا يزول عنه ما اتصف به، ويريه اللّه الآيات، فيجحدها ويكفر بها ويكذب، فهذا أنَّى له الهدى وقد سد على نفسه الباب، وعوقب بأن طبع اللّه على قلبه، فهو لا يؤمن؟

“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk”, maksudnya, tidak membimbing menuju hidayah pada jalan yang lurus, “orang-orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” Maksudnya, orang yang karakternya adalah dusta atau kufur, dimana nasihat-nasihat dan ayat-ayat sampai kepadanya, maka apa yang menjadi karakternya tidak pernah hilang darinya. Dan Allah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (mukjizat) namun ia mengingkari, kafir dan mendustakannya. Maka orang yang seperti ini, bagaimana mungkin bisa mendapatkan petunjuk, karena dia telah menutup pintu rapat-rapat atas dirinya sendiri, dan ia dihukum dengan ditutup oleh Allah akan hatinya, maka dari itu ia tidak beriman.” [Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 6, juz. 23 dengan tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail]

Demikianlah tafsir QS. az-Zumar: 2-3 secara lengkap, mudah-mudahan bermanfaat. Wallaahu Ta’ala a’lamu.


Dicopy-paste dari:
Taiseer al-Kareem ar-Rahman Fii Tafsir Kalam al-Mannan vol 6, juz. 23 tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail.
______
Footnote

[1]. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari dengan sanadnya dari Sufyan dari Manshur dari Mujahid tentang firmanNya; “Maka apakah patut wahai orang-orang musyrik menganggap Latta dan Uzza?”, Dia berkata, “Dia mengaduk sawiq, ketika dia mati mereka mendatangi kuburannya.” Hal yang sama dikatakan oleh Abu al-Jauza’ dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallaahu ‘anhu-, “Dia membuat sawiq bagi jama’ah haji.” [Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan ‘alu asy-Syaikh]

[2]. Al-‘Allamah as-Sa’dy –raheemahullaahu- menjelaskan dalam tafsirnya;

وهذه أسماء رجال صالحين لما ماتوا زين الشيطان لقومهم أن يصوروا صورهم لينشطوا -بزعمهم- على الطاعة إذا رأوها، ثم طال الأمد، وجاء غير أولئك فقال لهم الشيطان: إن أسلافكم يعبدونهم، ويتوسلون بهم، وبهم يسقون المطر، فعبدوهم، ولهذا أوصى رؤساؤهم للتابعين لهم أن لا يدعوا عبادة هذه الآلهة

“Ini sebenarnya adalah nama-nama orang shalih, dan ketika mereka meninggal dunia, syaithan menghiasi kaum mereka agar membuat patung mereka demi menyulut semangat mereka untuk beribadah ketika melihat patung-patung itu sesuai anggapan mereka. Masa pun berlalu dan datanglah generasi yang lain, syaithan berkata kepada mereka, “Para pendahulu kalian menyembah mereka dan menjadikan mereka sebagai wasilah (perantara), dengan mereka para pendahulu kalian meminta hujan, mereka menyembah patung-patung itu. Karena itulah, para pemimpin mereka berpesan untuk tidak meninggalkan penyembahan berhala-berhala ini.” [Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 7, juz. 29 dengan tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail]

[3]. Analogi inilah yang sering mereka kemukakan tatkala ditanya, “Mengapa engkau menjadikan para penghuni kubur itu sebagai wasilah terhadap doa atau permohonan-permohonanmu?”. Cocok sekali dengan apa yang dijelaskan oleh al-‘Allamah as-Sa’dy –raheemahullaahu- diatas
[Baca Selengkapnya...]


Meminta Tolong Kepada Penghuni Kubur



Seseorang “’alim” bercerita (dalam biografinya); Tatkala ia berada dalam ketidakpastian hidup, ia menangis dan mencurahkan berbagai persoalan hidup yang dihadapinya kepada ‘wali Allah’ di depan pusaranya (kuburnya, red). Ia berkata, “Walhasil dalam tangis itu saya juga berkata dalam hati, wahai wali Allah, aku tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yg shalih disisi Allah, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak cukup ongkos pulang..”. Ketika dalam masa perenungannya itu, tiba-tiba datanglah serombongan teman-teman majelisnya (yang berkunjung ke tempat yang sama) dan mentraktirnya makan, kemudian ia teringat sesuatu; “Saya langsung teringat ini berkah saya beradab di makam wali Allah..” (http://toxxxxxsyafii.blogspot.com)

Demikian sebaris kalimat yang tertulis di pertengahan biografi sang “’alim”. Ini merupakan bentuk dari istighatsah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –raheemahullaahu- (w. 728 H) berkata, “Istighatsah adalah meminta ghouts (keselamatan), yaitu mengangkat kesulitan, seperti istinshar yang berarti meminta bantuan dan isti’anah yang berarti meminta pertolongan.” [Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan ‘alu asy-Syaikh]

Pertanyaan pertama; Syar’ikah istighatsah semacam itu?. Just sharing apa yang penulis ketahui –wallaahu a’lam-, Allah Ta’ala berfirman;

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyembah (berdoa) kepada apa-apa yang tidak bisa memberi manfaat dan (tidak pula) melimpahkan mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Yunus: 106)

Al-‘Allamah Shun’ullah al-Halabi al-Makki al-Hanafi -raheemahullaahu- (w. 1117 H) berkata, “Jika seseorang memanggil apa yang tidak bisa memberi manfaat dan mudharat, baik dia itu Nabi atau wali atau selainnya, dalam rangka meminta pertolongan kepadanya, maka dia telah mempersekutukan Allah, karena yang bisa menolak hanyalah Allah dan tidak ada kebaikan kecuali kebaikanNya.” [Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan ‘alu asy-Syaikh]

Allah Ta’ala berfirman;

 وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah mengendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang menolak karuniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya, dan Dialah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Yunus: 107)

Al-‘Allamah As-Sa’dy –raheemahullaahu- (w. 1367 H) menjelaskan ayat diatas di dalam tafsirnya;

هذا من أعظم الأدلة على أن الله وحده المستحق للعبادة، فإنه النافع الضار، المعطي المانع، الذي إذا مس بضر، كفقر ومرض، ونحوها ( فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ ) لأن الخلق، لو اجتمعوا على أن ينفعوا بشيء، لم ينفعوا إلا بما كتبه الله، ولو اجتمعوا على أن يضروا أحدا، لم يقدروا على شيء من ضرره، إذا لم يرده الله، ولهذا قال: ( وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ ) أي: لا يقدر أحد من الخلق، أن يرد فضله وإحسانه، كما قال تعالى: 
 مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ  

“Ini termasuk dalil paling besar bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah karena Dia yang mendatangkan manfaat dan mudharat, yang memberi dan tidak memberi, yang mana jika ada kesulitan menimpa seperti kemiskinan, penyakit dan lain-lain, “maka tidak ada yang menghilangkannya kecuali Dia.” Karena jika seluruh makhluk berkumpul untuk memberi manfaat, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kecuali apa yang telah ditulis oleh Allah, jika mereka hendak memudharatkan seseorang maka mereka tidak akan mampu melakukannya jika Allah tidak berkehendak. Oleh karena itu Allah berfirman, “Dan jika Allah mengendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang menolak karuniaNya.” Maksudnya,  tak seorang makhluk pun mampu menolak kebaikan dan karuniaNya sebagaimana firmanNya;

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ 

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu.” (QS. Fathir: 2). [Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 3, juz. 11 tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail]

Pertanyaan selanjutnya; Mengapa (mereka) tidak langsung saja mengarahakan permintaan atau permohonan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Memberi dan Dzat Yang Mengabulkan Segala Permohonan dengan menyeru namaNya seperti “Ya Allah” atau “Ya Rahman” (misalnya) sebagaimana firmanNya;

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى

“Katakanlah; ‘Serulah Allah atau serulah ar-Rahman, dengan nama mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik).’” (QS. al-Isra’: 110)

Berkata al-Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah –rahemahullaahu- (w. 751 H) tentang ayat diatas, “Doa ini adalah doa permohonan menurut pendapat yang masyhur.” [Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan ‘alu asy-Syaikh]

Mengapa mereka (malah) menyeru kepada ahli kubur; “Wahai wali Allah”? bukan kepada Allah Ta’ala secara langsung?. Barangkali jawabannya adalah sebagai berikut (wallaahu a’lam), “Mereka (orang-orang yang sudah wafat itu, red) adalah orang-orang shalih yang memiliki manzilah/keutamaan/kedudukan di sisi Allah. Sesungguhnya dia hanyalah perantara saja (di sisi kami) agar ia mendekatkan kami kepada Allah dan menyampaikan permohonan kami kepadaNya. Sesungguhnya orang-orang shalih itu tidaklah mati, ia tetap hidup di sisi Allah.”

Jika kita membuka al-Qur’an al-Kareem, ternyata hal senada juga pernah diucapkan oleh orang-orang Arab Jahiliyyah zaman dahulu yang mengambil pelindung selain Allah Ta’ala sebagaimana firmanNya;

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatNya.” (QS. az-Zummar: 3)[1]

Allah juga berfirman;

هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

“Mereka adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)

Al-‘Allamah As-Sa’dy –raheemahullaahu- (w. 1367 H) menjelaskan ayat diatas di dalam tafsirnya;

أي: يعبدونهم ليقربوهم إلى الله، ويشفعوا لهم عنده، وهذا قول من تلقاء أنفسهم، وكلام ابتكروه هم، ولهذا قال تعالى -مبطلا لهذا القول-: ( قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ ) أي: الله تعالى هو العالم، الذي أحاط علما بجميع ما في السماوات والأرض، وقد أخبركم بأنه ليس له شريك ولا إله معه، أفأنتم-يا معشر المشركين- تزعمون أنه يوجد له فيها شركاء؟ أفتخبرونه بأمر خفي عليه، وعلمتوه؟ أأنتم أعلم أم الله؟ فهل يوجد قول أبطل من هذا القول، المتضمن أن هؤلاء الضلال الجهال السفهاء أعلم من رب العالمين؟ فليكتف العاقل بمجرد تصور هذا القول، فإنه يجزم بفساده وبطلانه: ( سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ ) أي: تقدس وتنزه أن يكون له شريك أو نظير، بل هو الله الأحد الفرد الصمد الذي لا إله في السماوات والأرض إلا هو، وكل معبود في العالم العلوي والسفلي سواه، فإنه باطل عقلا وشرعا وفطرة

“Mereka menyembahnya agar bisa mendekatkannya kepada Allah dan memberi syafaat (pertolongan) kepada mereka di sisiNya. Inilah ucapan yang mereka ada-adakan dari diri mereka sendiri, ucapan yang mereka buat-buat. Oleh karena itu Allah berfirman membatalkan ucapan tersebut; “Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya, baik di langit dan tidak (pula) di bumi?’”, maksudnya Allah Maha Mengetahui dengan ilmu yang meliputi apa yang ada di langit dan di bumi, Dia telah mengabarkan kepadamu bahwa Dia tidak memiliki sekutu dan bahwa tidak ada Rabb (lain) bersamaNya. Kamu wahai orang-orang musyrik mengklaim bahwa Dia memiliki sekutu di alam ini, apakah kamu menyampaikan berita yang samar padahal kamu mengetahuinya? Siapa yang lebih mengetahui, Allah ataukah kamu? Adakah ucapan yang lebih bathil daripada ucapan yang mengandung kesimpulan bahwa orang-orang bodoh lagi sesat itu lebih tahu daripada Allah Rabbul ‘Alamin?. Cukuplah bagi orang yang berakal dengan hanya membayangkan pendapat ini, karena dipastikan ia bathil dan rusak. “Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu).” Maksudnya, Mahasuci Allah, Dia tidak memiliki partner atau sekutu, akan tetapi Dia adalah Maha Esa, tempat bergantung para makhluk, tiada Rabb di langit dan di bumi (yang berhak diibadahi) melainkan Dia, semua yang disembah di langit dan di bumi selainnya adalah bathil secara akal, syara’ dan fitrah.” [Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 3, juz. 11 tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail]

Al-‘Allamah Shun’ullah al-Halabi al-Makki al-Hanafi -raheemahullaahu- (w. 1117 H) berkata; “Orang-orang musyrik Arab (dahulu) berdoa kepada mereka (i.e illah selain Allah, red) agar mereka memberi syafa’at bagi mereka dan mendekatkan mereka kepada Allah. Mereka berkata dalam talbiyah mereka, ‘Kami penuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu kecuali sekutu milikMu, Engkau memilikinya dan dia tidak memilikiMu.’ Adapun orang-orang yang melakukan kesyirikan (di zaman) sekarang, maka mereka meyakini apa yang lebih besar dari itu pada penghuni kubur dan altar-altar persembahan. Orang-orang musyrik ini memberi mereka hak untuk bertindak dan mengatur, orang-orang itu menjadikan mereka tempat berlindung dalam harapan dan kecemasan, “Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu).’” [Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan ‘alu asy-Syaikh]

Ada penjelasan lain yang jauh lebih ilmiah, dan berpuluh-puluh kali lipat lebih berbobot dibandingkan tulisan sederhana ini yang bisa anda baca untuk menambah wawasan anda tentang istighatsah kepada penghuni kubur [klik disini]. Wallaahu Subhaanahu wa Ta’ala a’lamu.

Mudah-mudahan bermanfaat.


Dicopy-paste dari:
(1). Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan ‘alu asy-Syaikh, Baabu minasyirki an yastaghiitsa bighairillaahi auyad’u ghairahu.
(2). Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 3, juz. 11 tahqiq: Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail.
_______

Footnote
[1]. Pada kesempatan lain, mudah-mudahan bisa mencopy-pastekan tafsir QS. Az-Zumar: 3 diatas.
[Baca Selengkapnya...]


Nasihat Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Kepada Para Dokter (vol. 2)




[Lanjutan dari Volume 1]
Allah ‘Azza wa Jall juga berfirman;

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ {16

(Artinya): “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. at-Taghaabun: 16)[4]

Anda tenangkan hatinya, dan katakan padanya, “Apabila kebiasaanmu adalah shalat menghadap kiblat –dan ini adalah kenyataannya- maka telah dituliskan bagimu pahala (menghadap kiblat) secara sempurna.” Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama, “Apabila seorang hamba sakit atau melakukan safar, (maka) dituliskan baginya pahala amalan-amalan yang dia kerjakan tatkala dia sehat dan mukim.”[5]

Dan juga wasiat (pesan) untuk saudara-saudara (sekalian); untuk berpesan kepada para pasien apabila mereka (disatukan satu sama lain) dalam satu kamar. Saudara pesankan agar mereka tidak saling mengganggu satu sama lain, karena terkadang sebagian pasien mengganggu pasien yang lainnya. Terkadang dengan cara mendengarkan tape recorder ataupun radio, apabila perkara ini memang dilarang maka barangkali saja dia mengganggu dengan bacaan al-Qur’an, membaca al-Qur’an dengan mengeraskan suaranya. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda kepada shahabat-shahabatnya yang sebagian mengeraskan bacaannya. Apa yang beliau ucapkan?, Beliau bersabda, “Janganlah kalian saling mengganggu satu sama lain dalam membaca al-Qur’an”.

Dan saya juga berpesan kepada saudara-saudara sekalian untuk tidak memperbanyak obrolan dengan para perawat wanita, kecuali sesuai dengan tingkat kedaruratan (kebutuhan) dengan berusaha menjaga pandangan. Karena masalah ini sangat berbahaya. Terkadang obrolan-obrolan itu mendorong kepada hal-hal yang lebih buruk lagi. Tapi apabila hal itu dibutuhkan (darurat), maka boleh dilakukan, hanya saja harus menjaga pandangan semampu mungkin.

Dan saya berpesan kepada saudara-saudara sekalian untuk beriman (kepada Allah) dan yakin bahwa usaha saudara-saudara ini (i.e dalam membantu menyembuhkan penyakit pasien, red) hanyalah sekedar (menunaikan) sebab, sedangkan keputusan (akhir) berada di tangan Allah ‘Azza wa Jall. Terkadang seseorang telah melakukan sebab secara sempurna, namun tidak ada hasilnya, karena keputusan (akhir) ada di tangan Allah ‘Azza wa Jall. Oleh karena itu ketika seseorang mengutip hadits (dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha); “Sesungguhnya habbatussauda’ ini adalah obat dari segala macam penyakit kecuali saam.” Aku bertanya; “Apakah saam itu?”, beliau menjawab: “Kematian.” (HR. al-Bukhari No. 5255), Maka seakan-akan konsekuensinya (adalah) tidak ada seorang pun (yang) akan sakit. Tapi (ketahuilah) bukan seperti itu keadaannya (kenyataannya). Habbatussauda adalah suatu sebab (kesembuhan), dan hal itu tidak diragukan lagi. Tapi sebab (sarana) ini terkadang tidak mendapatkan hasil karena adanya penghalang. Maka meskipun anda adalah orang yang sangat teliti (pandai) dan ikhlas, terkadang usaha anda tidak mendatangkan hasil sesuai dengan keinginan anda. Ketahuilah bahwa keputusan (akhir) ada di tangan Allah ‘Azza wa Jall.

Dan saya berpesan kepada saudara-saudara sekalian untuk mengucapkan basmalah ketika memulai proses pengobatan dan operasi.  Karena setiap perkara penting apabila tidak dimulai dengan basmalah, maka perkara tersebut akan terputus berkahnya. Inilah yang ingin saya sampaikan, mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jall menjadikan pesan-pesan ini bermanfaat bagi saudara-saudara dan menjadikan amal-amal saudara sekalian ikhlas kepada Allah dan bermanfaat untuk para hamba Allah ‘Azza wa Jall.”

-selesai kutipan-

Referensi:
a). Video recording Dialog asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –raheemahullahu- dengan para Dokter, translated by: al-Ustadz Abu Usamah Zaid Susanto, Lc.
b). Taiseer al-Kareem ar-Rahman Fii Tafsir Kalam al-Mannan vol. 7, juz. 28


_____
Footnote:

[1]. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari No. 7573 dan Muslim No. 2694)

asy-Syaikh al-‘Utsaimin –rahimahullaahu- menerangkan, “Kedua kalimat ini merupakan penyebab kecintaan Allah kepada seorang hamba.” Beliau juga berpesan, “Wahai hamba Allah, sering-seringlah mengucapkan dua kalimat ini. Ucapkanlah keduanya secara kontinyu, karena kedua kalimat ini berat di dalam timbangan (amal) dan dicintai oleh ar-Rahman, sedangkan keduanya sama sekali tidak merugikanmu sedikitpun sementara keduanya sangat ringan diucapkan oleh lisan, ‘Subhanallahi wabihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Maka sudah semestinya setiap insan mengucapkan dzikir itu dan memperbanyaknya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni ‘Utsaimin, 3/446)


[2]. Hadist tersebut diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dalam Musnadnya sebagai berikut;

حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ ثَابِتٍ قَالَ وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا عَنْ أَنَسٍ أَنَّ غُلَامًا مِنْ الْيَهُودِ كَانَ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ وَهُوَ بِالْمَوْتِ فَدَعَاهُ إِلَى الْإِسْلَامِ فَنَظَرَ الْغُلَامُ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ أَبُوهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ فَأَسْلَمَ ثُمَّ مَاتَ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ عِنْدِهِ وَهُوَ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ بِي مِنْ النَّارِ

Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit berkata, dan saya tidak mengetahuinya kecuali dari Anas, ada seorang pemuda Yahudi yang pernah melayani Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama. Suatu saat ia sakit hingga Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama menjenguknya dalam sekaratnya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama mengajaknya masuk Islam. Pemuda itu menatap bapaknya yang berada di sampingnya, kemudian bapaknya berujar, “Taatilah Abu Qasim”. Beberapa saat kemudian dia meninggal. Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama pulang dan bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka”. (HR. Ahmad No. 12896)

[3]. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya setan berjalan dalam tubuh manusia di tempat peredaran darah.” (HR. Al Bukhari (6219) dan Muslim (2175) dari hadits Shafiyyah Radhiyallahu ‘anha)

[4]. Dalam Taiseer al-Kareem ar-Rahman vol. 7, juz. 28, al-‘Allamah ‘Abdurrahman as-Sa’dy –raheemahullaahu- menjelaskan maksud ayat;
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ {16

يأمر تعالى بتقواه، التي هي امتثال أوامره واجتناب نواهيه، ويقيد  ذلك بالاستطاعة والقدرة فهذه الآية، تدل على أن كل واجب عجز عنه العبد، أنه يسقط عنه، وأنه إذا قدر على بعض المأمور، وعجز عن بعضه، فإنه يأتي بما يقدر عليه، ويسقط عنه ما يعجز عنه، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم


“Allah Ta’ala memerintahkan hambaNya agar bertakwa kepadaNya, yaitu dengan menunaikan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Allah Ta’ala membatasi hal itu dengan kadar kemampuan dan kesanggupan. Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba menjadi gugur. Jika seorang hamba mampu menunaikan sebagian kewajiban dan tidak mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan, sedangkan kewajiban lainnya yang tidak mampu dilakukan menjadi gugur. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم;

“Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka tunaikanlah ia semampu kalian.” (HR. al-Bukhari No. 2728 dan Muslim No. 1337, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu).

[5]. Hadist tersebut diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dalam Musnadnya sebagai berikut;

حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ أَنْبَأَنَا الْعَوَّامُ بْنُ حَوْشَبٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ السَّكْسَكِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا بُرْدَةَ بْنَ أَبِي مُوسَى وَاصْطَحَبَ هُوَ وَيَزِيدُ بْنُ أَبِي كَبْشَةَ فِي سَفَرٍ وَكَانَ يَزِيدُ يَصُومُ فَقَالَ لَهُ أَبُو بُرْدَةَ سَمِعْتُ أَبَا مُوسَى مِرَارًا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Telah menceritakan kepada kami Yazid ia berkata, telah memberitakan kepada kami Al ‘Awwam bin Hausyab, Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Isma’il As Saksaki bahwa ia mendengar Abu Burdah bin Abu Musa bahwa ia menemani Yazid bin Abu Kasyabah dalam suatu perjalanan, dan pada waktu itu Yazid sedang berpuasa. Abu Burdah berkata kepadanya; ‘Saya berkali-kali mendengar Abu Musa berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang hamba sakit atau dalam menempuh perjalanan, maka dicatat baginya pahala kebaikan sebagaimana ketika ia bermukim dan dalam keadaan sehat”.’ (HR. Ahmad No. 18848)
[Baca Selengkapnya...]


 

Entri Populer

Recent Comments

Blog Statistic

Return to top of page Copyright © 2007 | Old Nakula